Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Monday, 6 July 2015

Pengertian Karir dan Definisi Faktor Penentuan Karir

Pengertian Karir merupakan jenjang jabatan (pekerjaan) yang pernah dipegang (dijabat) oleh seseorang selama orang  tersebut bekerja di organisasi atau perusahaan. Untuk itu orang yang mempunyai karir yang baik, berarti ia selalu menempati pekerjaan atau jabatan yang baik pula. Pekerjaan atau jabatan yang baik dalam pengertian ini adalah pekerjaan yang sifatnya menantang, lebih bergengsi, lebih besar wewenang dan tanggung jawabnya dimana semua itu akan berdampak pula pada semakin besarnya kompensasi (gaji/upah) yang akan dierima oleh karyawan tersebut.  


Menurut Tohardi (2002:279) Karir seseorang akan berkembang bukanlah semata karena faktor nasib. Justru faktor yang paling dominan dalam memuluskan karir seseorang adalah faktor usaha. Maksudnya dengan usaha yang keras dari karyawan yang bersangkutan untuk maju, mengembangkan diri dan menjadi karyawan yang handal.  

Walaupun dalam kenyataan, tidak sedikit karir berkembang karena usaha yang dilakukan oleh karyawan yang bersangkutan. Yang dimaksud usaha adalah usaha berkolusi atau bernepotisme  dengan penjabat-penjabat pembentuk kebijakan promosi. Dengan kata lain  untuk menduduki jabatan tertentu ia ber-KKN. Usaha yang demikian tentunya bukanlah usaha yang dimaksudkan dalam manajemen SDM. Usaha yang dimaksud  itu adalah usaha yang sebenarnya menipu banyak orang. Karena orang yang menduduki jabatan tertentu dari hasil berkolusi dan nepotisme negatif, masih harus dipertanyakan kinerjanya. 

Untuk itulah karyawan dapat meluncur dengan mulus dalam karirnya, maka karyawan yang bersangkutan harus  berusaha keras mengelola diri, bukan pasrah kepada nasib dan bukan juga bermain dengan kolusi dan nepotisme. Agar dalam usaha tersebut tidak sia-sia, berjalan dalam rel yang sebenarnya, maka karir harus direncanakan. Bukankah para  pakar manajemen mengatakan bahwa perencanaan yang baik, merupakan setengah dari keberhasilan.

Baca: Pengertian Penghargaan (Reward) Kriteria Manfaat dan Jenis Definisi Menurut Para Ahli

Dengan perencanaan karir yang baik dalam rangka mengembangkan karir diri, maka seseorang akan dapat membuat taktik, apa yang harus dilakukan untuk meraih jenjang tertentu.  

Faktor Penentu Karir  

Menurut Tohardi (2002:281), ada lima  faktor yang akan mempengaruhi mulus tidaknya karir seseorang karyawan atau pekerja. Untuk itulah kelima faktor tersebut harus dikelola oleh karyawan  dengan baik, bila karyawan atau pekerja yang bersangkutan ingin meraih karir yang  lebih tinggi. Kelima faktor tersebut yaitu:  

1.  Sikap Atasan, Rekan Sekerja dan Bawahan  
Bila kita mengamati fenomena yang ada di perusahaan, ada seorang karyawan yang memiliki prestasi yang bagus, kinerjanya tinggi namun  karir berjalan ditempat atau tidak perna berubah. Ternyata ada aspek lain yang turut masuk dalam penilaian prestasi kerja tersebut, yaitu aspek moral atau perilaku karyawan yang bersangkutan. Dalam kenyataan banyak karyawan yang berprestasi tinggi namun sikapnya kurang memuaskan, misalnya suka emosi, suka menjilat, ada gejala suka korupsi, suka berkata kasar dan masih banyak lagi yang semuanya itu membuat orang disekelilingnya menjadi tidak suka. Orang yang berprestasi dalam bekerja, namun tidak disukai oleh orang di sekeliling tempat ia bekerja, maka orang yang demikian tidak akan mendapat dukungan untuk meraih karir yang lebih baik. Dengan kata lain, orang yang demikian tidak dipakai di oraganisasi atau perusahaan tersebut.  

Untuk itu, maka bila ingin karir berjalan dengan mulus, seseorang harus menjaga diri, menjaga hubungan baik kepada semua orang yang ada di organisasi atau perusahaan tersebut, baik menjadi hubungan baik kepada atasan, bawahan dan juga rekan-rekan sekerja. Promosi akan lebih berat lagi apabila penetapan promosi tersebut berdasarkan musyawarah. Karena pemilihan secara demokrasi tersebut akan melibatkan banyak orang, dimana semua orang akan memberikan kontribusi penilaiannya, maka jika kita tidak disukai oleh banyak orang, maka jalan menuju karir yang lebih baik tersebut semakin tidak jelas.  

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, bila seorang karyawan ingin meniti karirnya dengan mulus maka selain membenahi diri dengan segudang pretasi, juga perlu memback-up diri dengan perangai, tingkah laku atau moral yang baik. Denan bekal moral yang baik tersebut, diharapkan akan menyenangkan atasan, rekan sekerja dan  juga bawahan, mereka semua merasa “sejuk” bila melihat kehadiran kita dan selanjutnya mereka akan merasa “rindu” bila kita lama menghilang. Mungkin itu dapat digunakan  sebagai indikator apakah kita mendapat dukungan atau tidak dari semua orang yang berada di oragnisasi atau perusahaan tersebut.

2. Pengalaman  
Pengalaman dalam konteks ini dapat berkaitan dengan tingkat golongan (senioritas) seseorang karyawan, walaupun hal ini masih tetap diperdebatkan.  

Namun beberapa pengamatan menilai  bahwa dalam mempromosikan para senior bukan hanya mempertimbangkan pengalaman saja tetapi ada semacam pemberian penghargaan terhadap pengabdiannya kepada organisasi atau perusahaan. Jika hanya memperoleh pengalaman tidak mustahil para yunior akan memperoleh pengalaman yang sama bahkan lebiy banyak dari para yunior. Karena pengalaman dapat diadopsi (diambil dari pengalaman orang lain). Jika tanpa mengadopsi pengalaman dari orang lainpun para yunior akan dapat memperoleh pengalaman yang sama bahkan lebih banyak dari senior.  

3. Pendidikan  
Faktor pendidikan biasanya menjadi syarat untuk duduk di sebuah jabatan, misalnya syarat untuk menjadi seorang dosen maka minimal harus berpendidikan sarjana.  

Dari kenyataan tersebut dapat  dilihat bahwa faktor pendidikan mempengaruhi dari kemulusan karir seseorang. Belum lagi melihat performan seseorang secara lebih obyektif, bahwa semakin berpendidikan seseorang akan semakin baik, atau dengan kata lain  orang yang berbaik pula, walaupun dalam kenyataan ditemukan ada sebaliknya, itu tentu ada kesalahan-kesalahan dalam proses pembelajaran, penilaian, dan sebgainya

4. Prestasi  
Prestasi dapat saja terjadi dari akumulasi dari pengalaman, pendidikan dan lingkungan kerja yang biak. Namun prestasi yang baik tentunya merupakan usaha yang kuat dari dalam diri seseorang, walaupun karena keterbatasan pendidikan, pengalaman dan dukungan rekan-rekan sekerja. Pengaruh prestasi dalam menentukan jenjang karir akan sangat jelas terlihat bila indikator atau standar untuk menduduki jabatan tertentu dominan berdasarkan pretasi. 

5.  Faktor Nasib  
Faktor nasib juga turut menentukan, walaupun diyakini porsinya sangat kecil, bahkan para ahli mengatakan faktor nasib berpengaruh terhadap keberhasilan hanya 10% saja. untuk itu sangat salah bila seseorang pegawai selalu bersandar pada nasib.  

Adanya faktor nasib yang turut mempengaruhi harus diyakini ada, karena dalam kenyataan ada yang berprestasi tetapi tidak pernah mendapat peluang untuk dipromosikan. Faktor nasib memang masih rahasia Tuhan jadi masih misteri, kita sebagai manusia tidak diberikan ilmu untuk mengetahuinya, sehingga omong besar jika ada manusia yang mampu meramal nasib.  

Teori Yang Melandasi Penghargaan Finansial Dengan Pemilihan karier  

Penghasilan atau gaji merupakan hasil yang diperoleh sebagai kontraprestasi dari pekerjaan yang telah diyakini secara mendasar bagi sebagian besar perusahaan sebagai daya tarik utama untuk memberikan kepuasan kepada karyawannya. Pengaruh penghargaan finansial terhadap pemilihan karier seorang mahasiswa sesuai dengan Teori Ekspektasi yang menyatakan bahwa kekuatan dari kecenderungan untuk bertindak dengan cara tertentu tergantung pada kekuatan dari suatu harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil tertentu serta pada daya tarik hasil tersebut bagi individu. Oleh karena itu, teori ini mengemukakan tiga variabel berikut ini (Robbins, 2002: 67):  Daya tarik: pentingnya individu mengharapkan outcome dan penghargaan yang mungkin dapat dicapai dalam bekerja.  Kaitan kinerja-penghargaan: keyakinan individu bahwa dengan menunjukkan kinerja pada tingkat tertentu akan mencapai outcome yang diinginkan. Kaitan upaya-kinerja: probabilitas yang diperkirakan oleh individu bahwa dengan menggunakan sejumlah upaya tertentu akan menghasilkan kinerja.  

Penghasilan atau gaji merupakan hasil yang diperoleh sebagai kontraprestasi dari pekerjaan yang telah diyakini secara mendasar bagi sebagian besar perusahaan sebagai daya tarik utama untuk memberikan kepuasan kepada karyawannya, sehingga penghasilan  menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan karir.  

Teori yang Melandasi Hubungan antara Lingkungan Kerja dengan Pemilihan karir  

Bila kita mengamati fenomena yang ada bahwa seorang mahasiswa yang memiliki prestasi yang bagus namun belum mempunyai karier yang akan dipilihnya. Ternyata ada aspek lain yang turut masuk dalam pemilihan karier tersebut, yaitu aspek moral atau perilaku karyawan yang bersangkutan.

Orang yang berprestasi dalam bekerja, namun tidak disukai oleh orang di sekeliling tempat ia bekerja, maka orang yang demikian tidak akan mendapat dukungan untuk meraih karir. Dengan kata lain, orang yang demikian tidak dipakai di organisasi atau perusahaan tersebut. Untuk itu, maka bila ingin karir berjalan dengan mulus, seseorang harus menjaga diri, menjaga hubungan baik kepada semua orang yang ada di organisasi atau perusahaan tersebut, baik menjadi hubungan baik kepada atasan, bawahan dan juga rekan-rekan sekerja. Promosi akan lebih berat lagi apabila  penetapan promosi tersebut berdasarkan musyawarah. Karena pemilihan secara demokrasi tersebut akan melibatkan banyak orang, dimana semua orang akan memberikan kontribusi penilaiannya, maka jika kita tidak disukai oleh banyak orang, maka jalan menuju karir yang lebih baik tersebut semakin tidak jelas.  

Hal sesuai dengan Teori Dua-Faktor Hezberg menyatakan bahwa orang yang puas dalam perkejaan yang berhubungan dengan kepuasan kerja dan bahwa orang yang tidak puas dengan pekerjaan berhubungan dengan suasana kerja. Teori Hezberg berhubungan dekat dengan hierarki kebutuhan Maslow. Faktor higienis bersifat pencegah dan berhubungan dengan lingkungan alamiah dan faktor tersebut ekuivalen dengan kebutuhan  tingkat rendah Maslow. (Lurthans, 2006:283)  

Pada dasarnya, seseorang mahasiswa akan berusaha mengharmoniskan perilakunya dengan apa yang dianggap pantas oleh lingkungan sosialnya yaitu tempat bekerjanya. Dengan demikian seorang mahasiswa akan memilih karier tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, bila seorang karyawan ingin meniti karirnya dengan mulus maka selain membenahi diri dengan segudang pretasi, juga perlu memback-up diri dengan perangai, tingkah laku atau moral yang baik. Dengan bekal moral yang baik tersebut, diharapkan akan menyenangkan atasan, rekan sekerja dan  juga bawahan, mereka semua merasa “sejuk” bila melihat kehadiran kita dan  selanjutnya mereka akan merasa “rindu” bila kita lama menghilang. Mungkin itu dapat digunakan sebagai indikator apakah kita mendapat dukungan atau tidak dari semua orang yang berada di organisasi atau perusahaan tersebut. (Simamora, 2002:6).  

Dapat disimpulkan bahwa lingkungan  kerja juga mempunyai pengaruh terhadap pemilihan karir karena lingkungan kerja tempat bekerja dapat mempengaruhi efektifitas kerja orang yang berkerja di dalamnya. Pekerjaan akan berjalan dengan lancar dengan hasil  yang memuaskan apabila lingkungan kerja juga mendukung untuk terciptanya suasana yang kondusif bagi karyawan yang bekerja di dalamnya. 

Daftar Pustaka:
Tohardi, Ahmad, 2002,  Pemahaman Praktis Management Sumber Daya Manusia, Cetakan I, Penerbit CV. Mandar Maju, Universitas Tanjung Pura, Bandung.  

Luthans, Fred, 2006,  Perilaku Organisasi,  Edisi Kesepuluh, Penerbit Andi, Yogyakarta.  

Pengertian Karir dan Definisi Faktor Penentuan Karir Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment