Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Pengertian Kekerasan pada Perempuan Bentuk Akibat dan Pemberdayaan

Pengertian Kekerasan pada perempuan adalah setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual, psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara sewenang–wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi. (pasal 1 Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap perempuan 1993)

Kekerasan pada perempuan yaitu setiap tindakan kekerasan berdasarkan gender yang menyebabkan kerugian atau penderitaan fisik, seksual atau psikologis terhadap perempuan, termasuk ancaman untuk melaksanakan tindakan tersebut dalam kehidupan masyarakat dan pribadi  (Apong, dalam Martha 2003 :113).Tindak kekerasan terhadap perempuan dapat terjadi sepanjang siklus kehidupan perempuan. Yang dilihat dalam tabel sebagai berikut : 

Tindak kekerasan terhadap perempuan dalam sepanjang siklus kehidupan 
perempuan: 
  
Fase Kehidupan               Bentuk tindak kekerasan 
a. Sebelum lahir            1.  Pengguguran karena seleksi seks 
                                   2.  Siksaan selama kehamilan 
                                   3.  Kehamilan paksaan  

b. Bayi                         1.  Penyalahgunaan fisik emosi 
                                   2.  Perbedaan perlakuan anak perempuan 

c. Masa anak                 1.  Perkawinan usia dini 
                                    2.  Penyalahgunaan seksual 
                                    3.  Pelacuran anak-anak 

d. Masa remaja              1.  Kekerasan masa pacaran 
                                    2.  Perkosaan 
                                    3.  Pelacuran dan perdagangan perempuan 
                                    4.  Pelecehan seksual 
                                    5.  Penyalahgunaan seksual 

e. Usia reproduktif         1.  Penyalahgunaan seksual 
                                    2.  Perkosaan seksual dalam perkawinan 
                                    3.  Pembunuhan 
( Martha, 2003 :23). 


Bentuk kekerasan terhadap perempuan 

  Adapun bentuk kekerasan terhadap perempuan secara khusus adalah : 
  • Kekerasan dalam area domestik atau hubungan intim personal  Yaitu berbagai bentuk kekerasan yang terjadi di dalam hubungan keluarga, antara pelaku dan korbannya memiliki kedekatan tertentu. Tercakup penganiayaan terhadap isteri,anak kandung dan anak tiri, penganiayaan terhadap orang tua, serangan seksual atau perkosaan oleh anggota keluarga. 
  • Kekerasan dalam area publik yaitu berbagai bentuk kekerasan yang terjadi di luar hubungan keluarga atau hubungan personal lain, sehingga meliputi berbagai bentuk kekerasan yang sangat luas baik di lingkungan tempat kerja, di tempat umum, maupun bentuk -bentuk lain. 

Kekerasan yang dilakukan oleh atau dalam lingkup negara. Kekerasan secara fisik, seksual atau psikologis yang dilakukan, dibenarkan atau didiamkan terjadi oleh negara dimanapun terjadinya. Termasuk pelanggaran hak asasi manusia dalam pertentangan antara kelompok, dan situasi konflik bersenjata yang berkaitan dengan pembunuhan, perkosaan, perbudakan seksual dan kekerasan paksa (Martha, 2003 :28). 

Kriteria jenis–jenis kekerasan Berbasis gender 

Pada umumnya, kriteria-kriteria kekerasan berbasis gender di bagi menjadi 3 yaitu: 

1.  Kekerasan Motif kekerasan oleh Coomaraswany 
  • Jenis tindak kekerasan terhadap perempuan yang semata–mata karena seksualitas dan gender mereka, seperti tindakan penganiayaan, perkosaan, membunuh bagi perempuan dan perdagangan perempuan serta kejahatan seksual lainnya. 
  • Jenis tindak kekerasan yang dialami perempuan karena pertalian hubungannya dengan seorang laki–laki. Tindak kekerasan jenis ini dapat berupa kekerasan domestik, dan kejahatan yang berdalih kehormatan. Kekerasan ini muncul akibat posisi perempuan sebagai pihak yang menjadi tanggungan dan mendapat perlindungan dari seorang pelindung laki–laki (seperti ayah dan suami) 
  • Jenis tindak kekerasan yang ditimpakan kepada seorang perempuan karena ia warga dari suatu etnis atas ras tertentu. Hal ini biasanya terjadi dalam perang, kerusuhan atau pertikaian antar kelas atau kasta dimana perempuan dijadikan sebagai sarana penghinaan terhadap kelompok lain dengan cara menyakiti, melukai atau memperkosa dan membunuh mereka. 


2.  Kriteria tempat terjadinya kekerasan. Ada 3 wilayah tempat terjadinya kekerasan terhadap perempuan, yaitu : di dalam keluarga (domestic violence), di lingkungan komunitas dan tempat umum, serta ditempat kerja (non domestic violence) 

Kriteria pelaku kekerasan. Berdasarkan kriteria ini dibedakan 2 jenis kekerasan gender yaitu yang dilakukan  oleh orang dekat yang dikenal dan dilakukan oleh pihak–pihak asing ( Martha, 2003 :33-35). 

Tipologi kekerasan terhadap perempuan 

Secara umum bentuk –bentuk kekerasan pada perempuan terdiri dari : 
1.  Kekerasan fisik 
Kekerasan fisik terhadap perempuan dapat berupa dorongan, cubitan, tendangan, jambakan, pukulan, cekikan, bekapan, luka bakar, pemukulan dengan alat pemukul, kekerasan dengan benda tajam, siraman air panas atau zat kimia, menenggelamkan dan penembakan. Kadang  –kadang kekerasan fisik ini diikuti dengan kekerasan seksual ,baik berupa serangan kealat–alat seksual (payudara dan kemaluan) maupun berupa persetubuhan paksa (pemerkosaan). Pada pemeriksaan terhadap korban akibat kekerasan fisik maka yang dinilai sebagai akibat penganiayaan adalah bila di dapati luka yang bukan karena kecelakaan, namun bekas luka itu dapat diakibatkan oleh suatu peristiwa kekerasan yang tunggal atau berulang–ulang, dari yang ringan hingga yang fatal. 

2.  Kekerasan seksual 
Kekerasan seksual adalah setiap penyerangan yang bersifat seksual terhadap perempuan, baik telah terjadi persetubuhan atau tidak, baik ada atau tidaknya hubungan antara korban dan pelaku kekerasan. Pembedaan aspek fisik dan seksual dianggap perlu, karena ternyata tindak kekerasan terhadap perempuan yang bernuansakan seksual tidak sekedar melalui perilaku fisik belaka. 

3.  Kekerasan psikologi 
Pada kekerasan psikologi, sebenarnya dampak yang dirasakan lebih menyakitkan daripada kekerasan secara fisik. Bentuk tindakan ini sulit untuk dibatasi pengertiannya karena sensitivisme emosi seseorang sangat bervariasi. Identifikasi akibat yang timbul pada kekerasan psikis sulit diukur. 

Sekalipun tindak kekerasan psikologi itu jauh lebih menyakitkan, karena dapat merusak kehormatan seseorang, melukai harga diri seseorang, merusak keseimbangan jiwa, namun kekerasan psikologis tidak akan merusak organ tubuh bagian dalam bahkan tindakan yang berakibat kematian. Sebaliknya, tindakan kekerasan fisik kerap menghasilkan hal yang demikian. 

4.  Kekerasan ekonomi 
Yaitu dimisalkan dengan seorang suami mengontrol hak keuangan isteri, memaksa atau melarang isteri bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari–hari keluarga, serta tidak memberi uang belanja, memakai/ menghabiskan uang isteri (Martha, 2003:45-48). 

Peranan Pekerja Sosial dalam penanganan masalah kekerasan terhadap perempuan 

Menurut pandangan Zastrow, setidak-tidaknya ada tujuh peran yang dilakukan oleh pekerja sosial termasuk dalam penanganan masalah terhadap kekerasan perempuan adalah sebagai berikut: 

1.  Enabler 
Sebagai enabler  seorang pekerja sosial membantu masyarakat agar dapat mengartikulasikan kebutuhan mereka; mengidentifikasikan masalah mereka; dan mengebangkan kapasitas mereka agar dapat menangani masalah yang mereka hadapi secara efektif. Peran sebagai  enabler  ini adalah peran klasik dari seorang  community worker ataupun  community organizer. Fokusnya adalah help people (organize) to help themselves. 

2.  Broker 
Peranan seorang broker berperan dalam menghubungkan individu ataupun kelompok dalam masyarakat yang membutuhkan bantuan ataupun layanan masyarakat (community services), tetapi tidak tahu di mana dan bagaimana mendapatkan bantuan tersebut. Broker dapat juga dikatakan menjalankan peran sebagai  mediator  yang menghubungkan pihak yang satu (klien) dengan pemilik sumber daya. 

3.  Expert 
Dalam kaitan peranan seorang  community worker  sebagai tenaga ahli (expert), ia lebih banyak memberikan advis (saran) dan dukungan informasi dalam berbagai area. Seorang expert harus sadar bahwa usulan dan saran yang ia berikan bukanlah mutlak harus dijalankan masyarakat, tetapi usulan dan saran tersebut lebih merupakan masukan gagasan untuk bahan pertimbangan masyarakat ataupun organisasi dalam masyarakat tersebut. 

4.  Social Planner 
Seorang perencana sosial mengumpulkan data mengenai masalah sosial yang terdapat dalam masyarakat tersebut; menganalisanya dan menyajikan alternatif tindakan yang rasional untuk menangani masalah tersebut. Setelah itu perencana sosial mengembangkan program, mencoba mencari alternatif sumber pendanaan, dan mengembangkan konsensus dalam kelompok yang mempunyai berbagai minat ataupun kepentingan. 

5.  Advocate 
Peran sebagai advokat dalam pengorganisasian masyarakat dicangkok dari profesi hukum. Peran ini merupakan peran yang aktif dan terarah (directive), dimana  community worker  menjalankan fungsi sebagai advokat yang mewakili kelompok masyarakat yang membutuhkan suatu bantuan ataupun layanan, tetapi institusi yang seharusnya memberikan bantuan ataupun layanan tersebut tidak memperdulikan (bersifat negative ataupun menolak tuntutan warga). 

6.  Activist 
Seorang  activist, seorang  community worker  melakukan perubahan institusional yang lebih mendasar dan seringkali tujuannya adalah penglihatan sumber daya ataupun kekuasaan (power) pada kelompok yang kurang mendapatkan keuntungan (disadvantage group). Seorang  activist memperhatikan isu-isu tertentu, seperti ketidaksesuaian dengan hukum yang berlaku (injustice), ketidakadilan (inequity) dan perampasan hak. Seorang activist biasanya mencoba menstimulasikan kelompok-kelompok yang kurang diuntungkan tersebut untuk mengorganisir diri dan melakukan tindakan melawan struktur kekuasaan yang ada (yang menjadi “penekan” bagi mereka). Taktik yang biasa mereka lakukan adalah melalui konflik, konfrontasi (misalnya melalui demonstrasi) dan negosiasi.

Pengertian Kekerasan pada Perempuan

7.  Educator 
Dalam menjalankan peran sebagai pendidik (educator), pekerja sosial diharapkan mempunyai keterampilan sebagai pembicara dan pendidik. Pekerja sosial harus mampu berbicara di depan publik untuk menyampaikan informasi mengenai beberapa hal tertentu, sesuai dengan bidang yang ditanganinya (Zastrow, dalam Adi 1994:26-28). 

Akibat-akibat kekerasan 

Adapun kekerasan-kekerasan yang terjadi terhadap perempuan dapat mengakibatkan ketidakberdayaan pada kaum perempuan. Baik berupa kekerasan fisik, psikis, seksual dapat mengakibatkan dampak kesehatan yang berat seperti: 

a.  Luka psikis 
Menurut Yul Iskandar, kekerasan psikis dapat berupa: 
  1. Depresi, gejala-gejala depresi dapat terlihat dari keluhan korban, yang     utama pada mulanya pada gangguan emosional, yaitu berbagai perasaan, seperti perasaan tidak enak, jatuh (down) dan tertekan, merasa tidak berguna, putus asa, rasa bersalah serta berdosa. Lebih lanjut timbul perasaan cemas yang ditandai oleh perasaan kuatir dan tegang. Pada taraf lanjut, berbagai gangguan muncul, seperti tidak  dapat tidur  atau imsomnia, sakit kepala atau pusing, berdebar-debar dan sesak napas. 
  2. Post traumatic syndrome stress (PTSS), stress pasca trauma Menurut Gede Made Swardhana ada beberapa hal yang menyebabkannya: 
    • The believe in personal invulnerability, yaitu tidak percaya bahwa dirinya sudah menjadi korban. Walaupun sebelumnya telah banyak terjadi tindak kekerasan, tidak pernah terpikir bahwa kejadian tersebut akan menimpa dirinya. Hal ini menyebabkan kecemasan yang mendalam. Persepsi yang selalu muncul adalah dia mudah diserang dalam segala hal. 
    • The world as meaningful, apapun yang terjadi di dunia ini adalah sesuatu yang teratur dan komprehensif. Maksudnya, apabila kita berbuat baik dan hati-hati niscaya akan terhindar dari penderitaan, tetapi ternyata apa yang diperkirakan tersebut, tidak berjalan seperti demikian, walaupun dia berbuat baik dan hati-hati ternyata dirinya tetap menjadi korban. 
  3. Negative self-perception, manusia selalu berusaha menjaga derajat dirinya, tetapi pengalaman menjadi korban membuat mereka memiliki gambaran negatif. Dirinya adalah seorang yang lemah, tidak berdaya dan tidak berguna lagi. 

b. Luka fisik  
Menurut Achie S Luhulima, luka fisik dapat berupa: 
  1. Luka akibat benda tajam dan tumpul, seperti buta, tuli, kerusakan susunan saraf di kepala, dan tidak berfungsinya organ tubuh lainnya. 
  2. Luka disebabkan oleh benda cair, seperti air panas, cairan kimia yang dapat mengakibatkan kerusakan kulit dan rusaknya jaringan kulit secara permanen. 
  3. Luka akibat kekerasan  seksual dapat berupa kerusakan pada  organ intim wanita,  tertularnya penyakit menular  seksual, kematian janin saat kehamilan(http://intanghina.wordpress.com/2008/07/16pemulihansebagai-hak-isteri-korban-2/). 

  

Pemberdayaan 

Pemberdayaan adalah terjemahan dari  empowerment, sedang memberdayakan adalah terjemahan dari empower. Menurut Merriam Webster dan Oxford English Dictionary, kata empower mengandung dua pengertian, yaitu: 
  • To give power  atau  authority to  atau memberi kekuasaan, mengalihkan kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas kepihak lain. 
  • To give ability to enable  atau usaha untuk memberi kemampuan atau keperdayaan 

Pemberdayaan pada hakikatnya merupakan sebuah konsep yang fokusnya adalah hal kekuasaan. Pemberdayaan secara substansial merupakan proses memutus atau  breakdown  dari hubungan anatara subyek dan obyek. Proses ini mementingkan pengakuan subyek akan kemampuan atau daya (power) yang dimiliki obyek. Secara garis besar, proses ini melihat pentingnya mengalirnya daya dari subyek ke obyek. Hasil akhir dari proses pemberdayaan adalah beralihnya fungsi individu yang semula jadi obyek menjadi subyek (yang baru), sehingga realisasi sosial yang ada nantinya akan dicirikan dengan realisasi antar subyek dengan subyek yang lain. Pemberdayaan pada intinya adalah pemanusiaan. Menurut Tjandraningsih, pemberdayaan mengutamakan usaha sendiri dari orang yang diberdayakan untuk meraih keberdayaannya. Oleh karena itu pemberdayaan sangat jauh dari konotasi ketergantungan. 

Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu sendiri, dengan mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya. Selanjutnya, upaya tersebut diikuti dengan memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh seseorang. Dalam konteks ini diperlukan langkah-langkah lebih positif, selain dari hanya menciptakan iklim dan suasana yang kondusif. Perkuatan ini meliputi langkah-langkah yang nyata, dan menyangkut penyediaan berbagai masukan (input), serta pembukaan akses kepada berbagai peluang (opportunities) yang akan membuat individu menjadi lebih berdaya.  Dengan demikian pemberdayaan bukan hanya meliputi penguatan individu masyarakat tetapi juga pranata-pranatanya. Menanamkan nilai-nilai budaya modern seperti kerja keras, hemat, keterbukaan, kebertanggungjawaban dan lain-lain yang merupakan bagian pokok dari upaya pemberdayaan itu sendiri (www.bappenas.go.id/indeks.php/ 24oktober2008). 


Daftar Pustaka Makalah Pengertian Kekerasan pada Perempuan

Martha, Elmina, Aroma. 2003. Perempuan, kekerasan, dan hukum. UII Press. Yogyakarta 

Adi, Rukmianto, Isbandi.1994. Psikologi, Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial Dasar-dasar Pemikiran.  PT.Raja Grafindo    Persada.Jakarta 

Pengertian Kekerasan pada Perempuan Bentuk Akibat dan Pemberdayaan Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment