Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Thursday, 6 August 2015

Pengertian Perilaku dan Definisi Determinan Prilaku Kesehatan

Pengertian Perilaku menurut Kwick (1974) dalam  Notoatmodjo (1993) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari. Di dalam proses pembentukan atau perubahan perilaku tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam dan dari luar individu itu sendiri.  Faktor-faktor itu sendiri antara lain seperti persepsi, motivasi, proses belajar, lingkungan dan sebagainya. 


Beberapa Teori Determinan Perilaku 

Green (1980) menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan. Bahwa kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu faktor perilaku (Behaviour causes) dan faktor diluar perilaku (Non behaviour couses). Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor, yaitu : 

1.   Faktor-faktor predisposisi (Predisposing  factors) 
Yaitu faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya. Misalnya seorang ibu mau menggunakan alat kontrasepsi karena  ibu tersebut tahu dengan menggunakan alat kontrasepsi kelahiran anak dapat dibatasi. Tanpa adanya pengetahuan-pengetahuan seperti ini mungkin ibu tersebut tidak akan menggunakan alat kontrasepsi. 

2.  Faktor-faktor pendukung (Enabling factors) 
Adalah faktor-faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan. Yang dimaksud dengan faktor pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan misalnya Puskesmas, Posyandu, Rumah sakit, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi dan sebagainya.  


Baca: Pengertian Pengetahuan Menurut Definisi Para Ahli

3.  Faktor-faktor penguat (Reinforcing factors) 
Adalah faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku. Kadang-kadang, meskipun seseorang tahu dan mampu untuk berperilaku sehat, tetapi tidak melakukannya. Misalnya seorang  ibu mengetahui banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dengan menggunakan alat kontrasepsi tetapi ibu tersebut tidak menggunakan alat kontrasepsi karena, ibu lurah atau ketua RT yang ada di desa mereka tidak menggunakan alat kontrasepsi dan tetap sehat  dan dapat mengurus anak dengan baik. Hal ini berarti, bahwa untuk berperilaku sehat memerlukan contoh dari para tokoh masyarakat 

Dari defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan,  sikap, kepercayaan, tradisi, dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Disamping itu, ketersediaan fasilitas dan sikap dan perilaku petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku. 


Perilaku manusia sangatlah kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas.  Bloom (1908), membagi perilaku tersebut ke dalam 3 domain yang terdiri dari domain kognitif, domain afektif dan domain psikomotor. Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan untuk kepentingan pengukuran hasil pendidikan, ketiga domain tersebut diukur dari: 
  • Pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (Knowledge). 
  • Sikap atau anggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (Attitude). 
  • Praktek atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan materi yang diberikan (Practise). 


Terbentuknya suatu perilaku baru, terutama pada orang dewasa, dimulai pada domain kognitif, dalam arti subyek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau obyek diluarnya sehingga menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap subyek terhadap obyek yang diketahuinya itu. Akhirnya rangsangan yaitu obyek yang telah diketahui dan disadari sepenuhnya akan menimbulkan respon yang lebih jauh lagi yaitu berupa tindakan (action) terhadap atau sehubungan dengan stimulus obyek tadi. Namun demikian di dalam kenyataannya stimulus yang diterima oleh subyek dapat langsung menimbulkan tindakan. Artinya seseorang dapat bertindak atau berperilaku baru tanpa terlebih dahulu mengetahui makna dari stimulus yang diterimanya.  Dengan kata lain, tindakan  (practise)  seseorang tidak harus di dasari oleh pengetahuan dan sikap. Misalnya perilaku yang didasari oleh paksaan, ikut-ikutan atau karena adanya reward atau ganjaran. 

Karr dalam Notoatmodjo (2003), mengidentifikasikan adanya 5 determinan perilaku, yaitu : 
  1. Adanya niat (intention) seseorang untuk bertindak sehubungan dengan objek atau stimulus di luar dirinya. Misalnya, pria mau menggunakan alat kontrasepsi apabila dia memiliki niat untuk menggunakan alat kontrasepsi tersebut. 
  2. Adanya dukungan dari masyarakat sekitarnya  (social support). Di dalam kehidupan seseorang di masyarakat, perilaku seseorang cenderung memerlukan legitimasi dari masyarakat atau orang-orang terdekat disekitarnya. Apabila perilaku tersebut bertentangan atau tidak memperoleh dukungan dari masyarakat atau orang sekitarnya, maka orang tersebut akan merasa kurang atau tidak nyaman. Misalnya, seorang istri tidak memberi izin kepada suaminya  untuk melakukan vasektomi karena takut akan memepengaruhi kehidupan seks mereka. Hal ini akan membuat pria berfikir kembali untuk melakukan vasektomi. 
  3. Terjangkaunya informasi  (accessibility of information), adalah tersedianya informasi-informasi terkait dengan tindakan yang akan diambil oleh seseorang.
  4. Adanya otonomi dan kebebasan pribadi  (personal autonomy)  untuk mengambil keputusan. Di Indonesia, terutama ibu-ibu, kebebasan pribadinya masih terbatas terutama di pedesaan. Seorang istri, dalam pengambilan keputusan masih sangat tergantung kepada suami. Contohnya untuk penggunaan alat kontrasepsi seorang istri harus memperoleh persetujuan dari suami, dan apabila suami tidak setuju maka istri tidak akan menggunakan alat kontrasepsi. 
  5. Adanya kondisi dan situasi yang memungkinkan  (action situation). Untuk bertindak apa pun memang diperlukan suatu kondisi dan situasi yang tepat. Misalnya seorang ibu tidak menggunakan kontrasepsi karena alasan kesehatannya yang tidak memungkinkan untuk menggunakan kontrasepsi (action situation). 


Sedangkan menurut tim  ahli  WHO merumuskan determinan perilaku ini sangat sederhana. Mereka mengatakan bahwa mengapa seseorang berperilaku karena adanya 4 alasan pokok (determinan), yaitu : 

1.  Pemikiran dan perasaan (thoughts and feeling) 
Hasil pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan seseorang, atau lebih tepat diartikan pertimbangan-pertimbangan pribadi terhadap objek atau stimulus, merupakan modal awal untuk bertindak atau berperilaku. Seorang istri akan pergi ke Puskesmas untuk menggunakan alat kontrasepsi, dengan dasar pertimbangan untung ruginya, manfaatnya, sumber daya atau uang  yang tersedia, dan sebagainya. 

2.  Adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang dipercayai (personal references) 
Di dalam masyarakat di mana sikap paternalistik masih kuat, maka perubahan perilaku acuan (referensi) yang pada umumnya adalah para tokoh masyarakat setempat. Misalnya orang mau menggunakan alat kontrasepsi apabila tokoh masyarakat disekitarnya sudah terlebih dahulu menggunakan alat kontrasepsi. 

3.  Sumber daya (resources) 
Sumber daya yang tersedia merupakan pendukung untuk terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. Kalau dibandingkan dengan teori Green, sumber daya ini adalah sama dengan faktor  enabling  (sarana dan prasarana atau fasilitas). Misalnya seorang ibu ingin menggunakan alat kontrasepsi tetapi karena fasilitas dan pelayanan  kesehatan yang tidak memadai sehingga ibu tersebut tidak memungkinkan untuk menggunakan alat kontrasepsi. 

4.  Sosio budaya (culture)  
Sosio budaya setempat biasanya sangat berpengaruh terhadap terbentuknya perilaku seseorang.  Faktor sosio budaya merupakan faktor eksternal untuk terbentuknya perilaku seseorang. Hal ini dapat kita lihat dari perilaku tiap-tiap etnis di Indonesia yang berbeda-beda, karena memang masing-masing etnis mempunyai budaya yang berbeda yang khas. Misalnya suku Batak yang merasa tidak lengkap apabila tidak ada anak laki-laki.  


Proses Adopsi Perilaku 

Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian  Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di  dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yaitu: 
  • Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (obyek). 
  • Interest (tertarik), dimana orang mulai tertarik kepada stimulus tersebut. 
  • Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. 
  • Trial  (mencoba) dimana orang tersebut sudah mulai mencoba-coba untuk berperilaku baru. 
  • Adoption  dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. 

Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut diatas. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses yang di  dasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku tidak di dasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama


Daftar Pustaka:

Notoatmodjo S, 2003,  Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan, Rineke Cipta Jakarta. 

Pengertian Perilaku dan Definisi Determinan Prilaku Kesehatan Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment