Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Faktor yang Mempengaruhi Kebijaksanaan dan Karakteristik Orang yang Bijaksana

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijaksanaan 

Berikut ini berbagai faktor dari beberapa tokoh dan sumber yang dianggap dapat mempengaruhi perkembangan kebijaksanaan dalam kehidupan individu, yaitu: 


  1. Usia 
    Usia dipandang sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kebijaksanaan dengan asumsi bahwa seorang individu akan memiliki lebih banyak pengalaman hidup sehingga lebih memungkinkan untuk menjadi lebih bijaksana dibandingkan generasi yang lebih muda. Usia juga dinominasikan sebagai salah satu faktor penentu kebijaksanaan karena kebijaksanaan dianggap hanya akan muncul setelah kebangkitan spiritual di masa lansia (Sternberg & Jordan, 2005). 

    Dalam ilmu pengetahuan perilaku manusia, ada tiga model yang mendeskripsikan hubungan antara usia dan kebijaksanaan yang telah dimulai sejak masa remaja (Sternberg & Jordan, 2005). Adapun ketiga model tersebut, yaitu: 
    • Positive Model, yang menyatakan bahwa usia berkorelasi positif dengan kebijaksanaan. Hal ini berarti individu akan menjadi semakin bijaksana seiring bertambahnya usia kronologis. Model ini tidak didukung oleh bukti empiris. 
    • Decline Model, yang merupakan kebalikan dari  Positive Model karena menyatakan individu menjadi kurang bijaksana seiring bertambahnya usia kronologis. Namun, Meacham berpendapat bahwa model ini mengakui ada beberapa lansia yang bijaksana karena mereka mampu mempertahankan kebijaksanaan mereka sampai lanjut usia. Model ini juga tidak didukung oleh bukti empiris. 
    • Crystallized Model, yang didasari oleh teori Baltes memandang kebijaksanaan yang telah diperoleh di usia dewasa muda akan tetap bertahan sampai lanjut usia. Hal inilah yang menyebabkan lansia memiliki kesempatan yang sama dengan orang dewasa muda untuk menjadi bijaksana. Model ini menyatakan bahwa pertambahan usia tidak menambah ataupun mencuri kebijaksanaan. Model inilah yang memiliki paling banyak bukti empiris.  
      Salah satu teori yang mendukung Crystallized Model adalah kebijaksanaan dipandang seperti kecerdasan yang mengkristal (crystallized intelligence) yang akan terus bertahan sampai akhir kehidupan atau sampai penyakit menghambatnya (Schaie & Willis, 2011). Teori  crystallized intelligence ini didukung oleh asumsi Baltes yang menyatakan bahwa setelah individu melewati usia 75 tahun, kebijaksanaannya mulai menurun seiring dengan menurunnya fungsi kognitif individu (Snyder & Lopez, 2002). Salah satu hasil penelitian Baltes juga menunjukkan bahwa keahlian individu di suatu bidang lebih banyak berkontribusi terhadap kebijaksanaan dalam kehidupan individu dibandingkan faktor usia secara tunggal (Sigelman & Rider, 2003). 

  2. Jenis kelamin 
    Jenis kelamin ternyata dipercaya mempengaruhi kebijaksanaan seseorang. Denney menyatakan bahwa pria dipandang lebih memiliki kebijaksanaan intelektual, sedangkan wanita dipandang lebih bijaksana dalam hubungan sosial (Sternberg & Jordan, 2005). 
  3. Pengalaman hidup 
    Pengalaman hidup yang mengasah ketajaman perspektif individu, seperti misalnya mendapat pendidikan dan keterampilan serta bekerja dalam bidang tertentu dapat mengasah kebijaksanaan individu (Dacey & Travers, 2002). 
  4. Budaya 
    Kebudayaan ternyata juga mempengaruhi kebijaksanaan individu. Kebudayaan Barat lebih memandang kebijaksanaan secara intelektual, yang banyak menitikberatkan pada perpaduan kemampuan kognitif, wawasan, sikap reflektif, penuh belas kasihan terhadap orang lain, dan ketenangan. Kebudayaan Timur lebih menitikberatkan pada kebijaksanaan secara spiritual (Schaie & Willis, 2011). 
  5. Kondisi eksternal 
    Kondisi eksternal individu juga mempengaruhi kebijaksanaan dalam kehidupan individu, misalnya individu yang tinggal dalam lingkungan sosial yang suportif selama masa dewasa awal berkaitan secara positif dengan kebijaksanaan pada 40 tahun mendatang (Sternberg & Jordan, 2005). 
  6. Kepribadian 
    Kramer menyatakan bahwa kepribadian individu ternyata mempengaruhi kebijaksanaannya. Individu yang memiliki kualitas kognitif, reflektif dan emosional yang berkontribusi terhadap kebijaksanaan cenderung terpelajar, lebih sehat secara fisik, memiliki lebih banyak hubungan positif dengan orang lain, dan memiliki nilai yang lebih tinggi dalam berbagai tes kepribadian untuk dimensi keterbukaan terhadap pengalaman baru (openness) (Sigelman dan Rider, 2003). Baltes menambahkan dimensi generativity dan creativity sebagai faktor kepribadian yang dianggap mampu memprediksi kebijaksanaan dengan lebih baik dibandingkan faktor kecerdasan (intelligence) (Santrock, 2011). 
baca: Perbedaan Kebijaksanaan (Wisdom) Pada Lansia Ditinjau dari Jenis Pekerjaan

Karakteristik Orang yang Bijaksana 

Baltes dan Kunzmann merumuskan karakteristik orang yang bijaksana berdasarkan hasil penelitian mereka (Sternberg & Jordan, 2005), yaitu: 

  • Memandang fenomena dari perspektif yang lebih luas. 
  • Menampilkan sikap detached (membatasi diri) dan kurang emosional. Hal ini bukan berarti orang yang bijaksana memiliki alam emosi yang datar dan dangkal. Sebaliknya, orang yang bijaksana justru dapat lebih menunjukkan kepeduliannya terhadap permasalahan yang dihadapi orang lain karena pengetahuannya yang mendasar tentang permasalahan hidup yang kompleks serta dinamika keberhasilan dan kegagalan yang mewarnai sepanjang perkembangan kehidupan manusia. Di samping itu, mereka juga cerdas dalam membatasi pengaruh negatif masalah yang dapat melumpuhkan keberdayaan mereka. Baltes menyebut kemampuan ini sebagai “constructive melancholy”. 
  • Lebih mementingkan pengembangan diri, wawasan, dan kesejahteraan orang lain daripada kehidupan yang penuh dengan kesenangan dan kenyamanan. 
  • Lebih menggunakan pendekatan kooperatif dalam menyelesaikan konflik antarpribadi daripada menggunakan pendekatan dominan, submisif, atau menghindar. 
  • Lebih menampilkan struktur afektif yang lebih berorientasi kepada proses dan lingkungan, seperti inspirasi dan minat, daripada orientasi yang bersifat evaluatif dan mementingkan diri sendiri. 

Daftar Pustaka Makalah
Sternberg, R., & Jordan, J. (Eds.) (2005). A Handbook of Wisdom: Psychological Perspectives. New York: Cambridge University Press.  

Santrock, J. (2011). Life-Span Development (13th ed.). New York: McGraw Hill International Edition. 

Schaie, W., & Willis, S. (Eds.). (2011). Handbook of the Psychology of Aging (7th ed.). London: Elsevier-Academic Press. 

Sigelman, C., & Rider, E. (2003).  Life-Span Human Development (4th ed.).  Belmont: Thomson-Wadsworth Learning.  

Snyder, C., & Lopez, S. (Eds.). (2002). Handbook of Positive Psychology. New York: Oxford University Press.  

Dacey, J., & Travers, J. (2002). Human Development across the Life Span (5thed.). New York: McGraw Hill Higher Education. 

Faktor yang Mempengaruhi Kebijaksanaan dan Karakteristik Orang yang Bijaksana Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment