Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Pengertian Identitas Sosial Definisi Komponen Pembentuk dan Karakter

Pengertian Identitas Sosial - Taylor, Peplau, Sears (2009) menyatakan bahwa pengetahuan tentang diri berasal dari banyak sumber, dan banyak dari pengetahuan diri kita berasal dari sosialisasi. Sosialisasi adalah bagaimana seseorang mendapat aturan, standar, dan nilai kelompoknya, dan kulturnya.


Selanjutnya Ellemers (1993) menyatakan bahwa teori identitas sosial merupakan identifikasi ingroup, yang merupakan sumber penjelasan terjadinya konflik antar kelompok. Konsep identitas sosial digunakan untuk merujuk ke bagian dari konsep-diri yang berasal dari kategori sosial orang yang terkait. Ellemers, Kortekaas & Ouwerkerk (1999) juga menyatakan bahwa ada 3 komponen yang berkontribusi dalam pembentukan identitas sosial, yaitu cognitive (kesadaran kognitif seseorang mengenai keanggotaan nya dalam sebuah kelompok – self categorization). Kedua, evaluative component (nilai konotasi positif atau negatif yang melekat pada keanggotaan kelompok – group self esteem). Yang ketiga, emotional component (rasa keterlibatan emosional dengan kelompok – affective commitment).

Definisi Identitas Sosial

Menurut Burke & Stets (1998), identitas sosial merupakan kategorisasi-diri dalam hal kelompok, dan lebih terfokus pada makna yang terkait dalam menjadi anggota kategori sosial. Dengan penekanan yang lebih besar pada identifikasi kelompok, berfokus pada hasil kognitif seperti ethnosentrisme, atau kohesivitas kelompok.

Kemudian Tajfel (dalam Taylor, Peplau & Sears, 2009) menyatakan bahwa social Identity adalah bagian dari konsep diri individu yang berasal dari keanggotaannya dalam satu kelompok sosial (atau kelompok-kelompok sosial) dan nilai serta signifikasi emosional yang ada dilekatkan dalam keanggotaan itu.

Komponen Pembentuk Identitas Sosial

Dinamika identitas sosial lebih lanjut, ditetapkan secara lebih sistematis oleh Tajfel dan Turner pada tahun 1979. Mereka membedakan tiga proses dasar terbentuknya identitas sosial, yaitu social identification, social categorization, dan social comparison.

a. Identification
Ellemers (1993) menyatakan bahwa identifikasi sosial, mengacu pada sejauh mana seseorang mendefinisikan diri mereka (dan dilihat oleh orang lain) sebagai anggota kategori sosial tertentu. Posisi seseorang dalam lingkungan, dapat didefinisikan sesuai dengan “categorization” yang ditawarkan. Sebagai hasilnya, kelompok sosial memberikan sebuah identification pada anggota kelompok mereka, dalam sebuah lingkungan sosial. Ketika seseorang teridentifikasi kuat dengan kelompok sosial mereka, mereka mungkin merasa terdorong untuk bertindak sebagai anggota kelompok, misalnya, dengan menampilkan perilaku antar kelompok yang diskriminatif. Aspek terpenting dalam proses identification ialah, seseorang mendefinisikan dirinya sebagai anggota kelompok tertentu. Selanjutnya Ellemers, , Kortekaas & Ouwerkerk (1999) menambahkan bahwa identification terutama digunakan untuk merujuk kepada perasaan komitmen afektif kepada kelompok (yaitu komponen emosional), daripada kemungkinan untuk membedakan antara anggota pada kategori sosial yang berbeda (komponen kognitif).

Menurut Tajfel (dalam Hogg, 2003), identifikasi merupakan identitas sosial yang melekat pada individu, mengandung adanya rasa memiliki pada suatu kelompok, melibatkan emosi dan nilai-nilai signifikan pada diri individu terhadap kelompok tersebut. Dalam melakukan identifikasi, individu dipacu untuk meraih identitas positif (positive identity) terhadap kelompoknya. Dengan demikian akan meningkatkan harga diri (self esteem) individu sebagai anggota kelompok. Sementara demi identitas kelompok (identitas sosial) nya, seseorang atau sekelompok orang rela melakukan apa saja agar dapat meningkatkan gengsi kelompok, yang dikenal dengan istilah in-group favoritsm effect. Tajfel (dalam Hogg, 2003) juga menyatakan bahwa dalam melakukan identifikasi, individu cenderung memiliki karakteristik ethnocentrism pada kelompoknya.

Hogg & Abrams (1990) juga menyatakan bahwa dalam identifikasi, ada pengetahuan dan nilai yang melekat dalam anggota kelompok tertentu yang mewakili identitas sosial individu. Selain untuk meraih identitas sosial yang positif, dalam melakukan identifikasi, setiap orang berusaha untuk memaksimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri dalam suatu kelompok.

b.  Categorization
Ellemers (1993) menyatakan bahwa categorization menunjukkan kecenderungan individu untuk menyusun lingkungan sosialnya dengan membentuk kelompok-kelompok atau kategori yang bermakna bagi individu. Sebagai konsekuensi dari categorization ini, perbedaan persepsi antara unsur-unsur dalam kategori yang sama berkurang, sedangkan perbedaan antara kategori (out group) lah yang lebih ditekankan. Dengan demikian, categorization berfungsi untuk menafsirkan lingkungan sosial secara sederhana. Sebagai hasil dari proses categorization, nilai-nilai tertentu atau stereotip yang terkait dengan kelompok, dapat pula berasal dari individu anggota kelompok itu juga.

Kategorisasi dalam identitas sosial memungkinkan individu menilai persamaan pada hal-hal yang terasa sama dalam suatu kelompok (Tajfel & Turner, dalam Hogg & Vaughan, 2002). Adanya social categorization menyebabkan adanya self categorization. Self categorization merupakan asosiasi kognitif diri dengan kategori sosial (Burke & Stets, 1998) yang merupakan keikutsertaan diri individu secara spontan sebagai seorang anggota kelompok. Oleh karena itu dalam melakukan kategorisasi, terciptalah conformity, karena memungkinkan individu untuk mempertahankan identitas sosialnya dan mempertahankan keanggotaannya (Tajfel & Turner, dalam Hogg & Abrams, 1990).

Tajfel dan Turner (dalam Hogg, 2003) menyatakan, kategorisasi membentuk identitas sosial yang dapat menjelaskan hubungan antar kelompok.
  1. Kategorisasi menekankan pada hal-hal yang terasa sama di antara anggota kelompok.
  2. Kategorisasi dapat meningkatkan persepsi dalam homogenitas dalam kelompok. Ini lah yang memunculkan streotype dalam kelompok.
  3. Dalam melakukan kategorisasi, anggota kelompok cenderung melakukan polarisasi dua kutub secara ekstrim, kami (ingroup) atau mereka (outgroup). Sehingga setiap anggota kelompok berusaha mempertahankan keanggotaannya dengan melakukan conformity.



c. Social Comparison
Ketika sebuah kelompok merasa lebih baik dibandingkan dengan kelompok lain, ini dapat menyebabkan identitas sosial yang positif. Ellemers (1993). Identitas sosial dibentuk melalui perbandingan sosial. Perbandingan sosial merupakan proses yang kita butuhkan untuk membentuk identitas sosial dengan memakai orang lain sebagai sumber perbandingan, untuk menilai sikap dan kemampuan kita. Melalui perbandingan sosial identitas sosial terbentuk melalui penekanan perbedaan pada hal-hal yang terasa berbeda pada ingroup dan outgroup (Tajfel & Turner, dalam Hogg & Abrams, 1990).

Menurut Hogg & Abrams (1990), dalam perbandingan sosial, individu berusaha meraih identitas yang positif jika individu bergabung dalam ingroup.

Keinginan untuk meraih identitas yang positif dalam identitas sosial ini merupakan pergerakan psikologis dari perilaku individu dalam kelompok. Proses perbandingan sosial menjadikan seseorang mendapat penilaian dari posisi dan status kelompoknya.

Perbandingan sosial dalam tingkah laku antar kelompok, menurut Tajfel (dalam Hogg, 2003), menekankan pada hal-hal berikut:

  1. Penilaian yang ekstrim pada outgroup, dan kelompok minoritas ataupun subdominant lebih menunjukkan diferensiasi daripada kelompok mayoritas atau dominant.
  2. Adanya perbandingan sosial memberikan penekanan tingkah laku yang berbeda antar kelompok (integroup differentiation).
  3. Individu yang berada pada kelompok sub-dominant selalu menaikkan harga diri kelompoknya (identitas sosial), dengan cara menurunkan derajat kelompok lain.

Pengertian Identitas Sosial

Karakter Identitas Sosial

Hogg & Vaughan (2002) menyatakan bahwa identitas sosial diasosiasikan dengan tingkah laku kelompok, yang mempunyai karakteristik umum; ethnocentrism, in-group favoritsm, intergroup differentiation, conformity to in-group norms, dan group stereotype

a. Ethnocentrism
Ethnocentrism adalah sifat khas daripada individu yang menganggap kelompoknya lebih superior. Sehingga menumbuhkan kecenderungan penilaian memandang in-group secara moral lebih baik dan lebih berharga daripada outgroup.

b. In-group favoritsm
In-group favoritsm adalah perilaku yang menyukai dan menilai apa yang ada pada kelompoknya (in-group) melebihi kelompok lain (outgroup). Individu umumnya kan menilai anggota in-group lebih positif. Dengan adanya in-group favoritsm, individu akan mempunyai solidaritas yang kuat dalam kelompoknya.

c. Intergroup differentiation
Tingkah laku yang menekankan perbedaan antar kelompok yang dimilikinya (in-group) dan kelompok lain (outgroup). Perbedaan antar kelompok akan mempengaruhi persepsi sesorang tentang kelompoknya sendiri dan tentang kelompok lainnya. Menurut Tajfel (dalam Hogg & Vaugha, 2002), kelompok dengan kekuasaan yang lebih kecil lebih menyadari perbedaan kekuatannya dan statusnya.

d. Conformity to in-group norms
Konformitas merupakan kecenderungan untuk memperbolehkan suatu perilaku untuk dilakukan individu sesuai dengan norma yang ada di dalam kelompok (in-group) nya. Konformitas merupakan kecenderungan seseorang untuk mengikuti aturan dan tekanan in-group walaupun tidak ada permintaan langsung dari kelompok tersebut agar individu merasa diterima oleh kelompoknya.

e. Group stereotype
Stereotype kelompok merupakan kepercayaan tentang karakteristik kelompok tertentu. Stereotype kelompok bisa positif, bisa negatif. Stereotype merupakan persepsi terhadap suatu kelompok yang kaku (tidak dapat diubah), dan uniform (seragam, sama-sama dimiliki oleh kelompok sejenis).

Karena individu mendapatkan identitas sosial mereka melalui kelompok dimana mereka bergabung, mereka menciptakan ketertarikan dalam mempertahankan atau memperoleh profil in-group yang lebih positif daripada kelompok outgroup yang relevan (mirip).


Daftar Pustaka Makalah Identitas Sosial

Taylor, Shelley E & Peplau Letita Anne & Sears David O. (2009). Psikologi Sosial. Edisi Kedua Belas. Jakarta: Kencana

Burke J. Peter, Stets E. Jan, 1998, Identity Theory And Social Identity Theory. Washington State University

Hogg, Michael A & Abrams, D (1990). Social Identification; A Psychology of Intergroup Relation and Group Process. [On-line] http://books.google.co.id/books?id=50OV4gqcFA0C&printsec=frontcover&dq=Soci al+Identification%3B+A+Psychology+of+Intergroup+Relation+and+Group+Proces s&hl=en&sa=X&ei=kpnnUYr9NMHrrQeAzIHwDQ&redir_esc=y. Diakses pada 16 Juli 2013

Hogg, Michael A & Vaughan Graham M. (2002). Social Psychology. Third Edition. London: Prentice Hall, Pearson Education

Ellemers, Naomi. (1993). The Influence of Socio-structural Variables on Identity Management Strategies. European Review of Social Psychology.

Pengertian Identitas Sosial Definisi Komponen Pembentuk dan Karakter Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment