Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Wednesday, 16 September 2015

Parasetamol Efek Samping Sejarah Dosis dan Indikasi

Efek samping Parasetamol

Struktur Asetaminofen (parasetamol)
N- acetyl-para-aminophenol Berat molekul 151.17 Rumus empiris C8H9NO2
Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.
Kelarutan : larut 1:70 dalam air dingin, 1:20 dalam air mendidih, 1:7 dalam metanol, 1:13 dalam aseton, 1:40 dalam gliserol, 1:9 dalam dalam propilen glikol.


Larut dalam metanol, dimetilformamida, etil diklorida, etil asetat, dan dalam larutan alkali hidroksida.

Titik leleh : 168-172oC
pH : 5,3-6,5

Stabilitas : Laju penguraian parasetamol dalam larutan bervariasi tergantung pada pH dan temperatur. Parasetamol dapat dihidrolisis oleh katalis asam maupun katalis basa, dan merupakan hal yang utama yang berkenaan dengan parasetamol, ion hidrogen dan konsentrasi ion hidroksida. Laju penguraian parasetamol secaralangsung tergantung pada konsentrasi parasetamol dan tidak dipengaruhi kekuatanion. Pada rentang pH 2-9 energi aktivasi penguraian parasetamol 73,22 kJ/mol danreaksi hidrolisis minimum pada pH 5-7 (Ditjen POM, 1995).

Tablet parasetamol mengandung tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 105,0 % dari jumlah yang tertera pada etiket (Ditjen POM, 1995).

Parasetamol adalah metabolit fenasetin dengan khasiat analgetik dan antipiretik yang sama (sedikit lebih lemah dari pada asetosal). Sifat-sifatfarmakokinetiknya lebih kurang sama dengan fenasetin, efek-efek sampingnyalebih ringan, khususnya tidak nefrotoksis dan tidak menimbulkan euphoria danketergantungan psikis. Karena tidak menimbulkan perdarahan lambung sepertiasetosal, maka pada tahun-tahun terakhir parasetamol banyak sekali digunakan diIndonesia sebagai analgetikum-antipiretikum yang aman (Tjay, 2002).

Parasetamol atau asetaminofen merupakan obat analgesik dan antipiretik yang popular dan banyak digunakan di Indonesia, baik dalam bentuk sediaan tunggalmaupun kombinasi. Penyerapan obat dalam saluran cerna cepat dan hampirsempurna, kadar plasma tertinggi dicapai 1-2,5 jam (Siswandono dan Soekardjo,1995).

Parasetamol mempunyai daya kerja analgetik dan antipiretik sama dengana setosal, meskipun secara kimia tidak berkaitan. Tidak seperti Asetosal, parasetamol tidak mempunyai daya kerja antiradang, dan tidak menimbulkan iritasi dan pendarahan lambung. Sebagai obat antipiretik, dapat digunakan baik Asetosal, Salsilamid maupun Asetaminofen (Sartono, 1996)

Diantara ketiga obat tersebut, Asetaminofen mempunyai efek samping yang paling ringan dan aman untuk anak-anak. Untuk anak-anak dibawah umur dua tahun sebaiknya digunakan Asetaminofen, kecuali ada pertimbangan khusus lainnya dari dokter. Dari penelitian pada anak-anak dapat diketahui bahwa kombinasi Asetosal dengan Asetaminofen bekerja lebih efektif terhadap demam dari pada jika diberikan sendiri-sendiri (Sartono, 1996).

Sejarah Parasetamol

Sebelum penemuan asetaminofen, kulit sinkona digunakan sebagai agenantipiretik, selain digunakan untuk menghasilkan obat antimalaria, kina.Karena pohon sinkona semakin berkurang pada 1880-an, sumber alternatif mulai dicari.Terdapat dua agen antipiretik yang dibuat pada 1880-an, asetanilida pada 1886 dan fenasetin pada 1887. Pada masa ini, parasetamol telah disintesis oleh Harmon Northrop Morse melalui pengurangan p-nitrofenol bersama timah dalam asam asetat gletser. Biarpun proses ini telah dijumpai pada tahun 1873, parasetamol tidak digunakan dalam bidang pengobatan hingga dua dekade setelahnya. Pada 1893, parasetamol telah ditemui di dalam air kencing seseorang yang mengambil fenasetin, yang memekat kepada hablur campuran berwarna putih dan berasa pahit. Pada tahun 1899, parasetamol dijumpai sebagai metabolit asetanilida. Namun penemuan ini tidak dipedulikan pada saat itu (Amelia, 2009).

Pada 1946, Lembaga Studi Analgesik dan Obat-obatan Sedatif telah memberi bantuan kepada Departemen Kesehatan New York untuk mengkaji masalah yang berkaitan dengan agen analgesik. Bernard Brodie dan Julius Axelrod telah ditugaskan untuk mengkaji mengapa agen bukan aspirin dikaitkan dengan adanya methemoglobinemia, sejenis keadaan darah tidak berbahaya. Di dalam tulisan mereka pada 1948, Brodie dan Axelrod mengaitkan penggunaan asetanilida dengan methemoglobinemia dan mendapati pengaruh analgesik asetanilida adalah disebabkan metabolit parasetamol aktif. Mereka membela penggunaan parasetamol karena memandang bahan kimia ini tidak menghasilkan racun asetanilida (Amelia, 2009).

Efek Samping Parasetamol

Indikasi Parasetamol

Parasetamol berguna untuk menurunkan panas dan nyeri ringan sampai sedang seperti sakit kepala, mialgia, nyeri pasca persalinan dan keadaan lain, dimana aspirin efektif sebagai analgesik. Parasetamol atau Asetaminofen saja adalah terapi yang tidak adekuat untuk inflamasi seperti arthritis rheumatoid, sekalipun ia dapat dipakai sebagai tambahan analgesik terhadap terapi anti inflamasi. Untuk analgesik ringan, Aseataminofen adalah obat yang lebih disukai pada pasien yang alergi terhadap aspirin atau bilamana salisilat tidak bisa di toleransi. Ia lebih disukai dari pada aspirin pada pasien dengan hemophilia atau dengan riwayat ulkus peptikum dan pada mereka yang mengalami bronkospasme yang dipicu oleh aspirin. Berbeda dengan aspirin, asetaminofen tidak mengantagonis efek-efek, agen-agen urikosurik (Katzung, 2002).

Efek samping dan Toksisitas

Keuntungan utama asetaminophen terhadap aspirin adalah kurangnya daya toksik pada lambung dan tidak adanya efek pada agregasi platelet. Akan tetapi, daya toksik asetaminophen terhadap hepar bisa berakibat serius dan over dosis yang akut sebesar 10-15 g dapat menyebabkan nekrosis hepar yang fatal (Woodley dan Whelan, 1992).

Farmakokinetika

Asetaminophen di berikan secara oral. Penyerapan dihubungkan dengan tingkat pengosongan perut, dan konsentrasi darah puncak biasanya tercapai dalam 30-60 menit. Asetaminophen sedikit terikat pada protein plasma dan sebagian dimetabolisme oleh enzim mikrosomal hati dan diubah menjadi sulfat dan glukoronida acetaminophen, yang secara farmakologis tidak aktif. Kurang dari 5% diekresikan dalam keadaan tidak berubah. Metabolit minor tetapi sangat aktif (N- acetyle-p-benzoquinone) adalah penting dalam dosis besar karena efek toksisnya terhadap hati dan ginjal. Waktu-paruh asetaminophen adalah 2-3 jam dan relative tidak terpengaruh oleh fungsi ginjal. Dengan kuantitas toksik atau penyakit hati,waktu-paruhnya dapat meningkat dua kali lipat atau lebih (Katzung, 2002).

Dosis

Nyeri akut dan demam bisa diatasi dengan 325-500 mg empat kali sehari dan secara proporsional dikurangi untuk anak-anak (Katzung, 2002).

Daftar Pustaka Makalah Parasetamol 

Katzung, G. (2002). Farmakologi: Dasar dan Klinik. Jakarta: Penerbit SalembaMedika. Halaman 484.

Woodley, dan Whelan. (1992). Pedoman Pengobatan. Yogyakarta: PenerbitEssentia Medica dan Andi Offset. Halaman 5.

Amelia. (2009). Penetapan Kadar Zat Aktif Parasetamol Dalam Sediaan OralDengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).http://seputarobat.blogspot.com/2009/06/parasetamol-obat-demam-dan-nyeri.html. Tgl: 11 mei 2010.

Sartono. (1996). Obat-obat Bebas Dan Bebas Terbatas. Jakarta: PenerbitPT.Gramedia Pustaka Utama. Halaman 6, 8.

Tjay, dan Rahardja. (1978). Obat-obat Penting edisi IV. Jakarta: DepartemenKesehatan Republik Indonesia. Halaman 231, 244.

Siswandono dan Soekardjo. (1995). Kimia Medisinal. Surabaya:  PenerbitAirlangga University Press. Halaman 544.

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta: DepartemenKesehatan Republik Indonesia. Halaman 4, 43, 649.


Parasetamol Efek Samping Sejarah Dosis dan Indikasi Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment