Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Kepuasan Pernikahan Commuter Marriage Kelebihan dan Kelemahan

Kepuasan Pernikahan Pada Pasangan Commuter Marriage

Layaknya pasangan suami istri umumnya, pasangan commuter marriage juga mengharapkan kepuasan dalam pernikahan dan mempunyai penilaian terhadap kepuasan pernikahan. Pasangan commuter marriage umumnya menganut peran gender yang lebih egalitarian dibandingkan yang tradisional dalam pernikahan. Penelitian menunjukkan bahwa pasangan commuter marriage yang sukses dalam pernikahan adalah pasangan yang menganut peran gender yang sedikit tradisional dan lebih egalitarian, mereka umumnya mempunyai pendidikan yang baik, dan terikat dalam rencana dan keputusan bersama dalam membuat perpisahan (Anderson & Spruill, 1993; Fortysh & Gramling, 1987 dalam Stafford, 2005). Perilaku peran gender yang non-tradisional yang biasanya dianut oleh pasangan commuter marriage adalah suami maupun istri saling berbagi perhatian terhadap keluarga dan rumah, suami dan istri sepakat bahwa tidak ada pekerjaan mana yang lebih penting dari pekerjaan lainnya.


Pasangan commuter marriage menyatakan bahwa perjalanan yang merupakan bagian dari pekerjaan dapat menciptakan stress tambahan untuk pasangan mereka, khususnya dengan adanya kehadiran anak dalam keluarga (Roehling & Bultman, 2002). Kehadiran anak mengurangi peran egalitarian yang biasanya dianut oleh pasangan commuter marriage (Stafford, 2005). Peran non-tradisional ini tidak berlaku ketika salah satu pasangan melakukan perjalanan, pasangan yang melakukan perjalanan biasanya akan menyerahkan peran mereka yang berhubungan dengan keluarga kepada pasangan lain yang tinggal di rumah.

Pasangan yang tidak tinggal bersama anak-anak dapat fokus pada karir, namun pasangan lain, biasanya istri yang tinggal dengan anak merasakan peran sebagai orang tua tunggal. Roehling dan Bultman (2002) menambahkan bahwa istri biasanya mengurangi perjalanan yang berhubungan dengan karir jika adanya kehadiran anak dalam keluarga. Kehadiran anak meningkatkan tanggung jawab dan pembagian kerja menurut gender di rumah sehingga membutuhkan peran dengan waktu yang intensif dari orang tua. Hal ini dapat menyebabkan peran yang berlebihan dan konflik peran (Barnett & Hyde, 2001 dalam Roehling & Bultman, 2002) serta dapat mempengaruhi performansi di tempat kerja dan di rumah pada pasangan yang tinggal di rumah (Roehling & Bultman, 2002).

Gerstel dan Gross (dalam Scoot, 2002) yang menyatakan bahwa usia pernikahan, kehadiran anak, dan durasi perpisahan dan pertemuan kembali karena pekerjaan memberikan pengaruh yang besar dalam pengalaman menghadapi perpisahan pada pasangan commuter marriage. Penelitian yang dilakukan oleh Gerstel dan Gross menunjukan bahwa pasangan yang baru menikah (tanpa menjelaskan usia pernikahan yang dimaksud), pasangan dengan anak-anak dan pasangan yang mengunjungi kurang dari dua kali dalam sebulan mengalami kesulitan menangani perpisahan mereka. Semakin lama usia suatu pernikahan, semakin besar kemampuan pasangan untuk menghadapi masalah yang muncul ketika pasangan tidak tinggal bersama (Gerstel dan Gross, 1981, 1982, 1984; Gross, 1980, 1981 dalam Scott, 2002).

Pasangan commuter marriage yang lebih muda dengan anak yang masih muda dan pengalaman akan perpisahan yang tidak banyak merupakan pasangan yang paling rapuh, namun kebanyakan pasangan yang lebih tua dan mempunyai banyak pengalaman akan perpisahan dengan pasangan, dapat mencoba untuk beradaptasi terhadap perjalanan dinas karena pekerjaan dan bahkan merasakan periode yang berturut-turut antara perpisahan dan reuni kembali sebagai suatu hal yang sangat menarik (Espino et al., 2002; Morrice et al., 1985 dalam Gustafson, 2006). Jadwal pekerjaan yang lebih fleksibel dan sumber penghasilan yang lebih besar membuat pasangan commuter marriage merasakan kesulitan yang lebih sedikit (Anderson, 1992 dalam Stafford, 2005). Pasangan yang merasakan kesulitan dan tetap mencoba untuk melakukan dinas pekerjaan, semakin merasa tidak puas dengan pola hidup seperti itu (Groves & Horm-Wingered, 1991 dalam Stafford 2005).


Kelebihan dan Kelemahan pada Pasangan Commuter Marriage


Scoot (2002) menjelaskan ada beberapa alasan mengapa pasangan dengan dua karir memutuskan untuk memisahkan tempat tinggal mereka. Adapun kelebihan dari pernikahan dengan tipe ini adalah:
  1. Memiliki karir dan pernikahan dalam persamaan hak dalam pernikahan (Farris, 1978; Gerstel & Gross, 1983). 
  2. Memperkuat pernikahan. Beberapa pasangan percaya bahwa perpisahan dapat memperkuat pernikahan mereka karena perpisahan memberikan perasaaan akan kesuksesan (Rapoport et al., 1978; Gross, 1980, 1981). 
  3. Ketika pasangan berpisah, mereka dapat belajar untuk mengadaptasikan jadwal mereka sesuai dengan kebutuhan mereka. 
  4. Memberikan waktu kerja yang lebih panjang bagi pasangan. 
  5. Selama perpisahan, masing-masing pasangan dapat memfokuskan diri pada pekerjaan mereka, namun pada saat melakukan reuni, mereka memfokuskan pada penguatan hubungannya dengan pasangan. 
  6. Pola hidup seperti ini menghasilkan kemampuan baru dan meningkatkan rasa percaya diri mengenai kemampuan individu (Gerstel & Gross, 1982; Jackson et al, 2000; Winfield, 1985). 
Kepuasan Pernikahan Commuter Marriage

Selain  memberikan  kelebihan,  pola  pernikahan  ini  juga  memberikan beberapa kelemahan, antara lain:

  1. Pasangan jarak jauh mempunyai jadwal yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka, yaitu jadwal yang sibuk, bahkan ketika pasangan saling menjenguk, mereka tetap tidak terlepas dari jadwal yang sibuk. Hal ini menyebabkan pasangan tidak mampu memperkuat hubungan mereka bahkan saat mereka sedang berkumpul. Jadwal yang sibuk menyebabkan rendahnya kepuasan hubungan dan kehidupan keluarga (Bunker, Zubek, Vanderslice, & Rice, 1992; Govaerts & Dixon, 1988). 
  2. Biaya yang lebih tinggi yang harus dibayar oleh pasangan ini (Farris, 1978; Gerstel & Gross, 1984), misalnya rekening telepon yang lebih mahal  karena hubungan jarak jauh, biaya perjalanan ketika saling mengunjungi dan biaya-biaya kebutuhan kedua rumah yang ditempati masing-masing pasangan.
  3. Kurangnya kehadiran pasangan, terhambatnya kontak nonverbal mempengaruhi keintiman dalam hubungan pernikahan jarak jauh. 
  4. Munculnya kecemasan dan kekhawatiran pada pasangan termasuk ketakutan untuk hidup terpisah, perceraian dan perselingkuhan (Farrris, 1978). Kekhawatiran ini umumnya muncul pada pasangan yang lebih muda, namun pada pasangan yang lebih tua lebih banyak mengalami pengalaman takut akan hidup terpisah dan sedikit cemas mengenai perceraian dan perselingkuhan (Gerstel & Gross, 1984). 

Daftar Pustaka Makalah Kepuasan Pernikahan Commuter Marriage

Roehling, P. V. & Bultman, M. (2002). Does absence make the heart grow fonder? Work-related travel and marital satisfaction.  Sex Roles: Journal of Research, 46, 279-293.  

Scoot, Andrea T. (2002). Communication characterizing successful long distance marriages. Disertasi. Faculty of the Louisiana State University and Agricultural and Mechanical College. Diakses tgl. 11 Agustus, 2008 dari: http://etd.lsu.edu/docs/available/etd-0416102-172102/unrestricted/Scott_dis.pdf  


Gerstel, N. & Gross, H. E. (1982). Commuter marriages: A review. Dalam Gross, H. & Sussman, Marvin B. (Eds). Marriage and family review  (5th ed., hal. 71-93). New York: Haworth Press. 

Stafford, Laura. (2005).  Maintaining long-distance and cross-residential relationships. New Jersey: Lawrence Earlbaum Associates 

Gustafson, Per. (2006). Work-related travel, gender, and family obligations. Work, employment and society, 20 (3), 513-530. Diakses tgl. 23 Oktober, 2008 dari: http://wes.sagepub.com/cgi/content/abstract/20/3/513. 


Kepuasan Pernikahan Commuter Marriage Kelebihan dan Kelemahan Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment