Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Pengertian Anak Jalanan Faktor yang Menyebabkan Munculnya Anak Jalanan

Pengertian Anak jalanan - Marginal , rentan dan eksploitatif adalah istilah-istilah yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi dan kehidupan anak jalanan. Marginal karena mereka melakukan jenis pekerjaan yang  tidak jelas jenjang kariernya, kurang dihargai, dan umumnya juga tidak menjanjikan prospek apapun dimasa depan. Rentan karena resiko yang harus ditanggung akibat jam kerja yang sangat panjang benar- benar dari segi kesehatan maupun sosial sangat rawan. 


Sedangkan disebut eksploitatif karena mereka biasanya memiliki posisi tawar-menawar (bargaining position) yang sangat lemah, tersubordinasi, dan cenderung menjadi objek perlakuan yang sewenang-wennag dari ulah preman atau oknum aparat yang tidak jalanan bertanggung jawab.  

Pengertian anak atau sering disebut tekyan, arek kere, anak gelandangan , atau kadang disebut juga secara eufemistik sebagai anak mandiri, sesungguhnya mereka adalah anak-anak yang tersisih , marginal, dan teralienasi dari perlakuan kasih-sayang karena kebayakan dalam usia yang relative dini harus berhadapan dengan lingkungan kota yang keras dan bahkan sangat tidak bersahabat (Bagong, 1999: 41).  

Pengertian/Definisi Anak Jalanan

Sementara, defenisi yang dirumuskan dalam Lokakarya Kemiskinan dan Anak Jalanan, yang diselenggarakan Departemen Sosial pada tanggal 25 dan 26 Oktober 1995, anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian waktunya utnuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan dan tempat-tempat umum lainnya. 

Defenisi tersebut , kemudian dikembangkan oleh Ferry  Johanes pada seminar tentang Pemberdayaan Anak Jalanan yang dilaksanakan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung pada bulan Oktober 1996, yang menyebutkan bahwa, anak jalanan adalah anak yang menghabiskan waktunya di jalanan, baik untuk bekerja maupun  tidak, yang terdiri dari anak-anak yang mempunyai hubungan dengan keluarga atau terputus hubungannnya dengan keluarga , dan anak yang mandiri sejak kecil karena kehilangan orangtua/keluarga (Huraerah, 2006: 80). 
Berdasarkan hasil kajian dilapangan, secara  garis besar  anak jalanan dibedakan ke dalam tiga kelompok : 
  1. Children On the Street  (Anak Jalanan yang bekerja di jalanan), yakni anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi-  sebagai pekerja anak-di jalan, namun masih mempunyai hubungan yang kuat dengan orangtua mereka. Fungsi anak jalanan pada kategori ini adalah untuk membantu memperkuat penyangga ekonomi keluarganya karena beban atau tekanan kemiskinan yang mesti ditanggung tidak dapat diselesaikan sendiri oleh kedua orangtuanya. 
  2. Children of the street  (Anak Jalanan yang hidup dijalanan), yakni anak-anak yang berpartisipasi penuh di jalanan, baik secara  sosial maupun ekonomi. Beberapa diantara mereka masih mempunyai hubungan dengan orangtuanya, tetapi frekuensi pertemuan mereka tidak menentu. Banyak diantara mereka adalah anak-anak yang karena suatu sebab  lari atau pergi dari rumah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak pada kategori ini sangat rawan terhadap perlakuan salah, baik secara sosial-emosional, fisik maupun seksual. 
  3. Children from families of the street atau children in street, yakni anak-anak yang berasal dari keluarga yang hidup dijalanan. Salah satu ciri penting dari kategori ini adalah pemampangan kehidupan jalaan sejak anak masih bayi bahkan sejak masih dalam kandungan. Di Indonesia, kategori ini dengan mudah ditemui di berbagai kolong jembatan, rumah-rumah liar sepanjang  rel kereta api, dan sebagainya  walau secara kuantitatif jumlahnya belum diketahui secara pasti (Bagong, 1999: 41- 42). 


Faktor – faktor yang Menyebabkan Munculnya  Anak Jalanan 

Sesungguhnya ada banyak faktor yang menyebabkan anak-anak terjerumus dalam kehidupan di jalanan, seperti : kesulitan keuangan keluarga atau tekanan kemiskinan, ketidakharmonisan rumah tangga orangtua, dan masalah khusus  menyangkut hubungan  anak dengan orangtua. Kombinasi dari faktor-faktor ini seringkali memaksa anak-anak mengambil inisiatif mencari nafkah atau hidup mandiri dijalanan. Kadangkala pengaruh teman atau kerabat juga ikut menentukan keputusan untuk hidup dijalanan. Pada batas-batas tertentu, memang tekanan kemiskinan merupakan kondisi yang mendorong anak-anak hidup dijalanan. Namun, bukan berarti kemiskinan merupakan satu-satunya faktor determinan yang menyebabkan anak lari dari rumah dan terpaksa hidup dijalanan. Kebanyakan anak bekerja dijalanan bukanlah atas kemauan sendiri, meliankan sekitar 60% diantaranya karena dipaksa oleh orangtuanya (Bagong, 1999: 48). 

Menurut Surjana  menyebutkan bahwa faktor yang mendorong anak untuk turun ke jalan terbagi dalam tiga tingkatan, sebagai berikut : 

  1. Tingkat Mikro  (immediate causes), yaitu faktor yang berhubungan dengan anak dan  keluarga. Sebab-sebab yang bisa  diidentifikasikan dari anak adalah lari dari rumah (sebagai contoh anak yang selalu hidup dengan orangtua yang terbiasa dengan menggunakan kekerasan (sering menampar, memukul, menganiaya karena kesalahan kecil) jika sudah melampaui  batas toleransi anak, maka anak cenderung memilih keluar dari rumah dan hidup dijalanan, disuruh bekerja dengan kondisi masih sekolah atau disuruh putus sekolah, dalam rangka bertualang, bermain-main atau diajak teman. Sebab-sebab yang berasal dari kelurga adalah terlantar, ketidakmampuan orangtua menyediakan kebutuhan dasar, kondisi psikologis seperti ditolak orangtua, salah perawatan dari orangtua sehingga  mengalami kekerasan di rumah (child abuse) kesulitan berhubungan dengan keluarga karena terpisah dari orangtua. Permasalahan atau sebab-sebab yang timbul baik dari anak maupun keluarga ini saling terkait satu sama lain. 
  2. Tingkat Meso (underlying cause), yaitu faktor agar berhubungan dengan struktur masyarakat (struktur disini dianggap sebagai kelas masyarakat, dimana masyarakat itu ada yang miskin dan kaya. Bagi kelompok keluarga miskin anak akan diikut sertakan dalam menambah penghasilan keluarga). Sebab-sebab yang dapat diidentifikasikan ialah pada komunitas masyarakat miskin, anak-anak adalah aset untuk membantu meningkatkan ekonomi keluarga, oleh karena itu anak-anak diajarkan untuk bekerja pada masyarakat lain pergi ke kota untuk bekerja adalah sudah menjadi kebiasaan masyarakat dewasa dan anak-anak (berurbanisasi). 
  3. Tingkat makro (basic cause), yaitu faktor yang berhubungan dengan struktur masyarakat (struktur ini dianggap memiliki status sebab akibat yang sangat menentukan, dalam hal ini sebab banyak waktu di jalanan, akibatnya akan banyak uang). Sebab yang dapat diidentifikasikan secara ekonomi adalah membutuhkan modal dan keahlian besar. Untuk memperoleh uang yang lebih banyak mereka harus lama bekerja dijalanan dan meninggalkan bangku sekolah (Siregar, 2004: 39). 

Baca: Pengertian Anak Menurut Definisi Ahli dan Undang Undang Kesejahteraan Anak 

Dalam pandangan Soetarso bahwa dampak krisis moneter dan ekonomi dalam kaitannya dengan anak jalanan adalah : 
  1. Orang  tua mendorong anak untuk bekerja membantu ekonomi keluarga. 
  2. Kasus kekerasan dan perlakuan salah terhadap anak oleh orang  tua semakin meningkat sehingga anak lari ke jalanan. 
  3. Anak terancam putus sekolah karena orang  tua tidak mampu membayar uang sekolah. 
  4. Makin banyak anak yang hidup di jalanan karena biaya kontrak rumah/kamar meningkat. 
  5. Timbul persaingan dengan  pekerja dewasa di jalanan, sehingga anak terpuruk melakukan pekerjaan berisiko tinggi terhadap keselamatannya dan eksploitasi anak oleh orang dewasa di jalanan. 
  6. Anak menjadi lebih lama berada di jalanan sehingga mengundang masalah lain. 
  7. Anak jalanan menjadi korban pemerasan, dan eksploitasi seksual terhadap anak jalanan perempuan (Huraerah, 2006: 78). 
Pengertian Anak Jalanan
  
Studi yang dilakukan UNICEF pada anak-anak yang dikategorikan children of the street, menunjukkan bahwa motivasi mereka hidup dijalanan bukanlah sekadar karena desakan kebutuhan ekonomi rumah tangga, melainkan juga karena terjadinya kekerasan dan keretakan kehidupan rumah tangga orang tuanya. Bagi anak-anak ini, kendati kehidupan di jalanan sebenarnya tak kalah keras, namun bagaimanapun dinilai lebih memberikan alternative dibandingkan dengan hidup dalam keluarganya yang penuh dengan kekerasan yang tidak dapat mereka hindari. Meski tidak selalu terjadi, tetapi acap ditemui bahwa latar belakang anak-anak memilih hidup di jalanan adalah karena kasusu-kasus  child abuse (tindakan yang salah pada anak) (Bagong, 1999: 46). 

Lingkungan Sosial Terhadap Anak

Pengertian Lingkungan sosial adalah segala faktor ekstern yang mempengaruhi perkembangan pribadi manusia, yang berasal dari luar diri pribadi (Soekanto, 1990: 80). Secara konsepsional, maka lingkungan sosial mencakup unsur-unsur yaitu: 

1. Proses sosial 
Proses sosial merupakan  inti dinamika lingkungan sosial. Inti proses sosial adalah interaksi sosial, yang merupakan proses hubungan timbal  balik antar pr ibadi, antar kelompok dan antar pribadi dengan kelompok. Proses sosial itu sendiri mencakup hubungan antara berbagai bidang kehidupan manusia, seperti misalnya, bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan- keamanan, dan hukum. 

2. Struktur sosial 
Struktur sosial menjadi landasan lingkungan sosial, oleh karena mencakup aspek-aspek sosial yang pokok. Aspek-aspek itu, yang merupakan hasil abstraksi proses sosial, adalah kelompok sosial, kebudayaan (yang dibicarakan secara terpisah), lembaga-lembaga sosial, stratifikasi sosial, kekuasaan dan wewenang. 

3.  Perubahan-perubahan sosial (yang kadang-kadang merupakan bagian proses sosial, unsur ini dipisahkan dari proses sosial untuk menunjukkan bahwa yang dimaksudkan dengan perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada struktur sosial). 

Perubahan pada struktur  sosial biasanya disebabkan karena perkembangan kebutuhan yang ada, terutama kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, yang terdiri dari : 
  • Kebutuhan akan sandang, pangan dan papan. 
  • Kebutuhan akan keselamatan jiwa dan harta benda. 
  • Kebutuhan akan harga diri. 
  • Kebutuhan akan pengembangan potensi diri. 
  • Kebutuhan akan kasih sayang (Soekanto, 1990: 80). 

Baca: Hak Anak Pendidikan Perlindungan Tumbuh Kembang Kelangsungan Hidup

Di Indonesia peranan lingkungan sosial tampaknya masih besar apabila dibandingkan dengan peranan keluarga, terutama pada lapisan menengah dan bawah. Bahkan dapat dikatakan, bahwa faktor–faktor eksternal lebih besar peranannya dalam pembentukan kepribadian seseorang. Hal ini tidak saja berkaitan dengan pola hidup spiritual, akan tetapi dapat dibedakan antara lingkungan pendidikan formal, pekerjaan dan tetangga. 


Daftar Pustaka Makalah Anak Jalanan

Bagong, Suyanto dan Hariadi, Sri Sanituti, 2002. Krisis dan Child Abuse, Kajian Sosiologis tentang kasus Pelanggaran Hak Anak dan Anak-Anak yang membutuhkan Perlindungan Khusus (Child in Need of Special Protection).  Surabaya: Airlangga Univercity Press.  

Huraerah, Abu, M. Si., 2006.  Kekerasan terhadap Anak. Bandung: Penerbit Nuansa. 

Siregar, Hairani. 2004.  Tesis: Faktor Dominan Anak Menjadi Anak Jalanan di Kota Medan. http://digilib.usu.ac.id/download/fe/tesis-hairani%20siregar.pdf  . Medan. ( Diakses tanggal 10/ February/ 2009/ Pukul 12: 35 WIB). 

Pengertian Anak Jalanan Faktor yang Menyebabkan Munculnya Anak Jalanan Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

2 comments:

  1. Nama penulis aryikelnya siapa, soalnya mau ditulis di daftar pustaka, atau mungkin ada saran

    ReplyDelete
  2. Nama penulis aryikelnya siapa, soalnya mau ditulis di daftar pustaka, atau mungkin ada saran

    ReplyDelete