Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Friday, 27 May 2016

Pengertian Department Store Faktor Pendukung Citra Toko

Pengertian Department Store - Secara definitif pengecer atau toko pengecer adalah sebuah lembaga yang melakukan kegiatan usaha menjual barang kepada konsumen akhir untuk keperluan pribadi (nonbisnis) Swastha (dalam Suryandari, 2003). Pengertian tentang perdagangan eceran yang hampir sama juga dikemukakan oleh Meyer (dalam Suryandari 2003) sebagai semua fungsi atau kegiatan yang melibatkan penjualan (atau sewa) barang dan jasa kepada pengguna akhir, termasuk rumah tangga, perorangan, dan lainnya yang membeli barang atau jasa untuk konsumsi akhir. 


Menurut metode operasinya, perdagangan eceran dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu perdagangan eceran dalam toko dan perdagangan eceran tanpa toko. Masing-masing golongan meliputi beberapa perdagangan eceran antara lain perdagangan eceran dalam toko yang terdiri dari perdagangan eceran dengan servis penuh, perdagangan eceran supermarket, perdagangan eceran dengan potongan. Sedangkan perdagangan eceran tanpa toko meliputi penjualan melalui tenaga penjualan di luar toko, penjualan melalui pos, penjualan dengan mesin otomatis. Jenis-jenis utama operasi eceran meliputi, department store, toko khusus, pasar swalayan, toko kebutuhan sehari-hari, toko obat, toko diskon, dan restoran (Lamb, Hair dan McDaniel, 2001).

Department store merupakan jenis bisnis eceran yang menyediakan variasi produk belanja dan produk-produk khusus secara luas, termasuk pakaian, kosmetik, peralatan rumah tangga, alat-alat rumah tangga dan mebel. Pembelian biasanya dilakukan di masing-masing bagian diperlakukan sebagai pusat pembelian terpisah agar ekonomis dalam promosi, pembelian, pelayanan, dan pengawasan. Masing-masing bagian biasanya dikepalai oleh seorang buyer, yang tidak saja memilih produk dagangan untuk bagiannya tetapi juga bertanggung jawab atas keseluruhan promosi dan personil (Lamb, Hair dan McDaniel, 2001).

Dari uraian di atas, department store merupakan salah satu jenis bisnis eceran yang menjual produk berupa makanan maupun nonmakanan dimana pembelian dilakukan pada bagian masing-masing dan setiap bagian dikepalai oleh seorang buyer.

Pengertian Citra Department Store 

Citra suatu toko merupakan faktor fungsional dan faktor psikologis yang  dirasakan oleh konsumen ketika berada di dalam toko (Loudon dan Bitta, 1993). Citra toko diartikan sebagai apa yang dipikirkan konsumen tentang toko.

Termasuk di dalamnya persepsi dan sikap yang didasarkan pada sensasi dari rangsangan yang berkaitan dengan toko yang diterima melalui kelima indera. Merupakan atribut toko yang diterima oleh benak konsumen melalui pengalaman pada toko tersebut (Omar, 1999).

Citra toko diekspresikan sebagai fungsi atribut toko yang dievaluasi dan dibandingkan satu sama lain. Dilihat sebagai kekompleksan persepsi konsumen terhadap toko pada atribut yang berbeda (Ghosh, 1994).

Citra toko adalah kepribadian sebuah toko. Kepribadian atau citra toko menggambarkan apa yang dilihat dan dirasakan oleh konsumen terhadap toko tertentu (Simamora, 2003).

Defenisi tentang citra toko yang lebih luas dikemukakan oleh Martineu (dalam Engel, Blackwell dan Miniard, 1995) yaitu cara dimana sebuah toko didefenisikan di dalam benak konsumen, sebagian oleh kualitas fungsionalnya dan sebagian lagi oleh pancaran cahaya atribut psikologis.

Mengacu dari beberapa defenisi mengenai citra toko diatas, maka citra department store dapat didefenisikan sebagai suatu kesan termasuk persepsi dan sikap yang didasarkan pada sensasi rangsangan toko yang dimiliki oleh konsumen maupun publik terhadap suatu department store sebagai suatu refleksi atas evaluasi department store yang bersangkutan.


Faktor Pendukung Citra Toko

Menurut Simamora (2003), dua faktor yang mendukung citra toko yaitu external impression dan internal impression.

a. External Impression
Menurut Simamora (2003) secara eksternal penempatan lokasi toko, desain arsitek, penempatan logo, pintu masuk, serta etalase muka toko merupakan bagian dari citra suatu toko. Atribut-atribut tersebut termasuk salah satu alat komunikasi nonverbal dalam menyampaikan citra toko yang diinginkan oleh retailer kepada konsumennya. Citra toko sangat tergantung pada kemampuan manajemen untuk melakukan desain toko termasuk desain eksternal. Desain eksternal ini akan menumbuhkan suatu kesan tertentu kepada pengunjung.

Pentingnya penyampaian citra toko yang benar didasarkan pada kepercayaan bahwa citra toko menolong penempatan posisi suatu retailer dibandingkan dengan para pesaingnya.

Dalam penyampaian pesan yang tepat, masalah yang dihadapi adalah bagaimana sebuah retailer mampu menggunakan atribut-atribut eksternal secara maksimal sehingga konsumen dapat menyerap apa yang retailer ingin mereka lihat dan rasakan. Kesan yang masuk pertama kali di benak konsumen pada umumnya adalah semua atribut eksternal toko. Kesan yang pertama kali inilah yang penting karena hal ini dapat membedakan sebuah retailer dengan pesaingnya (Simamora, 2003).

b. Internal Impression
Simamora (2003) menyatakan secara internal, citra sebuah toko dapat diciptakan menurut warna toko, bentuk toko, ukuran toko, penempatan departemen, pengaturan lalu lintas pengunjung, pengaturan penempatan display, penggunaan lampu, serta pemilihan perlengkapan toko. Khusus pemilihan citra toko secara internal, sebuah retailer harus memperhatikan target pasar yang dituju. Karakteristik konsumen yang berbeda-beda mengharuskan sebuah retailer harus memahami semua karakteristik konsumen sehingga bisa memprioritaskan manajemen toko disesuaikan dengan kelompok pelanggan yang paling potensial bagi retailer. Citra yang ditujukan oleh sebuah retailer belum tentu cocok untuk semua orang. Oleh karena itu, citra toko harus diciptakan sesuai dengan kebutuhan psikologis dan kebutuhan fisik dari target pasar yang dituju (Simamora, 2003).

Berdasarkan uraian di atas, terdapat dua faktor yang menjadi pendukung citra toko, di antaranya external impression yang mencakup secara eksternal penempatan lokasi toko, desain arsitek, tampak muka toko, penempatan logo, pintu masuk, serta etalase muka toko yang merupakan bagian dari citra suatu toko. Faktor pendukung citra toko yang kedua adalah internal imppression yang mencakup warna toko, bentuk toko, ukuran toko, penempatan departemen, pengaturan lalu lintas pengunjung, pengaturan penempatan display, penggunaan lampu, serta pemilihan perlengkapan toko.

4. Dimensi Citra Department Store 
Citra pengecer diukur melintasi beberapa dimensi yang mencerminkan  atribut yang mencolok. Engel, Blackwell dan Miniard (1995) menyatakan bahwa citra pengecer mempunyai enam dimensi, yaitu : lokasi, keragaman, harga, iklan dan promosi penjualan, personil toko dan pelayanan. Sedangkan pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Hildebrand (dalam Suryandari, 2003) yang menyatakan bahwa citra Department Store dibangun oleh tiga dimensi utama, yaitu dimensi kualitas produk, dimensi harga dan dimensi suasana. Menurut Hansen dan Deutscher (dalam Hawkins, 1986) terdapat sembilan dimensi dari citra toko (store image), yaitu dimensi barang dagangan, dimensi pelayanan, dimensi para langganan, dimensi fasilitas fisik, convenience, promosi, atmosfir toko, institusional, dan posttransaksi.

Pengertian Department Store

Secara garis besar, citra department store dapat diukur melalui dimensi antara lain :

  1. Barang Dagangan
    Dimensi barang dagangan meliputi pemilihan barang yang didagangkan, style, kualitas serta harga dari barang dagangan. 
  2. Pelayanan
    Tersedianya fasilitas angsuran, personil penjualan yang ramah serta mau membantu, kemudahan dalam pengembalian (easy return) barang, tersedianya fasilitas kredit dan jasa pengiriman (delivery). 
  3. Para Langganan
    Banyak konsumen yang berbelanja dan menjadi pelanggan. Jenis orang yang berbelanja di sebuah toko mempengaruhi pilihan karena ada kecendrungan pervasif untuk berusaha menyesuaikan citra diri seseorang dengan citra toko yang bersangkutan. 
  4. Fasilitas Fisik
    Tersedianyan fasilitas fisik yang bersih, layout toko yang menarik dan memberikan kemudahan dalam berbelanja. 
  5. Convenience
    Lokasi yang strategis dan mudah dijangkau serta tersedianya fasilitas parkir yang luas dan mudah. 
  6. Promosi
    Menyediakan promosi dalam bentuk periklanan mengenai produk dan jasa yang ditawarkan. 
  7. Atmosfir Toko
    Perancangan secara sadar atas ruang untuk menciptakan efek tertentu yang serasi pada pembeli. 
  8. Institusional
    Memiliki reputasi yang baik. 
  9. Posttransaksi
    Memberikan pelayanan dan kepuasan setelah penjualan. 


Daftar Pustaka Makalah Department Store

Lamb, C.W., Hair, J.F., McDaniel, C. (2001). Pemasaran Buku 1. Jakarta : Salemba Empat.

Lamb, C.W., Hair, J.F., McDaniel, C. (2001). Pemasaran Buku 2. Jakarta : Salemba Empat.

Loudon, D.L, Bitta, A. J. D. (1993). Consumer Behavior 4th edition. Singapura : Mc Graw Hill.

Engel, J. F., Blackwell, R. D., & Miniard, P.W. (1995). Perilaku konsumen, Edisi keenam (terjemahan). Jakarta: Binarupa Aksara

Ghosh, A. (1994). Retailing Management. Chicago : Dryden Press

Suryandari, R.I. (2003). Analisis Pengaruh Citra Supermarket Terhadap Loyalitas Konsumen. [Online]. Diakses pada tanggal 19 Juli 2008 melalui http://mm.uns.ac.id/jurnal.php?ket=detail&did=451

Hawkins, D. I., Best, R. J., & Coney, K. A. (1986). Consumer behavior. Bussiness Publication, Inc.

Simamora, B. (2003). Membongkar kotak hitam konsumen. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Omar, O. (1999). Retail Marketing. London : Pitman Publishing

Pengertian Department Store Faktor Pendukung Citra Toko Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment