Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Tuesday, 28 July 2015

Pengertian Ambulasi Dini Definisi, Manfaat, dan Persiapannya

Pengertian Ambulasi Dini  

Ambulasi adalah latihan yang paling berat dimana pasien yang dirawat di rumah sakit dapat berpartisipasi kecuali dikontraindikasikan oleh kondisi pasien.

Hal ini seharusnya menjadi bagian dalam perencanaan latihan untuk semua pasien. Ambulasi mendukung kekuatan, daya tahan dan fleksibilitas. Keuntungan dari latihan berangsur-angsur dapat ditingkatkan seiring dengan pengkajian data pasien menunjukkan tanda peningkatan toleransi aktivitas (Berger & Williams, 1992). Menurut Kozier et al. (1995 dalam Asmadi, 2008) ambulasi adalah aktivitas berjalan. Ambulasi dini merupakan tahapan kegiatan yang dilakukan segera  pada pasien paska operasi dimulai dari bangun dan duduk sampai pasien turun dari tempat tidur dan mulai berjalan dengan bantuan alat sesuai dengan kondisi pasien (Roper, 2002).  

Ambulasi dini merupakan komponen penting dalam perawatan paska operasi fraktur karena jika pasien membatasi pergerakannya di tempat tidur dan sama sekali tidak melakukan ambulasi pasien akan semakin sulit untuk mulai berjalan (Kozier, 1989). Menurut beberapa literatur manfaat ambulasi adalah:

  1. Menurunkan insiden komplikasi immobilisasi paska operasi  meliput i: sistem kardiovaskuler; penurunan curah jantung, peningkatan beban kerja jantung, hipotensi ortostatik, thrombopeblitis/deep vein trombosis/DVT dan  atelektasis, sistem respirasi; penurunan kapasitas vital, penurunan ventilasi/perfusi setempat, mekanisme batuk yang menurun, embolisme pulmonari. Sistem perkemihan; infeksi saluran kemih. Iritasi kulit dan luka yang disebabkan oleh penekanan, sistem muskuloskeletal; atropy otot, hilangnya kekuatan otot, kontraktur, hiperkalsemia, hiperkalsiuria dan osteoporosis. Sistem gastrointestinal; paralitik ileus, konstipasi, stress ulcer, anoreksia dan gangguan metabolisme 
  2. Mengurangi komplikasi respirasi dan sirkulasi 
  3. Mempercepat pemulihan peristaltik usus dan kemungkinan distensi abdomen 
  4. Mempercepat proses pemulihan pasien paska operasi 
  5. Mengurangi tekanan pada kulit/dekubitus 
  6. Penurunan intensitas nyeri 
  7. Frekuensi nadi dan suhu tubuh kembali normal (Asmadi, 2008; Craven & Hirnle, 2009; Kamel et al, 1990; Lewis et al, 2000; Potter & Perry, 1999; Brunner & Suddarth, 2002). 

Persiapan Ambulasi Dini 

  1. Latihan otot-otot kuadriseps femoris dan otot-otot gluteal:
    (a)Instruksikan pasien mengkontraksikan otot-otot panjang pada paha, tahan selama 10 detik lalu dilepaskan
    (b) Instruksikan pasien mengkontraksikan otot-otot pada bokong bersama, tahan selama 10 detik lalu lepaskan, ulangi latihan ini 10-15 kali semampu pasien (Hoeman, 2001). 
  2. Latihan untuk menguatkan otot-otot ekstremitas atas dan lingkar bahu: 
    • bengkokkan dan luruskan lengan pelan-pelan sambil memegang berat traksi atau benda yang beratnya berangsur-angsur ditambah dan jumlah pengulangannya. Ini berguna untuk menambah kekuatan otot ekstremitas atas 
    • menekan balon karet. Ini berguna untuk meningkatkan kekuatan genggaman 
    • angkat kepala dan bahu dari tempat tidur kemudian rentangkan tangan sejauh mungkin 
    • duduk ditempat tidur atau kursi (Asmadi, 2008). 


Alat yang Digunakan Untuk Ambulasi 

Alat bantu yang digunakan untuk ambulasi adalah;

  1. kruk sering digunakan untuk meningkatkan mobilisasi, terbuat dari logam dan kayu dan sering digunakan permanen, misalnya  Conventional, adjustable dan lofstrand. Kruk biasanya digunakan pada pasien fraktur hip dan ekstremitas bawah, kedua lengan yang benar-benar kuat untuk menopang tubuh, pasien dengan keseimbangan yang bagus 
  2. Canes  (tongkat) adalah alat yang ringan, mudah dipindahkan, setinggi pinggang terbuat dari kayu atau logam, digunakan pada pasien dengan lengan yang mampu dan sehat,  meliputi tongkat berkaki panjang lurus  (single straight-legged)  dan tongkat berkaki segi empat  (Quad cane) 
  3. walkers adalah suatu alat yang sangat ringan, mudah dipindahkan, setinggi pinggang  dan terbuat dari logam, walker  mempunyai empat penyangga yang kokoh. Klien memegang pemegang tangan pada batang dibagian atas, melangkah memindahkan walker lebih lanjut, dan melangkah lagi. Digunakan pada pasien yang mengalami kelemahan umum, lengan yang kuat dan mampu menopang tubuh, usila, pasien dengan masalah gangguan keseimbangan, pasien dengan fraktur hip dan ekstremitas bawah (Gartland, 1987; Potter & Perry, 1999). 

Pelaksanaan Ambulasi Dini Pasien Paska Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah 

Ambulasi yang aman memerlukan keseimbangan dan kekuatan yang cukup untuk menopang berat badan dan menjaga postur. Beberapa pasien memerlukan bantuan dari perawat untuk bergerak dengan aman (Hoeman, 2001).
Berikut ini diuraikan beberapa tahapan ambulasi yang diterapkan pada pasien: preambulation bertujuan mempersiapkan otot untuk berdiri dan berjalan yang dipersiapkan lebih awal ketika pasien bergerak dari tempat tidur (Hoeman, 2001).

  • Sitting balance  yaitu membantu pasien untuk duduk disisi tempat tidur dengan bantuan yang diperlukan (Berger & Williams, 1992). 
  • Pasien dengan disfungsi ekstremitas bawah biasanya dimulai dari duduk ditempat tidur. Aktivitas ini seharusnya dilakukan 2 atau 3 kali selama 10 sampai dengan 15 menit, kemudian dilatih untuk turun dari tempat tidur dengan bantuan perawat sesuai dengan kebutuhan pasien (Lewis et al, 1998). 
  • Jangan terlalu memaksakan pasien untuk melakukan banyak pergerakan pada saat bangun untuk menghindari kelelahan.  Standing balance  yaitu melat ih berdiri dan mulai berjalan. Perhatikan waktu pasien turun dari tempat tidur apakah menunjukkan gejala-gejala pusing, sulit bernafas, dan lain-lain. Tidak jarang pasien tiba-tiba lemas akibat hipotensi ortostatik. Menurut  (Berger & Williams, 1992) 
  • Memperhatikan pusing sementara adalah tindakan pencegahan yang penting saat mempersiapkan pasien untuk ambulasi. Bahkan  bedrest jangka pendek, terutama setelah cedera atau tindakan pembedahan dapat disertai dengan hipotensi ortostatik. Hipotensi ortostatik adalah komplikasi yang sering terjadi pada bedrest  jangka panjang, meminta pasien duduk disisi tempat tidur untuk beberapa menit sebelum berdiri biasanya sesuai untuk hipotensi ortostatik yang benar. Lakukan istirahat sebentar, ukur denyut nadi (Asmadi, 2008). 
  • Ketika membantu pasien turun dari tempat tidur perawat harus berdiri tepat didepannya. Pasien meletakkan tangannya dipundak perawat dan perawat meletakkan tangannya dibawah ketiak pasien. Pasien dibiarkan berdiri sebentar untuk memastikan tidak merasa pusing. Bila telah terbiasa dengan posisi berdiri, pasien dapat mulai untuk berjalan. Perawat harus berada disebelah pasien untuk memberikan dukungan dan dorongan fisik, harus hati-hati untuk tidak membuat pasien merasa letih: lamanya periode ambulasi pertama beragam tergantung pada jenis prosedur bedah dan kondisi fisik serta usia pasien (Brunner & Suddarth, 2002). 
  • Ambulasi biasanya dimulai dari  parallel bars  dan untuk latihan berjalan  dengan menggunakan bantuan alat. Ketika pasien mulai jalan perawat harus tahu weight bearing  yang diizinkan pada disfungsi ekstremitas bawah (Lewis et al, 1998). Ada tiga jenis weight bearing ambulation, meliputi; 

    1. Non weight bearing ambulation;  tidak menggunakan alat Bantu jalan sama sekali,  berjalan dengan tungkai tidak diberi beban (menggantung) dilakukan selama 3 minggu setelah paska operasi.  
    2. Partial weight bearing ambulation; menggunakan alat Bantu jalan pada sebagian aktivitas, berjalan dengan tungkai diberi beban hanya dari beban tungkai itu sendiri dilakukan bila kallus mulai terbentuk (3-6 minggu) setelah paska operasi  
    3. Full weight bearing ambulation; semua aktivitas sehari-hari memerlukan bantuan alat, berjalan dengan beban penuh dari tubuh dilakukan setelah 3 bulan paska operasi dimana tulang telah terjadi konsolidasi (Lewis et al, 1998).  

Pasien paska operasi fraktur hip (pangkal femur) dengan ORIF dianjurkan untuk ambulasi dini duduk dalam periode yang singkat pada hari pertama paska operasi, Menurut Oldmeadow et al (2006) ambulasi dini  dianjurkan segera pada 48 jam pada pasien paska operasi fraktur hip. Berangsur-angsur lakukan ambulasi dengan kruk (tongkat)  no weight bearing  selama 3 s/d 5 bulan proses penyembuhan baru akan terjadi. Pasien dengan paska operasi batang femur perlu dilakukan latihan otot kuadriseps dan gluteal untuk melatih kekuatan otot dan merangsang pembentukan kallus, karena otot–otot ini penting untuk ambulasi, proses penyembuhan 10 s/d 16 minggu, berangsur-angsur mulai  partial weight bearing 4-6 minggu dan kemudian full weight bearing dalam 12 minggu. Fraktur patella segera lakukan ambulasi weight bearing sesuai dengan kemampuan pasien setelah paska operasi dan lakukan latihan isometris otot kuadriseps dengan lutut berada pada posisi ekstensi. Paska operasi fraktur tibia dan fibula lakukan ambulasi dengan partial weight bearing disesuaikan dengan tingkat cedera yang dialami pasien (Saxton et al, 1983; Williamson, 1998). 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Ambulasi Dini Pasien Paska Operasi Ekstremitas Bawah. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi ambulasi dini pasien paska operasi ekstremitas bawah adalah:  

a. Kondisi kesehatan pasien  
Perubahan status kesehatan dapat mempengaruhi sistem muskuloskeletal dan sistem saraf berupa penurunan koordinasi. Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh penyakit, berkurangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas (Kozier & Erb, 1987).  

Nyeri paska bedah kemungkinan disebabkan oleh luka bekas operasi tetapi kemungkinan sebab lain harus dipertimbangkan. Setelah pembedahan nyeri mungkin sangat berat, edema, hematom dan spasme otot merupakan penyebab nyeri yang dirasakan, beberapa pasien menyatakan bahwa nyerinya lebih ringan dibanding sebelum pembedahan dan hanya memerlukan jumlah anlgetik yang sedikit saja harus diupayakan segala usaha  untuk mengurangi nyeri dan kestidaknyamanan. Tersedia berbagai pendekatan farmakologi berganda terhadap penatalaksanaan nyeri. Analgesia dikontrol pasien (ADP) dan analgesia epidural dapat diberikan untuk mengontrol nyeri, pasien dianjurkan untuk meminta pengobatan nyeri sebelum nyeri itu menjadi berat. Obat harus diberikan segera dalam interval yang ditentukan bila awitan nyeri dapat diramalkan misalnya ½ jam sebelum aktivitas terencana seperti pemindahan dan latihan ambulasi (Brunner & Suddarth, 2002).  Menurut Brunner & Suddarth (2002) kebanyakan pasien merasa takut untuk bergerak setelah paska operasi fraktur karena merasa nyeri pada luka bekas operasi dan luka bekas trauma.  

Efek immobilisasi pada sistem kardiovaskular adalah hipotensi ortostatik. Hipotensi orthostatik adalah suatu kondisi ketidak mampuan berat dengan karakteristik tekanan darah yang menurun ketika pasien berubah dari posisi horizontal ke vertikal (posisi berbaring ke duduk atau berdiri), yang dikatakan hipotensi ortostatik jika tekanan darahnya < 100 mmhg  (Dingle, 2003 dalam Perry & Potter, 2006). Ditandai dengan sakit kepala ringan, pusing, kelemahan, kelelahan, kehilangan energi, gangguan visual, dispnea, ketidaknyamanan kepala dan leher, dan hampir pingsan atau pingsan (Gilden, 1993 dalam Potter & Perry 1999). Keadaan ini sering menyebabkan pasien kurang melakukan mobilisasi dan ambulasi.  

Kelelahan  dan kerusakan otot dan neuromuskular, kelelahan otot mungkin karena gaya hidup, bedrest dan penyakit, keterbatasan kemampuan untuk bergerak dan beraktivitas karena otot lelah menyebabkan pasien tidak dapat meneruskan aktivitas. Kelelahan otot dapat menurunkan kekuatan pasien untuk bergerak, ditandai dengan pergerakan yang lambat. Kelelahan yang berlebihan bisa menyebabkan pasien jatuh atau mengalami ketidak seimbangan pada saat latihan (Berger & Williams, 1992). ketidakmampuan untuk berjalan berhubungan dengan  kelemahan dan kerusakan otot ekstremitas bawah, terlihat tanda-tanda penurunan kekuatan dan massa otot kaki dan lutut yang selalu ditekuk ketika berusaha untuk berdiri (Berger & Williams, 1992) . Ambulasi dini pada pasien paska operasi fraktur sulit dilakukan karena pemasangan alat fiksasi eksternal, luka bekas operasi dan luka bekas taruma (Gartland, 1987) yang mengakibatkan kerusakan pada neuromuskular atau sistem skeletal yang bisa memperberat dan menghambat pergerakan pasien (Kozier & Erb, 1987). 

Demam paska bedah dapat disebabkan oleh gangguan dan kelainan. Peninggian suhu badan pada hari pertama atau kedua mungkin disebabkan oleh radang saluran nafas, sedangkan infeksi luka operasi menyebabkan demam setelah kira-kira 1 minggu. Transfusi darah juga  sering menyebabkan demam, dan diperkirakan kemungkinan adanya dehidrasi (Sjamsuhidajat & jong, 2005).  

Pasien yang mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dispnea selama latihan tidak akan tahan melakukan ambulasi seperti pada pasien yang tidak mengalaminya. Pada pasien lemah tidak mampu meneruskan aktivitasnya karena energi besar diperlukan untuk menyelesaikan aktivitas menyebabkan kelelahan dan kelemahan yang menyeluruh (Potter & Perry, 1999).  

Hipotermia, pasien yang telah mengalami anastesi rentan terhadap menggigil. Pasien yang telah menjalani pemajanan lama terhadap dingin dalam ruang operasi dan menerima banyak infus intravena dipantau terhadap hipotermi. Ruangan dipertahankan pada suhu yang nyaman dan selimut disediakan untuk mencegah menggigil. Resiko hipertermia lebih besar pada pasien yang berada diruang operasi untuk waktu yang lama (Brunner & Suddarth, 2002). 

Anemia adalah adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan/atau hitung eritrosit lebih rendah dari harga normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan Ht < 41% pada pria atau Hb < 12 g/dl dan Ht < 37% pada wanita. Gejala-gejala umum anemia antara lain  cepat lelah, takikardia, palpitasi dan takipnea pada latihan fisik (Mansjoer et al, 2001). 

b. Emosi 
Kondisi psikologis seseorang dapat memudahkan perubahan perilaku yang dapat menurunkan kemampuan ambulasi yang baik. Seseorang yang mengalami perasaan tidak aman, tidak termotivasi dan harga diri yang rendah akan mudah mengalami perubahan dalam ambulasi (Kozier & Erb, 1987).  

Orang yang depresi, khawatir atau cemas sering tidak tahan melakukan aktivitas sehingga lebih mudah lelah karena mengeluarkan energi cukup besar dalam ketakutan dan kecemasannya jadi pasien mengalami keletihan secara fisik dan emosi (Potter & Perry, 1999). Hubungan antara nyeri dan takut bersifat kompleks. Perasaan takut seringkali meningkatkan persepsi nyeri tetapi nyeri juga dapat menimbulkan perasaan takut. Menurut Paice (1991) dalam Potter & Perry (1999) melaporkan suatu bukti bahwa stimulus nyeri mengaktifkan bagian sistem limbik yang diyakini mengendalikan emosi seseorang khususnya rasa takut. Setelah paska operasi fraktur  nyeri mungkin sangat berat khususnya selama beberapa hari pertama paska operasi. Area insisi mungkin menjadi satu-satunya sumber nyeri, iritasi akibat selang drainase, balutan atau gips yang ketat menyebabkan pasien merasa tidak nyaman. Secara signifikan nyeri dapat memperlambat pemulihan. Pasien menjadi ragu-ragu untuk melakukan batuk, nafas dalam, mengganti posisi, ambulasi atau melakukan latihan yang diperlukan. Setelah pembedahan analgetik sebaiknya diberikan sebelum nyeri timbul dengan dosis yang memadai. Jenis obat dan pemberian bergantung pada penyebab, letak nyeri dan keadaan pasien (Sjamsuhidajat & Jong, 2005). 

Orang yang depresi, khawatir atau cemas sering tidak tahan melakukan aktivitas. Pasien depresi biasa tidak termotivasi untuk berpartisipasi. Pasien khawatir atau cemas lebih mudah lelah karena mereka mengeluarkan energi cukup besar dalam ketakutan dan kecemasannya jadi mereka mengalami keletihan secara fisik dan emosional (Potter & Perry, 1999).   

Tidak bersemangat karena kurangnya motivasi dalam melaksanakan ambulasi. Penampilan luka, balutan yang tebal drain serta selang yang menonjol keluar akan mengancam konsep diri pasien. Efek pembedahan, seperti jaringan parut yang tidak beraturan dapat menimbulkan perubahan citra diri pasien secara permanen, menimbulkan perasaan klien kurang sempurna, sehingga klien merasa cemas dengan keadaannya dan tidak termotivasi untuk melakukan aktivitas. Pasien dapat menunjukkan rasa tidak senang pada penampilannya yang ditunjukkan dengan cara menolak melihat insisi, menutupi balutannya dengan baju, atau menolak bangun dari tempat tidur karena adanya selang atau alat tertentu (Perry & Potter, 1999). 

c. Gaya hidup 
Status kesehatan, nilai, kepercayaan, motivasi dan faktor lainnya mempengaruhi gaya hidup. Gaya hidup mempengaruhi mobilitas. Tingkat kesehatan seseorang dapat dilihat dari gaya hidupnya dalam melakukan aktivitas dan dia mendefinisikan aktivitas sebagai suatu yang mencakup kerja, permainan yang berarti, dan pola hidup yang positif seperti makan yang teratur, latihan yang teratur, istirahat yang cukup dan penanganan stres Pender (1990 dalam berger & Williams, 1992). Menurut Oldmeadow et al (2006) tahapan pegerakan dan aktivitas pasien sebelum operasi di masyarakat atau dirumah dapat mempengaruhi pelaksanaan ambulasi. 

d. Dukungan Sosial 
Gottlieb (1983) mendefenisikan dukungan sosial sebagai info verbal atau non verbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dalam subjek didalam lingkungan soisialnya atau yang berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkah laku penerimanya. Menurut Sjamsuhidajat & Jong (2005) Keterlibatan anggota keluarga dalam rencana asuhan keperawatan pasien dapat memfasilitasi proses pemulihan. Membantu pasien mengganti balutan, membantu pelaksanaan latihan ambulasi atau memberi obat-obatan. Menurut penelitian yang dilakukan Oldmeadow et al (2006)  dukungan sosial yaitu keluarga, orang terdekat dan perawat sangat mempengaruhi untuk membantu pasien melaksanakan latihan ambulasi. Menurut Olson (1996 dalam Hoeman, 2001) ambulasi dapat terlaksana tergantung dari kesiapan pasien dan keluarga untuk belajar dan berpatisipasi dalam latihan (Olson, 1996 dalam Hoeman, 2001). 

e. Pengetahuan 
Pasien yang sudah diajarkan mengenai gangguan muskuloskeletal akan mengalami peningkatan alternatif penanganan. Informasi mengenai apa yang diharapkan termasuk sensasi selama dan setelah penanganan dapat memberanikan pasien untuk berpartisipasi secara aktif dalam pengembangan dan penerapan penanganan. Informasi khusus mengenai antisipasi peralatan misalnya pemasangan alat fiksasi eksternal, alat bantu ambulasi (trapeze, walker, tongkat), latihan, dan medikasi harus didiskusikan dengan pasien (Brunner & Suddarth, 2002). Informasi yang diberikan tentang prosedur perawatan dapat mengurangi ketakutan pasien. 


Daftar Pustaka:

Craven F.R & Hirnle J.C. (2009). Fundamentals of Nursing: Human, Health and Function. (6th edition). USA. Lippincott Williams & Wilkins.

Kamel et al. (1999). Time to Ambulation After Hip Fracture Surgery: Relation to Hopitalization Outcomes.  Diambil tanggal 13 Juni 2009  http:biomed.gerontologyjournal.org/cgi/content/full/58/11/M1042#T02.

Lewis et al. (2000). Medical Surgical Nursing: Assesment and Management of Clinical Problem. (5th edit ion). Phi ladelphia: Mosby.

Potter A.P & Perry G.A. (1999). Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik. (edisi 4 volume 2). Jakarta: EGC.

Brunner & Suddarth. (2002).  Buku  Ajar Keperawatan Medikal  Bedah. (Alih bahasa Rini, M.A). Jakarta: EGC.

Hoeman, S.P. (2001). Rehabilitation Nursing (Process Application & out comes). (3thedition). United States of America: Mosby Inc.

Gartland, J.J. (1987).  Fundamentals of Orthopaedics. (4th edit ion). USA. W.B Saunders Company.

Saxton, F.D. et al. (1983). Manual Of Nursing Practice. United States of America.  Addison-Wesley.

Oldmeadow, B.L. et al. (2006).  No Rest for the Wounded: Early Ambulation After Hip  Surgery Accelerates Recovery. Diambil tanggal 26 Juni 2009 dari  http://proquest.umi.com/pqdweb?did=1682638771&Fmt=3&clienttld  =6392&RQT=309&VName=PQD.

Perry, G.A & Potter A.P. (2006). Clinical Nursing Skills & Techniques.   (6the dition). USA : Mosby.

Sjamsuhidajat, R & Jong, D. W. (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah. (edisi 2). Jakarta: EGC.  

Pengertian Ambulasi Dini Definisi, Manfaat, dan Persiapannya Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment