Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Thursday, 6 August 2015

Pengertian Kontrasepsi Pada Pria Cara dan Metodenya

Defenisi Kontrasepsi berasal dari kata: Kontra berarti mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan sel telur (sel wanita) yang matang dengan sel sperma (sel pr ia) yang mengakibatkan kehamilan. Tujuan  dari kontrasepsi adalah untuk menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan sel telur dengan sel sperma tersebut (Sou,yb, J, 1989). 


Cara kerja kontrasepsi bermacam-macam tetapi pada umumnya: 
  1. Mengusahakan agar tidak terjadi ovulasi. 
  2. Melumpuhkan sperma. 
  3. Menghalangi pertemuan sel telur dengan sperma. 

Pembagian Cara/Metode Kontrasepsi 

Pada umumnya cara/metode kontrasepsi dapat dibagi menjadi: 

1.  Metode Sederhana 
a. Tanpa alat/obat 
  • Senggama terputus/coitus interuptus 
  • Pantang berkala 


b. Dengan obat/alat 
  • Kondom 
  • Diafragma/cap 
  • Cream, jelly dan cairan berbusa 


2  Metode Efektif 
  • Pil KB 
  • Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) 
  • Kontrasepsi sunt ikan 
  • Kontrasepsi susuk (Implant) 


3.  Metode Mantap (Kontap) 
  • Kontap pada pria (Metode Operasi Pria/Vasektomi) 
  • Kontap pada wanita (Tubektomi) (DepKes, RI, 2003). 

Baca: Pengertian Perilaku dan Definisi Determinan Prilaku Kesehatan

Kontrasepsi Pria 

Tujuan kontrasepsi pria adalah untuk mencari keadaan azoospremia atau air mani yang tidak subur untuk periode yang diinginkan. Agar dapat dipakai kontrasepsi yang ideal, maka suatu kontrasepsi pria haruslah memenuhi syarat yaitu: tidak menyebabkan penurunan libido (daya rangsang seks) pria, tidak mengurangi kejantanan, tidak menyebabkan efek samping serta dapat menghambat produksi spermatozoa atau menurunkan mortalitas spermatozoa secara  reversible  (BKKBN Pusat, 2007). 

a). Kondom (Karet KB) 
Kondom merupakan selubung/sarung  karet yang tipis  yang terbuat dari berbagai bahan di antaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami (produk hewani)  berwarna atau tidak berwarna  yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual. Berbagai bahan telah ditambahkan pada kondom baik untuk meningkatkan efektivitasnya (misalnya penambahan spermicide) maupun sebagai aksesoris aktivitas seksual. Modifikasi tersebut dilakukan dalam hal: 
- Bentuk 
- Warna 
- Pelumas 
- Rasa 
- Ketebalan 
- Bahan 

Cara kerja: 
  1. Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara  mengemas sperma di ujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercurah kedalam saluran reproduksi perempuan. 
  2. Mencegah penularan mikroorganisme (IMS termasuk HIV/AIDS) dari satu pasangan kepada pasangan yang lain (khususnya kondom yang terbuat dari lateks dan vinil) 


Manfaat: 
  • Efektif bila digunakan dengan benar 
  • Tidak mengganggu produksi ASI 
  • Tidak mengganggu kesehatan klien 
  • Tidak mempunyai pengaruh sistemik 
  • Murah dan mudah dibeli secara umum 
  • Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus 
  • Metode kontrasepsi sementara bila metode kontrasepsi lainnya harus ditunda 


Keterbatasan: 
  • Efektivitas tidak terlalu tinggi 
  • Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi  
  • Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung) 
  • Pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan ereksi 
  • Harus selalu tersedia setiap kali akan berhubungan seksual 
  • Beberapa klien malu untuk membeli kondom ditempat umum 
  • Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan masalah dalam hal limbah 


Indikasi pemakaian kondom: 
  • 6 minggu sesudah vasektomi. 
  • Sementara menunggu pemasangan AKDR. 
  • Sementara sedang menunggu haid untuk pemakaian pil yang diminum. 
  • Apabila pasangan/istri lupa minum pil dalam jangka waktu lebih dari 36 jam. 
  • Apabila di duga ada penyakit kelamin, sementara menunggu diagnosa pasti. 
  • Bersamaan dengan pemakaian spermicide. 
  • Dalam keadaan darurat apabila tidak ada kontrasepsi yang tersedia atau yang dipakai. 

Baca: Pengertian Sikap Menurut Definisi Para Ahli

b). Kontrasepsi Mantap (Metode Operasi Pria/Vasektomi) 
Cara kontrasepsi ini dipersiapkan melalui tindakan operasi ringan dengan cara mengikat  atau memotong saluran sperma atau  vas deferens, sehingga sperma tidak dapat lewat dan air mani tidak mengandung  spermatozoa, dengan demikian tidak terjadi pembuahan. Sesuai dengan perkembangan tekhnologi  sekarang ini telah di kembangkan teknik MOP yang baru, yaitu vasektomi tanpa pisau. Teknik vasektomi tanpa pisau ini diharapkan dapat menghilangkan perasaan takut dan cemas, serta menghilangkan perasaan ngeri karena mendengar kata operasi yang biasanya identik dengan kulit diiris dengan pisau, dijahit, luka yang lebar, serta rasa sakit sewaktu mengangkat jahitan atau mengambil benang (BKKBN Pusat, 2006). 

MOP/Vasektomi tanpa pisau  ini selain relatif murah dari segi biaya dan keamanan, juga mempunyai kelebihan-kelebihan antara lain peralatan yang digunakan lebih sedikit bila dibandingkan dengan MOP/vasektomi yang konvensional. Pada MOP/vasektomi tanpa pisau tidak menggunakan pisau bedah dan tanpa jarum. Jadi tidak diperlukan jahitan, sehingga tidak ada rasa takut lagi untuk mengangkat jahitan. Luka yang ditimbulkan juga sangat kecil hanya 0,5 cm-1 cm dan hanya tunggal. Komplikasi perdarahan dan infeksi yang mungkin terjadi juga lebih sedikit (BKKBN Pusat, 2006) 

Beberapa keuntungan dari Metode operasi pria/Vasektomi antara lain: 
  • Tidak ada mortalitas 
  • Morbiditas (mengakibatkan sakit) kecil sekali. 
  • Suami tidak perlu dirawat dirumah sakit. 
  • Dilakukan dengan anasthesi lokal, hanya kurang lebih 15 menit. 
  • Kemungkinan kegagalan tidak ada, karena dapat diperiksa kepastiannya di laboratorium. 
  • Tidak mengganggu hubungan seks selanjutnya dan juga jumlah cairan mani yang dikeluarkan waktu senggama tidak berubah. 
  • Biayanya murah. 
  • Dapat dilakukan dimana saja asal tempatnya bersih dan terang, tidak selalu harus diruangan operasi. 


Kerugian dari Metode Operasi Pria/vasektomi adalah: 
  • Diperlukan suatu tindakan operatif. 
  • Harus dilaksanakan oleh tenaga yang ahli. 
  • Kadang-kadang menyebabkan komplikasi seperti pendarahan atau infeksi. 
  • Belum memberikan perlindungan total sampai semua spermatozoa yang sudah ada di dalam sistem reproduksi distal dari tempat okulasi vas deferens. 



Kontra indikasi Metode OperasiPria/Vasektomi: 
  • Infeksi kulit lokal, misalnya scabies. 
  • Infeksi traktus genitalis (Infeksi alat kelamin). 
  • Kelainan pada scrotum dan sekitarnya : 
  • Varicocele: Pelebaran anyaman pembuluh balik tali mani. 
  • Hydrocele: Timbunan cairan setempat sehingga kandung buah zakar membengkak dan menjadi tegang. 
  • Filariasis: Penyakit yang disebabkan oleh filarial. 
  • Hernia inguinalis: Keluarnya dalaman perut melalui cincin terusan lipatan paha kedaerah lipat paha dan kandung buah zakar. 
  • Orchiopexy: Radang buah zakar 
  • Luka perut bekas operasi hernia. 
  • Scrotum (kantung buah zakar) yang sangat tebal. 
  • Penyakit sistemik: 
    • Penyakit-penyakit pendarahan. 
    • Penyakit DM (Diabetes mellitus)/penyakit gula. 
    • Penyakit jantung koroner. 
  • Riwayat perkawinan, psikologis atau seksual yang tidak stabil (BKKBN pusat, 2006). 

c). Tempat Pelayanan Metode Operasi Pria/Vasektomi 
MOP/Vasektomi dapat dilakukan di fasilitas kesehatan yang mempunyai ruang tindakan untuk bedah minor. Ruangan tersebut sebaiknya tidak di bagian yang sibuk/banyak orang yang lalu lalang. Ruangan tersebut sebaiknya: 
  1. Mendapat penerangan yang cukup. 
  2. Lantainya terbuat dari semen atau keramik agar mudah dibersihkan.  Bebas dari debu dan serangga. 
  3. Sedapat mungkin dilengkapi dengan alat pengatur suhu ruangan/air conditioner.  Bila tidak memungkinkan, ventilasi ruangan harus sebaik mungkin dan apabila jendela dibuka, tirai harus terpasang dengan baik. 


d). Prosedur Metode Operasi Pria/Vasektomi 
Prosedur kontap pria meliputi beberapa langkah tindakan. 
1.  Identifikasi dan isolasi vas deferens 
  • Kedua  vas deferens  merupakan struktur paling padat di daerah  mia-scrotum, tidak berpulsasi. 
  • Kesukaran kadang-kadang terjadi dalam identifikasi dan isolasi  vas deferens seperti pada keadaan-keadaan: 
    • Kulit scrotum tebal 
    • Vas deferens yang sangat tipis 
    • Testis yang tidak turun 
  • Kedua  vas deferens  harus di  dentifikasi sebelum meneruskan prosedur kontapnya. 
  • Dilakukan  imobilisasi vas deferens  diantara ibu jari dan jari telunjuk atau dengan klem. 
  • Dilakukan penyuntikan anasthesi lokal. 


2.  Insisi scrotum 
  • Vas deferens yang telah dimobilisasi di depan scrotum hanya ditutupi oleh otot dartos dan kulit scrotum. 
  • Insisi horijontal atau vertikal dapat dilakukan secara : 
  • Tunggal, digaris tengah (Scrotal raphe) 
  • Dua insisi, satu insisi dimasing-masing vas deferens. 


3.  Memisahkan lapisan-lapisan superficial dari jaringan-jaringan, sehingga vas deferens dapat di isolasi. 

4.  Oklusi vas deferens 
  • Umumnya dilakukan pemotongan/reseksi suatu segmen dari kedua vas deferens (1-3 cm) yang harus dilakukan jauh dari epididimis. 
  • Ujung-ujung vas deferens setelah dipotong dapat ditutup kembali. 
  • Ligasi: Tindakan menutup saluran mani dengan mengikat. 
  • Dapat dilakukan dengan chormic catgut 
  • Dapat pula dengan benang yang tidak diserap (silk) 
  • Ligasi tidak boleh dilakukan terlalu kuat sampai  memotong  vas deferens. Karena dapat menyebabkan  spermatozoa  (Sel mani) merembes ke jaringan sekitarnya dan jaringan granuloma (Yang terdiri dari jaringan granulasi/bakteri kelamin). 
  • Untuk mencegah kedua ujung  vas deferens  agar tidak menyambung kembali (Rekanalisasi) ujung  vas deferens  dapat dilipat kebelakang lalu diikatkan/dijahitkan pada dirinya sendiri atau  fascia dari vas deferens dapat di tutup diatas ujung sehingga terdapat suatu  barrier  dari jaringan  fascia  atau ujung vas deferens ditanamkan kedalam jaringan fascia 
  • Elektro koagulasi: Suatu alat bedah listrik. 
  • Clips 

5.  Penutupan luka insisi 
  • Dilakukan dengan catgut. 
  • Pada insisi 1 cm atau kurang, tidak diperlukan jahitan  catgut, cukup ditutup dengan plester saja (Dep.Kes.RI, 2003). 


e). Efek Samping dan Komplikasi Metode Operasi Pria/Vasektomi 
1. Perdarahan  
Apabila perdarahan sedikit, cukup dengan pengamatan saja. Apabila banyak hendaknya dirujuk segera ke fasilitas kesehatan lain yang lebih lengkap. Disini akan dilakukan operasi kembali dengan  anasthesi umum, membuka luka kembali mengeluarkan bekuan-bekuan darah dan kemudian mencari sumber perdarahan serta menjepit dan mengikatnya. Setiap keluhan pembengkakan, isi  scrotum  setelah vasektomi hendaknya dicurigai sebagai perdarahan dan lakukan pemeriksaan yang seksama. Bekuan darah di dalam scrotum yang tidak dikeluarkan akan mengundang kuman-kuman dan menimbulkan infeksi. 

2. Hematoma 
Biasanya terjadi bila daerah  scrotum diberi beban yang berlebihan, misalnya naik sepeda motor, duduk terlalu lama dalam kendaraan dengan jalanan yang rusak dan sebagainya. 

3. Infeksi 
Infeksi pada kulit  scrotum cukup dengan mengobati prinsip pengobatan luka kulit. Apabila basah, dengan kompres. Apabila kering dengan salep antibiotika. Apabila terjadi infiltrate di dalam kulit scrotum di tempat vasektomi sebaiknya segera dirujuk ke rumah sakit. Disini pasien akan diistirahatkan dengan berbaring, kompres es, pemberian antibiotika, dan pengamatan apabila  infiltrate  menjadi  abscess. Mungkin juga terjadi  epididimitis, orkitis atau epididimoorkitis. Dalam keadaan seperti ini pasien segera dirujuk. 

4. Granuloma Sperma 
Dapat terjadi pada ujung  proksimal vas  deferens  atau pada  epididimis. Gejalanya merupakan benjolan kenyal dengan kadang-kadang keluhan nyeri. Granuloma sperma dapat terjadi 1-2 minggu setelah vasektomi.  Pada keadaan ini dilakukan eksisi granuloma dan mengikat kembali vas deferens (Dep.Kes.RI, 2003). 

f). Kegagalan Metode Operasi Pria/Vasektomi 
Walaupun MOP/vasektomi dinilai paling efektif untuk mengontrol kesuburan pria, namun masih mungkin dijumpai suatu kegagalan. MOP/Vasektomi dianggap gagal bila: 
  • Pada analisis sperma setelah 3 bulan setelah vasektomi atau setelah 15-20 kali ejakulasi masih dijumpai spermatozoa. 
  • Dijumpai spermatozoa setelah sebelumnya azoosperma. 
  • Istri (pasangan) hamil. 

g). Perawatan Post Operatif Metode Operasi Pria/Vasektomi 
Setiap pasca tindakan pembedahan betapapun kecilnya memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan. Pada pasca tindakan bedah  MOP/vasektomi dianjurkan dilakukan hal-hal sebagai berikut : 
  • Dipersilahkan berbaring selama 15 menit. 
  • Amati rasa sakit dan perdarahan pada luka. 
  • Pasien dapat dipulangkan bila keadaan pasien dan luka operasi baik. 


Sebelum pasien pulang berikan nasehat sebagai berikut: 
  • Perawatan luka diusahakan agar tetap kering dan jangan sampai basah sebelum sembuh, karena dapat mengakibatkan infeksi. 
  • Segera kembali kerumah sakit apabila ada perdarahan, badan panas, nyeri yang hebat, pusing, muntah dan sesak nafas. 
  • Memakan obat yang diberikan yaitu antibiotik dan analgetik seperlunya. 
  • Jangan bekerja berat/naik sepeda motor. 
  • Setelah vasektomi tetap diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk melakukan hubungan seksual dengan istri, namun harus diingat bahwa di dalam saluran mani (pipa-pipa) vas deferens masih terdapat sisa-sisa sperma (bibit), sehingga selama masih ada sisa sperma, sebaiknya suami dan istri tetap menggunakan alat pencegah kehamilan.  Untuk hal ini pasien diberi 15 kondom, guna menghindari kehamilan. Petugas akan memberi contoh pemakaiannya. Setelah air mani keluar 15 kali atau setelah jangka waktu 3 bulan, maka suami diminta memeriksakan air maninya dengan maksud meyakinkan bahwa air mani tersebut tidak mengandung bibit-bibit (spermatozoa) lagi. Untuk keperluan ini suami diminta menyediakan air mani di dalam botol bersih atau air mani yang ada di dalam kondom dan memeriksakan ke laboratorium. Apabila sudah ada pernyataan dari laboratorium bahwa air mani suami tidak mengandung bibit lagi, baru suami boleh bersenggama tanpa alat pencegah apapun. Akan lebih baik bila suami memeriksakan air mani untuk kedua kalinya. 


Kunjungan ulang: 
Kunjungan ulang dilakukan dengan jadwal sebagai berikut: 
1.  Seminggu sampai dua minggu setelah pembedahan. Lakukanlah  anamnese dan pemeriksaan sebagai berikut : 
  • Anamnese  meliputi keadaan kesehatan umum, adanya demam, rasa nyeri, perdarahan dari bekas operasi, atau alat kelamin. 
  • Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan luka, dan perawatan sebagaimana mestinya. 


2.  Sebulan setelah operasi. Lakukanlah anamnese dan pemeriksaan sebagai berikut: 
  • Anamnese  meliputi keadaan kesehatan umum, senggama, sikap terhadap kontrasepsi mantap, dan keadaan kejiwaan si akseptor. 
  • Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan kesehatan umum. 
  • Lakukan analisa sperma setelah 3 bulan pasca vasektomi atau 10-12 kali ejakulasi untuk menilai hasil pembedahan (Dep.Kes. RI, 2003). 


h). Efek Psikologis dari Metode Operasi Pria/Vasektomi 
Problem psikologis terjadi pada <1-5% dari akseptor MOP/Vasektomi dengan keluhan rasa takut yang timbul setelah kontap pria yang meliputi : 
a.  Rasa takut “trauma” seks 
  • Libido (nafsu) menurun. 


b.  Rasa takut “trauma” keluarga 
  • Rasa takut akan kehilangan anak terutama di daerah/Negara dengan mortalitas anak yang tinggi. 


c.  Rasa takut “trauma” moral 
  • Adanya  konflik yang berhubungan dengan agama, kebudayaan atau ketakutan bahwa pria yang telah menjadi akseptor kontap pria akan melakukan perbuatan serong/penyelewengan. 


i).Alasan-alasan untuk reversal/pemulihan kembali kontap pria : 
  1. Menikah kembali setelah bercerai atau kematian istri 
  2. Kematian seorang anak atau lebih 
  3. Keinginan mempunyai anak kembali. 
  4. Problem Psikologis (Hartanto, 2002) 
Daftar Pustaka:

Sou,yb J, 1989, Kontrasepsi Mantap dan Hukum Islam, Edisi pertama RIMBOW, Medan. 

BKKBN, 2006.  Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Pendidikan Keluarga Berencana, Jakarta. 

DEPKES, 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta. 

Hartanto H, 2002. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi,  Pustaka Sinar Harapan Jakarta. 

Pengertian Kontrasepsi Pada Pria Cara dan Metodenya Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment