Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Wednesday, 30 September 2015

Pengertian Benda Definisi Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata dan Macamnya

Pengertian Benda di Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
Hukum benda adalah hukum yang mengatur hubungan subjek hukum dengan benda, yang menimbulkan hak kebendaan. Hukum benda merupakan bagian dari hukum harta kekayaan. Diatur dalam Buku II KUHPerdata, pasal 499 sampai dengan pasal 1232, meliputi Pengertian Benda dan macam-macam benda serta pengertian hak kebendaan dan macam-macam hak kebendaan.


Definisi Benda

Pengertian benda (zaak) secara yuridis adalah segala sesuatu yang dapat dihaki atau yang dapat menjadi objek hak milik (pasal 499 BW). Menurut terminologi benda di atas ini benda berarti objek sebagai lawan dari subyek dalam hukum yaitu orang dan badan hukum. Oleh karena yang diamaksud dengan benda menurut undang-undang hanyalah segala sesuatu yang dapat dihaki atau yang dapat dimiliki orang, maka segala seuatu yang tidak dapat dimiliki orang bukanlah termasuk pengertian benda menurut BW (buku II), seperti bulan, bintang, laut, udara, dan lain – lain sebagainya.Riduan Syahrani, Seluk –Beluk dan Asas –asa Hukum perdata, (Bandung: Alumni, 1992), hal 116.

Meurut ilmu hukum, benda memiliki tanda tanda pokok. Tanda-tanda pokok benda ini adalah sebagai berikut:Mariam Darus Badrul Zaman, Mencari Sistem Hukum Benda nasional, (Bandung: Alumni, 1983), hal 30.
  • Hak kebendaan adalah absolut. Artinya hak ini dapat dipertahankan terhadap setiap orang. Pemegang hak berhak menuntut setiap orang yang mengganggu haknya.
  • Hak kebendaan jangka waktunya tidak terabatas.
  • Hak kebendaan mempunya droit de suit artinya hak itu mengikuti bendanya di dalam tangan siapa pun benda itu berada. Jika ada beberapa hak kebendaan diletakkan diatas suatu benda, maka kekuatan hak itu ditentukan oleh urutan waktunya.
  • Hak kebandaan mamberikan wewenang yang luas kepada pemiliknya hak itu dapat dialihkan, diletakkan sebagai jaminan, disewakan atau dipergunakan sendiri.


Dapat dikatakan hak kebendaan itu mempunyai sifat yang mutlak karena yang berhak atas benda yang menjadi objek hukum, mempunyai kekuasaan tertentu untuk mempertahankan hak tersebut terhadap siapapun juga.

Macam-macam Benda Benda dapat dibedakan atas:

  • Benda berwujud dan tidak berwujud (pasal 503 KUHPerdata)
  • Benda bergerak dan tidak bergerak (pasal 504 KUHPerdata)
  • Benda dapat dipakai habis dan tidak dapat dipakai habis (pasal 505 KUHPerdata)
  • Benda yang sudah ada dan yang akan ada (pasal 1334 KUHPerdata)
  • Benda dalam perdagangan dan di luar perdagangan (pasal 537, pasal 1444 dan pasal 1445 KUHPerdata)
  • Benda yang dapat dibagi dan benda yang tidak dapat dibagi (pasal 1296 KUHPerdata)
  • Benda terdaftar dan tidak terdaftar (Undang-undang hak tanggungan, Undang-undang jaminan fidusia)
  • Benda atas nama dan tidak atas nama (Pasal 613 KUHPerdata jis Undang-undang Pokok Agraria dan Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah).


Di atas ini merupakan berbagai macam jenis benda. Pada skripsi ini difokuskan pada esensi pada benda tidak begerak yang mana berguna sebagai jaminan apabila terjadi wanprstai dalam hutang piutang.


Benda Tidak Bergerak
Ketentuan mengenai jenis dan macam –macam benda tidak bergerak menurut kitab undang – undang hukum perdata dapat diteuakn mulai dari perumusan Pasal 506 Kitab Undang – undang Hukum Peradata hingga pasal 508 Kitab Undang – undang Hukum Perdata berbunyi sebagai berikut:

Pasal 506
Kebendaan Tidak bergerak ialah:
  • Perkarangan – pekanrangan dan apa yang didirikan di atasnya
  • Penggilingan, kecuali yang dibicarakan dalam pasal 510;
  • Pohon dan tanaman ladang yang dengan akarnya menancap dalam tanah; buah pohon yang belum dipetik, demikian pula barang – barang tambang seperti batu bara, sampah bara dan sebagainya, selama benda-benda itu belum terpisah dan digali oleh tanah;
  • Kayu terbang dari hutan tebangan dan kayu dari pohon-pohon yang terbang tinggi, selama kayu tersebut belum ditebang;
  • Pipa-pipa dan got-got yang diperutukkan guna menyalurkan air dari rumah atau perkarangan; dan pada umumnya segala sesuatu yang tertancap dalam pekarangan atau terpaku dalam bangunan rumah.


Pasal 507
Karena peruntukannya, termasuk dalam paham kebendaan tidak bergerak:
  • Dalam perusahaan pabrik; barang-barang hasil pabrik itu sendiri, penggilingan-penggilingan, penggemblengan besi, dan barang-barang tidak bergerak yang sejenis itu, apitan besi, kwali-kwali pengukusan, tempat api, jambangan-jambangan, tong-tong dan pekakas-pekakas sebagainya yang termasuk dalam asas pabrik, pun sekiranya barang-barang itu tidak tertancap paku;
  • Dalam perumahan: cermin, lukisan dan perhiasan lainnya, sekedar barang – barang itu diletakkan pada papan atau pasanagn batu yang merupakan bagian dinding, pagar atau pelasteran ruangan, pun sekiranya barang-barang itu tidak tertancap atau terpaku;
  • Dalam kepemilikan tanh: lungkang atau timbuna pupuk yang dipergunakan untuk merabuk tanah; kawanan burung merpati ; sarang burung yang dapat dimakan selama belum dipetik; ikan yang ada didalam kolam;
  • Bahan pembangunan gedung berasal dari perombakan gedung; jika diperuntukkan guna mendirikan kembali gedung itu; dan pada umumnya benda-benda yang oleh pemilik telah dihubungkan degan kebendaan tidak bergerak untuk guna dipakai selamanya.


Pemilik dianggap telah berhubungan benda-benda yang demikian kepada kebendaan tidak bergeraknya, bilamana benda-benda itu diletakkan padanya dengan pekerjaan menggali, pekerjaan kayu dan pemasangan batu, atau bilamana kebendaan-kebendaan itu tidak dapat dilepaskan dengan tidak memutus atau merusak bagian dari kebendaan tidak bergerak tadi, di mana benda-benda itu dilekatkannya.

Pasal 508
Yang juga merupakan kebendaan tidak bergerak adala hak sebagai berikut;
  • hak pakai hasi dan hak pakai atas kebendaan tidak bergerak;
  • hak pengabdian tanah;
  • Hak numpang karang;
  • Hak usaha
  • Hak bunga tanah, baik berupa uang, maupun berupa barang;
  • Bunga sepersepuluhan
  • Pajak pekan atau pasar yang diakui oleh pemerintah san hak-hak istimewa yang melekat padanya;
  • Gugatan guna menuntut pengembalian atau penyerahan kebendaan tidak bergerak.



Dari keterangan pasal-pasal di atas dapat memperlihatkan kepada kita semua bahwa, yang secara fisik dianggap sebagai benda tidak bergerak adalah tanah, dan segala sesuatu yang: Kartini Mulyadi dan Gunawan Widjaya, Kebendaan Pada Umumnya, (Bogor: Kencana, 2003), hal 59. 
  • Karena alam;
  • Karena Tindakan Manusia;
  • Karena peruntukan atau tujuannya


Melekat pada tanah, dengan pengertian bahwa benda-benda tersebut dijadikan dan merupakan satu kesatuan denagn tanah, demikian rupa hingga benda-benda tersebut tidak mungkin dapat dipidahkan dari tanah di mana benda tidak bergerak tersbut melekat.

Penggilingan yang ditanam menjadi satu dengan tanah, pohon dan tanaman yang masih menyatu dengan tanah atau perkarangan atau hutan yang belum ditebang, serta pipa dan got untuk menylurkan air melalui tanah sianggap, karena perlekatan sebagai satu kesatuan dengan tanah. Sedangkan jika penggilingan tersebut, belum atau tidak ditanam dan dijadikan satu dengan tanah, sebagai mana dimaksid dalam pasal 501 kitab Undang-undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa:

Kapal-kapal, Perahu-perahu, perahu-perahu tambang, gilingan-gilingan dan tempat –tempat pemandian yang dipasang di perahu atau yang berdiri, terlepas barang benda sejenis adalah kebendaan bergerak.

Adalah termasuk kebendaan bergerak. Demikian juga halnya kayu-kayu hutan yang telah ditebang, yang dengan demikian berarti tidak lagi menyatu dengan tanah atau hutan dimana kayu tersebut semula berada juga dianggap dan dinyatakan sebagai benda bergerak.

Komaria, SH, M,Si berkesimpulan, bahawa banda-benda tidak bergerak dapat dibedakan menjadi:Komariah, Hukum Perdata (edisi revisi), Cetakan Keempat, (Malang: UMM yang mey Press, 2005), hal 90-91.
  1. Benda tak bergerak menurut sifatnya, misalnya tanah dan sesuatu yang melekat diatasnya seperti rumah, pohon atau tumbuh-tumbuhan
  2. Benda tidak bergerak karena tujuannya, misalnya mesin atau alat-alat yang dipakai di pabrik. Benda-benda ini sebenarnya adakah benda bergerak, tetapi oleh pemeliknya dalam pemakaiannya diikatkan pada benda yang tidak bergerak yang merupakan benda pokok.
  3. Benda tidak bergerak menurut ketentuan undang-undang yang berupa hak-hak atas benda-benda tidak bergerak, misalnya:hak memungut hasil dan hak pakai atas benda tidak bergerak, hipotik, dan hak tangguangan atas tanah.


Menurut Riduan Syahrani, SH mengatakan benda tidak begerak adalah:Riduan Syahrini, Seluk – Beluk dan Asas – Asas Hukum Perdata, (Bandung: Alumni, 1992), hal 118-119.

1. Benda yang menurut sifatnya tak bergerak yang di bagi lagi menjadi 3 macam: 
  • tanah
  • segala sesuatu yang bersatu dengan tanah karena tumbuh dan berakar serta bercabang seperti tumbuh-tumbuhan, buah-buahan yang masih belum dipetik dan sebagainya;
  • segala sesuatu yang bersatu dengan tanah karena didirikan di atas tanah itu yaitu karena tertanam dan terpaku.


2. Benda yang menurut tujuannya / tujuan pemakaiannya supaya bersatu dengan benda tak bergerak sub 1 seperti:
  • Pada pabrik : segala mesin-mesin, ketel-ketel dan alat –alat lain yang dimaksudkan supaya terus menerus berada disitu untuk dipergunakan dalam menjalankan pabrik
  • Pada suatu perkebunan: segala sesuatu yang dipergunakan sebagai rabuk bagi tanah, ikan dalam kolam, dan lain-lain
  • Pada rumah kediaman: segala kaca, tulisan-tulisan, dan lain-lain serta alat-alat untuk menggantungkan barang-barang itu sebagai bagian dari dinding;
  • Barang-barang reruntuhan dari sesuatu bangunan, apabila dimaksudkan untuk dipakai guna mendirikan lagi bangunan itu.


3. Benda yang menurut penetapam undang-undang sebagai benda tak bergerak, seperti:
  • Hak-hak atau penagihan mengenai suatu benda yang tak bergerak
  • Kapal-kapal yang berukuran 20 meter kubik ke atas (dalam hukum perniagaan)

Daftar Pustaka Makalah Benda

Pengertian Benda Definisi Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata dan Macamnya Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment