Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Monday, 21 September 2015

Pengertian Hipertensi Klasifikasi, Respon Penderita, Bahaya, Penatalaksanaan dan Faktor Resiko

Pengertian Hipertensi Adalah - dapat didefinisikan sebagai tekanan darah tinggi persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Brunner & Suddarth, 2001). Ganong (1998) mengatakan bahwa hipertensi adalah peningkatan menetap tekanan arteri sistemik. Jadi tekanan di atas dapat di artikan sebagai peningkatan secara abnormal dan terus menerus pada tekanan darah yang disebabkan satu atau beberapa faktor yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dalam mempertahankan tekanan darah secara normal (Hayens, 2003 ; Dekker, 1996).


Hipertensi terbagi menjadi beberapa jenis seperti hipertensi renal atau Goldblatt yang disebabkan kontriksi salah satu arteri ginjal sehingga terjadi peningkatan tekanan darah yang menetap (Ganong, 1998). Selain itu, kira-kira 20 persen penderita hipertensi mempunyai tekanan darah lebih tinggi di kantor dokter dibandingkan dengan aktivitas normal sehari-hari yang biasa disebut hipertensi jas putih. Pada 90 persen pasien yang mengalami peningkatan tekanan darah yang tidak diketahui penyebabnya biasa disebut menderita hipertensi esensial (Ganong, 1998; Sobel, 1998 ).

Klasifikasi Hipertensi

Klasifikasi hipertensi dilihat berdasarkan peninggian tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik dalam satuan mmHg menurut pedoman Joint National Comitte on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC V) (1993) dibagi menjadi beberapa stadium.

Tabel. 1. Stadium Hipertensi


Diambil dari Joint National Comitte on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC V, 1993)

Respon Penderita Hipertensi

Tekanan darah tinggi seringkali tidak menimbulkan keluhan-keluhan langsung, tetapi lama- kelaman dapat mengakibatkan berbagai penyakit (Dekker, 1996). Menurut Price dan Wilson (2005) bahwa perjalanan penyakit hipertensi sangat perlahan, dalam keadaan ini penderita hipertensi mungkin tak menunjukkan gejala yang spesifik selama bertahun-tahun. Kemudian apabila terjadi gejala pada penderita maka biasanya hanya bersifat non-spesifik, misalnya sakit kepala atau pusing, tetapi masa laten ini menyelubungi perkembangan penyakit sampai terjadi kerusakan organ yang bermakna (Price&Wilson, 2005).

Pada waktu tidur malam hari tekanan darah berada dalam kondisi rendah, sebaliknya tekanan darah dipengaruhi oleh kegiatan harian sehingga bila semakin aktif seseorang maka semakin naik tekanan darahnya, apalagi pada waktu olahraga berat (Hayens, 2003). Dapat dibayangkan semakin tinggi tekanan darah seseorang maka semakin tinggi kekuatan yang mendorong darah dan dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah dan perdarahan (haemmorrhage) yang dapat terjadi di otak dan jantung sehingga dapat mengakibatkan, stroke, gagal jantung bahkan kematian (Hayens, 2003).

Pada penderita hipertensi, faktor tekanan darah memegang peranan penting dalam menentukan boleh tidaknya berolahraga serta takaran dan jenis olahraga yang sesuai dengan kondisi penyakitnya (Hayens,2003). Hal ini sangat penting terutama pada penderita hipertensi berat yang dalam keadaan diam tekanan darahnya sudah sangat tinggi maka apabila bergerak atau melakukan aktifitas fisik yang berat dapat lebih meningkatkan tekanan darahnya sehingga dapat berakibat fatal (Hayens, 2003).

Untuk menghindari hasil penelitian yang bias maka penderita hipertensi tidak boleh mengkonsumsi obat-obatan antihipertensi dan terapi lainnya sehingga sangat berbahaya bila dilakukan pada penderita hipertensi berat dan maligna.

Bahaya Hipertensi

Hipertensi dapat mengakibatkan berbagai macam gangguan pada organ tubuh, bahkan diseluruh dunia terjadi peningkatan kematian yang berhubungan dengan hipertensi. Hal ini dapat terjadi karena penyakit hipertensi jika tidak segera disembuhkan maka dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerusakan arteri di dalam tubuh sampai organ-organ yang mendapatkan suplai darah darinya seperti jantung, otak dan ginjal (Hayens, 2003). Penyakit yang sering timbul akibat hipertensi adalah gagal jantung, stroke, juga gagal ginjal (Dekker, 1996).

Pada jantung, hipertensi adalah faktor resiko pendukung terbesar di seluruh dunia terhadap kejadian penyakit pembuluh darah jantung (Ezzati et al., 2003 dalam Kaplan, 2006). Smith, Odel dan Kernohan (1950 dalam Kaplan, 2006) mengatakan bahwa penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian terbesar yang disebabkan oleh hipertensi. Selain itu hipertensi merupakan faktor resiko ganda kejadian penyakit koroner, termasuk miocard infark, kematian tiba-tiba dan faktor resiko ketiga pada gagal jantung koroner (Kannel, 1996 dalam Kaplan, 2006).

Sementara itu pada otak, hipertensi merupakan penyebab terbesar penyakit stroke yaitu kira-kira 50 persen kasus (Gorelick, 2002 dalam Kaplan, 2006). Pada organ yang lain yaitu ginjal. Bidani & Griffin (2004 dalam Kaplan, 2006) mengatakan bahwa hipertensi mempunyai peran penting terhadap gangguan ginjal, dimana terlihat gejala proteinuria, menurunkan Glomerulus Filtrat Rate (GFR) hingga menyebabkan penyakit gagal ginjal. Dicurigai juga penyakit hipertensi dapat mengakibatkan kelahiran prematur dan kematian yang berhubungan dengan hipertensi arterosklerosis (Agmon, Khandheria, Meissner et al., 2002 dalam Kaplan, 2006). Dari pemaparan diatas, terlihat bahwa hipertensi berdampak negatif pada organ-organ tubuh bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Penatalaksanaan Hipertensi

Penatalaksanaan untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi dapat dilakukan dengan dua jenis yaitu penataksanaan farmakologis atau penatalaksanaan dengan menggunakan obat-obatan kimiawi dan penatalaksanaan non farmakologis atau penatalaksanaan tanpa menggunakan obat-obatan kimiawi.

1. Penatalaksanaan farmakologis
Penatalaksanaan farmakologis adalah penatalaksanaan hipertensi dengan menggunakan obat-obatan kimiawi, seperti jenis obat antihipertensi. Ada berbagai macam jenis obat anti hipertensi pada penatalaksanaan farmakologis, yaitu:

a.  Diuretik
Diuretik adalah obat anti hipertensi yang efeknya mempengaruhi ginjal dengan memperlancar urine untuk meningkatkan ekskresi natrium, klorida dan air yang ada di dalam tubuh sehingga mengurangi volume plasma dan cairan ekstra sel. Dengan demikian maka tekanan darah akan turun akibat berkurangnya curah jantung dan resistensi perifer berkurang serta diikuti oleh vasodilatasi perifer dan berkurangnya volume cairan interstitial yang mengakibatkan berkurangnya kekakuan dinding pembuluh darah dan bertambahnya daya lentur (compliance) vaskular (Dekker, 1996 ; Ganiswara, 1995).

b. Penghambat adrenergik (β-bloker)
Mekanisme kerja obat ini sebagai antihipertensi diperkirakan ada beberapa cara yaitu secara langsung mengurangi kegiatan memompa dari otot jantung dan mengurangi denyut jantung serta kontraktilitas miokard sehingga menyebabkan curah jantung berkurang dan menurunkan jumlah darah yang dikeluarkan jantung maka dengan demikian darah yang dialirkan melalui pembuluh darah ke seluruh tubuh akan berkurang, akibatnya tekanan darah menurun (Ganiswara, 1995). Sedangkan cara lain yaitu dengan menghambat pelepasan norephinephrin melalui hambatan reseptor para sinaps dan menghambat sekresi renin melalui hambatan reseptor β1 di ginjal serta efek sentral yang dapat menurunkan tekanan darah (Dekker, 1996 ; Ganiswara, 1995).

c.  Vasodilator
Obat-obat untuk memperlebar pembuluh darah (vasodilator) dapat menurunkan tekanan darah secara langsung dengan mempengaruhi pembuluh darah untuk melebar yaitu merelaksasikan otot-otot sehingga menurunkan resistensi perifer dan ada juga yang secara tidak langsung dengan merangsang kegiatan otak atau mempengaruhi jaringan syaraf untuk menurunkan tekanan darah (Dekker, 1996 ; Ganiswara, 1995).

d. Penghambat enzim konversi angiotensin (penghambat ACE)
Efek obat ini mengurangi pembentukan angiotensin sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi hormon yang menyebabkan terjadinya ekskresi natrium dan air serta retensi kalium. Akibatnya terjadi penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi (Ganiswara, 1995).

e.  Antagonis kalsium
Antagonis kalsium merupakan salah satu golongan obat antihipertensi (Ganiswara, 1995). Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas), namun obat ini memilki efek samping yang mungkin muncul adalah batuk kering, pusing, sakit kepaladan lemas (Dalimartha, 2008).

Pada tahun 2002 di Amerika Serikat, kebanyakan resep obat digunakan untuk pengobatan hipertensi, yang jumlahnya lebih dari 200 juta resep (Woodwell & Cherry, 2004 dalam Kaplan, 2006). Berbagai jenis obat antihipertensi yang banyak digunakan, ditemukan bahwa resep obat yang terbanyak adalah obat diuretik diikuti dengan Angiotensin Converting Enzyme Inhibitors, β-bloker, dan

Calcium Channel Blocker, kemudian Angiotensin Receptor Blockers dan yang terakhir α-blockers (Greving, Denig, & Van der Veen et al., 2004 dalam Kaplan, 2006).

Akan tetapi semua obat-obat diatas bertambah manfaatnya jika ditunjang oleh pengobatan nonfarmakologis ( modifikasi gaya hidup). Jadi bila tidak teliti dalam menaati ketentuan-ketentuan modifikasi gaya hidup yang telah diberikan, maka keseluruhan pengobatan itu tidak akan ada artinya (Dekker, 1996).

2. Penatalaksanaan non farmakologis
Penatalaksanaan non farmakologis dengan modifikasi gaya hidup sangat penting dalam mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam mengobati tekanan darah tinggi (Ridwanamiruddin, 2007). Penatalaksanaan hipertensi dengan nonfarmakologis terdiri dari berbagai macam cara modifikasi gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah yaitu:

a.  Mempertahankan berat badan ideal
Mempertahankan berat badan ideal sesuai Body Mass Index (BMI) dengan rentang 18,5-24,9 kg/m2 (Kaplan, 2006). BMI dapat diketahui dengan membagi berat badan anda dengan tinggi badan anda yang telah dikuadratkan dalam satuan meter. Dekker (1996) mengatakan bahwa hal ini dapat dilakukan dengan cara jangan makan terlalu banyak, karena berat badan yang berlebihan juga menambah jumlah keseluruhan darah. Mengatasi obesitas (kegemukan) juga dapat dilakukan dengan melakukan diet rendah kolesterol namun kaya dengan serat dan protein (pfizerpeduli.com), dan jika berhasil menurunkan berat badan 2,5-5 kg maka tekanan darah diastolik dapat diturunkan sebanyak 5 mmHg (Radmarssy, 2007).

b. Kurangi asupan natrium (sodium)
Mengurangi asupan natrium dapat dilakukan dengan cara diet rendah garam yaitu tidak lebih dari 100 mmol/hari (kira-kira 6 gr NaCl atau 2,4 gr garam /hari) (Kaplan, 2006). Jumlah yang lain dengan mengurangi asupan garam sampai kurang dari 2300 mg (1 sendok teh) setiap hari. Pengurangan konsumsi garam menjadi 1/2 sendok teh/hari, dapat menurunkan tekanan sistolik sebanyak 5 mmHg dan tekanan diastolik sekitar 2,5 mmHg (Radmarssy, 2007). Selain itu bisa juga dengan hitungan mengurangi makan garam menjadi < 2,3 gr natrium atau < 6 gr NaCl sehari (Ganiswara, 1995; pfizerpeduli.com).

c.  Batasi konsumsi alkohol
Dalam hal ini membatasi konsumsi alkohol hingga tidak lebih dari 1 oz (30 ml) dari etanol ( contoh, 24 oz (720 ml) bir, 10 oz (300 ml) anggur, 2 oz (60 ml) 100 proof wiski)/hari pada pria dan tidak lebih dari 0,5 oz (15 ml) etanol/hari pada wanita dan tergantung berat badan setiap orang (Kaplan, 2006 ; Ganiswara, 1995). Radmarssy (2007) mengatakan bahwa konsumsi alkohol harus dibatasi karena konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah. Para peminum berat mempunyai resiko mengalami hipertensi empat kali lebih besar dari pada mereka yang tidak minum minuman beralkohol.

d. Makan K dan Ca yang cukup dari diet
Menurut rekomandasi dari JNC V diet tinggi kalium (mencukupi pemeliharaan serum K normal, asupan sebaiknya≥ 60 mEq/hari) diperlukan oleh pasien hipertensi namun sebaiknya tidak direkomendasikan kepada pasien dengan hiperkalemik sebelum terapi (Sobel, 1998). Pertahankan asupan diet potassium (>90 mmol (3500 mg)/hari) dengan cara konsumsi diet tinggi buah dan sayur dan diet rendah lemak dengan cara mengurangi asupan lemak jenuh dan lemak total (Kaplan, 2006).

Kalium dapat menurunkan tekanan darah dengan meningkatkan jumlah natrium yang terbuang bersama air kencing. Dengan setidaknya mengonsumsi buah-buahan sebanyak 3-5 kali dalam sehari, seseorang bisa mencapai asupan potassium yang cukup (Radmarssy, 2007). Diet kalsium yang lebih tinggi hal ini sangat baik terutama pasien hipertensi yang juga mempunyai resiko osteoporosis namun harus diperhatikan pada pasien yang memiliki penyakit batu ginjal kalsium (Sobel, 1998).

e.  Menghindari merokok
Merokok memang tidak berhubungan secara langsung dengan timbulnya hipertensi, tetapi merokok dapat meningkatkan resiko komplikasi pada pasien hipertensi seperti penyakit jantung dan stroke, maka perlu dihindari mengkonsumsi tembakau (rokok) karena dapat memperberat hipertensi (Dalimartha, 2008). Seseorang yang menderita penyakit hipertensi memiliki efek yang lebih buruk dari rokok jika dibandingkan dengan yang tidak menderita penyakit hipertensi (Dekker, 1996 ; Ganiswara, 1995).

Nikotin dalam tembakau membuat jantung bekerja lebih keras karena menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan frekuensi denyut jantung serta tekanan darah (Sheps, 2005). Maka pada penderita hipertensi dianjurkan untuk menghentikan kebiasaan merokok (pfizerpeduli.com).

f.  Penurunan stress
Stress memang tidak menyebabkan hipertensi yang menetap namun jika episode stress sering terjadi dapat menyebabkan kenaikan sementara yang sangat tinggi (Sheps, 2005). Perasaan gelisah dapat mengakibatkan ketegangan dan emosi terus menerus sehingga dapat meningkatkan tekanan darah. Usahakan dapat tidur dan beristirahat secukupnya untuk mempertahankan kondisi badan, karena tekanan darah menurun pada waktu tidur, lebih rendah dari pada waktu siang hari (Dekker, 1996). Menghindari stress dengan menciptakan suasana yang menyenangkan bagi penderita hipertensi dan memperkenalkan berbagai metode relaksasi seperti yoga atau meditasi yang dapat mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah (pfizerpeduli.com).

g.  Terapi masase (pijat)
Menurut Dalimartha (2008), pada prinsipnya pijat yang dilakukan pada penderita hipertensi adalah untuk memperlancar aliran energi dalam tubuh sehingga gangguan hipertensi dan komplikasinya dapat diminimalisir, ketika semua jalur energi terbuka dan aliran energi tidak lagi terhalang oleh ketegangan otot dan hambatan lain maka risiko hipertensi dapat ditekan.

Penatalaksanaan yang telah dikemukakan diatas bertujuan untuk menurunkan tekanan darah dengan mengurangi jumlah darah, mengurangi kegiatan jantung memompa, dan mengurangi mengerutnya dinding-dinding pembuluh nadi halus sehingga tekanan pada dinding-dinding pembuluh darah berkurang dan aliran darah menjadi lancar sehingga tekanan darah akan menurun (Dekker, 1996).

Faktor Resiko Hipertensi

Ada empat faktor resiko utama yang tidak dapat diubah dan tidak dapat dikendalikan pada hipertensi.

1. Ras
Data dari Third National Health and Nutrition Examination Survey

(NHANES III, 1988-1991) menunjukkan bahwa jumlah penderita hipertensi berkulit hitam 40% lebih tinggi dibangdingkan dengan yang berkulit putih. Diantara orang berusia 18 tahun ke atas, perbandingan jumlah penderita hipertensinya adalah 32,4% berkulit hitam dan 23,3% berkulit putih (Sheps, 2005).

Di Amerika Serikat, angka tertinggi untuk penyakit hipertensi adalah pada orang berulit hitam yang tinggal di negara-negara bagian sebelah tenggara.Pada golongan ini, hipertensi biasanya timbul pada usia lebih muda dibandingkan dengan orang berkulit putih, bahkan perkembanganyya cenderung lebih cepat dan menonjol (Sheps, 2005).

2. Usia
Seiring bertambahnya usia maka resiko untuk menderita penyakit hipertensi juga semakin meningkat. Meskipun penyakit hipertensi bisa terjadi pada segala usia, namun paling sering dijumpai pada orang berusia 35 tahun ke atas. Di antara orang amerika baik yang berkulit hitam maupun berkulit putih yang berusia 65 tahun ke atas, setengahnya menderita penyakit hipertensi. (Sheps, 2005).

Peningkatan tekanan darah sesuai dengan pertambahan usia dan hal ini merupakan fisiologis tubuh. Peningkatan tekanan darah ini disebabkan oleh perubahan fisiologis pada jantung, pembuluh darah, dan hormon (Sheps, 2005).

3. Riwayat keluarga
Hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan. Jika salah satu dari orang tua menderita penyakit hipertensi maka sepanjang hidup anaknya akan mempunyai 25% kemungkinan menderita hipertensi. Jika kedua orang tua menderita penyakit hipertensi maka kemungkinan anaknya menderita penyakit hipertensi menjadi 60%. Penelitian terhadap penderita hipertensi pada orang yang kembar dan anggota keluarga yang sama menunjukkan bahwa kasus-kasus tertentu ada komponen keturunan yang berperan (Sheps, 2005).

4. Jenis kelamin
Hipertensi banyak diderita pada jenis kelamin laki-laki baik pada dewas awal maupun dewasa tengah. Namun, setelah usia 55 tahun ketika wanita mengalami menopause, hipertensi menjadi lebih lazim dijumpai pada wanita. Diantara penduduk Amerika yang berusia 18 tahun keatas, 34% pria dan 31% wanita berkulit hitam menderita penyakit hipertensi. Pada pria berkulit putih 25% dan pada wanita berkulit putih 21% menderita penyakithipertensi. Sedangkan pada keturunan Asia dan suku-suku di Kepulauan Pasifik ditemukan hanya 10% pria dan 8% wanita menderita penyakit hipertensi.

Daftar Pustaka Makalah Hipertensi

Hayens, B, dkk. (2003). Buku Pintar Menaklukkan Hipertensi. Jakarta: ladang Pustaka.

Sobel, B. J. (1998). Hipertensi; Pedoman Klinis diagnosis dan terapi. Jakarta: Hipokrates.

Sheps, S. G. (2005). Mayo clinic Hipertensi; Mengatasi Tekanan Darah Tinggi. Jakarta: Intisari Mediatama.

Dekker, E. (1996). Hidup dengan Tekanan Darah Tinggi. Jakarta: CV. Mulia Sari.

Ganiswara. (1995). Farmakologi dan Terapi edisi 4. Jakarta: Gaya Baru.

Dalimartha, S. (2008). Care yourself, hipertensi. Jakarta: Penebar Plus+.

Radmarssy. (2007). Meredam Hipertensi dengan Aerobik. Diambil pada tanggal 10 Oktober 2009 dari  http://radmarssy.wordpress.com/2007/02/25/meredam-hipertensi-dengan- aerobik/.

Kaplan. (2006). Kaplan’s Clinical Hypertension, Ninth Edition, Lippincott: Williams & Wilkins.

Price, S. (1997). Aromaterapi bagi profesi kesehatan. Jakarta: EGC.

Brunner & Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8. Jakarta: EGC.

Pengertian Hipertensi Klasifikasi, Respon Penderita, Bahaya, Penatalaksanaan dan Faktor Resiko Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment