Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Monday, 21 September 2015

Pengaruh Sosial Budaya Terhadap Pemanfaatan Posyandu Lansia (Lanjut Usia)

Pengaruh Sosial Budaya Terhadap Pemanfaatan Posyandu Lanjut Usia
Dalam undang-undang kesehatan No.23 Tahun 1992 disebutkan bahwa kesehatan merupakan keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi (Notoatmodjo, 2003).


Setiap individu bahkan yang sudah lanjut usia berupaya untuk tetap sehat dengan cara berusaha untuk memperoleh kesehatan tersebut baik dari Rumah Sakit, Pelayanan Kesehatan Masyarakat maupun dari pengalaman orang terdahulu. Namun banyak faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan termasuk sosial budaya (Denver dalam Juanitas, 1998). Berikut ada beberapa faktor sosial budaya yang mempengaruhi dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan yang salah satunya adalah posyandu lansia yang merupakan program pelayanan kesehatan lansia di puskesmas.

1 Pendidikan/Pengetahuan
Umumnya lansia memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Rendahnya tingkat pendidikan ini berkorelasi positif dengan buruknya kondisi sosial ekonomi sebagian besar lansia, rendahnya derajat kesehatan dan ketidakmandirian (bergantung pada keluarga lain) lansia secara ekonomi (PKBI, 2001). Peranan pendidikan dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan kesehatan sesuai dengan kematangan intelektual seseorang. Makin tinggi tingkat kematangan intelektual seseorang akan lebih mampu dan mudah memahami arti dan pentingnya kesehatan serta dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan yang ada (Tukiman, 1994).

Hasil studi Notoatmodjo (1990 dalam Tukiman, 1994) menemukan bahwa pendidikan mempunyai hubungan yang bermakna dengan penggunaan posyandu. Umumnya seseorang dengan tingkat pendidikan formalnya lebih tinggi biasanya mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi bila dibandingkan dengan orang yang tingkat pendidikan formalnya lebih rendah. Kecenderungan seseorang untuk tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan didasari oleh pengetahuan yang berhubungan dengan suatu program maupun pelayanan kesehatan tersebut. Sementara pengetahuan yang ada pada setiap orang terbentuk dari seberapa jauh orang tersebut mandapatkan informasi yang berkaitan dengan masalah kesehatan.

2. Dukungan Keluarga
Anggota keluarga membutuhkan dukungan dari keluarganya karena hal ini membuat individu tersebut merasa dihargai, anggota keluarga siap memberikan dukungan untuk menyediakan bantuan dan tujuan hidup yang ingin dicapai individu (Friedman, 1998). Dukungan keluarga merupakan suatu proses hubungan antara keluarga dan lingkungan sosialnya (Kane, 1988 dalam Friedman, 1998).

Dukungan terhadap anggota keluarga yang telah lanjut usia sangatlah diperlukan dari orang-orang yang dekat dengan mereka terutama keluarga agar lansia dapat menikmati kehidupan di hari tua dengan bergembira atau merasa bahagia. Dukungan dari keluarga terdekat dapat saja berupa anjuran yang bersifat mengingatkan lansia untuk tidak bekerja secara berlebihan, memberikan kesempatan kepada lansia untuk melakukan aktivitas yang menjadi hobinya, memberi kesempatan kepada lansia untuk menjalankan ibadah dengan baik, memeriksakan kesehatan dan memberikan waktu istirahat yang cukup kepadanya sehingga lansia tidak mudah stress dan cemas. Hal yang perlu diperhatikan anggota keluarga adalah perlunya mengajak lansia untuk berdiskusi tentang hal-hal baru dan sering memberi petunjuk atau petuahnya sehingga lansia merasa tetap eksis dan memiliki rasa percaya diri dalam mengambil keputusan untuk kepentingan kehidupan dirinya (Kuntjoro, 2002).

3. Spiritualitas
Spiritualitas adalah kepercayaan atau suatu hubungan dengan kekuatan yang lebih tinggi, pencipta atau sumber segala kekuatan (Burkhdart, 1993 dalam Kozier, Ebr, Blais & Wilkinson, 1995). Pada lanjut usia keyakinan dan pengalaman spiritual merupakan bagian penting dalam memberikan warna, transisi kehidupan seperti saat-saat terakhir dalam hidup dan kematian menantang seseorang untuk mendalami keyakinannya dan bertumbuh (Luecknotte, 2000). Agama atau keyakinan spiritual dan pengalaman dapat menjadi instrumen dalam menolong lanjut usia dalam menghadapi takut (Hall, 1997 dalam Luecknotte, 2000). Spiritual merupakan strategi koping yang penting (Pargament, 1998 dalam Rowe & Allen, 2004).

Beberapa karakteristik yang meliputi hubungan spiritualitas antara lain adalah hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan alam, hubungan dengan orang lain dan hubungan dengan Tuhan (Hamid, 1999). Pertama hubungan dengan diri sendiri merupakan kekuatan dari dalam diri seseorang yang meliputi pengetahuan diri yaitu siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya dan juga sikap yang menyangkut kepercayaan pada diri sendiri, kepercayaan pada masa depan, ketenangan pikiran, serta keselarasan dengan diri sendiri (Burkhdart, 1993 dalam Kozier, Ebr, Blais & Wilkinson, 1995).
Kedua yaitu hubungan dengan orang lain, terbagi atas harmonis dan tidak harmonis. Keadaan harmonis meliputi pembagian waktu, pengetahuan dan sumber secara timbal balik, mengasuh anak, mengasuh orangtua dan orang sakit, serta menyakini kehidupan dan kematian. Sedangkan kondisi yang tidak harmonis berkaitan dengan konflik dengan orang lain dan resolusi yang menimbulkan ketidak harmonisan dan friksi (Burkhdart, 1993 dalam Kozier, Ebr, Blais & Wilkinson, 1995).

Ketiga yaitu hubungan dengan alam, merupakan hubungan yang harmoni meliputi pengetahuan tentang tanaman, pohon, margasatwa, iklim, dan berkomunikasi dengan alam serta melindungi alam tersebut (Burkhdart, 1993 dalam Kozier, Ebr, Blais & Wilkinson, 1995). Terjalinnya hubungan baik antara manusia dengan alam akan menghindarkan perusakan alam (Anwar, 2006). Keempat yaitu hubungan dengan Tuhan, hubungan ini meliputi agamais ataupun tidak agamais. Keadaan ini menyangkut sembahyang dan berdoa, keikutsertaan dalam kegiatan ibadah, perlengkapan keagamaan, serta bersatu dengan alam (Burkhdart, 1993 dalam Kozier, Ebr, Blais & Wilkinson, 1995).

4. Sistem mata pencaharian hidup
Salah satu yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah keterjangkauan (affordable) oleh masyarakat. Pengertian keterjangkauan yang dimaksud disini terutama dari sudut biaya. Penelitian oleh Ongko (1988 dalam Tukiman, 1994) tentang demand masyarakat ke balai kesehatan masyarakat salah satunya dipengaruhi oleh faktor harga. Individu akan lebih mudah memanfaatkan suatu pelayanan kesehatan apabila pelayanan yang diberikan bebas biaya (Marr & Giebing, 2001).

Lanjut usia yang ditandai dengan menurunnya produktivitas kerja, memasuki masa pensiun atau berhentinya pekerjaaan utama. Hal ini berakibat pada menurunnya pendapatannya (Suardiman, 2001). Buruknya kondisi sosial ekonomi sebagian besar lansia, akan mempengaruhi rendahnya derajat kesehatan dan ketidakmandirian (bergantung pada keluarga lain) lansia secara ekonomi, kondisi ini akan mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan (PKBI, 2001).

5. Sistem organisasi Sosial
Sistem organisasi sosial/masyarakat adalah sistem sosial yang terbentuk karena adanya kebutuhan dari masyarakat itu sendiri yang bertujuan agar dapat beradaptasi terhadap lingkungannya yang didalamnya terdapat aktivitas-aktivitas yang dibentuk dan dilakukan oleh masyarakat itu sendiri (Koentjaraningrat, 1990). Lanjut usia yang umumnya sudah pensiun mengakibatkan kontak sosialnya berkurang dan seringnya ditinggal anggota keluarga yang semakin sibuk dengan urusan masing-masing menyebabkan adanya keinginan bagi sebagian besar lansia untuk bertemu dengan teman sesama lansia. Terbentuk posyandu lansia di berbagai wilayah, menjadikannya sebuah tempat untuk bertemu dengan teman-teman lansia dan saling berbagi cerita mulai dari cara pencegahan penyakit, anak hingga cucu mereka (Sulistyawati, 2006).

Dalam sebuah artikel berjudul “it’s cool to be geri” oleh Mucha tahun 2000 dikatakan bahwa tujuan utama dari kelompok lansia adalah memperhatikan kebutuhan perkembangan lansia dari segi fisik, pekerjaan yang mampu dilakukan oleh lansia dan menyediakan kesempatan untuk melakukan kegiatan yang dapat dilakukan pada komunitas lansia. Untuk itu para lansia membentuk suatu kelompok lansia yang menghimpun para lansia dalam upaya meningkatkan kualitas mereka, yang biasa dilakukan dalam bentuk periodik.


Sulistyawaty, A. R. (2006). Kesehatan Masyarakat: Posyandu Lansia, Ruang Curhat Para Lanjut Usia. Dibuka pada tanggal 17 November 2006, dari  http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/31/jogja/28159.htm

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). (2001). Prosiding Semiloka: Pengembangan Pusat Pelayanan Lanjut Usia. Dibuka pada tanggal 20 Januari 2007, dari  http://www.pkbi.or.id/images/pdf/7055476semiloka- prog-lansia-pkbi.pdf

Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

Marr, H. & Giebing, H. (2001). Penjaminan Kualitas dalam keperawatan: Konsep, Metode dan Studi Kasus. Jakarta: EGC

Tukiman. (1994) . Tesis: Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Persepsi Peserta JPKMGR dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan di Kecematan Cisarua. FKM USU.

Kozier, B. Erb, G. Berman, A. & Synder, S. J. (2004). Fundamental of Nursing: Concepts, Process & Practice, 7th edition. Nem Jersey: Pearson Prentice Hall

Hamid, A. Y. (1999). Aspek Spiritual dalam Keperawatan. Jakarta: Widya Medika

Rowe, M. M. & Allen, R. G. (2004). Spirituality as means of Coping with Chronic Illness. American Journal of Health Studies. Dibuka pada tanggal 15 April 2007 dari http//findarticles.com/p/articles

Lueckenotte, A. G. (2000). Gerontologic Nursing, 2nd ed. New York: Mosby

Kuntjoro, Z. S. (2002). Dukungan pada Lansia. Dibuka pada tanggal 2 Desember 2006, dari  http://www.e-psikologi.com/usia/160802.htm

Notoatmodjo, S. (1993). Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Yogyakarta: Andi Offset.

Friedman, M. M (1992). Keperawatan keluarga: Teori dan Praktik, edisi ketiga. Jakarta: EGC.

Juanitas. (1998).  Perilaku  Masyarakat  dalam  Pemanfaataan PelayananKesehatan. Medan: FKM USU


Pengaruh Sosial Budaya Terhadap Pemanfaatan Posyandu Lansia (Lanjut Usia) Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment