Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Monday, 13 July 2015

Pengertian Economic Value Added (EVA) Definisi Tujuan Konsep Keunggulan Kelemahan Perhitungan

Pengertian Economic Value Added (EVA) 

Gagasan mengenai EVA telah lama  ada. Pada tahun 1920-an, Alfred Stern melaksanakan sisitem seperti EVA (mengurangi biaya modal dari laba yang diperoleh) untuk divisi operasi general motors. Perusahaan Jepang Matsushita menciptakan sistem serupa pada tahun 1950-an. Pada zaman itu, orang menamainya dengan pendapatan residual (residual income) atau laba ekonomis (economic profit).

Istilah EVA belum tercipta (Young & O′Byrne,2001:94), konsep EVA pertama kali diperkenalkan oleh Geoege bennet stewart, salah seorang managing partner dari sebuah perusahaan konsultan manajemen terkemuka yaitu Stern Stewart & Company yang berkantor pusat di New York, dalam bukunya yang berjudul “The Quest For Value” pada tahun 1980. 

Perusahaan pertama yang sukses menerapkan EVA adalah The Coca Cola Company pada tahun 1990, yang merupakan klien Stern Stewart & Co. berkat penerapan EVA, perusahaan tersebut dapat meningkatkan efisiensi operasi, sehingga harga sahamnya membumbung tinggi dari US$ 3 menjadi US$ 42 atau naik sebesar 14 kali lipat. Tahun 1995  perusahaan SPX juga menerapkan EVA dan hasilnya cukup mengagumkan. Perusahaan yang sebelumnya mengalami kinerja buruk selama bertahun-tahun dengan laba rendah dan harga saham lesu, berubah menjadi pencipta nilai yang  tinggi. Tahun 1996 perusahaan tersebut berhasil mencetak EVA sebesar US$ 27 juta, kemudian pada tahun 1998 EVA meningkat menjadi US$ 60 dan tahun 1999 naik lagi menjadi US$ 130. Perusahaan ini berhasil memperbaiki kinerjanya dengan menerapkan konsep EVA, dengan melakukan serangkaian  tindakan yang seluruhnya memiliki satu tujuan yaitu menciptakan nilai pemegang saham. 

Economic Value Added (EVA) banyak diterapkan oleh perusahaan di AS, beberapa diantaranya yaitu CSX, Briggs & Stratton, AT&T, dan Quaker Qats (Nasser,2003:25). Di Indonesia konsep  EVA ini juga sudah diterapkan oleh beberapa perusahaan umtuk menilai kinerja manajemennya. Perusahaan yang pertama kali menerapkan EVA di Indonesia adalah PT. United Tractors,Tbk pada tahun 1996.
Defenisi EVA menurut Brigham & Houstan (2006:68), EVA adalah nilai yang ditambahkan oleh manajemen kepada pemegang saham selama satu tahun tertentu. EVA mencerminkan laba residu yang tersisa setelah biaya dari seluruh modal termasuk modal ekuitas dikurangkan. Hal ini senada dengan pendapat Endri (2005:157) yang mendefenisikan EVA sebagai sisa laba (residual income) setelah semua penyedia kapital diberi kompensasi yang sesuai dengan tingkat pengembalian yang dibutuhkan atau setelah semua biaya kapital yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut dibebankan. Menurut Warsono (2003:48), EVA adalah perbedaan antara laba operasi setelah dengan biaya modalnya. Jadi, EVA suatu estimasi laba ekonomis yang benar atas suatu bisnis selama tahun tertentu. Dalam menghitung EVA ada tiga variabel yang penting yaitu NOPAT (Net Operating Profit After Tax) atau laba setelah pajak, Coc (Cost Of Capital) atau biaya modal dan EVA atau nilai tambah ekonomis itu sandiri. 

Perbedaan konsep ini dengan alat ukur lain berbasis akuntansi adalah pada EVA, laba telah dikurangkan dengan biaya modal. Sementara laba akuntansi hanya mengurangkan pendapatan dengan biaya operasional sehingga dengan metode EVA diperoleh laba ekonomis yaitu laba yang sebenarnya dari sebuah perusahaan setelah semua biaya yang  dikeluarkan untuk mendapatkan laba dikurangkan. Defenisi laba ekonomis menurut Young & O′Byrne (2001:95) adalah laba yang diperoleh dari suatu tindakan ekonomis bertentangan dengan perspektif akuntansi yang mensyaratkan  sebuah perusahaan dapat menutup tidak hanya biaya operasi tetapi jugta seluruh biaya modal. Biaya modal ini meliputi tidak hanya elemen-elemen yang jelas, seperti pembayaran bunga kepada bankir dan pemegang obligasi, tetapi juga kesempatan biaya modal yang diinvestasikan oleh pemegang saham perusahaan. Dengan  demikian, perusahaan yang berlaba secara akuntansi belum tentu memiliki nilai EVA yang positif. 

Dengan menerapkan konsep EVA, dapat dilihat berapa nilai tambah yang bisa dihasilkan oleh perusahaan setelah semua komponen biaya dikurangkan. Saat perusahaan berhasil menciptakan nilai tambah berarti kinerja keuangan perusahaan tersebut bagus. 

Menurut Nasser (2003:28) ada  3 strategi menaikkan nilai  economic value added (EVA) yaitu : 
  1. Strategi penciptaan nilai dengan mencapai pertumbuhan keuntungan (profitable growth). Hal ini bisa dicapai dengan menambah modal yang diinvestasikan pada proyek dengan tingkat pengembalian yang tinggi. 
  2. Strategi penciptaan nilai dengan meningkatkan efisiensi operasi (operating efficiency). Dalam hal ini meningkatkan keuntungan tanpa menggunakan tambahan modal. 
  3. Strategi penciptaan nilai dengan rasionalisasi dan keluar dari bisnis yang tidak menjanjikan (rationalize and exit unrewording business). Ini berarti menaik modal yang tidak produktif dan menarik modal dari aktivitas yang menghasilkan return yang rendah dan menghapus unit bisnis yang tidak menjanjikan hasil. 


Semua strategi tersebut menuntut kepedulian dan kebijaksanaan manajemen dalam memilih investasi yang menguntungkan yaitu investasi dengan return yang optimum dan risiko yang minimum. Dengan demikian manajemen mampu menciptakan nilai tambah ekonomis bagi perusahaan. 

Tujuan dan Manfaat Konsep Economic Value Added (EVA) 

Menurut Abdullah (2003 : 142), dengan perhitungan EVA diharapkan akan mendapatkan hasil perhitungan  nilai ekonomis perusahaan yang lebih realistis. Oleh karena itu, EVA dihitung berdasarkan perhitungan biaya modal (cost of capital) yang menggunakan nilai pasar berdasarkan kepentingan kreditur terutama para pemegang saham dan bukan berdasarkan nilai buku yang bersifat histories. Perhitungan EVA juga diharapkan dapat mendukung penyajian laporan keuangan sehingga akan mempermudah bagi para pengguna laporan keuangan. 

Menurut Siddharta, seperti yang  dikutip oleh Abdullah (2003:142) sedikitnya ada 4 manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan EVA untuk menilai kinerja keuangan perusahaan : 
  1. Penerapan model EVA sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai pengukur kinerja perusahaan dimana fokus penilaian adalah penciptaan nilai (value creation). 
  2. penilaian kinerja keuangan dengan menggunakan pendekatan EVA menyebabkan perhatian manajemen sesuai dengan kepentingan pemegang saham. Dengan EVA para manajer akan berfikir dan bertindak seperti halnya pemegang saham yaitu memilih investasi yang memaksimmkan tingkat pengembalian dan meminimumkan tingkat biaya sehigga nilai perusahaan dapat di maksimalkan. 
  3. EVA mendorong perusahaan untuk lebih memperhatikan kebijaksanaan struktur modalnya. 
  4. EVA dapat digunakan untuk mengidentifikasikan proyek atau kegiatan yang memberikan pengembalian yang lebih tinggi dari pada biaya modalnya. 

Kegiatan atau proyak yang memberikan nilai sekarang dari total EVA yang positif menunjukkan adanya penciptaan  nilai dari proyek tersebut dan dengan demikian sebaiknya diambil, begitu pula sebaliknya. 

Konsep EVA tidak hanya digunakan dalam penilaian suatu investasi saja, tetapi juga berperan dalam hal  goal setting, capital budgeting, performance assessment, dan incentive compensation. 
a.  EVA dan Goal setting 
Fokus perusahaan untuk mengejar laba sebesar-besarnya hanyalah tujuan jangka pendek saja. Tetapi tujuan maksimalisasi nilai EVA adalah untuk jangka panjang. Hal ini perlu dikomunikasikan sejak awal kepada manajemen, sehingga para manajer terhindar dari  myopic behaviour dan menjadi lebih terfokus pada penciptaan nilai dan bukan mengejar laba besar. Lewat komunikasi ini dapat disatukan upaya untuk mendorong proses-proses yang menambah nilai dan mengurangi proses-proses yang tidak menambah nilai bagi perusahaan. 

b.  EVA dan Capital bugeting 
Konsep EVA dalam hal investasi mempunyai prinsip yang sama dengan Net Present Value (NPV). Net Present Value juga dapat diperoleh dari jumlah nilai sekarang dari EVA yang dihasilkan oleh setiap proyak dimana biaya modal baru yang digunakan untuk membiayai sebuah proyek dikurangkandari perhitungan awal EVA. Pedoman EVA untuk  capital budgeting adalah menerima proyek atau peluang investasi yang menghasilkan  positive discounted EVA dan menolak proyek yang menghasilkan negative discounted EVA. Proyek dengan  positive discounted EVA akan menambah nilai, demikian sebaliknya proyek dengan negative discounted EVA akan merusak atau mengurangi nilai sebuah perusahaan. 

c.  EVA dan performance assessment 
Pada suatu perusahaan, pemilik perusahaan akan menunjuk dan memberikan wewenang kepada manajemen untuk menjalankan operasi perusahaan sehari-hari. Manajemen cendrung mempunyai kontrol penuh atas segala strategi atau tindakan yang dilakukan meskipun masih ada campur tangan dari pemilik. Pemisahan antara kepemilikan dan kontrol ini menyebabkan terjadinya conflict of interest antara pemilik dan manajemen dimana manajemen cendrung menginginkan maksimalisasi nilai perusahaan  untuk mengurangi atau memperkecil biaya yang timbul karena perbedaan kepentingan pemilik dengan manajemen, maka dibentuklah suatu sistem performance assessment yang memberikan insentif pada strategi atau tindakan manajemen yang menambah nilai, bukan sekedar laba yang tinggi, yang bisa saja terjadi karena penggunaan metode akuntansi yang berbeda. Pedoman yang digunakan untuk mengukur nilai tambah perusahaan adalah EVA. 

d.  EVA dan Incentive compensation 
Pada perusahaan besar yang kepemikikannya tersebar ke banyak pemegang saham dan tujuan perusahaan adalah value building, sistem pemberian insentif atau penggajian seharusnya ditujukan untuk mendorong aktivitas yang menambah nili perusahaan yaitu insentif atau bonus diberikan. Pada individu yang strategi atau tindakannya menambah nilai perusahaan. Sistem kompensasi yang berpedoman pada pengukuran akuntansi mempunyai kelemahan yaitu karena adanya hubungan yang semu antara laba buku dan kehidupan ekonomis suatu perusahaan. Manajemen akan mengambil tindakan atau strategi yang meningkatkan laba dan tentu akan meningkatkan gaji mereka, tetapi menumbuhkan nilai keseluruhan suatu perusahaan. 

Keunggulan dan Kelemahan Konsep Economic Value Added (EVA) 

a.Keunggulan Konsep EVA 
Menurut Iramani & Febrian (2005 : 6), keunggulan yang dimiliki EVA diantaranya sebagai berikut : 
  1. EVA memfokuskan penilaian pada nilai tambah dengan memperhitungkan beban sebagai konsekuensi investasi 
  2. Konsep EVA adalah alat perusahaan dalam mengukur harapan yang dilihat dari segi ekonomis dalam pengukurannya yaitu dengan memperhatikan harapan penyandang dana secara adil dimana derajat keadilan dinyatakan dengan ukuran tertimbang dari struktur modal yang ada dan berpedoman pada nilai pasar bukan nilai buku 
  3. Perhitungan EVA dapat digunakan secara mandiri tanpa memerlukan data pembanding seperti standar  industri atau data perusahaan lain sebagai konsep penilaian 
  4. Konsep EVA dapat digunakan sebagai dasar penilaian penberian bonus pada karyawan dengan divisi yang memberikan EVA lebih besar 
  5. Pengaplikasian EVA yang mudah menunjukkan bahwa konsep tersebut merupakan ukuran praktis, mudah dihitung dan mudah digunakan sehingga merupakan salah satu bahan pertimbangan dalam mempercepat pengambilan keputusan bisnis

Baca: Pengertian Saham Biasa Preferen dan Cirinya

b. Kelemahan Konsep EVA 
Beberapa kelemahan konsep EVA antara lain : 
  1. Secara konseptual EVA memang  lebih unggul daripada pengukuran tradisional akuntansi, namun secara  praktis belum tentu dapat diterapkan dengan mudah 
  2. EVA dalah alat ukur semata dan tidak bisa berfungsi sebagai cara untuk mencapai sasaran perusahaan sehingga diperlukan suatau cara bisnis tertentu untuk mencapai sasaran perusahaan 
  3. Masih mengandung unsur keberuntungan  yaitu naik turunnya EVA dapat dipengaruhi oleh gejolak di pasar modal 
  4. EVA hanya menggambarkan penciptaan nilai pada suatu tahun tertentu 
  5. EVA mendorong pengalokasian dana perusahaan untuk investasi dengan biaya modal yang rendah 

Metodologi Perhitungan Economic Value Added 

Langkah-langkah perhitungan EVA sebagai berikut : 

a.  NOPAT (Net Operating Profit After Taxes) 
Pada perhitungan EVA, komponen pertama yang harus diketahui adalah NOPAT yang diperoleh perusahaan. Laba bersih operasi setelah pajak (NOPAT) yaitu sejumlah laba perusahaan yang akan dihasilkan jika perusahaan tersebut tidak memiliki utang dan tidak memiliki aset finansial. Menurut Sartono (2001:100) 

NOPAT sama dengan  Earnings Before Interest and Taxes (EBIT) dikali dengan selisih satu dengan pajak perusahaan.
NOPAT didefenisikan sebagai berikut : 
NOPAT = EBIT (1-pajak perusahaan) 

b.  Modal operasi atau operating capital  merupakan penjumlahan dari utang, saham preferen, dan saham biasa yang digunakan untuk pengadaan asset operasi bersih  (Net Operating Asset) yaitu modal kerja operasi bersih ditambah investasi pabrik dan peralatan bersih. 

Menurut Sartono (2001:99) 
Modal kerja operasi bersih sama  dengan semua aset lancar yang tidak memberikan bunga dikurang semua utang lancar yang tidak mensyaratkan bunga. 
Modal kerja operasi bersih di defenisikan sebagai berikut : 
Modal kerja operasi bersih = (kas +  piutang dagang + persediaan) – (utang dagang + akrual) 
Total modal operasi sama dengan modal kerja operasi bersih di tambah aset tetap bersih atau investasi pabrik dan peralatan bersih. 
Total modal operasi di defenisikan sebagai berikut : 
Total modal operasi = modal kerja operasi bersih + aset tetap bersih 

c.  Biaya modal setelah pajak dapat dihitung berdarsarkan biaya untuk masing-masing sumber dana yang disebut biaya modal individual. Biaya modal individual tersebut dihitung satu per satu untuk tiap jenis modal. Namun, apabila perusahaan menggunakan beberapa sumber modal maka biaya modal yang dihitung adalah biaya  modal rata-rata tertimbang  (Weighted Average Cost Of Capital disingkat WACC). (Martono & Harjito, 2001 : 202)

Menurut Tunggal (2001 : 29), rumus yang digunakan untuk mencari WACC adalah : 

                  debt                                                                     equity
WACC = ------------------------  × cost of debt (1-T) +  ----------------------  × cost of equity 
                 debt+ equity debt                                                debt +equity


Biaya modal yang digunakan, baik untuk perusahaan maupun proyek khusus adalah biaya modal rata-rata tertimbang ini mempunyai beberapa komponen : biaya utang (cost of debt), biaya saham preferen (cost of prefered stock), dan biaya ekuitas biasa (cost of common equity). Biaya modal saham biasa dan laba ditahan atau  sering disatukan menjadi biaya modal sendiri (biaya ekuitas) atau disebut biaya modal saham biasa saja. Biaya hutang  (cost of debt) adalah tingkat pengembalian yang dikehendaki karena adanya risiko kredit  (credit risk) yaitu risiko perusahaan dalam memenuhi kewajiban pembayarab bunga dan pokok hutang. Biaya saham preferen  (cost of prefered stock) yaitu biaya atas penggunaan dana yang digunakan untuk investasi yang dilakukan perusahaan yang berasal dari saham preferen. Biaya ekuitas (cost of equity) yaitu tingkat pengembalian yang dikehendaki investor karena adanya ketidakpastian tingkat laba.

Baca: Pengertian Investasi Jenis dan Definisi Menurut Para Ahli 

Menurut Warsono (2003 : 146), ada tiga pendekatan untuk menghitung biaya laba ditahan ini nyaris sama dengan perhitungan biaya saham biasa. Dalam penerapannya mungkin saja menghasilkan laba ditahan yang berbeda karena menggunakan dasar dan asumsi yang berbeda. Maka dicarilah hasil perhitungan rata-ratanya : 
a.  Model Arus Diskonto 
           D0
Ks = -----   + g
           P1
Keterangan : 
Ks = Biaya laba ditahan  
D1  = Dividen yang diharapkan pada tahun pertama 
P0  = Harga pasar saham biasa perusahaan 
 g   = Tingkat pertumbuhan dividen tahunan 

b.  CAPM (Capital Asset Pricing Model) 
Ks = Rf + {(Rm – Rf) × β} 
Keterangan : 
Ks = Biaya laba ditahan 
Rf = Tingkat pengembalian bebas risiko 
Rm = Tingkat pengembalian pasar 
β    = Pengukur risiko sistematis saham 

c.  Model Premi Risiko   
Ks = Ki + Rp 
Keterangan : 
Ks = Biaya laba ditahan 
Ki = Biaya utang setelah pajak 
Rp = Risk Premium/Premi risiko 

d.  EVA = Laba bersih operasi setelah pajak (NOPAT) – Biaya modal setelah pajak yang diperlukan untuk mendukung operasi 
             = EBIT (1-pajak perusahaan) – (Modal operasi) (Biaya modal setelah pajak)

Baca: Pengertian Bank dan Perbankan Menurut Definisi Para Ahli

EVA didasarkan pada gagasan keuntungan ekonomis yang menyatakan bahwa kekayaan hanya diciptakan ketika perusahaan meliputi biaya operasional dan biaya modal. Manajemen dapat melakukan banyak hal untuk menciptakan nilai tambah, tetapi pada prinsipnya EVA akan meningkat jika manajemen melakukan satu dari tiga hal berikut : 
  1. Meningkatkan laba operasi tanpa adanya tambahan modal  
  2. Menginvestasikan modal baru ke dalam project yang mendapat return lebih besar dari biaya modal yang ada 
  3. Menarik modal dari aktivitas-aktivitas usaha yang tidak menguntungkan 

Baca: Pengertian Tabungan Menurut Definisi Para Ahli

Daftar Pustaka
Young, David S. O′bryne, Stephen F. Economic Value Added dan Manajemen Berdasarkan Nilai. Jakarta : PT Salemba Empat, 2001. 

Nasser, Etty M. Pengukuran Kinerja Perusahaan Dengan Metode EVA dan MVA. Media Riset Akuntansi, Auditing dan Informasi, volume 3 No.1, hal : 24-42.2003. 

Brigham Eugene F. Houstan Joel F. Manajemen Keuangan, buku satu, edisi kedelapan. Jakarta : Erlangga, 2001. 

Endri. Analisis Pengaruh EVA Terhadap MVA Pada 10 Perusahaan Go Public Yang Sahamnya Tergolong Blue Chips di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Media Ekonomi, volume 11 No.2, Hal : 155-170. 2005.  

Warsono.  Manajemen Keuangan Perusahaan, edisi ketiga. Malang : Banyumedia Publising, 2003.  

Abdullah, Faisal  M. Manajemen Perbankan, edisi pertama. Malang : UMM Press, 2003. 

Iramani, Rr. Febrian Erie. Financial Value Added : Suatu Paradigma dalam Pengukuran Kinerja dan Nilai Tambah Perusahaan.  Jurnal Akuntansi dan Keuangan. 7(1). 1 – 10.2005. 

Sartono, Agus R. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi, edisi keempat. Yogyakarta : BPFE UGM, 2001. 

Tunggal, Amin Widjaja.  Memahami Konsep EVA dan Value Based Management (UBM). Jakarta : Harvarindo, 2001. 

Pengertian Economic Value Added (EVA) Definisi Tujuan Konsep Keunggulan Kelemahan Perhitungan Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment