Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Pengertian Kemiskinan Jenis Faktor Penyebab Menurut Para Ahli

Pengertian Kemiskinan adalah - Secara harfiah kamus besar Bahasa Indonesia, miskin itu berarti tidak berharta benda. Miskin juga berarti tidak mampu mengimbangi tingkat kebutuhan hidup standard dan tingkat penghasilan dan ekonominya rendah. Secara singkat kemiskinan dapat didefenisikan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah yaitu adanya kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standard kehidupan yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. (Wikipedia, http: //id.Wikipedia.org/Wiki/Ekonomi, 12/03/09, 10.15 P.M). 


Sedangkan Secara umum kemiskinan diartikan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok atau dasar. Mereka yang dikatakan berada di garis kemiskinan adalah apabila tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok.            

Istilah Kemiskinan selalu melekat dan begitu popular dalam masyarakat yang sedang berkembang. Istilah itu sangat mudah diucapkan tetapi begitu mudah untuk menentukan yang miskin itu    yang bagaimana siapa yang tergolong penduduk miskin. Untuk memberi pemahaman konseptual,  akan dikemukan dua pengertian kemiskinan, yaitu: 
  1. Secara kualitatif, definisi kemiskinan adalah suatu kondisi yang didalamnya hidup manusia tidak layak sebagai manusia, dan  
  2. Secara kuantitatif, kemiskinan adalah suatu keadaan dimana hidup manusia serba kekurangan, atau dengan bahasa yang tidak lazim “tidak berharta benda”   (Mardimin, 1996:20) 

Jenis-Jenis Kemiskinan  

Dalam membicarakan masalah kemiskinan, kita akan menemui beberapa jenis-jenis kemiskinan yaitu: 
  1. Kemiskinan absolut. Seseorang dapat dikatakan miskin jika tidak mampu memenuhi kebutuhan minimum hidupnya untuk memelihara fisiknya agar dapat bekerja penuh dan efisien, 
  2. Kemiskinan relatif . Kemiskinan relatif muncul jika kondisi seseorang atau sekelompok orang dibandingkan dengan kondisi orang lain dalam suatu daerah,  
  3. Kemiskinan Struktural.    Kemiskinan struktural lebih menuju kepada orang atau sekelompok orang yang tetap miskin atau menjadi miskin karena struktur masyarakatnya yang timpang, yang tidak menguntungkan bagi golongan yang lemah, 
  4. Kemiskinan Situsional atau kemiskinan natural. Kemiskinan situsional terjadi di daerah-daerah yang kurang menguntungkan dan oleh karenanya menjadi miskin.  
  5. Kemiskinan kultural. Kemiskinan penduduk terjadi karena kultur atau budaya masyarakatnya yang sudah turun temurun yang membuat mereka menjadi miskin  (Mardimin, 1996:24).   

Faktor-faktor penyebab kemiskinan 

Kemiskinan terjadi tentunya pasti ada faktor-faktor penyebabnya. Dibawah ini ada 2 Faktor-faktor penyebab manusia, yaitu: 

a. Faktor-Faktor penyebab kemiskinan secara manusia: 

Adapun Faktor-Faktor penyebab kemiskinan secara manusia, yaitu: 
1.  Sikap dan pola pikir serta wawasan yang rendah, Malas berpikir dan bekerja,  
2.  Kurang keterampilan,  
3.  Pola hidup konsumtif,  
4.  Sikap apatis/egois/pesimis, 
5.  Rendah diri,  
6.  Adanya gep antara kaya dan miskin, 
7.  Belenggu adat dan kebiasaan,  
8.  Adanya teknologi baru yang hanya menguntungkan kaum tertentu (kaya),  
9.  Adanya perusakan lingkungan hidup,  
10.   Pendidikan rendah,  
11.  Populasi penduduk yang tinggi,  
12.  Pemborosan dan kurang menghargai waktu,  
13.   Kurang motivasi mengembangkan prestasi,  
14.  Kurang kerjasama,  
15.  Pengangguran dan sempitnya lapangan kerja,  
16.  Kesadaran politik dan hukum,  
17.  Tidak dapat memanfaatkan SDA dan SDM setempat, dan 
18.  Kurangnya tenaga terampil bertumpun  ke kota.  
  (Manurung, dalam Bulletin YDS, 1993:4) 


b. Faktor-Faktor penyebab kemiskinan secara non manusia: 

Adapun Faktor-Faktor penyebab kemiskinan secara non manusia: 
1)  Faktor alam, lahan tidak subur/lahan sempit,  
2)  Keterampilan atau keterisolasi desa,  
3)  Sarana pehubungan tidak ada,  
4)  Kurang Fasilitasi umum,  
5)  Langkanya modal,  
6)  Tidak stabilnya harga hasil bumi,  
7)  Industrialisasi sangat minim 
8)  belum terjagkau media informasi, 
9)  Kurang berfungsinya lembaga-lembaga desa,  
10) Kepemilikan tanah kurang pemerataan.  
    (Manurung, dalam Bulletin YDS, 1993:5) 


Pengertian Kemiskinan

Aktivitas Anak dalam Ekonomi Keluarga 

Keluarga merupakan salah satu insitusi terdekat dari anak yang memiliki pengaruh signifikan dalam perkembangannya sebagai manusia. Dalam Keluarga terdapat fungsi dan nilai-nilai tertentu yang dianut, yang merupakan bagian dari konstruksi sosial yang berlaku di wilayah atau komunitas tertentu (Hastadewi, 2000:22). 

Sebagai sebuah institusi terdekat bagi anak, keluarga mempunyai beberapa fungsi, yakni: fungsi sebagai tempat pemenuhan kebutuhan jasmani dasar (misal: makanan, minuman, gizi, pakaian), sebagai tempat pemenuhan kebutuhan psikologis (afeksi, kasih sayang, perhatian), sebagai tempat pemenuhan kebutuhan psikologis (afeksi, kasih sayang, perhatian), sebagai tempat istirahat, dan sebagai tempat pengenalan dan penanaman nilai-nilai tertentu   (Hastadewi, 2000:22).  

Baca: Hak Anak Pendidikan Perlindungan Tumbuh Kembang Kelangsungan Hidup

Pada masa ini, fungsi-fungsi  keluarga  tersebut telah banyak bergeser, karena tingkat mobilitas masyarakat yang meningkat dan perubahan nilai-nilai sosial dalam masyarakat. Dalam fungsi sebagai tempat pemenuhan kebutuhan jasmani, Indikasi terpenuhi atau tidaknya kebutuhan jasmani seseorang dapat dilihat pertama kali dari terpenuhi tidaknya kebutuhan jasmani berupa barang (misal: makanan atau baju) dan tingkat pendapatan mereka. Tingkat pendapatan digunakan sebagai salah satu ukuran karena pemenuhan kebutuhan jasmani berupa barang biasanya erat terkait dengan daya beli seseorang. Bila pendapatan seseorang tinggi, dengan sendirinya tingkat daya beli barang untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya relatif lebih tinggi daripada orang yang tingkat pendapatannya rendah.  

Anak yang mempersepsikan kondisi ekonomi ekonomi keluarganya termasuk miskin berdasarkan sejumlah indikator, yakni: bila menurut anak penghasilan keluarga mereka tidak mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, bila ia terpaksa bekerja karena Orangtua tidak mampu menyediakan biaya yang dibutuhkannya, atau bila salah satu dari orang tuanya tidak mampu bekerja. Indikator lainnya adalah bila keluarga mereka terpaksa berutang atau minta bantuan pada orang lain, dan bila dia memiliki banyak saudara sementara penghasilan orangtuanya terbatas.  

Diatas dapat dilihat bahwa keluarga anak yang tidak dapat berfungsi  sebagai tempat pemenuhan kebutuhan jasmani anak karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan. Dapat kita lihat bagaimana tingkat ekonomi keluarga anak dan kondisi ekonomi keluarga itu telah mendorong anak usia sekolah untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi produktif    (Hastadewi, 2000:23).  

Menurut Effendi dalam Bagong ada 2 Teori yang melatarbelakangi anak-anak usia sekolah turut terlibat dalam kegiatan ekonomi keluarga, yaitu: 

1.  Teori Strategi kelangsungan rumah tangga (household survival strategy). 
Menurut Teori ini, dalam masyarakat pedesaan yang mengalami transisi  dan golongan miskin di kota, mereka akan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia bila kondisi ekonomi mengalami perubahan atau memburuk. Salah satu upaya  yang seringkali dilakukan untuk beradaptasi dengan perubahan adalah memanfaatkan tenaga kerja keluarga.  

Kalau tenaga kerja wanita  terutama Ibu Rumah Tangga belum dapat memecahkan masalah yang dihadapi biasanya anak-anak yang belum dewasa pun diikutsertakan dalam menopang kegiatan ekonomi keluarga  (Bagong, 2000:14).  

2.  Teori transisi industrialisasi.  
Menurut Teori ini pada tahap awal industrialisasi membutuhkan pemupukan modal untuk meningkatkan produksi atau teknologi. Biasanya pada industriawan menekan biaya produksi dengan jalan menekan biaya pengeluaran untuk upah. Salah satu caranya yang biasa dilakukan adalah mempekerjakan wanita atau anak-anak, karena sebagai pencari nafkah sekunder (kedua) mereka biasanya bersedia dibayar dengan murah (Bagong, 2000:15). 

Kalau melihat dari kasusnya, teori yang dapat menjelaskan fenomena anak jalanan adalah: Teori Strategi kelangsungan rumah tangga (household survival strategy)  dan umumnya lebih bersifat struktural. Dalam arti anak bekerja umumnya dilakukan karena terpaksa dan disini masalahnya bukan sekedar kemiskinan, melainkan karena sekedar kemiskinan, melainkan karena keluarga anak-anak yang bekerja itu mengalami apa yang disebut Robert Chambers sebagai “perangkap kemiskinan”, yang meliputi kemiskinan itu  sendiri, kerentanan, ketidakberdayaan, keterisolasian, dan kelemahan jasmani. Bisa dibayangkan, apa yang dapat oleh sebuah keluarga miskin untuk bertahan hidup bila mereka setiap hari selalu menghadapi tekanan ekonomi yang tak berkesudahan. Selain mendayagunakan tenaga kerja istri untuk membantu mencari nafkah, tak pelak anak-anak pun terpaksa akan diikutsertakan bekerja bila ekonomi sehari-hari masih belum tercukupi (Bagong, 2000:15).  

Pada keluarga miskin, ketika kelangsungan hidup keluarga terancam, seluruh anggota keluarga termasuk anak-anak dikerahkan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Untuk bertahan hidup di tengah kehidupan kota yang keras, anak-anak jalanan terkadang dipaksa keadaan melakukan berbagai kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi (aktivitas ekonomi) adalah kegiatan yang dilakukan anak dengan meminta, menawarkan jasa atau tenaga untuk mendapatkan penghasilan. Kegiatan-kegiatan (aktivitas-aktivitas) yang dilakukan anak, yaitu: Pedagang asongan, jualan Koran, mengemis, mengamen, menyemir sepatu, mengumpulkan barang-barang bekas yang mereka lakukan pada umumnya di Jalanan. Ini semua mereka lakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga. 

Daftar Pustaka untuk Makalah Kemiskinan
Wikipedia, http: //id.Wikipedia.org/Wiki/Ekonomi, 12/03/09, 10.15 P.M. 

Mardimin, Yohanes. 1996.  Kritis Proses Pembangunan di Indonesia.  Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 

ulletin YDS Pelpem. GKPS, Pematang Siantar. 1994 

Yuli Hastadewi. 2000. Keluarga. Penerbit Yayasan PKPA. Medan. 

Bagong, Suyanto. 2000.  Pekerja anak, masalah, kebjakan, dan upaya penanganannya. Penerbit Lutfansah Mediatama. Surabaya. 

Pengertian Kemiskinan Jenis Faktor Penyebab Menurut Para Ahli Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

1 comments:

  1. makasih kakak kereen sippp... ijin buat makalah

    ReplyDelete