Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Monday, 21 September 2015

Pengertian Evaluasi Hasil Belajar Definisi, Tujuan, Klasifikasi, Penilaian, Syarat, Batas Minimal dan Faktor yang Mempengaruhi

Pengertian Evaluasi Hasil Belajar adalah keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran dan perimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh mahasiswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai mahasiswa (Hamalik, 2008).


Tujuan Evaluasi Hasil Belajar

Mendeskripsikan kecakapan belajar para mahasiswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangan dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya. Dengan pendeskripsian kecakapan tersebut dapat diketahui posisi kemampuan mahasiswa dengan mahasiswa lainnya.

Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah para tingkah laku mahasiswa kea rah tujuan pendidikan yang diharapkan. Keberhasilan pendidikan dan pengajaran penting untuk mengingat perannya sebagai upaya memanusiakan manusia, sehingga mahasiswa menjadi manusia yang berkualitas dalam aspek intelektual, sosial, emosional, moral, dan ketrampilan.

Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi pelaksanaannya. Kegagalan para mahasiswa dalam hasil belajar yang dicapai hendaknya tidak dipandang sebagai kekurangan pada diri mahasiswa itu sendiri, tetapi dapat disebabkan oleh program pengajaran yang diberikan kepadanya atau kesalahan strategi dalam melaksanakannya.

Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak institusi kepada pihak-pihak yang berkepentinga Pihak yang dimaksud meliputi pemerintah, masyarakat, dan para orang tua mahasiswa

Klasifikasi Evaluasi Hasil Belajar

Sistem Pendidikan Nasional menggunakan klasifikasi evaluasi hasil belajar menurut Benyamin Bloom (Sudjana, 2009) yaitu :

Ranah Kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yakni: pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

Ranah efektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.

Ranah Psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yakni gerakan refleks, ketrampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan ketrampilan kompleks, gerakan ekspresif dan interpretatif.

Penilaian Hasil Belajar

Untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar dapat dilakukan melalui tes hasil belajar. Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya, Djamarah (2006) menggolongkan tes hasil belajar menjadi tes formatif, tes subsumatif dan tes sumatif.

Tes formatif digunakan untuk mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap peserta didik terhadap pokok bahasan tersebut. Hasil formatif dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar bahan pengajaran dalam waktu tertentu.

Tes subsumatif meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap peserta didik untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Hasil tes subsumatif dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nili rapor.

Tes sumatif dilakukan untuk mengukur daya serap peserta didik terhadap bahan pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester dan satu atau dua Tahun Akademik. Tujuannya adalah untuk menetapkan tingkat atau tarap keberhasilan belajar peserta didik dalam satu periode belajar tertentu. Hasil tes sumatif dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyusun peringkat (ranking) atau sebagai ukuran mutu institusi.

Syarat-Syarat Evaluasi yang Baik

Memiliki validitas artinya setiap penilaian harus benar-benar mengukur apa yang akan diukur. Suatu tes dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila antara hasil tes dengan pendapat ahli hanya terdapat sedikit perbedaan.

Suatu alat evaluasi harus memiliki rehabilitas, bila menunjukkan ketetapan hasilnya. Dan apabila dilakukan pengukuran beberapa kali akan mendapat skor yang sama bila diukur dengan alat uji yang sama. Reabilitas suatu tes dikatakan tinggi bila realibilitasnya menunjukkan koefisien korelasi 1.00 sedangkan tes yang realibilitasnya rendah memiliki koefisien korelasi 0.00.

Alat evaluasi harus benar-benar mengukur apa yang dikur, tanpa adanya interpretasi yang tidak ada hubungannya dengan alat evalasi itu. Objektivitas dalam penilaian sering dilakukan dengan menggunakan: questioner, essay test, observation, rating scale, checklist, dan alat-alat lainnya.

Suatu alat evaluasi harus efisiensi dan sedapat mungkin dipergunakan tanpa membuang waktu dan uang yang banyak. Suatu alat evaluasi diharapkan dapat digunakan dengan sedikit biaya dan usaha yang sedikit, dalam waktu yang singkat, dan hasil yang memuaskan.Memiliki manfaat bagi pembelajaran dan kepraktisan dalam suatu proses belajar (Sudjana, 2009).

Batas Minimal Hasil Belajar

Menentukan batas minimum keberhasilan belajar merupakan upaya untuk menentukan hasil belajar. Ada beberapa alternatif norma pengukuran tingkat keberhasilan peserta didik setelah mengikuti proses belajar mengajar. Norma-norma pengukuran tersebut adalah norma skala angka dari 0 sampai 10 dan norma skala angka dari 0 sampai 100. Angka terendah yang menyatakan kelulusan atau keberhasilan belajar (passing grade) skala 0-10 adalah 5,5 atau 6, sedangkan untuk skala 0-100 adalah 55 atau 60. Selain norma skala angka, pengukuran prestasi belajar dapat dilakukan melalui simbol huruf-huruf dengan kriteria A, B, C, D dan E. Simbol huruf-huruf dapat dipandang sebagai simbol angka-angka (Syah, 2010).

Tabel 2.3 Batas Minimal Hasil Belajar di Akbid Kholisatur Rahmi Binjai


Faktor- faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hamid (2009) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan menjadi tiga macam, yakni : keefektifan pembelajaran, efisiensi pembelajaran dan daya tarik pembelajaran. Keefektifan pembelajaran biasanya diukur dengan tingat pencapaian pebelajar pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, efisiensi biasanya diukur dengan rasio antara keefektifan dan jumlah waktu/biaya yang terpakai. Aspek ketiga, daya tarik pembelajaran biasanya diukur dengan mengamati kecendrungan pebelajar untuk tetap/terus belajar.

Ada 7 indikator penting yang dapat digunakan untuk mendapatan keefektifan pembelajaran, yaitu 
  1. Kecermatan penguasaan perilaku (tingkat kesalahan kerja). Makin cermat pebelajar menguasai perilaku yang dipelajari, makin efektif pembelajaran. 
  2. Kecepatan unjuk kerja (efisiensi waktu). Makin cepat seorang pebelajar menampilkan hasil kerjanya, semakin efektif pembelajaran. 
  3. Kesesuaian dengan prosedur, pebelajar dikatakan efektif apabila pebelajar dapat menampilkan hasil kerja yang sesuai dengan prosedur baku yang telah ditetapkan. 
  4. Kuantitas hasil kerja mengacu pada banyaknya hasil kerja yang mampu ditampilkan oleh pebelajar dalam waktu tertentu yang telah ditetapkan. 
  5. Kualitas hasil akhir apakah memuaskan atau tidak. 
  6. Tingkat alih belajar yaitu kemampuan pebelajar melakukan alih belajar dari apa yang telah dikuasainya ke hal lain yang serupa. 
  7. Tingkat retensi yaitu jumlah hasil kerja yang masih mampu ditampilkan pebelajar setelah selang beberapa periode waktu. Semakin tinggi retensi maka semakin efetif pembelajaran itu.


Dalam mengukur efisiensi pembelajaran, indikator utama diacukan kepada waktu, personalia, sumber belajar yang dipakai. Efisiensi hanya dapat diukur apabila setiap pebelajar dapat belajar sesuai dengan jumlah waktu yang dibutuhkan. Jumlah personalia yang dilibatkan dalam perancangan, pelaksanaan, penilaian pembelajaran dan juga dipakai untuk mempreskripsikan efisiensi. Penggunaaan sumber belajar lain, selain guru juga dapat dijadikan ukuran tingkat efisiensi pembelajaran, seperti: berupa ruang yang dipakai, apakah melibatkan penggunaan laboratorium, komputer, jumlah buku tes, dan penyampaian buku kerja atau sumber-sumber lain yang ada kaitannya dengan biaya pembelajaran.

Daya tarik sebagai hasil pembelajaran berkaitan dengan daya tarik bidang studi. Namun, daya tarik bidang studi dalam penyampaiannya banyak bergantung pada kualitas pembelajarannya. Pengukuran daya tarik pembelajaran dapat dilakukan dengan mengamati apakah pebelajar ingin terus belajar atau tidak. Kecendrungan pebelajar untuk tetap terus belajar bisa terjadi arena daya tarik bidang studi itu sendiri atau bisa juga karena kualitas pembelajarannya.

Daftar Pustaka Makalah Evaluasi Hasil Belajar

Syah, M. (2006). Psikologi Belajar, edisi 5, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sudjana, N. (2009). Penilaian Hasil Proses BelajarPenilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.edisi 6, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Djamarah, S. B., (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Pengertian Evaluasi Hasil Belajar Definisi, Tujuan, Klasifikasi, Penilaian, Syarat, Batas Minimal dan Faktor yang Mempengaruhi Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment