Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Wednesday, 5 August 2015

Pengertian Keluarga Definisi Ciri Bentuk Fungsi Menurut Para Ahli

Pengertian Keluarga adalah merupakan kelompok primer yang paling penting dalam masyarakat. Keluarga merupakan sebuah grup yang terbentuk dari perhubungan laki–laki dan perempuan, perhubungan yang mana sedikit banyak berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak–anak. Jadi keluarga dalam bentuk murni merupakan suatu kesatuan sosial yang terdiri dari suami, isteri dan anak–anak (Ahmadi, 2002:239).

Secara historis, keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan organisasi terbatas, dan mempunyai ukuran yang minimum, terutama pihak–pihak yang pada awalnya mengadakan suatu ikatan. Keluarga sebagai organisasi mempunyai perbedaan dengan organisasi–organisasi lainnya Salah satu perbedaan yang cukup penting terlihat dari bentuk hubungan anggota –anggotanya yang lebih bersifat lebih mendalam dan merupakan ciri  –ciri kelompok primer antara lain: 
  1. mempunyai hubungan yang lebih intim 
  2. kooperatif 
  3. face to face 
  4. masing –masing anggota memperlakukan anggota lainnya sebagai tujuan bukannya sebagai alat untuk mencapai tujuan. 

Ciri-ciri lain juga dikemukakan oleh Paul H. Landis, adalah: 
  1. intimate 
  2. face to face 
  3. warm hearted relationship 

Dengan demikian keluarga mempunyai  sistem jaringan interaksi yang lebih bersifat hubungan interpersonal, dimana masing–masing anggota dalam keluarga dimungkinkan mempunyai intensitas hubungan satu sama lain antara ayah dan ibu, ayah dan anak, ibu dan anak, maupun antara anak dan anak. Sistem interaksi antar pribadi (interpersonal) dapat digambarkan sebagai berikut : 

Pengertian Keluarga

Gambar di atas dapat disimpulkan bahwa masing-masing anggota mempunyai jumlah hubungan yang sama terhadap anggota lainnya (Khairuddin, 1997: 4-5). 


Keluarga pada dasarnya merupakan suatu kelompok yang terbentuk dari suatu hubungan seks yang tetap, untuk menyelenggarakan hal–hal yang berkenaan dengan keorangtuaan dan pemeliharaan anak. 

a.  Ciri–ciri umum 
Menurut Mac iver and Page, ciri–ciri umum keluarga antara lain : 
  1. Keluarga merupakan hubungan perkawinan 
  2. Berbentuk perkawinan atau susunan kelembagaan yang berkenaan dengan hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk dan dipelihara 
  3. Suatu sistem tata nama, termasuk bentuk perhitungan  garis keturunan 
  4. Ketentuan–ketentuan ekonomi yang dibentuk oleh anggota–anggota kelompok yang mempunyai ketentuan khusus terhadap kebutuhan–kebutuhan ekonomi yang berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak 
  5. Merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga yang walau bagaimanapun, tidak mungkin menjadi terpisah terhadap kelompok keluarga  

b.  Ciri –ciri khusus 
  1. Kebersamaan : Keluarga merupakan bentuk yang hampir paling universal di antara bentuk–bentuk organisasi sosial lainnya 
  2. Dasar–dasar emosional : Hal ini didasarkan pada suatu kompleks dorongan–dorongan yang sangat mendalam dan ikatan kelompok yang erat tentang emosi–emosi sekunder, dari cinta romantik, rasa kasih sayang sampai pada kebanggaan akan ras. 
  3. Pengaruh perkembangan : Bahwa keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama–tama bagi seluruh bentuk hidup yang tertinggi, termasuk manusia. Pada khususnya membentuk karakter individu. 
  4. Ukuran yang terbatas : Keluarga merupakan kelompok yang terbatas ukurannya dan merupakan skala yang paling kecil dari semua organisasi formal yang merupakan struktur sosial. 
  5. Posisi inti dalam struktur sosial : Keluarga merupakan inti dari organisasi–organisasi sosial lainnya. Kerap kali di dalam masyarakat yang sederhana, maupun dalam masyarakat yang lebih maju, struktur sosial secara keseluruhan di bentuk dari satuan–satuan keluarga. 
  6. Tanggung jawab para anggota : Keluarga memiliki tuntutan–tuntutannya dan dilaksanakan sesuai dengan kondisi–kondisi pemenuhan kebutuhan–kebutuhan yang mampu dilakukan oleh keluarga. 
  7. Aturan kemasyarakatan (aturan–aturan sosial) :Aturan-aturan kemasyarakatan khususnya terjaga dengan adanya hal-hal yang tabu dan aturan-aturan sah yang menentukan kondisi-kondisi masyarakatnya (Khairuddin, 1997: 5-10). 


Klasifikasi Bentuk-bentuk Keluarga 

Terdapat berbagai bentuk keluarga dalam ruang dan waktu yang dapat diklasifikasikan: 

1.  Dari keluarga yang tetap kepada keluarga yang berubah 
Le Play melihat adanya perbedaan antara keluarga tetap dengan keluarga yang tidak tetap. Le Play menggambarkan keluarga patriarkiat sebagai keluarga yang mempunyai suatu ketetapan yang permanen. Keluarga patriarkiat banyak terdapat pada bentuk yang terdahulu (Stable). Bentuk tersebut sangat setia pada tradisi, dimana seseorang menentukan  tempat tinggal anak-anaknya yang telah kawin dekat rumah tempat tinggalnya, agar dapat menjaga dan melindungi mereka. Menurut Le Play, keluarga yang tidak tetap dengan “tidak adanya kasih sayang yang tetap di hati mereka” dan diilhami oleh nafsu terhadap perubahan sosial”.  Le Play dalam analisisnya tentang stabilitas keluarga berkaitan dengan strukturnya dan tidak memikirkan stabilitas pada fungsi dan aspek-aspek dinamis. 

2.  Dari kesewenangan kepada Demokratis 
Willcox telah membuat suatu perbedaan fungsional dalam membedakan antara dua tipe kehidupan keluarga. Tipe pertama adalah kesewenang-wenangan (depotic) atau “pandangan bahwa isteri dimiliki oleh suaminya, sama dengan pandangan bahwa hilangnya dan timbulnya kepribadian seorang isteri adalah sah tergantung  pada suami”.  Sementara demokrasi merupakan pandangan di mana keluarga didasarkan atas ”kerjasama dan keharmonisan yang seimbang” dalam keluarga.  Perubahan yang fundamental yang kemudian terjadi dalam proses tersebut adalah dari kelembagaan (institusionil)  kepada pertemanan (companionship). 

3.  Dari kelembagaan kepada pertemanan (companionship) 
Pendapat pokok dalam hal ini adalah keluarga dalam masa historis telah mengalami transisi dari suatu kelembagaan dengan tingkah laku keluarga yang dikontrol oleh adat istiadat pendapat masyarakat, dan aturan terhadap suatu pertemuan dengan timbulnya tingkah laku keluarga dari saling kasih sayang dan konsensus dari anggota-anggotanya. 

Bentuk pertemanan dari keluarga tidaklah disusun sebagai suatu kenyataan yang ada tetapi sebagai suatu yang timbul. Keluarga sebagai suatu lembaga dan sebagai suatu pertemanan dapat dibatasi dan diletakkan bagi penggunaan pengertian keluarga melalui metode konstruksi yang ideal.  

Dari sudut metode konstruksi ideal, keluarga merupakan suatu lembaga dan sebagai suatu pertemanan yang akan memperlihatkan dua konsep yang berlawanan. Perumusan teoritis yang paling jelas dari keluarga sebagai suatu lembaga di mana ikatannya akan ditentukan secara luas oleh tekanan sosial yang berkenaan pada anggota keluarga. Konstruksi ideal dari keluarga sebagai pertemanan akan terfokus pada satuan yang berkembang di luar hubungan kasih sayang yang timbal balik, dan persatuan yang intim dari suami dan isteri serta orang tua dan anak-anak. Tipe keluarga partriarkiat adalah tipe yang paling erat dengan konstruksi keluarga ideal dari keluarga sebagai lembaga denagn kombinasinya tentang kekuatan sanksi dan tata kelakuan, agama dan hukum, serta secara praktis melengkapi rendahnya anggota-anggota individu-individu keluarga terhadap otoritas kepala keluarga (Khairuddin, 1997: 43-45). 

Fungsi-fungsi pokok keluarga 

Pada dasarnya keluarga mempunyai fungsi-fungsi pokok yakni fungsi yang sulit dirubah dan digantikan oleh orang lain. Sedangkan fungsi-fungsi lain atau fungsi-fungsi sosial, relatif lebih mudah berubah atau mengalami perubahan. 

Fungsi-fungsi pokok tersebut antara lain : 
a.  Fungsi biologik 
Keluarga merupakan tempat lahirnya anak-anak, fungsi ini merupakan dasar kelangsungan hidup masyarakat. Namun fungsi ini juga mengalami perubahan karena keluarga sekarang cenderung pada jumlah anak yang sedikit. 

b.  Fungsi afeksi 
Dalam keluarga terjadi hubungan sosial yang penuh dengan kemesraan dan afeksi. Hubungan afeksi ini tumbuh sebagai akibat hubungan cinta kasih yang menjadi dasar  perkawinan. Dari hubungan cinta kasih ini lahirlah hubungan persaudaraan, persahabatan, kebiasaan, identifikasi, persamaan pandangan mengenai nilai-nilai.  Dasar cinta kasih dan hubungan afeksi ini merupakan faktor penting bagi perkembangan pribadi anak. Dalam masyarakat yang makin impersonal, sekuler, dan asing, pribadi sangat membutuhkan hubungan afeksi seperti yang terdapat dalam keluarga, suasana afeksi itu tidak terdapat dalam institusi sosial yang lain. 

c.  Fungsi sosialisasi 
Fungsi sosialisasi menunjukkan peranan keluarga dalam kepribadian anak. Melalui interaksi sosial dalam keluarga, anak mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka perkembangan kepribadiannya (Khairuddin, 1997: 48-49). 

Peranan keluarga terhadap perkembangan Individu 

\Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia, tempat dimana ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya. 

Semua yang diuraikan mengenai interaksi kelompok berlaku pula bagi interaksi kelompok keluarga yang merupakan kelompok primer, termasuk pembentukan norma–norma sosial, internalisasi norma–norma, terbentuknya tingkahlaku individu (behaviorisme), dan lain–lain. Di dalam keluarga interaksi sosial individu berdasarkan simpati, ia pertama–tama belajar memperhatikan keinginan –keinginan orang lain, belajar bekerjasama, bantu membantu. 

Dalam interaksi sosial individu, seseorang pertama–tama belajar memegang peranan sebagai makhluk sosial yang memiliki norma–norma dan kecakapan dalam pergaulannya dengan orang lain. Pengalaman–pengalaman dalam interaksi sosial dalam keluarga turut menentukan pula cara–cara tingkah lakunya terhadap orang lain dalam pergaulan sosial diluar keluarganya, didalam masyarakat pada umumnya juga berlangsung tidak wajar. 

Jadi selain peranan umum kelompok keluarga sebagai kerangka sosial yang pertama, tempat manusia berkembang sebagai makhluk sosial, terdapat pula peranan–peranan tertentu di dalam keadaan–keadaan keluarga yang dapat mempengaruhi perkembangan individu sebagai makhluk sosial, antara lain : 

a.  Status sosio–ekonomi 
Keadaan sosio-ekonomi keluarga tentulah berpengaruh terhadap perkembangan individu, apabila kita perhatikan bahwa adanya perekonomian yang cukup, maka lingkungan material yang dihadapi individu di dalam keluarganya itu lebih luas, ia lebih mendapat kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan bermacam–macam kecakapan yang tidak dapat ia kembangkan apabila tidak ada peranannya. Hubungan orang tua dalam status sosial–ekonomi serba cukup dan kurang mengalami tekanan–tekanan fundamental seperti dalam memperoleh nafkah hidupnya yang memadai. Orang tua dapat mencurahkan perhatian yang lebih mendalam pada pendidikan anaknya apabila ia tidak dibebani dengan masalah kebutuhan primer kehidupan manusia. 

Hal tersebut dapat dianggap benar secara umum, namun status sosial ekonomi tidak merupakan faktor mutlak dalam perkembangan sosial individu karena bergantung pada sikap orangtua dan bagaimana corak interaksi individu di dalam keluarganya 

b. Keutuhan keluarga 
Salah satu faktor utama lain yang mempengaruhi perkembangan sosial individu adalah faktor keutuhan keluarga. Yang dimaksudkan dengan keutuhan keluarga adalah keutuhan dalam struktur keluarga terdiri atas ayah, ibu, dan anak–anak. Apabila tidak ada ayah atau ibu atau bahkan keduanya, maka struktur keluarga sudah tidak utuh lagi. Selain keutuhan dalam struktur keluarga dimaksudkan pula keutuhan dalam interaksi keluarga, bahwa dalam keluarga berlangsung interaksi sosial yang wajar (harmonis). Apabila orang tua berselisih disertai  dengan tindakan agresif, keluarga tidak dapat dikategorikan sebagai keluarga yang utuh. 

c.  Sikap dan kebiasaan orangtua 
Peranan keluarga terhadap perkembangan sosial individu tidak hanya terbatas pada status sosial ekonomimya atau pada keutuhan struktur dan interaksinya saja. Demikian juga cara-cara dan sikap-sikap dalam pergaulannya memegang peranan yang cukup penting di dalamnya. Keluarga itu telah merupakan kelompok sosial dengan tujuan, struktur, norma, dinamika kelompok, termasuk cara–cara kepemimpinannya yang sangat mempengaruhi kehidupan individu yang menjadi anggota keluarga tersebut. Begitu pula cara–cara bertingkah laku orang tua yang dalam hal ini menjadi pemimpin kelompok sangat mempengaruhi suasana interaksi keluarga dan dapat merangsang perkembangan ciri–ciri tertentu pribadi anaknya. 

Berdasarkan penelitian Baldwin, terdapat keluarga dimana terjadi pengawasan orang tua yang keras terhadap anak–anaknya (otoriter). Ia memperoleh hasil bahwa makin otoriter orang tuanya, makin berkurang ketidaktaatan, tetapi makin banyak timbul ciri–ciri pasivitas, kurangnya inisiatif, tidak dapat merencanakan sesuatu, daya tahan berkurang, dan ciri–ciri penakut. Dalam penelitian ini, Baldwin mendefenisikan sikap–sikap otoriter orangtua adalah : orang tua memberikan banyak larangan kepada anak  –anak dan yang harus mereka laksanakan tanpa kecuali dan tanpa pengertian pada anak. 

Selanjutnya merupakan sikap–sikap yang  ‘overprotection’  dari orang tua dimana orang tua terlampau cemas dan hati–hati dalam hal pendidikan anak. Orang tua dalam hal ini senantiasa menjaga keselamatan anaknya dan mengambil tindakan  –tindakan yang berlebihan agar anak kesayangannya terhindar dari berbagai ancaman dan bahaya. Hasilnya adalah bahwa sebahagian besar dari anak –anak tersebut berkembang dengan ciri–ciri yang sangat berketergantungan kepada orang tuanya dalam tingkah lakunya. 

Selanjutnya, menurut Symonds terdapat pula sikap penolakan orang tua terhadap anak –anaknya, yaitu sikap menyesal dan tidak setuju karena beberapa sebab dengan adanya anaknya itu mudah mengembangkan ciri–ciri agersivitas dan tingkah laku bermusuhan pada anak–anak tersebut dan juga gejala–gejala menyeleweng seperti berdusta dan mencuri dapat berkembang sebagai sikap penolakan orang tua. 

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa pada umumnya sikap–sikap pendidikan yang otoriter, sikap ‘overprotection’  , dan sikap penolakan orang tua terhadap anak–anaknya dapat menjadi suatu kendala bagi perkembangan sosial anak–anaknya. 

d.  Status anak dalam keluarga 
Status anak juga berperan sebagai suatu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan sosial dalam keluarganya. Status anak misalnya, status anak sebagai anak tunggal, anak sulung, atau anak bungsu diantara saudara–saudaranya. Hasil dari beberapa penelitian menyimpulkan bahwa anak tunggal dibandingkan dengan anak –anak yang bersaudara biasanya sangat egois, terdapat hal–hal mengenai ‘perasaan aku’ didalam dirinya. Kerap kali memperlihatkan sifat–sifat infantilisme (kekanak-kanakan) tetapi pada pihak lain anak tunggal itu lebih mudah mengorientasi dirinya kepada orang–orang dewasa dan kepada cita–cita serta sikap pandangan orang dewasa. 

Cattel berpendapat bahwa peranan anak  sulung dalam keluarga menunjukkan adanya sikap kurang aktif dan kurang berusaha dibandingkan dengan anak yang kedua atau seterusnya yang justru lebih giat dan berambisi untuk memperoleh penghargaan dan perhatian dari orang tuanya yang sama besarnya dengan  yang di peroleh oleh kakaknya. Hal ini di dasarkan atas kenyataan bahwa anak pertama biasanya memiliki perasaan “dihargai dan diperhatikan orang tua” yang lebih besar dari anak kedua dan seterusnya (Gerungan, 2004:195). 

e.  Tingkah laku religi 
Perubahan-perubahan besar terjadi dalam tingkah laku religi keluarga. Terdapat asumsi yang mengatakan bahwa kemunduran dalam fungsi keluarga dapat diukur melalui perbandingan aktivitas yang merata dalam keluarga. Dasar dari asumsi tersebut adalah suatu studi yang berkaitan dengan kecenderungan sosial di Amerika dewasa ini, yang sekurang-kurangnya dapat dilihat dalam 3 hal, yaitu: bagi anak-anak di Amerika persentase kunjungan mereka ke gereja dengan keluarga, persentase membaca kitab suci bersama-sama keluarga dan persentase berdoa (Khairuddin, 1997:54). 

Perubahan-perubahan pada fungsi-fungsi sentral keluarga 

Perubahan fungsi sentral keluarga dapat dilihat dari hilangnya fungsi-fungsi sosial dalam keluarga yaitu : 

  1. Keluarga makin berubah dari kesatuan yang menghasilkan menjadi kesatuan yang memakai semata-mata. Sifat kesatuan yang bekerja makin menghilang. 
  2. Tugas untuk mendidik anak-anak, sebagian besar diserahkan kepada sekolah. Hanya anak-anak yang paling kecil saja yang pada umumnya masih hidup sama sekali dalam hubungan kekeluargaan. 
  3. Tugas bercengkrama dalam keluarga semakin mundur, karena tumbuhnya perkumpulan-perkumpulan modern. Terutama orang dewasa yang makin jarang mengisi waktu dalam lingkungan keluarganya sendiri. 

Semakin banyak fungsi-fungsi atau peranan-peranan anggota keluarga yang dijalankan di luar rumah menyebabkan kurangnya intensitas hubungan antara anggota-anggota keluarga tersebut karena semakin jarang mereka bertemu satu sama lain, dan waktu berkumpul semakin terbatas (Khairuddin, 1997: 58). 

Daftar Pustaka:

Khairuddin, H.1997. Sosiologi Keluarga. Liberty. Yogyakarta 

Gerungan. W. A. 2004. Psikologi Sosial. Refika Aditama. Bandung 

Abu, Ahmadi. H. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Rineka Cipta. Jakarta 

Pengertian Keluarga Definisi Ciri Bentuk Fungsi Menurut Para Ahli Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment