Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 1 August 2015

Pengertian Manajemen Piutang Makalah Prosedur Kebijaksanaan Kredit Penggolongan

Pengertian Manajemen Piutang 

Sebelum membahas mengenai manajemen piutang secara menyeluruh, maka terlebih dahulu perlu dijelaskan  satu persatu menurut beberapa ahli ekonomi. Menurut Stoner (1996:8) manajemen adalah “proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan,”

Sedangkan menurut Syamsudin dan Lukman (2000:75) pengertian piutang adalah “pengertian piutang dalam arti luas bahwa piutang merupakan klaim kepada pihak lain apakah klaim berupa uang, barang atau jasa. 

Indriyo Gito Sudarmo (1998:69) memberikan definisi piutang sebagai berikut : “piutang merupakan aktiva atau kekayaan perusahaan yang timbul sebagai akibat dari dilaksanakannya politik penjualan kredit”. 

Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli ekonomi diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa manajemen piutang adalah “suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan dalam bentuk klaim kepada pihak lain, baik terhadap perorangan, badan usaha maupun pihak tertagih lainnya atas aktiva atau kekayaan perusahaan yang timbul sebagai akibat dari dilaksanakannya transaksi penjualan kredit dengan pihak lain, penyelesaiannya dilakukan dengan penerimaan baik berupa uang, barang atau jasa dengan menggunakan sumberdaya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 

Penggolongan Piutang 

Untuk kepentingan akuntansi dan  laporan keuangan, Niswonger dan Fess (1999:324) menggolongkan piutang menjadi 3 (tiga) bagian yaitu : 
  • Piutang usaha    (  Account Receivable  ) 
  • Piutang Wesel   (   Notes Receivable    ) 
  • Piutang lain-lain   (   Other Receivable   ) 
  • Piutang Usaha ( Account Receivable ) 


Yang dimaksud dengan piutang usaha  yaitu piutang yang berasal dari penjualan barang-barang atau jasa-jasa  secara kredit dari kegiatan utama perusahaan. Piutang semacam ini normalnya diperkirakan akan tertagih dalam periode waktu yang relative pendek, yaitu kira-kira 30 hari atau 60 hari, sehingga dikelompokkan kedalam aktiva lancar didalam neraca. Biasanya piutang usaha tidak melibatkan bunga, meskipun bunga atau biaya dapat saja ditambahkan bilamana pembayarannya tidak dilakukan dalam periode tertentu. Istilah piutang ini digunakan untuk tagihan yang timbul karena penjualan barang atau jasa secara kreditur dimana pembeli (debitur) tidak  memberikan suatu janji tertulis secara formal. Perjanjian kreditnya merupakan persetujuan-persetujuan informl antara supplier dan customer yang didukung oleh dokumen-dokumen perusahaan seperti faktur pesanan penjualan, kontrak penjualan dan kotrak penyerahan. 

Selanjutnya untuk piutang usaha yang timbul dari penjualan barang dagangan atau jasa perlu dibedakan. Piutang usaha yang timbul dari penjualan barang dagangan timbul pada saat barang diberikan kepada pembeli (debitur), sedangkan piutang usaha yang berasal dari penjualan jasa timbul pada saat pekerjaan diselesaikan, dan bila hanya sebagian yang selesai itulah yang dinyatakan sebagai piutang usaha pada neraca. 

Ayat jurnal untuk mengakui piutang  dari penjualan barang atau jasa adalah: 
Piutang usaha……………………xxx 
Penjualan…………………….xxx 
Dan ayat jurnal pada saat piutang dapat tertagih adalah: 
Kas……………………..xxx 
Piutang usaha…………..xxx 

b. Piutang wesel / wesel bayar (Notes Receivable) 
Yang dimaksud piutang wesel ialah sebagai suatu janji tertulis yang tidak bersyarat dari seseorang kepada orang lain untuk membayar sejumlah uang pada tanggal tertentu. 

Jadi dapat disimpulkan bahwa piutang wesel merupakan suatu tagihan dari seseorang kepada orang lain (pelanggan) untuk membayar sejumlah uang atas jumlah yang terhutang pada tanggal tertentu yang didukung oleh suatu perjanjian tertulis yang tidak bersyarat. 

Sifat wesel ada 2 (dua) yaitu dapat dinegoisasikan dan tidak dapat dinegoisasikan. Wesel yang dapat dinegoisasikan berarti dapat ditransfer secara legal (syah) melalui endosemen atau penyerahan (dimana yang membuat wesel akan membayar kepada orang (badan) yang memegang wesel tersebut pada saat jatuh tempo). Wesel ini dapat dipindahkan, dapat didiskontokan ke bank sebelum jatuh tempo dengan kata lain meminjam uang ke bank dengan menggunakan wesel sebagai jaminan. 

Piutang wesel dibedakan atas 2 (dua) jenis yaitu: 

1). Wesel berbunga 
Suatu wesel disebut berbunga apabila dalam surat tersebut disebutkan suatu tingkat bunga tertentu (biasanya  dinyatakan dalam persentase) maka disamping nilai nominal wesel juga  dibayar juga dengan jumlah bunga yang dihitung atas dasar persentase bunga yang tertulis dalam surat wesel tersebut. 
Rumus: wesel tagih = Pinjaman pokok + Jumlah bunga 
Dimana bunga         = Pinjaman pokok x Tingkat bunga x Waktu 

Ayat jurnal: 
  • Untuk mencatat wesel yang diterima sebagai penukar barang
    Wesel tagih…………………xxx
    Piutang usaha…………….xxx 
  • Untuk mencatat bunga yang diperoleh selama satu periode
    Piutang bunga……………..xxx
    Pendapatan bunga……….xxx 
  • Untuk mencatat penyelesaian wesel pada tanggal jatuh tempo dan bunga
    Kas………………………...xxx
    Wesel tagih……………………...xxx
    Pendapatan bunga……………….xxx 


2). Wesel tanpa bunga 
Merupakan suatu janji untuk membayar sejumlah uang tetap hanya sebesar nilai nominal yang terdapat didalamnya. 
Rumus: Wesel tagih = Pinjaman pokok 
Ayat jurnal: 

  • Untuk mencatat wesel diterima sebagai penukaran barang
    Wesel tagih………………..xxx
    Piutang usaha……………xxx 
  • Untuk mencatat penyelesaian wesel pada tanggal jatuh tempo
    Kas……………………xxx
    Wesel tagih……………xxx


Penerimaan pembayaran wesel tagih mungkin saja memerlukan uang kas sebelum jatuh tempo. Apabila hal ini terjadi maka penerima pembayaran tersebut dapat menjual wesel tagihnya. Kreditur tersebut akan mengedorse wesel tersebut dan memberikannya kepada pembeli wesel, biasanya berupa bank yang nantinya akan menagih wesel tersebut pada jatuh tempo. 

Menjual wesel tagih sebelum saat  jatuh tempo dinamakan pendiskontoan wesel tagih, karena orang yang menjual wesel tagih tersebut akan menerima uang lebih kecil dari yang akan diterimanya saat jatuh tempo. 

c. Piutang lain-lain 
Merupakan piutang yang timbul atau bukan berasal dari penjualan barang-barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan yang merupakan kegiatan utama perusahaan. Piutang ini timbul karena adanya pinjaman yang diberikan perusahaan pada seseorang tanpa adanya hubungan yang langsung dengan penjualan barang-barang dan jasa yang merupakan peroduksi dari kegiatan utama perusahaan. Seperti piutang bunga, piutang pajak, piutang direksi, piutang karyawan, piutang afiliasi, dan lain-lain. Piutang lain-lain antara lain adalah : 
  1. Persekot dalam kontrak pembelian 
  2. Klaim terhadap restitusi pajak 
  3. Klaim terhadap pengangkutan barang yang rusak 
  4. Klaim terhadap asuransi atas kerugian yang dipertanggungkan 
  5. Dan lain-lain 


Sebelum pinjaman tersebut diperoleh terlebih dahulu pihak yang melakukan pinjaman melakukan permohonan kepada pimpinan perusahaan. Pimpinan perusahaan akan mempertimbangkan permohonan tersebut, dan jika disetujui barulah pinjaman tersebut diberikan. 

Analisis Umur Piutang 

Salah satu metode analisis yang  digunakan untuk mengendalikan politik piutang adalah penentuan umur piutang. Metode ini berusaha mengadakan klarifikasi piutang atas dasar umur piutang atau lamanya piutang tersebut telah ada. Dengan diketahuinya umur piutang tersebut maka akan dapat diketahui: 
  • Piutang mana yang sudah dekat dengan jatuh tempo dan harus diberi pemberitahuan. 
  • Piutang mana yang sudah jatuh tempo dan harus ditagih. 
  • Piutang mana yang sudah lewat jatuh tempo dan perlu dihapuskan karena sudah tidak dapat ditagih kembali. 


Apabila hal ini tidak segera dihapuskan maka akan dapat membuat akibat adanya  likuiditas  semu yaitu tampaknya besar tapi jumlahnya kecil karena terdapat unsur piutang yang sebenarnya sudah tidak dapat ditagih kembali. Analisis umur piutang harus dilakukan  oleh setiap perusahaan yang melakukan penjualan secara kredit.

Kebijaksanaan Kredit 

1. Cara Menyaring Pelanggan
Setelah perusahaan menentukan perencanaan jumlah piutang, maka langkah selanjutnya perusahaan harus menilai para pelanggan yang akan membeli dengan kredit. Untuk itu penyaringan terhadap para calon pelanggan merupakan kegiatan yang sangat penting. Apabila perusahaan dapat menentukan dengan tepat pelanggan mana yang akan diberi kredit, dan mana yang sebaiknya ditolak, maka perusahaan dapat meminimkan resiko piutang yang tak tertagih.

Baca: Pengertian Kredit Menurut Definisi Para Ahli

Dalam sisi lain perusahaan perlu mengambil langkah-langkah sebagai berikut:

  • Mengumpulkan informasi terlebih dahulu terhadap calon pembeli 
  • Menganalisis calon pembeli tersebut berdasarkan atas informasi yang dapat diperoleh. 
  • Analisis efisiensi pengumpulan piutang. 

a.) Mengumpulkan informasi terlebih dahulu terhadap calon pembeli
Untuk mendapatkan informasi mengenai para pelamar kredit, perusahaan memerlukan dana untuk pengeluaran-pengeluaran yang terjadi dalam usaha untuk mendapatkan informasi tersebut. Salah satu sumber informasi yang layak untuk analisis kredit adalah  financial statement (laporan keuangan), dalam hal ini penjual dapat meminta kepada pelanggannya. Beberapa perusahaan rela memberikan laporan keuangannya kepada  penjual tetapi perusahaan yang lain mungkin menolak untuk memberikannya.

Hal ini biasanya menunjukkan adanya hubungan antara perusahaan yang menolak memberikan laporan keuangannya dengan lemahnya posisi keuangan perusahaan yang bersangkutan. Sumber informasi lain adalah berasal dari perusahaan-perusahaan lain yang berhubungan dengan pembeli tersebut. Umumnya, perusahaan-perusahaan yang sejenis mempunyai informasi tentang tinkah laku para pembelinya, sehingga  mereka bias tukar menukar informasi. Apabila seorang calon pembeli dinilai  “nakal” mungkin perusahaan sebaiknya tidak memberikan penjualan kredit kepadanya. Sumber lain adalah, tentu saja pengalaman perusahaan itu sendiri. informasi ini paling mudah dan murah biayanya.

Ada lima kriteria utama yang sering digunakan untuk menilai kemampuan calon pelanggan atau pemohon kredit, yaitu:

  • Karakter (Character)
    Meneliti dan memperhatikan sifat-sifat pribadi, cara hidup, status social dari pemohon kredit. Hal  ini penting karena berkaitan dengan kemauan untuk membayar (willingness to pay). 
  • Kapasitas (Capacity)
    Meneliti kemampuan pemohon kredit dalam memperoleh penjualan atau pendapatan yang dapat diukur dari penjualan yang dicapai pada masa lalu dan juga keahlian yang dimiliki dalam bidang usahanya. Hal ini berkaitan dengan kemampuan untuk membayar (ability to pay).
  • Kapital (Capital)
    Mengukur posisi keuangan perusahaan (pemohon kredit) secara umum dengan memperhatikan modal yang dimiliki perusahaan dan juga perbandingan hutang dan modalnya. 
  • Kolateral (Colleteral)
    Mengukur besarnya aktiva perusahaan (pemohon kredit) yang dijadikan sebagai agunan atau jaminan atas kredit yang diberikan. 
  • Kondisi (Conditions)
    Memperhatikan pengaruh langsung  dari keadaan ekonomi pada umumnya terhadap perusahaan yang bersangkutan terhadap kemampuannya untuk memenuhi kewajibannya. 

b. Menganalisis calon pembeli tersebut berdasarkan atas informasi yang diperoleh

Misalkan perusahaan hanya mendasar diri atas informasi pengalaman waktu lalu. Dengan demikian maka biaya yang diperlukan relative rendah, jadi perusahaan hanya perlu melihat kembali catatan diwaktu lalu dan melakukan analisis lebih lanjut, dan kemudian menggunakan informasi tambahan yang memerlukan biaya yang cukup mahal, maka perusahaan akan mendapatkan hasil yang lebih baik.

Disamping itu, boleh juga ditambahkan tes khusus atas aktiva kredit. Informasi tentang praktek pembayaran hutang dari calon  pelanggan dimasukkan sebagai factor penilaian dalam analisis. Ini dilakukan dengan cara mengambil data hutang dagang dari laporan keuangan dan menghitung rata-rata umurnya. Rata-rata ini dibandingkan dengan syarat jangka waktu yang dijanjikan dari rata-rata pembayaran perusahaan lainnya dalam sector industri yang sama. Perbandingan ini akan menjelaskan kepada kreditur mengenai apakah pelanggan akan patuh membayar pada waktunya menurut persyaratan kredit yang ada.

Informasi kredit dapat dimanfaatkan untuk penentuan nilai secara formal dan untuk system evaluasi, berdasarkan informasi yang dimiliki dan pengalaman dari perusahaan dapat berupa penolakan atau persetujuan penjualan kredit kepada seorang pelanggan.

c. Analisis efisiensi pengumpulan piutang
Untuk menilai efisiensi pengumpulan puitang, cara yang dapat dipakai antara lain adalah membandingkan dengan rasio industri. Meskipun demikian, sebenarnya kita dapat menggunakan persyaratan penjualan yang ditentukan oleh perusahaan, untuk mengukur efisiensi manajemen piutang ini. Misalkan ditentukan bahwa persyaratan penjualan adalah 2/10 net 30. Ini berarti perusahaan mengharapkan piutang tersebut akan dibayar 30 hari setelah penjualan. Jika dari analisis keuangan perusahaan mendapatkan bahwa periode pengumpulan piutang adalah 30 hari atau sekitarnya, maka dapat dikatakan bahwa manajemen piutangnya cukup baik.

2. Kebijaksanaan Kredit
Besar kecilnya piutang yang dimiliki oleh perusahaan disamping dipengaruhi oleh kondisi perekonomian, pada umumnya juga dipengaruhi oleh kebijaksanaan pengkreditan yang ditetapkan oleh perusahaan. Sementara kondisi perekonomian pada umumnya tidak dapat  dipengaruhi oleh manajer keuangan, kebijaksanaan kredit jelas dapat ditentukan oleh perusahaan. Di dalam kebijaksanaan kredit ini perlu penilaian untuk membandingkan antara resiko dengan profitabilitas.

Perusahaan yang menjual barangnya dengan kredit akan mampu menjual lebih banyak barang dibandingkan dengan perusahaan yang menuntut pembayaran dengan tunai. Namun demikian memiliki piutang juga menimbulkan biaya bagi perusahaan, maka untuk itu perusahaan perlu melakukan analisis ekonomi tentang piutang sebelum kebijaksanaan kredit dilaksanakan. Analisis ekonomi tersebut bertujuan menilai apakah manfaat memiliki piutang lebih besar atau lebih kecil dari jumlah biaya-biaya yang harus dikeluarkan perusahaan berkaitan dengan kebijaksanaan kredit yang akan dilakukan.

Ada faktor-faktor yang harus kita pertimbangkan dalam kebijaksanaan perkreditan antara lain ialah:

  • Standar kredit atau kualitas langganan yang akan diperkenankan memperoleh kredit. 
  • Jangka waktu kredit, yaitu berapa  lama seorang langganan yang membeli secara kredit harus sudah membayar hutangnya. 
  • Potongan yang diberikan kepada para pelanggan. 

Ketiga factor tersebut akan menentukan beberapa jumlah piutang yang akan dimiliki oleh perusahaan, beberapa lama piutang tersebut diharapkan akan terkumpul dan berapa besar proporsi piutang yang tidak akan terbayar. Untuk itu masing-masing factor diuraikan secara ringkas berikut ini.

a. Standar Kredit
Standar kredit adalah persyaratan minimum yang dipakai perusahaan untuk memberikan kredit kepada pelanggan. Hal-hal seperti nama baik pelanggan sehubungan dengan kredit atau pembayaran hutang-hutang dagangannya baik kepada perusahaan maupun kepada perusahaan-perusahaan lainnya, referensi-referensi kredit, rata-rata jangka waktu pembayaran hutang dagang dan beberapa rasio financial tertentu dari perusahaan langganan akan dapat memberikan suatu dasar penilaian bagi perusahaan sebelum memberikan atau melakukan penjualan kredit.

Untuk dapat menentukan standar kredit terhadap langganan diperlukan informasi tentang langganan tersebut antara lain menyangkut nama baik langganan sehubungan dengan kredit atau pembayaran hutang dengannya baik kepada perusahaan sendiri maupun kepada perusahaan-perusahaan lain, referensi kredit, rata-rata jangka waktu pembayaran hutang dagang dan berapa  ratio financial tertentu dari perusahaan langganan.

Penentuan standar kredit pada dasarnya merupakan trade off antara peningkatan penjualan, dan peningkatan resiko tidak terbayarnya piutang. Apabila perusahaan menjalankan standar kredit yang sangat longgar, artinya hamper setiap pembeli diperkenankan membeli dengan cara kredit, maka dapat diperkirakan bahwa penjualan memang akan meningkatk, tetapi proporsi piutang yang tidak terbayarpun akan meningkat pula.

Secara ekonomis, pelonggaran kredit ini dibenarkan apabila maximum penambahan biaya karena peningkatan  piutang ini sama dengan penambahan keuntungan karena meningkatnya penjualan.  Tetapi apabila tambahan biaya ini sudah lebih besar daripada tambahan keuntungan, maka pelonggaran standar kredit ini sudah tidak dapat dibenarkan.

Dengan mengetahui factor-faktor  utama yang harus dipertimbangkan bilamana perusahaan bermaksud untuk memperlunak atau memperketat standar kredit yang ditetapkan, akan dapat  memberikan suatu gambaran tentang keputusan-keputusan apa yang harus diambil oleh perusahaan sehubungan dengan “kepada siapa dan dalam jumlah berapa” kredit yang akan diberikan adapun factor-faktor utama yang harus dipertimbangkan apabila perusahaan bermaksud untuk merubah standar kredit yang ditetapkan adalah:

  • biaya administrasi 
  • investasi dalam piutang 
  • kerugian piutang (bad debt expenses) 
  • volume penulisan 
Pengertian Manajemen Piutang


b. Jangka waktu kredit
Cara ini pada prinsipnya ditempuh  dengan memperpanjang waktu kredit dengan harapan agar penjualan dapat meningkat. Misalkan semula jangka waktu kredit adalah 60 hari, juga tanpa diskon. Dengan perubahan ini diperkirakan akan dapat meningkatkan volume penjualan.  Peningkatan volume penjualan dapat mempunyai pengaruh yang positif atas keuntungan perusahaan, sedangkan peningkatan rata-rata pengumpulan piutang dan kerugian piutang akan membawa pengaruh negatif bagi keuntungan perusahaan. Dan perpendekan periode diskon, akan mempunyai pengaruh-pengaruh  yang sebaliknya. Bahwa yang harus diperhatikan dalam hal perpanjangan periode kredit adalah dapat dibenarkan selagi tambahan perpanjangan periode dredit adalah dapat dibenarkan selagi tambahan perpanjangan keuntungan masih  lebih besar daripada keuntungan yang diisyaratkan.

c. Potongan
Pada dasarnya dalam menawarkan barang, banyak cara ditempuh oleh perusahaan untuk meningkatkan volume penjualan. Tidak hanya dengan penjualan secara kredit tetapi dapat juga dengan memberikan potongan  (discount), dalam menentukan harga.

Apabila perusahaan memberikan atau memperbesar potongan tunai dalam penjualan kredit maka akan terjadi perubahan-perubahan. Seperti volume penjualan akan meningkat dan harga dari produk yang dijual  akan lebih murah. Apabila permintaan terhadap produk perusahaan cukup elastis, maka penurunan harga tersebut akan diikuti oleh peningkatan permintaan dan juga volume penjualan. Karena adanya potongan tunai maka rata-rata pengumpulan piutang diharapkan menurun, demikian juga apabila pembayaran dilakukan lebih cepat / awal. Demikian juga kerugian piutang akan menurun sehingga mingkatkan keuntungan perusahaan. Sedangkan aspek negative dari potongan tunai adalah menurunnya keuntungan per unit dari produk yang dijual.

Jika periode potongan tunai diperpanjang oleh perusahaan maka akan mempunyai dampak positifnya, yaitu karena pembeli-pembeli yang terjadi mengambil potongan tunai yang ditawarkan oleh perusahaan, kemudian mengambil potongan tersebut, sehingga akan menurunkan rata-rata pengumpulan piutang. Dan periode potongan piutang  juga membawa efek negatif atas keuntungan perusahaan yaitu dengan perpanjangan periode potongan tunai tersebut, maka pembeli-pembeli yang tadinya sudah mengambil potongan-potongan tunai tersebut sekarang akan  membayar lebih lambat namun tetap memperoleh potongan tunai sehingga memperlambat rata-rata pengumpulan piutang, sehingga pengaruh dari ke-2 deadaan tersebut atas rata-rata pengumpulan piutang membutuhkan perhitungan secara teliti.

Dan sebaliknya, jika perusahaan  memperpendek periode diskon yang diberikan, maka pengaruhnya adalah kebalikan dari yang desajikan diatas. Pada dasarnya dalam menawarkan barang dagangan, banyak cara yang dapat ditempuh oleh perusahaan untuk meningkatkan  volume penjualan. Tidak hanya dengan penjualan secara kredit tetapi dapat juga dengan memberikan potongan  (discout) dan penghargaan  (allowance) dalam menetapkan harga. Potongan harga dan penghargaan merupakan pengurangan dari harga yang ada.

Bentuk-bentuk potongan dan penghargaan antara lain:

  • Potongan kuantitas   ( Quantity discount t) 
  • Potongan dagang   ( Trade discount ) 
  • Potongan tunai   ( Cash discount ) 
  • Potongan musiman   ( Seasonal discount ) 
  • Penghargaan promorsional  ( Promortional allowance ) 
  • Penghargaan komisi   ( Brokerage allowance ) 
  • Penghargaan barang   ( Product allowance ) 

Prosedur Piutang 

Prosedur piutang merupakan kondisi yang disyaratkan perusahaan kepada para pelanggannya yang membeli secara  kredit, misalnya hal tersebut mungkin dinyatakan sebagai berikut: 2/10 net  30. Persyaratan kredit seperti ini mengandung arti bahwa pembeli akan mempunyai tenggang waktu pembayaran utang kepada perusahaan (penjual) selama 30 hari dan apabila pembayaran dilakukan dalam waktu 10 hari maka  akan mendapatkan potongan tunai  (cash discount) sebesar 2%.

1. Prosedur pencatatan piutang
Pencatatan piutang bertujuan untuk mencatat mutasi piutang yang terjadi pada perusahaan atas setiap debitur. Mutasi piutang terjadi disebabkan oleh adanya penjualan kredit, penerimaan kas  atas pelunasan piutang dari debitur, adanya retur penjualan piutang dan adanya penghapusan. Dasar yang digunakan untuk pencatatan piutang adalah faktur aktivitas usaha secara kredit.

Faktur yang diterima oleh bagian pembukuan akan dicatat ke buku jurnal pendapatan jasa. Setiap hari jurnal pendapatan jasa di posting ke buku pembantu piutang dan pada akhir bulan buku jurnal pendapatan jasa dijumlahkan dan jumlahnya diposting ke buku besar piutang. Di dalam buku pembantu piutang dapat dilihat jumlah piutang setiap langganan. Sedangkan pada buku besar piutang menunjukkan jumlah total piutang yang diketahui dan buku ini merupakan perkiraan pengendalian (control account) dari piutang.

Atas penerimaan uang dari langganan setiap hari, maka kasir akan membuat daftar bukti kas bernomor urut, kemudian kasir membuat daftar kas harian dan penerimaan. Daftar ini beserta bukti kas masuk ke bagian pembukuan untuk dicatat ke buku piutang sebagai pengurangan atau pelunasan piutang yaitu dengan mendebet perkiraan kas dan mengkredit perkiraan piutang. Bagian piutang memposting bukti kas masuk ke buku pembantu untuk mengkredit perkiraan pemilik proyek yang bersangkutan.

Dokumen pokok yang dipergunakan sebagai dasar pencatatan ke dalam kartu piutang adalah:

  • Faktur penjualan
    Dokumen ini digunakan sebagai dasar pencatatan timbulnya piutang dari transaksi penjualan kredit. 
  • Bukti kas masuk
    Dokumen ini digunakan sebagai dasar  pencatatan berkurangnya piutang dari transaksi pelunasan piutang oleh debitur. 
  • Memo kredit
    Dokumen ini digunakan sebagai dasar pencatatan rektur penjualan 
  • Bukti memorial
    Dokumen sumber untuk dasar pencatatan transaksi ke dalam jurnal umum.  

Sedangkan catatan akuntansi yang  digunakan untuk mencatat transaksi yang menyangkut piutang dapat berupa:

  • Jurnal penjualan
    Catatan ini digunakan untuk mencatat  timbulnya piutang dari transaksi penjualan
  • Jurnal rektur penjualan
    Catatan ini digunakan untuk mencatat berkurangnya piutang dari transaksi rektur penjualan. 
  • Jurnal umum
    Catatan ini digunakan untuk mencatat berkurangnya piutang dari transaksi penghapusan piutang yang tidak lagi dapat ditagih. 
  • Jurnal penerimaan kas
    Catatan ini digunakan untuk mencatat berkurangnya piutang dari transaksi penerimaan kas dari debitur. 
  • Kartu piutang
    Catatan ini digunakan untuk mutasi dan saldo piutang pada setiap debitur. 

Selanjutnya dalam pencatatan piutang usahanya, perusahaan harus menggunakan suatu metode tertentu. Metode pencatatan piutang yang biasa digunakan oleh perusahaan terdiri dari 2 (dua) metode yaitu:


  • Metode pencatatan secara manual
    Dalam metode ini posting ke dalam kartu piutang dilakukan atas dasar data yang dicatat dalam jurnal. 
  • Metode pencatatan secara komputerisasi
    Metode pencatatan piutang dengan komputer biasanya menggunakan batch system. Dalam hal ini dokumen sumber yang mengubah piutang dikumpulkan dan sekaligus diposting setiap hari untuk memastikan kebenaran catatan piutang.  

Dalam sistim komputer dibentuk 2 (macam) arsip yaitu:

  • arsip transaksi  (transaction file) 
  • arsip induk       (master file) 

2. Prosedur penagihan piutang
Pada tahap berikutnya setelah terjadinya piutang maka akan dilakukan penagihan terhadap para debitur. Heckert, Wilson dan James dalam bukunya Controlleship mengatakan bahwa:
“once credit is grated, every effort must be made to secure payment in accordance with the terms of sale and within a reasonable”.

Hal tersebut dapat diartikan bahwa apabila telah diberikan pinjaman, harus dilakukan usaha untuk memperoleh pembayaran sesuai dengan syarat pelaksanaan proyek dalam suatu waktu yang wajar.

Ada tiga cara yang dapat ditempuh dalam melakukan penagihan piutang pada langganan:

  • Diantarkan langsung oleh langganan atau debitur ke perusahaan. 
  • Melakukan penagihan secara langsung kepada pemilik perusahaan dengan mendatangi secara langsung pada debitur. 
  • Melakukan penagihan melalui telepon  atau mengirimi surat penagihan kepada debitur atau melalui transfer bank ke rekening giro yang dicetak ke rekening Koran pada akhir bulan. 

Penagihan sebaliknya dilakukan oleh petugas yang khas ditunjuk untuk itu Disebut collector. Adapun prosedur penagihan piutang adalah:


  • Bagian piutang menyusun daftar tagihan piutang yang telah jatuh tempo. Daftar tagihan tersebut akan diserahkan kepada panagih beserta kuitansi penjualan asli. 
  • Penagihan langsung mendatangi pelanggan ke alamat masing-masing dan menagih piutang yang tercantum pada daftar tagihan. Setiap pelunasan yang dilakukan pelanggan akan diberikan kuitansi penjualan asli akan dicap lunas. 
  • Uang hasil penagihan yang diperoleh akan diserahkan kepada kasir beserta daftar tagihannya. 
  • Kasir menghitung uang tagihan dan apabila sudah cocok dengan daftar tagihan, maka daftar tagihan tersebut akan diberikan cap telah diterima kasir. Setelah dicap daftar tagihan tersebut akan diserahkan kembali kepada penagih/collector. 
  • Selanjutnya bagian penagihan akan menyerahkan daftar tagihan kebahagian piutang dan bagian akuntansi. Bagian piutang mencatat piutang yang diterima pada buku tambahan dan bagian akuntansi mencatat dalam buku harian dan buku besar. 

Ada beberapa teknik yang digunakan  untuk melakukan penagihan piutang, yaitu:

1). Melalui surat
Bilamana waktu pembayaran utang dari pelanggan sudah lewat beberapa hari tetapi belum juga dilakukan pembayaran maka perusahaan dapat mengirim surat dengan nada “mengingatkan (menegur) langganan yang belum membayar tersebut bahwa utangnya sudah jatuh tempo. Apabila utang tersebut belum juga dibayar setelah beberapa hari surat dikirim maka dapat dikirimkan surat kedua yang nadanya lebih keras.

2). Melalui telepon
Apabila setelah dikirim surat teguran  ternyata utang-utang tersebut belum juga dibayar, maka bagian penagihan kredit dapat menelepon langganan dan secara pribadi memintanya untuk segera melakukan pembayaran. Kalau dari hasil pembicaraan tersebut ternyata misalnya langganan mempunyai alasan yang dapat diterima maka mungkin perusahaan dapat memberikan perpanjangan sampai satu jangkan waktu tertentu.

3). Kunjungan personal
Melakukan kunjungan secara personal atau pribadi ke tempat langganan seeringkali digunakan karena derasakan sangat efektif dalam usaha-usaha pengumpulan piutang.

4). Tindakan yuridis
Bilamana ternyata langganan tidak mau membayar utang-utangnya maka perusahaan dapat menggunakan tindakan-tindakan hokum  dengan mengajukan gugatan perdata melalui pengadilan.

3. Prosedur penyisihan piutang
Dalam mengantisifasi jumlah piutang yang tidak dapat tertagih perusahaan melakukan estimasi atau taksiran piutang  yang tidak dapat ditagih setiap akhir periode. Beberapa macam metode penyisihan antara lain:

  • Pendekantan Laporan rugi laba (income statement approach)
    Menurut metode ini penyisihan piutang ragu-ragu dihitung dengan cara mengalihkan taksiran persentase yang tidak terbayar dengan jumlah penjualan periode tersebut. Dalam menaksir jumlah persentase ini biasanya didasarkan atas pengalaman masa lalu. Dari pengalaman  ini dapat diketahui berapa rata-rata persentase yang tidak terbayar dari jumlah penjualan periode tersebut. Dan ini dilakukan dengan mendebet biaya piutang dan mengkredit penyisihan piutang. 
  • Pendekan Neraca (Balance sheet approach)
    Menurut metode ini penyisihan piutang ragu-ragu dihitung dari menggunakan saldo piutang usaha. Dengan metode ini, jumlah dari piutang tak tertagih adalah dengan mengalikan saldo piutang usaha  dengan persentase piutang yang tak tertagih. 

4. Prosedur penghapusan piutang
Apabila piutang yang telah dicadangkan sebelumnya benar-benar sudah tidak dapat ditagih dan kemungkinan oleh sebab karena debiturnya lari, meninggal dunia atau sebab-sebab lain, maka dilakukan penghapusan piutang.

Untuk menghapusan piutang usaha yang tidak dapat tertagih ini harus ada persetujuan dari pimpinan yang berada di kantor pusat yaitu direktur utama. Setelah adanya persetujuan  dari direktur utama, maka bagian administrasi penjualan akan mengirimkan nota penghapusan ke bagian akuntansi untuk penghapusan piutangnya.

Sistim Pengawasan Intern Piutang 

Sistim pengawasan intern meliputi organisasi, mengecek dan elemen-elemen yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian yang dapat dipercaya atau  tidaknya dalam data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong terpenuhinya kebijakan manajemen.

Unsur-unsur pengawasan intern meliputi:

  • Struktur organisasi 
  • System pemberian wewenang dan prosedur pencatatan 
  • Praktek-praktek yang sehat 
  • Pegawai yang bermutu 

Pengawasan piutang sangat penting dilakukan, karena tanpa pengawasan, perusahaan akan menanggung resiko-resiko yang mungkin terjadi dalam mengadakan investasi dalam bentuk piutang. Resiko-resiko yang mungkin timbul antara lain:

  • Kemungkinan terjadinya kelambatan dalam penerimaan piutang 
  • Kemungkinan piutang tidak dibayar sekaligus 
  • Kemungkinan piutang tidak dibayar seluruhnya 
  • Resiko yang timbul karena tertanamnya modal dalam piutang dalam waktu yang lama. 

Untuk menghindari atau paling tidak memperkecil resiko yang akan timbul, maka diperlukan pengawasan terhadap piutang. Pengawasan piutang yang dapat dilakukan dengan:

1). Pengawasan terhadap pemberian kredit
Pengawasan pemberian piutang oleh perusahaan bertujuan agar pelaksanaan proyek hanya dilakukan terhadap pemilik proyek yang memenuhi syarat pemberian piutang oleh perusahaan yang telah ditetapkan. dengan adanya pengawasan diharapkan resiko yang mungkin timbul karena kesalahan pemberian piutang dapat dicegah.

Dalam menilai resiko piutang pemilik proyek oleh bagian keuangan dalam melakukan penilaian, penilaian yang sering dilakukan umumnya oleh bank dan juga sering dilakukan oleh perusahaan industri maupun dagang, jasa yaitu penilaian 5 “C” dari calon pelanggan antara lain, kepribadian (Character), kemampuan  (Capacity), jaminan  (Colleteral), modal  (Capacity) dan kondisi (Condition).

2). Pengawasan penagihan
Pengawasan penagihan dimaksudkan  untuk mengetahui apakah aktivitas yang dilakukan oleh bagian penagihan  dengan semestinya. Selain itu bagian penagihan mempunyai beberapa tujuan yaitu: “bahwa tujuan bagian penagihan selain mengumpulkan piutang, bagian penagihan juga bertujuan menjaga nama baik para pelanggan”.

Perusahaan dapat menggunakan beberapa media sebagai alat untuk melakukan penagihan, yaitu dengan cara:

  • Penagihan dilakukan secara langsung oleh perusahaan 
  • Diantar langsung oleh langganan ke perusahaan 
  • Penagihan melalui surat atau telepon 

Dari penggunaan berbagai media penagihan itu, pada akhirnya diharapkan agar dapat memperoleh hasil berupa pelunasan hutang. Hasil penagihan ini akan menunjukkan berhasil tidaknya bagian-bagian penagihan melaksanakan tugasnya.

Untuk mengetahui seberapa baik (efisiensi) bagian penagihan dalam mengelola piutang, dapat diukur dengan menggunakan analisa ratio.

Analisa ratio yang dapat digunakan yaitu:

a.  Tingkat perputaran piutang usaha
Rasio ini mencoba menentukan berapa lama selama setahun suatu perusahaan “mengembalikan” atau menerima kembali piutangnya.

Tingkat perputaran piutan dapat dihitung sebagai berikut:

Tingkat perputaran piutang usaha =   penjualan kredit bersih
                                                      --------------------------
                                                          Rata-rata piutang

Rata-rata piutang =   piutang wesel + piutang akhir
                             ------------------------------------
                                                 2
b.  Hari rata-rata pengumpulan piutang
Ratio ini menunjukkan sejauh mana kecepatan perputaran piutang. Hari rata-rata pengumpulan piutang dapat dihitung dengan rumus:

Hari rata-rata pengumpulan piutang =                               360
                                                            ------------------------------------------------
                                                                   Tingkat perputaran piutang usaha


Adalah penting untuk membandingkan hasil kerja pengumpulan piutang dalam jangka waktu kredit yang ditetapkan oleh perusahaan. Apabila hasil kerja pengumpulan piutang selalu lebih besar  daripada batas waktu kredit yang telah ditetapkan tersebut maka cara pengumpulan piutangnya kurang efisien. Ini berarti bahwa banyak langganan yang tidak memenuhi batas waktu kredit yang telah detetapkan oleh perusahaan.

3. Penyelenggaraan pengawasan intern yang memadai
Pengawasan intern atas piutang dimulai sejak penerimaan order pelaksanaan proyek. Pengawasan intern piutang mengharuskan adanya persetujuan pemberian proyek, baik mengenai perencanaan pelaksanaan proyek, penyiapan dan pemberian faktur verifikasi faktur dan berakhir dengan penagihan piutang.

Pemberian persetujuan pinjaman sebaiknya dilakukan suatu bagian yang berdiri sendiri, sebaiknya bukan bagian pemasaran karena dalam upaya untuk meningkatkan jumlah aktivitas kerja usaha mungkin akan memberikan pinjaman tanpa memperhatikan pemberian pinjaman.

Prosedur untuk penerimaan kerja dan penyiapan faktur pelaksanaan proyek akan membantu pegawai yang mencatat piutang melakukan pencatatan dengan segera dan tepat. Untuk megecek kebenaran faktur pelaksanaan proyek sebaiknya ditunjuk orang yang bukan bertugas mengecek kebenaran jumlah, harga, perhitungan, ada tidaknya potongan, dan syarat pelaksanaan proyek. Copy faktur pelaksanaan proyek dan memo penagihan dikirimkan kebagian yang mencatat piutang ke dalam buku pembantu, untuk melaksanakan pencatatan jurnal ke buku pembantu.

Daftar Pustaka:

Syamsuddin, Lukman, 2000, Manajemen Keuangan Perusahaan, Edisi ke- 5, PT.        Raja Grafindo Persada, Jakarta. 

Gito Sudarmo, 1998,  Manajemen Keuangan,  edisi ke- 2, BPFE UGM, Yogyakarta. 

Stoner, James A.F, 1998, Manajemen, edisi ke-2, Penerbit Erlangga, Jakarta. 

Niswonger, Warren, Reeve dan Fess, 1999, Prinsip-prinsip Akuntansi, jilid 1, edisi ke- 19, Penerbit Erlangga, Jakarta. 

Pengertian Manajemen Piutang Makalah Prosedur Kebijaksanaan Kredit Penggolongan Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment