Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Monday, 21 September 2015

Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Konstipasi pada Ibu Hamil

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Konstipasi pada Ibu Hamil adalah

a. Usia Kehamilan 
Usia kehamilan adalah ukuran lama waktu seorang janin berada dalam rahim. 

Usia janin dihitung dalam minggu dari hari pertama haid terakhir (HPHT) ibu sampai hari kelahiran. Lama kehamilan yaitu 280 hari atau 40 minggu atau 10 bulan. Kehamilan dibagi atas tiga trimester yaitu: trimester I antara 0-12 minggu, kehamilan trimester II antara 12-28 minggu, dan trimester III antara 28-40 minggu.


Pada minggu ke-9 usia kehamilan, kesulitan untuk buang air besar sering terjadi dan hampir semuanya disebabkan oleh tingginya kadar hormon-hormon di dalam tubuh yang memperlambat kerja otot-otot usus halus ( Ana, 2010 ).

Sekitar 11 % sampai 38% ibu hamil mengalami konstipasi, terutama pada awal kehamilan dan trimester ketiga masa kehamilan ( Herawati, 2012 ). Wanita yang sebelumnya tidak mengalami konstipasi dapat memiliki masalah ini pada trimester ke dua atau ke tiga. Konstipasi diduga terjadi akibat penurunan peristaltik disebabkan relaksasi otot polos pada usus besar ketika terjadi peningkatan progesteron. Pergeseran dan tekanan pada usus akibat pembesaran uterus atau bagian presentasi juga dapat menurunkan motilitas pada saluran gastrointestinal sehingga menyebabkan konstipasi ( Varney, dkk, 2007).

b. Asupan Makanan 
Diet, pola, atau jenis makanan yang dikomsumsi dapat mempengaruhi proses  defekasi. Makanan yang memiliki kandungan serat tinggi dapat membantu proses percepatan defekasi dan jumlah yang dikonsumsi pun mempengaruhinya ( Uliyah, dkk, 2008 ).

Serat penting artinya bagi kesehatan sistem pencernaan dan mencegah sembelit. Serat juga membantu menjaga kadar gula darah. Ada dua macam serat, yaitu serat yang terlarut dan tak larut. Serat terlarut ditemukan dalam makanan semisal apel, pir, havermut (oat), gandum hitam, dan polong-polongan. Serat membantu kenyang lebih lama dan menjaga pelepasan gula yang stabil kedalam darah. Serat tak terlarut yang ditemukan didalam kacang-kacangan, buah, sayuran hijau, kacang india, dan sereal whole-grain membantu pergerakan makanan melalui sistem pencernaan dan mencegah sembelit ( Campbell, 2006 ).

Serat makanan adalah komponen dalam tanaman yang tidak tercerna secara enzimatik menjadi bagian-bagian yang dapat terserap di saluran pencernaan. Serat secara alami terdapat dalam tanaman. Serat terdiri atas berbagai substansi yang kebanyakan adalah karbohidrat kompleks. Rata-rata negara di dunia ini menetapkan sebanyak 30 gram kebutuhan akan serat setiap harinya ( Akmal,dkk, 2010 ).

Komponen terbesar buah-buahan adalah air. Oleh karena itu, kandungan serat pangan dalam buah-buahan lebih rendah. Komponen terbesar dari serat pangan pada buah-buahan adalah senyawa pektin dan lignin sel buah. Kandungan serat pangan berbagai jenis buah dapat dilihat pada tabel dibawah ini. 


Tabel 1. Kandungan Serat Pangan pada Beberapa Jenis Buah-buhan( g/100 g bahan )
Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Konstipasi pada Ibu Hamil


Kandungan serat pangan pada sayuran lebih tinggi dibandingkan buah-buahan. Kadar serat pangan pada sayuran berkisar antara 2-3 g/100 g. Seperti halnya buah-buahan, sayuran juga merupakan sumber vitamin dan mineral yang sangat baik. Komposisi sayuran selengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini 

Tabel 2. Kandungan serat pangan dari sayur-sayuran tropis ( % berat kering)


Berdasarkan penelitian Astinal Eka, S (2011) di RSUP H.Adam Malik, dapat diketahui bahwa dari 60 penderita konstipasi, ada 7 orang (11,7%) mengalami konstipasi dengan tinggi serat, 333 orang (55%) dengan baik serat dan 20 orang(33,3%) dengan kurang serat. Sebagai kesimpulan dari peneliitian ini adalah terdapat hubungan antara pola makanan berserat dengan kejadian konstipasi.

c. Asupan Cairan 
Pemasukan cairan yang kurang dalam tubuh membuat defekaksi menjadi keras. Oleh karena proses absorbsi air yang kurang menyebabkan kesulitan proses defekasi ( Uliyah, 2008 ).

Menurut Simkin ( 2008 ), Air dan cairan lain merupakan elemen yang penting dari diet yang seimbang. Retensi cairan, bagian normal dari kehamilan yang sehat, memastikan terjadinya kenaikan volume darah dan air ketuban. Sebagai wanita yang sedang hamil perlu mempunyai cairan lebih banyak karena dua alasan berikut:
  • Volume darah meningkat 50% atau lebih (dari kira-kira 2,5 menjadi 2,75 liter). 
  • Menjelang akhir kehamilan, berenang dalam cairan ketuban yang banyaknya 
    • 1 liter, yang diganti setiap tiga jam sekali. Cairan juga ditahan dalam jaringan, mengalir melalui dinding pembuluh darah, untuk membantu mempertahankan keseimbangan cairan yang sehat. Diperkirakan volume cairan jaringan meningkat 2-3 liter selama kehamilan.

Dalam sehari ibu hamil dianjurkan untuk minum air putih/ air segar minimal 8 gelas atau 2-3 liter. Air putih yang menyegarkan baik bagi tubuh karena melancarkan peredaran darah. Jus buah merupakan sumber vitamin dan penghilang rasa mual. Tetapi sebaiknya ibu hamil membatasi komsumsi buah-buahan yang mengandung kalori tinggi seperti jus alpukat, jus mangga, jus durian ( Pramono, 2012 ).

Minum susu sangat dianjurkan sebagai sumber kalsium dan vitamin D terbaik untuk pertumbuhan tulang janin. Dianjurkan untuk minum 1-2 gelas susu setiap hari.

Boleh susu sapi biasa atau susu sapi untuk ibu hamil. Bagi yang alergi atau tidak tahan susu sapi, susu kedelai merupakan pilihan yang baik ( Pramono, 2012 ).

d.  Olahraga
Aktivitas dapat mempengaruhi proses defekasi karena melalui aktivitas tonus otot abdomen, pelvis, dan diafragma dapat membantu kelancaran proses defekasi. Hal ini kemudian membuat proses gerakan peristaltik pada daerah kolon dapat bertambah baik (Uliyah, 2008).

Olahraga merupakan salah satu aktivitas yang baik dilakukan selama hamil. Olahraga selama kehamilan tidak dilarang selama tidak ada kondisi tertentu yang membahayakan kehamilan. Olahraga malah dapat membantu menjaga kondisi ibu hamil dengan meningkatkan volume aliran darah, meningkatkan kekuatan otot diafragma untuk bernafas, dan membantu flekbilitas otot-otot. Hal ini akan membantu bayi tumbuh lebih baik ( Hermawan dan Ayu, 2009 ).

Kehamilan bukanlah waktunya untuk melakukan olahraga berat seperti softball, tenis atau meluncur yang membutuhkan keseimbangan yang baik atau gerakan menyentak yang mendadak. Meskipun demikian, jika sudah terampil dan aktif bermain dalam olahraga tersebut, tetap dapat terus bermain selama merasa nyaman. Dengan kata lain, asalkan kehamilan tetap normal, dapat dengan aman melanjutkan olahraga rekreasional atau aktivitas yang dikuasai, termasuk tenis, berenang, lintas alam, ski, joging, atau bersepeda (Simkin, dkk, 2008).

Olahraga dalam kehamilan mempunyai keuntungan. Beberapa wanita merasakan kemajuan daya tanggap tubuh, yang lain merasakan peningkatan fleksibilitas otot dan sendi yang lain untuk mengurangi atau mencegah ketidaknyamanan selama kehamilan (Liewellyn-Jones, 2005).

Jika pekerjaan dan gaya hidup sebelumnya santai tanpa olahraga teratur, ibu hamil sungguh sangat beruntung bila mau melakukan kegiatan ringan. Ambil kesempatan untuk berjalan kaki di bandingkan naik mobil atau menggunakan kenderaan umum. Jika bekerja dilantai atas suatu bangunan, berjalanlah menaiki anak tangga itu daripada naik lift. Selama periode singkat, calon ibu akan mulai merasa lebih energik, kurang lelah diakhir penghujung hari, dan dapat terus meningkat keolahraga sedang waktu kehamilan membesar.

Jika cukup aktif tetapi ingin meningkatkan kebugaran, usahakan melakukan tiga sesi olahraga sedang 15-20 menit setiap pekan. Belilah video olahraga kehamilan atau carilah informasi tentang kelas khusus kehamilan pada pengumuman di pusat hiburan lokal atau rumah sakit. Sebelum bergabung dengan kelasolahraga umum, pastikan bahwa pelatih mengetahui anda hamil.

Berjalan kaki teratur menguatkan kaki, meningkatkan fleksibilitas, dan mudah diawasin. Kegiatan itu memberikan latihan aerobik yang baik, membantu paru-paru mengambil lebih banyak oksigen dengan lebih sedikit usaha, dan meningkatkan stamina. Jika secara umum ibu hamil tidak melakukan banyak olahraga, kemajuan akan segera terlihat dalam kebugaran bila ibu hamil berjalan selama 20 menit tiga kali seminggu dan mencatat laju denyut jantung. (Thorn, 2003)

Menjaga kesehatan, kandungan berarti sehat secara fisik dan mental, karena tubuh yang sehat membutuhkan pikiran yang sehat pula. Sisihkan waktu selama 10 menit setiap harinya untuk bersenam, namun bila hal itu tidak mungkin, cobalah setidaknya 15 menit tiga kali seminggunya. Senam singkat namun teratur lebih baik daripada sejam sekali seminggu (Thorn, 2003). 

e. Konsumsi Tablet Besi 
Zat besi diperlukan untuk memproduksi hemoglobin ( protein pembawa oksigen dalam darah ). Karena volume darah meningkat 50% selama kehamilan, hemoglobin dan konstituen dara lainnya juga meningkat. Selain itu, selama 6 minggu terakhir kehamilan, janin akan menyimpan zat besi dalam jumlah yang memadai dalam hatinya untuk memenuhi kebutuhannya pada 3 atau 6 bulan pertama kehidupan. Karena orang yang sehat menyerap 10-20% dari zat besi yang dicerna, institute of medicine menganjurkan suplemen zat besi sebanyak 30-60 miligram setiap hari, selama kehamilan ntuk memastikan terjadinya absorbsi dari zat besi dari zat yang dibutuhkan setiap hari. Walaupun diperlukan untuk nutrisi yang baik, suplemen zat besi dapat mengganggu saluran pencernaan diantaranya konstipasi atau sembelit (Simkin, P, dkk, 2008).

WHO menganjurkan untuk memberikan 60 mg besi selama 6 bulan untuk memenuhi kebutuhan fisiologik selama kehamilan. Namun, banyak literatur menganjurkan dosis 100 mg besi setiap hari selama 16 minggu atau lebih pada kehamilan. Diwilayah-wilayah dengan prevalensi anemia yang tinggi, dianjurkan untuk memberikan suplementasi sampai tiga bulan postpartum (Prawirohardjo, 2009).

Pemberian suplementasi preparat Fe, pada sebagian wanita menyebabkan sembelit. Penyulit ini dapat diredakan dengan cara memperbanyak minum, menambah komsumsi makanan yang kaya akan serat seperti roti, serealia dan agar-agar ( Arisman, 2010). 

Daftar Pustaka Makalah Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Konstipasi pada Ibu Hamil

Herawati, F, 2012. Panduan Terapi Aman Selama Kehamilan. PT. ISFI Penerbitan Surabaya.

Akmal, M, 2010. Ensiklopedi Kesehatan Untuk Umum. Ar-ruzz Media. Yogyakarta. 

Ana, S, 2010. Trimester Pertama Kehamilan Anda. Buku Biru. Yogyakarta.

Pramono, TS. 2012. 101 Masalah Kehamilan dan Solusinya. IN Azna Books. Yogyakarta.

Liewelly, D dan Jones, 2005. Setiap Wanita. PT Delapratasa Publishing. Jakarta.

Prawiroharjo, S. 2009. Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka. Jakarta.

Arisman, M dan T Wresdiyati. 2004. Diet Sehat dengan Makanan Berserat. PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Solo.

Simkim, P, 2008. Panduan Lengkap Kehamilan, Melahirkan, Bayi. Arcan. Jakarta.

Thorn, G. 2003. Kehamilan Sehat. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Uliyah, M dan A Hidayat, 2008. Keterampilan Dasar Praktik Klinik Untuk Kebidanan. Salemba medika. Jakarta.

Varney, H, 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Vol 1. EGC. Jakarta.


Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Konstipasi pada Ibu Hamil Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment