Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Tuesday, 7 July 2015

Pengertian Kurs Valuta Asing Makalah Sistem Nilai Tukar

Pengertian Kurs atau Valuta Asing (Valas) - Valuta asing atau sering disebut Kurs (exchange rate) adalah tingkat harga yang disepakati penduduk kedua negara untuk saling melakukan perdagangan. (Mankiw 2007;128). Kurs sering pula dikatakan valas ataupun nilai tukar mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain. 


Mata uang yang sering digunakan sebagai alat pembayaran dan kesatuan hitung dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional disebut sebagai hard currency, yaitu mata uang yang nilainya relatif stabil dan kadang-kadang mengalami apresiasi atau kenaikan nilai dibandingkan dengan mata uang lainnya.  Total valas yang dimiliki oleh pemerintah dan swasta dari suatu negara yang pada umumnya disebut juga sebagai cadangan devisa negara tersebut yang dapat diketahui dari posisi Balance of Payment (BOP) atau neraca pembayaran internasionalnya. 

Makin banyak valas atau devisa yang dimiliki oleh pemerintah dan penduduk suatu negara maka berarti makin besar kemampuan negara tersebut melakukan transaksi ekonomi dan keuangan internasional dan makin kuat pula nilai mata uang  

Kurs Nominal dan Kurs Rill 

Kurs nominal (nominal exchange rate) adalah harga relatif dari mata uang dua negara. Sebagai contoh, jika kurs antara dolar AS dan yen Jepang adalah 120 yen per dolar, maka anda bisa menukar 1 dolar untuk 120 yen di pasar dunia untuk mata uang asing. Orang Jepang yang ingin mendapatkan dolar akan membayar 120 yen untuk setiap dolar yang dibelinya. Orang Amerika akan mendapatkan 120 yen untuk setiap dolar yang ia bayar. Ketika orang-orang mengacu pada “kurs” di antara kedua negara, mereka biasanya mengartikan kurs nominal. 

Kuras rill (real exchange rate) adalah harga relatif dari barang-barang kedua negara. Yaitu, kurs rill menyatakan tingkat dimana kita bisa memperdagangkan barang-barang dari suatu negara untuk barang-barang dari negara lain. Kurs rill kadang-kadang disebut terms of trade.

Baca: Pengertian Suku Bunga dan Teori Faktor-faktor Yang Mempengaruhi

Untuk melihat hubungan antara kurs rill dan kurs nominal, perhatikanlah sebuah barang yang diproduksi di banyak negara yakni mobil. Anggaplah harga mobil Amerika $10.000 dan harga mobil Jepang 2.400.000 yen. Untuk membandingkan harga dari kedua mobil tersebut, kita harus mengubahnya menjadi mata uang umum. Jika satu dolar bernilai 120 yen, maka harga mobil Amerika adalah 1.200.000 yen. Membandingkan harga mobil Amerika (1.200.000 yen) dan harga mobil Jepang (2.400.000 yen), kita menyimpulkan bahwa harga mobil Amerika separuh dari harga mobil Jepang. Dengan kata lain, pada harga berlaku, kita bisa menukar 2 mobil Amerika untuk 1 mobil Jepang. 

Dalam perhitungan hal ini dapat di ringkas menjadi : 
Kurs Rill = Kurs Nominal x Harga Barang Domestik 
                   --------------------------------------------
                    Harga Barang Luar negeri 

Tingkat dimana kita memperdagangkan barang domestik dan barang luar negeri bergantung pada harga barang dalam mata uang lokal dan pada tingkat dimana mata uang dipertukarkan. 

Perhitungan kurs rill untuk barang tunggal ini menjelaskan bagaimana kita seharusnya mendefenisikan kurs rill untuk kelompok barang yang lebih luas. Kita nyatakan ℮ sebagai kurs nominal (jumlah yen per dolar), P adalah tingkat harga di Amerika serikat (diukur dalam dolar), dan P* adalah tingkat harga di Jepang (diukur dalam yen). Maka kurs rill Є adalah  

Kurs rill = Kurs Nominal x Rasio Tingkat Harga 
Є   =  ℮      x        (P/P*) 

Kurs rill di antara kedua Negara dihitung dari kurs nominal dan tingkat harga di kedua Negara. Jika kurs rill tinggi . barang-barang luar negeri relatif murah, dan barang-barang domestik relatif mahal. Jika kurs rill rendah, barang-barang luar negeri relatif mahal, dan barang-barang domestik relatif murah. 


Penentuan Nilai Tukar secara Fundamental    

a. Traditional Theories 
Traditional Theories terdiri dari Teori Purchasing Power Parity dan Teori Elastisitas. 
1.  Teori Purchasing Power Parity
Teori ini merupakan teori tertua dan merupakan teori terpopuler. Teori ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1556 oleh Martin de Azpilcueta Navarro. 

Teori ini berbunyi sebagai berikut: “The price of a good in one country should equal the price of the same good in another country, exchanged at the current rate.” (Luca, 1995) 

Teori ini menyatakan bahwa harga barang di suatu Negara harus sama dengan harga barang serupa di Negara lain sesuai dengan tingkat nilai tukar yang berlaku antarkedua negara tersebut. Teori ini disebut The Law of One Price.  

Contoh: harga sepotong roti di Amerika Serikat adalah 1 Dolar AS. Apabila nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang berlaku saat ini adalah Rp 8.000,00/USD, menurut asumsi The Las of One Price, harga sepotong roti di Indonesia harus Rp 8.000,00. Jadi, di mana pun kita membeli roti, apakah itu di Amerika Serikat atau di Indonesia, harganya adalah sama, sesuai dengan perbandingan tingkat nilai tukar yang berlaku antarkedua Negara tersebut. 

2. Teori Elastisitas 
“Exchange rate is simply the price of foreign exchange which maintains the balance payment in equilibrium.” (Luca, 1995) 

Teori elastisitas mengatakan bahwa nilai tukar adalah harga dari valuta asing untuk mempertahankan neraca pembayaran internasional suatu negara agar tetap berada pada tingkat ekuilibrium. Dengan kata lain, respons nilai tukar terhadap perubahan dalam neraca perdagangan sangat dipengaruhi oleh elastisitas permintaan terhadap perubahan harga. Jika elastisitas permintaan bersifat inelastis, pengaruh penurunan impor dan kenaikan ekspor dalam neraca pembayaran internasional akan sangat kecil. Akibatnya, nilai tukar harus melakukan penyesuaian secara tajam untuk menghilangkan defisit neraca pembayaran internasional. Jika elastisitas permintaan bersifat elastis, pengaruh penurunan impor dan kenaikan ekspor akan sangat berpengaruh bagi keseimbangan neraca pembayaran internasional sehingga hanya diperlukan sedikit penyesuaian dalam nilai tukar. 

b. Modern Monetary Theories on Short Term Exchange Rate Volatility 
“Modern monetary theories on short term exchange rate volatility take into consideration the short term capital market` roles and the long term impact of commodity markets on foreign exchange.” (Luca, 1995)

Baca: Pengertian Deposito Jenis Fungsi dan Manfat

Teori ini memperhatikan adanya peran pasar modal dalam jangka pendek dan peran bursa komoditi dalam jangka panjang terhadap fluktuasi nilai tukar. Teori ini mengatakan bahwa adanya perbedaan nilai tukar dan perbedaan dalam purchasing power parity adalah karena adanya suatu perubahan dalam permintaan dan penawaran terhadap asset-aset keuangan. 

Dalam pandangan modern, tori Purchasing Power Parity juga diperluas dengan menyertakan variabel-variabel, seperti jumlah uang yang beredar, tingkat suku bunga, dan pendapatan riil, dalam menentukan tingkat nilai tukar dua negara. 

c. Synthesis of Traditional and Modern Monetary Views 
“Since the financial markets adjust faster than the commodities markets, the exchange rate tends to be affected in the short term by the capital market changes, and by the commodities changes in the long term.” (Luca, 1995) 

Menurut teori ini, dinamika perubahan yang terjadi di pasar keuangan (pasar modal dan pasar uang) lebih cepat jika dibandingkan dengan perubahan di pasar barang komoditi. Oleh karena itu, dalam jangka pendek fluktuasi nilai tukar lebih dipengaruhi oleh perubahan dalam pasar modal dan dalam jangka panjang fluktuasi nilai tukar dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi di pasar barang.  

Perubahan Nilai Tukar 

Yang menyebabkan fluktuasi nilai tukar adalah perubahan permintaan atau penawaran dalam bursa vauta asing. Apapun yang menggeser kurva permintaan akan suatu mata uang ke kanan atau kurva penawaran ke kiri akan mengundang apresiasimata uang tersebut. Apa saja yang menggeser kurva penawaran ke kiri akan mengundang depresiasi mata uang tersebut. Ini merupakan teoritis dari Hukum say yakni 

‘Permintaan akan menciptakan penawaran’ 

Hanya saja hukum ini kali ini diterapkan pada pasar valuta asing. Namun pergeseran kurva permintaaan dan penawaran akan mengakibatkan perubahan nilai kurs. Ada banyak yang menjadi penyebabnya, sebagian bersifat sementara dan lainnya bersifat permanen antara lain; 

1. Kenaikan Harga Domestik atas Barang Ekspor 
Misalkan nilai peralatan elektronik buatan Amerika yang dinyatakan dalam dolar naik. Pengaruh terhadap permintaan dolar akan tergantung pada elastisitas permintaan untuk barang-barang Amerika. Bila permintaan bersifat elastis, barangkali karena negara-negara lain menawarkan barang yang serupa di pasaran dunia, jumlah pembelian terhadap barang-barang Amerika akan menyusut, sehingga lebih sedikit dolar yang akan diminta. Dengan perkataan lain, kurva permintaan dolar akan bergeser ke kiri dan dolar pun mengalami depresiasi. 

Bila permintaan bersifat inelastis, misalnya karena Amerika secara khas mampu menyediakan barang yang tidak dibayangi oleh barang subsitusi, jumlah yang dibelanjakan akan lebih banyak, permintaan dolar untuk membayar tagihan yang lebih banyak akan menggeser kuyrva permintaan ke kanan, dan dolar akan mengalami apresiasi. 
2. Kenaiakan Harga Luar Negeri atas Barang Impor 
Akibat kenaikan harga yang besar pada barang impor yang ditawarkan. Misalkan harga wiski Scotsh dalam nilai Poundsterling melonjak tajam. Asumsikan juga para peminum Amerika mempunyai permintaan yang elastis terhadap wiski scotch tersebut, karena mereka dapat dengan mudah beralih ke minuman subsitusi lainnya. Maka mereka akan membelanjakan lebih sedikit poundsterling untuk wiski Scotch dibanding sebelumnya. Dengan perkataan lain, mereka harus menawarkan lebih sedikit dolar ke bursa valuta asing. Kurva penawaran dolar akan bergeser ke kiri, dan nilai dolar cenderung naik. 

3. Aliran Modal 
Aliran modal berskala besar dapat berpengaruh kuat pada nilai tukar. Sebagai contoh, keinginan pengusaha Amerika yang meningkat untuk menanam modal pada aktiva Indonesia akan  menggeser kurva penawaran dolar ke kanan dan nilai dolar akan mengalami depresiasi. 

Aliran dana investasi mengakibatkan apresiasi mata uang negara pengimpor modal, dan dengan apresiasi mata uang negara pengekspor modal. 

4. Perubahan Struktur 
Perekonomian dapat mengalami perubahan struktur yang mengubah nilai tukar ekuilibrium. Perubahan struktur adalah istilah umum yang berlaku bagi perubahan struktur biaya, penemuan produk baru atau apa saja yang mempengaruhi pola keunggulan komparatif. Misalnya, bila produk suatu negara tertentu tidak berkembang secepat di negara lain, permintaan konsumen (pada tingkat harga yang tetap) bergeser perlahan menjauhi negara pertama menuju negara-negara pesaing yang lebih maju. Hal ini menyebabkan apresiasi perlahan pada mata uang negara pertama karena permintaan akan mata uangnya bergeser perlahan ke kiri. 

5. Perubahan Tingkat Harga secara Keseluruhan 
Perubahan harga barang ekspor tertentu, seperti kalkulator elektronik, terdapat pula perubahan semua harga yang disebabkan oleh inflasi. Yang menjadi masalah di sini adalah perubaha tingkat harga domestik relatif terhadap tingkat harga di negara rekan dagang kita. Perubahan harga dalam persentase yang sama di kedua negara. Andaikan ada laju inflasi sebesar 10 persen di Amerika maupun Indonesia. Dalam hal ini, harga barang-barang Indonesia yang dinyatakan dalam rupiah dan harga barang-barang Amerika yang dinyatakan dalam dolar akan sama-sama naik 10 persen. Dengan nilai kurs yang berlaku, baik barang Indonesia (yang dinyatakan dalam dolar) maupun barang Amerika (yang dinyatakan dalam rupiah) masing-masing akan naik 10 persen. Jadi, harga relatif barang impor dan barang yabtg dibuat dalam negeri tidak akan berubah dikedua negara. Sekarang tidak ada alasan untuk berharap adanya perubahan permintaan masing-masing negara untuk barang impornya, dengan nilai tukar semula. Dengan demikian laju inflasi di kedua negaratidak akan mengubah nilai tukar ekuilibrium. (Argumen ini merupakan basis dari Teori purchasing power parity yang berlaku pada nilai tukar) 

Sistem Nilai Tukar 

Nilai tukar suatu mata uang di defenisikan sebagai haraga relatif dari suatu mata uang terhadap mata uang lainnya. Pada dasarnya terdapat tiga sistem nilai tukar (Kebanksentralan BI,2004), yaitu : 

1. Floating Exchange Rate System ‘sitem nilai tukar mengambang’ 
Pada sistem ini, nilai tukar dibiarkan bergerak bebas sesuai dengan kekuatan permintaan dan penawaran yang terdapat di pasar. Dengan demikian, nilai tukar akan menguat apabila terjadi kelebihan penawaran di atas permintaan, dan sebaliknya nilai tukar akan melemah apabila terjadi kelebihan permintaan di atas penawaran yanga ada pada pasar valuta asing. Bank sentral dapat saja melakukan intervensi di pasar valuta asing, yaitu dengan menjual devisa dalam hal terjadi kekurangan pasokan atau membeli devisa apabila terjadi kelebihan penawaran untuk menghindari gejolak nilai tukar yang berlebihan di pasar. Akan tetapi, intervensi dimaksud tidak diarahkan untuk mencapai target tingkat nilai tukar tertentu atau dalam kisaran tertentu. Namun ada beberapa Negara yakni Nilai tukar beberapa mata uang utama (major currencies), seperti Dolar AS, Euro, Mark Jerman, Yen Jepang, Franc Swiss, dan Poundsterling Inggris, ditentukan oleh kekuatan pasar (market forces) dan dibiarkan mengambang bebas terhadap mata uang Negara lain. Dalam sistem ini tidak terdapat tindakan intervensi yang dilakukan pemerintah (Bank Sentral) untuk mempengaruhi nilai tukarnya. 

2. Fixed Exchange Rate System ‘sistem nilai tukar tetap’ 
Pada sistem ini, nilai tukar atau kurs  suatu mata uang terhadap mata uang lain ditetapkan pada nilai tertentu misalnya , nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika adalah Rp.8000 per dolar. Pada nilai tukar ini bank sentral aka siap untuk menjual dan membeli kebutuhan devisa untuk mempertahankan nilai tukar yang ditetapkan. Apabila nilai tukar tersebut tidak dapat dipertahankan, maka bank sentral dapat melakukan devaluasi * ataupun revaluasi nilai tukar yang ditetapkan..  3. Managed floating Exchange Rate System’sistem nilai tukar mengambang terkendali’ 

Sistem nilai tukar mengambang terkendali merupakan sistem yang berada di antara kedua sistem nilai tukar di atas. Dalam sistem nilai tukar ini, bank sentral menetapkan batasan suatu kisaran tertentu dari pergerakan nilai tukar yang disebut intervention band’batas pita intervensi’. Nilai tukar akan ditentukan mekanisme pasar sepanjang berada dalam batas kisaran pita intervensi tersebut. Apabila nilai tukar menembus batas atas atau batas bawah dari kisaran tersebut, bank sentral akan secara otomatis melakukan intervensi di pasar valuta asing sehingga nilai tukar bergerak kembali ke dalam pita intervensi. Bank Sentral tidak menetapkan suatu acuan tingkat /level nilai tukar tertentu, seperti yang diterapkan oleh sepuluh Negara Eropa yang tergabung dalam European Monetary System (1992).

Daftar Pustaka

Mankiw, N.Gregory, 2007, Makroekonomi, Edisi Keenam, Jakarta : Erlangga 

Pengertian Kurs Valuta Asing Makalah Sistem Nilai Tukar Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment