Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Tuesday, 28 July 2015

Pengertian Fraktur Jenis, Klasifikasi, dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan

Pengertian fraktur Menurut Admin (2005), fraktur adalah keadaan dimana hubungan kesatuan jaringan tulang terputus. Tulang mempunyai daya lentur dengan kekuatan yang memadai, apabila trauma melebihi dari daya lentur tersebut maka terjadi fraktur, terjadinya fraktur disebabkan karena trauma, stress kronis dan berulang maupun pelunakan tulang yang abnormal. Menurut Apley (1995), fraktur adalah suatu patahan  kontinuitas struktur tulang, patahan mungkin lebih dari satu retakan.

Fraktur ekstremitas bawah adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang terjadi pada ekstremitas bawah yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Trauma yang menyebabkan fraktur dapat berupa trauma langsung, misalnya  yang sering terjadi benturan pada ekstremitas bawah yang menyebabkan fraktur pada tibia dan fibula dan juga dapat berupa trauma tidak langsung misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah (Sjamsuhidajat & Jong, 2005). 

Klasifikasi Fraktur 

Beberapa jenis fraktur yang sering terjadi akibat trauma, cedera maupun disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, antara lain : 

Baca: Pengertian Ambulasi Dini Definisi, Manfaat, dan  Persiapannya
  1. Fraktur komplet/tidak komplet
    Fraktur komplet adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran (bergeser dari posisi normal). Fraktur tidak komplet, patah hanya   terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang. 
  2. Fraktur tertutup
    Fraktur tertutup merupakan fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit. 
  3. Fraktur terbuka (fraktur komplikata/kompleks)
    Merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membrana mukosa sampai ke bagian yang fraktur. Fraktur terbuka digradasi menjadi; Gradasi I dengan luka bersih kurang dari 1 cm panjangnya, kerusakan jaringan lunak sedikit; Gradasi II luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif; Gradasi yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif, merupakan kondisi yang paling berat. 

Jenis-jenis Fraktur Ekstremitas Bawah 

Menurut Lewis et al (2000) jenis-jenis fraktur pada bagian ekstremitas bawah, antara lain : 


  1. Fraktur collum femur (fraktur hip)
    Mekanisme fraktur dapat disebabkan oleh trauma langsung  (direct) dan trauma tidak langsung (indirect).  Trauma langsung  (direct)  biasanya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras. Trauma tidak langsung (indirect) disebabkan gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah. Karena kepala femur terikat kuat dengan  ligamen didalam acetabulum oleh ligamen iliofemoral dan kapsul sendi, mengakibatkan fraktur didaerah collum femur. fraktur leher femur kebanyakan terjadi pada wanita tua (60 tahun keatas) dimana tulang sudah mengalami osteoporosis. 
  2. Fraktur subtrochanter femur
    Fraktur subtrochanter femur ialah dimana garis patah berada 5 cm distal dari trochanter minor. Mekanisme fraktur biasanya trauma langsung dapat terjadi pada orang tua biasanya disebabkan oleh trauma yang ringan seperti jatuh dan terpeleset dan pada orang muda biasanya karena trauma dengan kecepatan tinnggi. 
  3. Fraktur batang femur
    Mekanisme trauma biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas dikota-kota besar atau jatuh dari ketinggian. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak sehingga menimbulkan shock pada penderita. Secara klinis penderita tidak dapat bangun, bukan saja karena nyeri tetapi juga karena ketidakstabilan fraktur. Biasanya seluruh tungkai bawah terotasi keluar, terlihat lebih pendek dan bengkak pada bagian proximal akibat perdarahan kedalam jaringan lunak. 
  4. Fraktur patella
    Mekanisme Fraktur dapat disebabkan karena trauma langsung atau tidak langsung. Trauma tidak langsung disebabkan karena tarikan yang sangat kuat dari otot kuadrisep yang membentuk muskulotendineus melekat pada patella. Hal ini sering disertai pada penderita yang jatuh dimana tungkai bawah menyentuh tanah terlebih dahulu dan otot kuadrisep kontraksi secara keras, untuk mempertahankan kestabilan lutut. Fraktur langsung dapat disebabkan penderita jatuh dalam posisi lutut fleksi, dimana patella terbentur dengan lantai. 
  5. Fraktur proximal tibia
    Mekanisme trauma biasanya terjadi trauma langsung dari arah samping lutut, dimana kakinya masih terfiksir ditanah. Gaya dari samping ini menyebabkan permukaan sendi bagian lateral tibia akan menerima beban yang sangat besar yang akhirnya akan menyebabkan fraktur intraartikuler atau terjadi patahnya permukaan sendi bagian lateral tibia, dan kemungkinan yang lain penderita jatuh dari ketinggian yang akan menyebabkan penekanan vertikal pada permukaan sendi. Hal ini akan menyebabkan patah intra artikular berbentuk T atau Y. 
  6. Fraktur tulang tibia dan fibula
    Mekanisme trauma biasanya dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung akibat kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian lebih dari 4 cm, fraktur yang terjadi biasanya fraktur terbuka. Sedangkan yang tidak langsung diakibatkan oleh gaya gerak tubuh sendiri. Biasanya fraktur tibia fibula dengan garis patah spiral dan tidak sama tinggi pada tibia pada bagian distal sedang fibula pada bagian proksimal. Trauma tidak langsung dapat disebabkan oleh cedera pada waktu olah raga dan biasanya fraktur yang terjadi yaitu tertutup. Gambaran klinisnya berupa  pembengkakan dan karena kompartemen  otot merupakan sistem yang tertutup, dapat terjadi sindrom kompartemen dengan gangguan vaskularisasi kaki. 

Proses Penyembuhan Fraktur 

Proses penyembuhan fraktur bervariasi sesuai dengan ukuran tulang dan umur pasien. Faktor lainnya adalah tingkat kesehatan pasien secara keseluruhan, atau kebutuhan nutrisi yang cukup. Berdasarkan proses penyembuhan fraktur, maka dapat diklasifikasikan sebagai berikut :  


  1. Proses hematom
    Merupakan proses terjadinya pengeluaran darah hingga terbentuk hematom (bekuan darah) pada daerah terjadinya fraktur tersebut, dan yang mengelilingi bagian dasar fragmen. Hematom merupakan bekuan darah kemudian berubah menjadi bekuan cairan semi padat (Dicson & Wright, 1992). 
  2. Proses proliferasi
    Pada proses ini, terjadi perubahan pertumbuhan pembuluh darah menjadi memadat, dan terjadi perbaikan aliran pembuluh darah (Pakpahan, 1996). 
  3. Proses pembentukan callus pada orang dewasa antara 6-8 minggu, sedangkan pada anak-anak 2 minggu. Callus merupakan proses pembentukan tulang baru, dimana callus dapat terbentuk diluar tulang (subperiosteal callus) dan didalam tulang (endosteal callus). Proses perbaikan tulang terjadi sedemikian rupa, sehingga trabekula yang dibentuk dengan tidak teratur oleh tulang  imatur untuk sementara bersatu dengan ujung-ujung tulang yang patah sehingga membentuk suatu callus tulang (Pakpahan, 1996). 
  4. Proses konsolidasi (penggabungan)
    Perkembangan callus secara terus-menerus, dan terjadi pemadatan tulang seperti sebelum terjadi fraktur, konsolidasi terbentuk antara 6-12 minggu (ossificasi)  dan antara 12-26 minggu (matur). Tahap ini disebut dengan penggabungan atau penggabungan secara terus-menerus (Pakpahan, 1996). 
  5. Proses remodeling
    Proses remodeling merupakan tahapan terakhir dalam penyembuhan tulang, dan proses pengembalian bentuk seperti semula. Proses terjadinya remodeling antara 1-2 tahun setelah terjadinya callus dan konsolidasi (Smeltzer & Bare, 2002).  

Faktor-faktor  yang  Mempengaruhi  Penyembuhan  Fraktur. 

Fraktur atau patah tulang merupakan keadaan dimana hubungan atau kesatuan jaringan tulang putus. Dalam proses penyembuhan fraktur ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan pada fraktur, antara lain : 


  1. Usia
    Lamanya proses penyembuhan fraktur sehubungan dengan umur lebih bervariasi pada tulang dibandingkan dengan jaringan-jaringan lain pada tubuh. Cepatnya proses penyembuhan ini sangat berhubungan erat dengan aktifitas osteogenesis dari periosteum dan endosteum. Sebagai contoh adalah fraktur diafisis femur yang akan bersatu (konsolidasi sempurna) sesudah 12 (dua belas) minggu pada usia 12 tahun, 20 (dua puluh) minggu pada usia 20 tahun sampai dengan usia lansia 
  2. Tempat (lokasi) fraktur
    Fraktur pada tulang yang dikelilingi otot akan sembuh lebih cepat dari pada tulang yang berada di subkutan atau didaerah persendian. Fraktur pada tulang berongga (cancellous bone) sembuh lebih cepat dari pada tulang kompakta. Fraktur dengan garis fraktur yang oblik dan spiral sembuh lebih cepat dari pada garis fraktur yang transversal. 
  3. Dislokasi fraktur
    Fraktur tanpa dislokasi, periosteumnya intake, maka lama penyembuhannya dua kali lebih cepat daripada yang mengalami dislokasi. Makin besar dislokasi maka semakin lama penyembuhannya. 
  4. Aliran darah ke fragmen tulang
    Bila fragmen tulang mendapatkan aliran darah yang baik, maka penyembuhan lebih cepat dan tanpa komplikasi. Bila terjadi gangguan berkurangnya aliran darah atau kerusakan jaringan lunak yang berat, maka proses penyembuhan menjadi lama atau terhenti. 

Penatalaksanaan Pasien yang Menjalani Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah  
1. Jenis Pembedahan 
Penanganan fraktur pada ekstremitas bawah dapat dilakukan secara konservatif dan operasi sesuai dengan tingkat keparahan fraktur dan sikap mental pasien (Smeltzer  & Bare,  2001). Operasi adalah tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani (Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Menurut Smeltzer & Bare (2002) 

Prosedur pembedahan yang sering dilakukan pada pasien fraktur ekstremitas bawah meliputi :  

  • Reduksi terbuka dengan fiksasi interna (open reduction and internal  fixation/ORIF). Fiksasi internal dengan pembedahan terbuka akan mengimmobilisasi fraktur dengan melakukan pembedahan untuk memasukkaan paku, sekrup atau pin kedalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian-bagian tulang yang fraktur secara bersamaan. Sasaran pembedahan yang dilakukan untuk memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan, stabilitas, mengurangi nyeri dan disabilitas.  


  • Fiksasi eksterna, digunakan untuk mengobati fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak. Alat ini dapat memberikan dukungan yang stabil untuk fraktur comminuted  (hancur & remuk) sementara jaringan lunak yang hancur dapat ditangani dengan aktif. Fraktur  complicated  pada femur dan tibia serta pelvis diatasi dengan fiksator eksterna, garis fraktur direduksi, disejajarkan dan diimmobilsasi dengan sejumlah pin yang dimasukkan kedalam fragmen tulang. Pin yang telah terpasang dijaga tetap dalam posisinya yang dikaitkan pada kerangkanya, Fiksator ini memberikan kenyamanan bagi pasien, mobilisasi dini dan latihan awal untuk sendi disekitarnya. 


  • Graft Tulang yaitu penggantian jaringan tulang untuk stabilisasi sendi, mengisi defek atau perangsangan  untuk penyembuhan. Tipe graft yang digunakan tergantung pada lokasi fraktur, kondisi tulang dan jumlah tulang yang hilang karena injuri. Graft tulang mungkin dari tulang pasien sendiri (autograft) atau tulang dari tissue bank (allograft). Graft tulang dengan autograft biasanya diambil dari bagian atas tulang iliaka, dimana terdapat tulang  kortikal dan cancellous bone. Cancellous graft mungkin diambil dari ileum, olecranon, atau distal radius; cortical graft mungkin diambil dari tibia, fibula atau iga. Graft  tulang dengan allograft dilakukan ketika tulang dari pasien itu tidak tersedia karena kualitas tidak baik atau karena prosedur sekunder tidak diinginkan pada pasien (Meeker & Rothrock, 1999). 

2.  Anastesi bedah fraktur 
Anastesi adalah kehilangan sensasi baik sebagian atau keseluruhan dengan atau tanpa kehilangan kesadaran. Ini mungkin terjadi sebagai hasil dari penyakit dan cedera atau proses kerja obat atau gas. Dua tipe yang menyebabkan anastesi adalah general yang membuat pasien tidak sadar dan anastesi regional menyebabkan hilangnya kesadaran pada beberapa lokasi tubuh dan membutuhkan pengawasan. Anastesi general (mayor) adalah suatu obat yang menimbulkan depresi susunan saraf pusat yang ditandai analgesia dan tidak sadar dengan hilangnya refleks dan tonus otot (Groah, 1996).  

Proses anastesi dimulai dengan medikasi praoperasi. Tujuan pemberian medikasi pada praoperasi adalah menghilangkan kecemasan, mengurangi sekresi saluran pernafasan, mengurangi refleks rangsang, menghilangkan nyeri dan mengurangi metabolisme tubuh. Jenis obat yang dipilih adalah golongan barbiturat, narkotik dan anti kolinergik (Groah, 1996). 

Anastesi regional (lokal) adalah teknik pembiusan yang digunakan pada pasien paska bedah muskuloskeletal untuk menghentikan  transmisi impuls ke dan dari daerah khusus dengan memblok lintasan sodium pada membran saraf. Fungsi pergerakan mungkin terganggu tetapi bisa juga mungkin tidak terganggu, tetapi pasien tidak mengalami kehilangan kesadaran. Teknik pemberian anastesi lokal yang digunakan termasuk topikal, lokal infiltrasi, blok saraf, epidural dan spinal anastesi (Groah, 1996).  

3. Perawatan Pasien  Paska Operasi Fraktur Ekstremitas bawah dengan ORIF. 
Asuhan keperawatan pasien paska operasi fraktur ekstremitas bawah dengan  ORIF  mencakup beberapa observasi dan intervensi meliputi: monitor neurovaskuler setiap 1-2 jam, monitor tanda vital selama 4 jam, kemudian set iap 4 jam sekali selama 1-3 hari dan seterusnya. Monitor hematokrit dan hemoglobin. Observasi karakteristik  dan cairan yang keluar, laporkan pengeluaran cairan dari 100-150 mL/hr setelah 4 jam pertama. Rubah posisi klien setiap 2 jam dan sediakan  trapeze  gantung yang dapat digunakan pasien untuk melakukan perubahan posisi. Letakkan bantal kecil di antara kaki klien untuk memelihara kesejajaran tulang. Anjurkan dan bantu  pasien malakukan teknik nafas dalam dan batuk. Memberikan pengobatan seperti analgesik, obat relaksasi otot, antikoagulant atau antibiotik. Anjurkan  weight bearing  yang sesuai dengan kondisi pasien dan melakukan mobilisasi dini (Reeves et al, 2001). 

Daftar Pustaka:

Admin,  (2005).  Fraktur dan dislokasi. Diambil tanggal 20 Mei 2009 dari http://indofirstaid.com/situs/index.php?option=com.content&task+view& id+70&itemid=72.
Apley, A. G. (1995).  Buku Ajar Orthopedi dan Fraktur Sistem Apley. (Alih bahasa Edi, N). (Edisi 7). Jakarta: Widya Medika.

Sjamsuhidajat, R & Jong, D. W. (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah. (edisi 2). Jakarta: EGC.

Lewis et al. (2000). Medical Surgical Nursing: Assesment and Management of Clinical Problem. (5th edit ion). Phi ladelphia: Mosby.

Pakpahan, R.H. (1996).  Penyembuhan Fraktur dan Gambaran Histologinya: Bagian Ilmu Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.

Dicson, R.A & Wright, V. (1992).  Integrated Clinical Science: Musculoskeletal Disease. London. William Heincman Medical Books Ltd.

Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. (2002).  Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. (Ed.8). Jakarta: EGC.

Groah, L.K. & Nicolette, L. H. (1996).  Perioperative Nursing. (3thedit ion). Pennsylvania: Appleton & Lange Stamford, Connecticut.

Reeves et al. (2001). Keperawatan Medikal Bedah. (Alih bahasa Joko, S). Jakarta: Salemba Medika. 

Pengertian Fraktur Jenis, Klasifikasi, dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment