Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Monday, 13 July 2015

Pengertian Inflasi dan Fiskal Cara Mengatasi Penyebab

Pengertian Inflasi - Defenisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu yang lama.  Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) besar dari harga barang-barang lain (Boediono, 1987: 161) 


Penggolongan Inflasi 

a.  Dilihat dari tingkat keparahannya (besar/kecilnya), inflasi dapat digolongkan ke dalam : 
  • Inflasi Ringan, yaitu inflasi yang laju pertumbuhannya lebih kecil dari 10% per tahun. 
  • Inflasi Sedang, yaitu inflasi yang laju pertumbuhannya terletak antara 10% sampai 30% per tahun. 
  • Inflasi Berat, yaitu inflasi yang laju pertumbuhannya antara 30% sampai 100% per tahun. 
  • Hiper Inflasi, yaitu inflasi yang laju pertumbuhannya lebih dari 100% per tahun. 
b.  Dilihat dari asal usul terjadinya, inflasi dapat digolongkan ke dalam : 
  • Inflasi yang berasal dari dalam negeri (Domestic Inflation) 
    Inflasi yang berasal dari dalam negeri.  Misalnya karena defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan pencetakan uang baru.  Akibat dari pencetakan uang baru  tersebut pada akhirnya akan menimbulkan inflasi. 
  • Inflasi yang berasal dari luar negeri 
    Inflasi ini terjadi di dalam negeri karena adanya pengaruh kenaikan harga dari luar negeri terutama pada barang-barang impor atau kenaikan bahan baku yang belum dapat diproduksi di dalam negeri. Kenaikan harga barang impor, yang merupakan salah satu komponen Indeks Harga Konsumen, akan meningkatkan biaya produksi. 

c.  Dilihat dari kecepatannya, inflasi dapat digolongkan ke dalam : 
  • Inflasi Lunak atau mild inflation 
  • Inflasi cepat atau galloping inflation 
  • Inflasi meroket atau sky-rocketting inflation 
  • Hiper Inflasi atau Hyper Inflation 

d.  Dilihat dari penyebab terjadinya, inflasi dapat digolongkan ke dalam : 
  • Demand pull Inflation 
    Yaitu inflasi yang disebabkan kenaikan permintaan barang dan jasa dengan peningkatan output dengan kata lain permintaan agregar meningkat lebih cepat dibandingkan dengan potensi produksi perekonomian, sehingga harga naik ke atas untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan agregat. 

    Salah satu teori inflasi tarikan permintaan yang berpengaruh menyatakan bahwa jumlah uang beredar adalah determinan utama inflasi.  Alasan dibalik pendekatan ini adalah bahwa pertumbuhan jumlah uang beredar meningkatkan permintaan agregat yang pada gilirannya menaikkan tingkat harga.  Pada gambar dibawah ini menunjukkan suatu demand inflation. Karena permintaan masyarakat akan barang-barang (agregate demand) bertambah (misalnya, karena bertambahnya pengeluaran pemerintah yaang dibiayai oleh pencetakan uang,atau kenaikan permintaan luar negeri akan barang-barang ekspor, atau bertambahnya pengeluaran investasi swasta karena kredit yang murah ), maka kurva  agregat  demand  bergeser dari D1 ke D2. Akibatnya tingkat harga umum naik dari H1 ke H2. 

Baca: Pengertian Tingkat Suku Bunga Teori Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

  • Cost Push Inflation 
    Yaitu inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga faktor-faktor produksi sehingga harga jual outputnya semakin tinggi.  Dalam mencari penjelasan mengenai inflasi dorongan biaya, para ekonom seringkali memulainya dengan upah yang merupakan bagian penting dari biaya-biaya usaha.  Beberapa ekonomi menunjuk serikat pekerja sebagai pihak yang bertanggung jawab karena mereka memaksa untuk meningkatkan upah dalam bentuk uang sekalipun sebagian besar anggota mereka tidak lagi bekerja. 
Pandangan mengenai serikat pekerja sebagai akibat inflasi dorongan biaya seperti ini tidak sesuai dengan kenyataan historis  yaang kompleks.  Harga minyak meningkat dan biaya-biaya usaha untuk produksi meningkat.  Akibat akhir dari kasus tersebut memang tidak sama untuk tiap periode, letusan dari inflasi dorongan biaya mengikuti peningkatan harga minyak.

Proses penetapan upah dan gaji dengan melihat ke kondisi masa mendatang dapat diperluas ke seluruh pekerja.  Cara pengambilan keputusan seperti ini juga diterapkan ke banyak harga produk seperti biaya pendiddikan tinggi, harga model otomotif, dan harga percakapan telepon jarak jauh yang tidak mudah diubah setelah diterapkan.  Dikarenakan panjangnya waktu yang diperlukan untuk memodifikasikan perkiraan inflasi dan menyesuaikan sebagian besar tingkat upah dan harga, inflasi inersial hanya akan menghasilkan guncangan atau perubahan besar dalam kebijakan ekonomi. 

Perbedaan dari kedua inflasi ini adalah terletak pada urutan dari kenaikan harga.  Dalam demand inflation kenaikan harga barang-barang input dan harga-harga faktor-faktor  produksi (upah dan sebagainya).  Sebaliknya, dalam cost push inflation kenaikan harga-harga barang-barang input dan harga-harga faktor produksi mendahului kenaikan harga barang-barang akhir (output). 

Kedua macam inflasi ini jarang sekali ditemukan dalam praktek bentuknya yang murni.  Pada umumnya, inflasi yang terjadi adalah kombinasi dari kedua macam inflasi tersebut, dan seringkali keduanya saling memperkuat satu sama lain. 

Secara garis besar terdapat tiga kelompok yang mengemukakan masalah inflasi, masing-masing menyoroti aspek-aspek tertentu dari proses inflasi. 
1.  Teor i Kwant itas 
Teori ini menyoroti peranan dalam proses inflasi dari jumlah uang beredar dan harapan masyarakat mengenai kenaikan harga-harga.  Inti dari teori ini adalah sebagai berikut : 
  • Inflasi hanya bisa terjadi kalo ada penambahan volume jumlah uang yang   beredar. 
  • Laju inflasi ditentukan oleh pertambahan jumlah uang beredar dan harapan masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa mendatang. 
2.  Teori Keynes 
Teori Keynes menyatakan inflasi didasarkan atas teori makronya.  Teori ini menyoroti aspek lain dari inflasi.  Menurut teori ini, inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup diluar batas kemampuan ekonomisnya.  Proses inflasi menurut pandangan ini tidak lain adalah proses perebutan bagian rezeki diantara kelompok-kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar daripada yang bisa disediakan oleh masyarakat tersebut.  Proses perebutan ini akhirnya menimbulkan keadaan dimana permintaan masyarakat akan barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia, sehingga menimbulkan inflationary gap. 

3.  Teori Struktural 
Teori ini memberi tekanan pada ketegaran (inflexibilities),  dari struktur perekonomian negara-negara sedang berkembang, karena inflasi dikaitkan dengan faktor-faktor struktural dari perekonomian. 

Menurut teori ini ada dua hal yang utama dalam perekonomian negara-negara yang sedang berkembang yang bisa menimbulkan inflasi antara lain : 
  • Berupa ketidakelastisan dari penerimaan ekspor, yaitu nilai ekspor yang tumbuh secara lamban dibanding dengan pertumbuhan sektor-sektor lain.  
  • Berkaitan dengan ketidakselastisan dari supply atau produksi bahan makanan di dalam negeri. Dikatakan bahwa produksi bahan makanan dalam negeri tidak tumbuh secepat pertambahan penduduk dan pendapatan perkapita, sehingga harga bahan makanan di dalam negeri cenderung menaik melebihi kenaikan harga bahan-bahan lain. 

Proses inflasi yang timbul karena kedua hal tersebut diatas dalam prakteknya tidak berdiri sendiri-sendiri.  Umumnya kedua proses tersebut saling berkaitan dan sering sekali memperkuat satu sama lain. 

Cara Mengatasi Penyebab Inflasi

Kebijaksanaan Moneter 
Cara-cara mengatasi inflasi melalui kebijaksanaan moneter untuk sebagian besar sesungguhnya berhubungan dengan politik Bank Sentral.  Tujuannya adalah untuk mengurangi pengeluaran dari masyarakat seluruhnya.  Bank Sentral dapat menyempitkan pemberian kredit atau mengurangi jumlah uang beredar dalam masyarakat dengan tiga cara yaitu : 

1.  Politik Diskonto 
Keinginan  orang-orang atau badan usaha untuk mengadakan pinjaman kepada badan-badan kredit berhubungan erat dengan keuntungan yang diharapkan dari investasi yang akan dijalankan dan besarnya bunga yang harus dibayar dari modal yang dipinjam.  Jika bunga pinjaman semakin besar, maka ada kecenderungan tertahannya aktivitas yang besar yang pembiayaannya didasarkan atas pinjaman dari badan kredit. 

Dengan demikian, jika Bank Sentral menetapkan bunga kredit yang tinggi akan mengakibatkan bank-bank umum mengurangi pinjamannya dari bank Sentral.  Hal ini akan mengakibatkan pinjaman dari masyarakat pun akan berkurang dari bank-bank umum ataupun badan-badan kredit, yang berarti akan mengurangi tekanan inflasi. 

2.  Politik Pasar Terbuka 
Salah satu cara umum yang dipergunakan untuk  mengatasi inflasi oleh Bank Sentral adalah dengan mengadakan politik pasar terbuka.  Politik pasar terbuka yang digunakan untuk mengatasi inflasi ini kadang-kadang disebut juga sebagai  “Tight Money Policy”. Dengan kebijakan ini diharapkan bank sentral akan menjual surat-surat berharga seperti obligasi kepada masyarakat. Karena penjualan ini ditujukan pula kepada bank umum maka hal ini mengakibatkan uang berkurang dari tangan masyarakat dan dari bank umum tersebut. 

Cash ratio  adalah perbandingan antara uang  tunai bank-bank ditambah dengan demand deposit  bank sentral terhadap  demand deposit masyarakat terhadap bank-bank yang bersangkutan. Menaikkan  cash ratio  atau  reserve  requirement  daripada bank-bank dagang merupakan suatu tindakan anti inflasi, oleh karena  hal ini selain mengurangi kemungkinan memenuhi permintaan kredit dari anggota masyarakat. 

Kebijakan Fiskal 

1.  Penurunan Pengeluaran Pemerintah 
Ada dua sektor yang menyebabkan timbulnya inflasi, yaitu sektor pemerintah dan sektor swasta. Dalam mempengaruhi pengeluaran sektor swasta ini dapat dilakukan dengan kebijaksanaan moneter. Tetapi supaya pengeluaran tersebut benar dapat dikurangi, kebijaksanaan tersebut harus dibarengi dengan kebijaksanaan fiskal berupa pengeluaran pemerintah (Government Expenditure) untuk bisa menetralisir kenaikan pengeluaran swasta sehingga pengeluaran aggregate dalan perekonomian bisa dikendalikan. 

2.  Menaikkan Pajak 
Dalam keadaan dimana perekonomian jumlah uang beredar terlalu besar, sehingga menyebabkan terjadinya inflasi. Maka dengan mengurangi jumlah uang yang beredar dengan jalan menaikkan pajak dapat mengurangi tingkat inflasi tersebut. Dengan adanya kenaikan pajak, berarti penghasilan seseorang akan berkurang oleh karena sebahagian dari penghasilan itu dalam bentuk pajak diberikan kepada pemerintah. 

3.   Mengadakan Pinjaman Pemerintah 
Suatu cara untuk mengatasi masalah inflasi yang cukup efektif adalah dengan mengadakan pinjaman pemerintah, terutama pinjaman paksaan. Hal ini juga dianjurkan oleh Keynes dalam rencananya untuk membiayai peperangan, yaitu sebagian dari gaji atau upah pegawai dan buruh dipotong untuk disimpan untuk menjadi pinjaman pemerintah selama jangka waktu yang ditentukan. Pinjaman paksaan ini sebenarnya lebih banyak dianut pada masa peperangan, meskipun kadang-kadang dijalankan pula dalam masa keadaan atau perekonomian yang buruk.

Daftar Pustaka:

Boediono, 2000, Ekonomi Internasional, BPFE, Yogyakarta 

Pengertian Inflasi dan Fiskal Cara Mengatasi Penyebab Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment