Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Dinamika Pola Hubungan Antar Saudara Kandung dan Perilaku Delinkuensi

Berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan tahun 2002-2003 oleh BKKBN, saat ini per wanita di Indonesia rata-rata melahirkan minimal dua orang anak (”Penduduk,”2007).  Dengan demikian, sebagian besar keluarga di Indonesia memiliki lebih dari satu orang anak,  artinya seorang anak minimal memiliki seorang saudara kandung. Salah satu karakteristik unik dari hubungan antar saudara kandung, yaitu merupakan hubungan  sosial yang paling lama dialami individu sepanjang hidupnya (Cicirelli, 1996). Hubungan antar saudara kandung juga merupakan pengalaman individu dalam berbagi kasih sayang dan perhatian dari orang tua, serta sumber-sumber  lain dalam keluarga dengan saudara kandungnya dalam jangka waktu yang lama.  


Semenjak masa kanak-kanak akhir, saudara kandung merupakan bagian pokok dari kehidupan sosial individu (Hurlock, 1999). Hubungan antar saudara kandung  juga sering dikarakteristikan dengan perebutan kepemilikan dan persaingan dalam mendapatkan perhatian orang tua (Scharf, Shulman & Spitz, 2005). Kehangatan, saling menjaga dan hubungan antar saudara kandung  yang dekat memiliki peranan yang penting dalam perkembangan kemampuan sosial dengan teman sebaya, kemampuan mengatasi konflik dengan cara konstruktif dan pengertian mereka secara sosial dan emosional (Volling & Blandon, 2003).  

Beberapa penelitian menemukan bahwa dimensi hubungan antar saudara kandung berpengaruh terhadap perilaku antisosial dalam hubungan dengan teman sebaya. Anak atau remaja yang memiliki hubungan antar saudara kandung dengan konflik yang tinggi dan kehangatan yang rendah cenderung lebih agresif terhadap teman sebayanya (Criss & Shaw, 2005). Konflik yang tinggi tanpa adanya kehangatan/kedekatan akan memberikan pengaruh yang berbeda, seperti terbentuknya perilaku merusak dan menyimpang.  

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Duncan (dalam Scharf, Shulman & Spitz, 2005), menemukan bahwa korelasi hubungan antar saudara kandung dengan perilaku delinkuensi lebih besar dibandingkan korelasi dengan teman sebaya yang diidentifikasi sebagai sahabat, antara teman di lingkungan tempat tinggal dan antara teman di kelas. Penelitian lain oleh Rinaldi dan Howe (1998), menemukan konflik berkorelasi positif  dengan kemampuan menyelesaikan masalah secara destruktif, sedangkan kehangatan/kedekatan berkorelasi positif dengan perilaku prososial dan kemampuan menyelesaikan masalah secara konstruktif.  

Patterson (1981), dalam penelitiannya menemukan bahwa interaksi agresif diantara saudara kandung akan melatih anak untuk berperilaku agresif, yang kemudian akan mereka terapkan secara berlanjut dalam segala situasi, seperti di sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya. Agresif berhubungan dengan sikap bermusuhan, dan sikap pemaksaan dalam hubungan antar saudara kandung, serta sikap agresi terhadap teman-teman sebaya dan penolakan oleh teman-temannya. Dunn dan Munn (dalam Volling & Blandon, 2003), menyatakan bahwa interakasi diantara saudara kandung dapat mengarah pada perkembangan perilaku antisosial. 

Garcia, dkk. (2000), mengungkapkan bahwa ”coercive cycles” dari Patterson merupakan komponen penting dalam perkembangan perilaku antisosial dan saudara kandung memiliki peran yang penting dalam proses terbentuknya. Berdasarkan  “coercion theory” yang dikemukakan oleh Patterson (dalam Santrock, 2003), menjelaskan mengenai bagaimana perkembangan perilaku merusak (deviant) dapat terjadi dalam hubungan antar saudara kandung,  yaitu melalui dua mekanisme : 
  1. Adanya pemaksaan dalam hubungan orang tua-anak dan hubungan saudara kandung, memberi kesempatan pada anak untuk mempraktekan perilaku merusak dan bermusuhan. Suatu perilaku yang seharusnya tidak dimunculkan, namun muncul secara tidak terkontrol dan bahkan diperkuat melalui pemaksaan yang dilakukan oleh orang tua atau saudara kandung. 
  2. Kekuatan atau kedalaman rasa keterikatan yang terjadi dalam pemaksaan hubungan antar saudara kandung, akan mendukung berkembangnya perilaku negatif yang menetap, yang bahkan akan mengarah pada pengalaman perilaku delinkuensi yang diperkuat melaui hubungan di luar rumah, seperti dengan teman-teman yang antisosial. 
Pengertian Hubungan Antar Saudara Kandung

Pola hubungan antar saudara kandung sering menjadi pola hubungan sosial yang dibawa anak ke luar rumah  untuk diterapkan dalam hubungannya dengan teman sebaya. Kebiasaan bertengkar, mengejek, menggertak, menganggu dan perilaku agresif lainnya, memiliki peranan yang penting dalam perkembangan sikap, perilaku dan emosionalnya yang antisosial. Sebaliknya, kehangatan, saling menjaga, kedekatan dengan saudara kandung  yang baik akan mampu mengembangkan kemampuan anak untuk mengatasi masalah secara konstruktif, serta sikap, perilaku dan emosional yang tidak agresif.

Baca: Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hubungan Antar Saudara Kandung 

Berdasarkan kondisi-kondisi yang telah diuraikan di atas, dapat kita lihat bahwa saudara kandung memiliki peranan yang cukup penting dalam pembentukkan perilaku sosial, khususnya pembentukkan perilaku meyimpang atau perilaku delinkuensi, dimana hal ini dapat terbentuk dalam “coercion cycles”, dimana anak belajar untuk terbiasa dengan kekerasan, ketidakadilan dan permusuhan dari saudara kandungnya. Konflik yang tinggi dalam hubungan saudara kandung mengajarkan seseorang  untuk menyelesaikan masalah secara destruktif yang ditandai dengan sikap  agresif, bermusuhan dan delinkuensi, sedangkan kehangatan/kedekatan yang tinggi mengarahkan pada kemampuan menyelesaikan masalah secara konstruktif, dan perilaku prososial. 


Daftar Pustaka Makalah Dinamika Pola Hubungan Antar Saudara Kandung

Gracia, M., Shaw, Daniel S., Winslow, Emily B., & Yaggi, K. E. (2000). Destructive Sibling Conflict and The Development of Conduct Problems in Young Boys. Developmental Psychology, Vol. 36 ,44-53 

Volling, B. L., & Blandon, A. Y. (2003). Positive Indicators of Sibling Relationship Quality: Psychometric Analyses of The Sibling Inventory of Behavior (SIB).   Child Trends Positive Outcomes Conferences [On-line]. FTP: http://www.childtrends.org/Files/VollingBlandon.pdf (13 Januari 2007) 

Cicirelli, Victor, G. (1996). Siblings Relationships in Middle and Old Age. Dalam G. H. Brody (Ed.),  Advances in Applied Developmental Psychology: Sibling Relationships (pp. 47- 73). Norwood: New Jersey, Ablex 

Howe, N., Asee, J.A., Bukowski, W.M., Rinaldi, C.M., Lehaoux, P.M. (2000). Sibling Self-Disclosure in Early Adolescence, Vol. 46. [On-line]. FTP: http://www.questia.com/PM.qst?a=o&d=5001116560# 

Scharf, M., Shulman, S., & Spitz, Limor  A. (2005). Sibling Relationships in Emerging Adulthood and in Adolescence. Journal of Adolescent Research [On-line]. Vol. 20, 64-90. FTP: http://jar.sagepub.com/cgi/reprint/20/1/64 (13 Januari 2007) 

Criss, M. M., & Shaw, D. S. (2005).  Sibling Relationship as Context for Deliquency Training in Low-Income Families.  Journal of Family Psychology  [On-line],  Vol. 19, 592-600. FTP: http://www.pitt.edu/~momchild/publications/criss%20and%20shaw%20j.%20of%20family%20psychology%20dec%202005.pdf (13 Januari 2007) 

Penduduk Indonesia Tambah 4 Juta Per Tahun (2007, 20 Juli). BKKBN Online [On-line]. FTP: http://www.bkkbn.go.id/news_detail.php?nid=5338 (22 Juli 2007) 

Dinamika Pola Hubungan Antar Saudara Kandung dan Perilaku Delinkuensi Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment