Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Thursday, 17 September 2015

Pengertian Etnis Tionghoa di Indonesia Nilai Sosial Budaya

Etnis Tionghoa di Indonesia berperan penting dalam perjalanan sejarah Indonesia jauh sebelum Republik Indonesia  dideklarasikan dan terbentuk. Sejak berdirinya Partai Tionghoa Indonesia, beberapa orang Tionghoa seperti Kho Sien Hoo bergabung dengan gerakan kemerdekaan. Setelah Negara Indonesia terbentuk, maka secara otomatis etnis Tonghoa yang berkewarganegaraan Indonesia haruslah digolongkan menjadi salah satu suku dalam lingkup Indonesia dan sejajar dengan suku-suku lain (Liem, 2000).  


Kebudayaan dan kehidupan suatu masyarakat banyak dipengaruhi oleh sistem kepercayaannya.Kepercayaan yang dianut etnis Tionghoa adalah Budha, 

Taoisme, dan Konfusionisme dimana ajaran Konfisionisme lebih dominan dianut oalh Tionghoa dimanamengajarkan tentang moralitas yang harus dimiliki oleh setiap orang.Kunci ini dipakai Konfusius untuk mengatur hubungan antar manusia dalam hidup bermasyarakat (Lubis, 1995). 

Nilai-nilai Sosial Budaya Tionghoa

1.  Sistem Kekerabatan 
Etnis tionghoa pada masa lalu membuat sebuah pembaharuan yang berdasarkan ideology-nya.Kehidupan etnis tionghoa sejak dulu telah teratur dan teroganisir. Saat suku lain masih berpindah-pindah tempat, etnis ini sudah mulai menetap. Dimana suatu kelompok sudah mulai hidup menetap, kelompok itu akan lebih berkembang karena waktu yang dimilki-nya untuk kebutuhan hidup lebih banyak. Sehingga hal tersebut dapat memacu berkembangnya teknologi guna melengkapi kebutuhan hidup. 

2.  Pemilihan Jodoh  
Sama halnya dengan suku bangsa lain yang ada di Indonesia, etnis Tionghoa juga memiliki aturan sendiri dalam hal penentuan jodoh guna meneruskan kehidupannya. Mereka sangat pantang melakukan pernikahan dengan marga yang sama, namun guna menjaga harta keluarga agar kelak tidak jatuh ke tangan orang lain etnis ini mengusahakan adannya pernikahan satu nenek moyang yang berbeda marga. Untuk perkawinan antara pihak laki-laki yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan wanita menjadi sebuah pantangan bilamana pihak laki-laki berasal dari generasi yang lebih muda. Hal ini memiliki filosofi tersendiri, karna di maksudkan bahwa seorang suami haruslah lebih tua dan tinggi derajatnya dari sang istri. Pada masa lalu, saat kerajaan-kerajaan masih banyak berdiri di Indonesia etnis Tionghoa mengadakan ikatan-ikatan terhadap penguasa lokal serta pihak istana.Hal seperti itu dianggap sebagai syarat yang harus ada pada masa itu, karena hal inimenjadi sangat penting untuk keberhasilan perdagangan mereka di pedalaman. 

3.  Perkawinan 
Pada umumnya pernikahan adalah sebuah bagian metamorfosis kehidupan manusia sebagai final kedewasaanya. Dimana seseorang akan memiliki tanggung jawab lain atas kehidupan barunnya. Bagi etnis Tionghoa sendiri pernikahan dianggap sebagai tolak ukur kesuksesan seseorang dalam hidupnnya. Oleh karena itu mereka akan membuat pesta pernikahan ini dengan mahal, mewah, sarat tradisi bahkan rumit. Karena siklus ini merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan setiap insan.Upacara pernikahan pada etnis ini tidak seragam di semua tempat, melainkan tergantung pada tempat diadakannya, adat lain, adat setempat, agama, pengetahuan dan pengalaman mereka masing-masing. Dapat disimpulkan bahwa sebuah pernikahan dalam etnis tionghoa didasarkan kekerabatan, keleluhuran , kemanusiaan dan sebagai pelindung keluarga. 

4.  Adat menetap sesudah menikah  
Dalam adat Tionghoa, ahli waris akan di teruskan oleh anak laki-laki tertua dalam suatu keluarga dan akan meneruskan pemujaan leluhur yang dilakukan oleh ayahnnya. Oleh karena itu pihak wanita yang telah menikah di wajibkan hidup dan tinggal bersama keluarga pihak suami.Karena pada prinsipnya setiap anak di wajibkan untuk tetap berbakti pada orang tua-nya sebelum maupun setelah mereka menikah. Hal ini akan menjadi gambaran bagi generasi seterusnnya dalam berbakti pada orang tuannya. Namun untuk anak laki-laki selanjutnnya diberi kebebasan dalam menentukan tempat tinggalnya sesudah menikah. 

5.  Kedudukan Wanita 
Pada masa lalu para wanita etnis tionghoa mengalami diskriminasi gender yang sangat kuat. Adannya perbedaan perlakuan yang diterimanya sangat berbeda dengan pria. Saat para wanita etnis Tionghoa mulai beranjak dewasa, ia mulai mengalami larangan untuk keluar rumah (di pingit). Dan saat sudah menikah para wanita juga tidak di perkenankan untuk memilih tempat tinggal, melainkan harus tinggal bersama suaminnya serta mereka wajib untuk patuh dan tunduk pada mertuanya.Para wanita juga mendapat larangan untuk mendapat bagian kehidupannya diluar rumah. 

Pada masa kini hal tersebut sudah mulai di tinggalkan, para wanita sudah mulai bergabung dengan perkumpulan-perkumpulan di luar. Selain itu para wanita juga berhak mnedapatkan harta yang sama. Bahkan dalam memuja para leluhur terdahulu telah di warisakan kepadannya, hal ini membuat para suami terkadung harus tinggal bersama dengan istrinnya.Dengan adanya pembaharuan kedudukan wanita saat ini, sehingga kecenderungan untuk memilki anak laki-laki tidak lagi sekuat seperti pada masa lalu. 


Daftar Pustaka Makalah Etnis Tionghoa di Indonesia

Liem, Yusiu. (2000). Prasangka Terhadap Etnis Cina. Jakarta: Djambatan 

Lubis, M. Rajab. (1995).   Pribumi Di Mata Orang Cina. Medan : Pustaka Widyasaran.


Pengertian Etnis Tionghoa di Indonesia Nilai Sosial Budaya Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment