Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Pengertian Janda Masalah yang Dihadapi Ditinggal Mati Pasangannya Hubungan Dukungan Sosial dengan Kesepian

Pengertian Janda Adalah - Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Chulsum dan Novia (2006) memberikan definisi tentang janda yaitu seorang wanita yang diceraikan atau ditinggal mati suaminya. 

Masa menjanda ini merupakan masa yang umumnya dialami oleh wanita. Ada beberapa hal yang menyebabkannya, yaitu (Ollenburger & Moore, 1996): 
  • Wanita hidup lebih lama daripada pria 
  • Wanita umumnya menikahi pria yang lebih tua dari mereka sendiri 
  • Laki-laki tua lebih mungkin menikah kembali daripada wanita tua 
  • Adanya norma-norma sosial yang kuat  yang menentang wanita tua menikahi pria muda, dan juga norma-norma yang menetang wanita tua menikah lagi. 


Selain itu, Belsky (1997) menambahkan penyebab masa menjanda merupakan masalah umum yang dialami perempuan adalah karena wanita yang telah menjanda cenderung tidak menikah lagi karena merasa bahwa mereka tidak akan pernah menemukan lagi orang yang sebaik suaminya dulu. 

Masalah yang Dihadapi Janda yang Ditinggal Mati Pasangannya 

Ada beberapa dimensi masalah yang dihadapi seorang janda setelah pasangannya meninggal dunia. Secara finansial kematian pasangan selalu menyebabkan kesulitan ekonomi walaupun dalam beberapa kasus istri merupakan ahli waris dari suaminya, namun selalu ada biaya yang harus dikeluarkan misalnya untuk biaya dokter dan pembuatan makam (Kephart & Jedlicka, 1991). Bagi seorang janda, kesulitan ekonomi, dalam hal ini pendapatan dan keuangan yang terbatas, merupakan permasalahan utama yang mereka hadapi (Glasser Navarne, 1999). Karena tidak hadirnya suami sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah bagi keluarga,  seorang perempuan harus mampu mengambil keputusan dan bertanggung jawab sendiri, termasuk mencari nafkah bagi dirinya dan juga anak-anaknya (Suardiman, 2001). 

Dalam permasalahan fisik, tidak mengejutkan jika kematian pasangan dihubungkan dengan perasaan depresi, meningkatnya konsultasi medis, kasus rawat inap di rumah sakit, meningkatnya perilaku yang merusak kesehatan, seperti merokok dan minum-minum, dan meningkatnya resiko kematian pasangan yang ditinggalkan (Santrock, 1995). 

Bagi beberapa perempuan, penyesuaian mereka terhadap kehilangan suami meliputi perubahan terhadap konsep diri  mereka. Peran penting perempuan sebagai seorang istri tidak akan ada lagi dalam kehidupan mereka setelah suaminya meninggal dunia. Perempuan yang telah mendefinisikan dirinya sebagai seorang istri, setelah kematian suaminya mengalami kesulitan untuk mendefinisikan dirinya sebagai seorang janda. Oleh karena itu, bagi seorang perempuan, meninggalnya suami berarti kehilangan orang yang mendukung sef-definition yang dimilikinya (Nock, 1987). 

Kehidupan sosial juga mengalami perubahan. Keluarga dan teman-teman biasanya selalu berada di dekat janda pada masa-masa awal setelah kematian, namun setelah itu mereka akan kembali ke kehidupan mereka masing-masing (Brubaker dalam Papalia, Old & Feldman, 2001). Masalah yang sering muncul adalah tentang hubungannya dengan teman dan kenalannya. Seorang janda sering merasa dilupakan dalam suatu kegiatan sosial oleh pasangan menikah lain karena dia dianggap sebagai ancaman oleh para istri (Freeman, 1984). Penolakan dan penilaian negatif yang berasal dari lingkungan ini dapat menyebabkan janda merasakan kesepian (Freeman, 1984).  

Secara emosional, janda yang telah kehilangan kehilangan suaminya, juga kehilangan dukungan dan pelayanan dari orang yang dekat secara intim dengannya (Barrow, 1996). Selain itu, ada beberapa perempuan yang seolah-olah merasakan simptom-simptom terakhir dari penyakit  suaminya; ada yang mengenakan pakaian suaminya agar merasa nyaman dan dekat dengan suaminya; dan beberapa lainnya tetap memasak dan mengatur meja untuk suaminya walaupun suaminya itu telah meninggal (Heinemann dalam Nock, 1987). Beberapa janda mengatakan mereka tetap melihat dan mendengar suaminya selama setahun ataupun segera mengikuti kematian suaminya. Mereka merasa marah pada suami karena telah meninggalkannya, dan mencari-cari atau mengharapkan nasehat dari suaminya selama beberapa waktu (Caine dalam Nock, 1987). Pada janda, terdapat goncangan  emosi yang mendalam serta perasaan kehilangan, dan yang pasti, ada perasaan kesepian dan suatu keharusan untuk mengatur kembali kehidupan, termasuk juga membangun suatu kehidupan sosial yang baru (Kephart & Jedlicka, 1991). seorang janda akan merasa lebih kesepian lagi ketika dia bereaksi seperti merasa tidak berdaya tanpa suami, selalu larut dalam kesedihannya, merasa bahwa setelah suaminya meninggal dia tidak akan dapat lagi menjalani hidupnya, selalu membutuhkan suami untuk berbagi pekerjaan, merasa takut dan tidak mampu untuk membangun hubungan pertemanan yang baru, serta menghindari interaksi sosial setelah suaminya meninggal dunia.  

Hubungan Dukungan Sosial dengan Kesepian pada Janda yang Ditinggal Mati Pasangannya 

Kematian pasangan hidup biasanya tidak dapat dicegah, yang dampaknya melibatkan kehancuran ikatan yang telah lama dijalin, munculnya peran dan status baru, serta berbagai masalah lainnya. Tidak mengejutkan jika kematian pasangan dihubungkan dengan perasaan depresi, meningkatnya konsultasi medis, kasus rawat inap di rumah sakit, meningkatnya perilaku yang merusak kesehatan, seperti merokok dan minum-minum, dan meningkatnya resiko kematian pasangan yang ditinggalkan (Santrock, 1995). Dayakisni (2003), mengatakan bahwa diantara orang-orang yang tidak menikah (yang belum menikah, ditinggal pasangan karena bercerai dan juga karena kematian), yang paling kesepian adalah seseorang yang menjadi sendiri karena kematian pasangannya. 

Setelah pasangannya meninggal, seorang  janda akan menghadapi beberapa dimensi masalah, yaitu masalah konsep diri,  fisik, finansial, sosial, dan emosional. Ketika menghadapi masalah-masalah ini, seorang janda membutuhkan dukungan sosial yang berasal dari keluarga, teman, tetangga, maupun rekan kerja. Menurut Sarafino (2002) dukungan sosial adalah kenyamanan, perhatian, penghargaan, maupun bantuan dalam bentuk lainnya yang diterimanya individu dari orang lain ataupun dari kelompok.

Pengertian Janda

Ada lima bentuk dukungan sosial yang dapat  diterima oleh individu, yaitu dukungan emosional, penghargaan, instrumental, informasi, dan dukungan kelompok (Sarafino, 2002).  

Hal yang paling penting dari suatu dukungan sosial adalah individu memiliki teman berbicara, memiliki seseorang untuk memberikan nasehat, memiliki seseorang untuk menghibur dan membangkitkan semangat. Jika seorang perempuan merasa terbebani dan memikirkan suatu permasalahan, dia sangat  memerlukan orang lain untuk diajak berbicara dan biasanya suamilah  yang menjadi teman berbagi dan bertukar-pikiran, namun suaminya sudah meninggal. Ketiadaan suami akan menyebabkannya merasa tidak berdaya (An-Nuaimi, 2005). Karena suaminya telah meninggal, seorang janda membutuhkan seseorang untuk berbagi, namun janda juga menghadapi pemasalahan dalam kehidupan sosialnya. Janda yang telah ditinggal mati pasangannya akan mengahadapi masalah sosial. Keluarga dan teman-teman biasanya selalu berada di dekat janda pada masa-masa awal setelah kematian, namun setelah itu mereka akan menjauh darinya dan kembali ke kehidupan mereka masing-masing. Mereka tidak akan selalu ada ketika dibutuhkan (Brubaker dalam Papalia, Old & Feldman, 2001). Dalam hubungannya dengan teman dan kenalannya, seorang janda sering tidak diikutsertakan dalam suatu kegiatan sosial oleh pasangan menikah lain karena dia dianggap sebagai ancaman oleh para istri (Freeman, 1984). Hubungan dengan teman mungkin akan rusak, terutama jika hubungan itu ada  karena ada kaitannya dengan pasangan yang telah meninggal (Belsky, 1990), misalnya seorang janda mungkin tidak akan mengikuti lagi perkumpulan istri-istri di tempat suaminya bekerja dahulu. Perempuan yang menjanda juga mengatakan bahwa mereka sering merasa aneh dan kurang nyaman ketika berada dalam situasi dimana dia harus bersama-sama dengan orang yang berpasangan, yang menyebabkannya semakin terpisah dari lingkungan sosialnya (Matlin, 2004). 

Orang-orang dengan dukungan sosial yang baik berkemungkinan kecil untuk bereaksi secara negatif terhadap masalah-masalah hidup dibandingkan dengan orang-orang yang mendapat dukungan sosial sangat  sedikit (Lahey, 2007). Dalgard (dalam Plotnik, 2005) mengatakan bahwa sistem dukungan sosial yang baik, misalnya memiliki satu atau lebih teman dekat akan mengurangi efek dari kejadian yang menyebabkan seseorang stres dan meningkatkan kesehatan mental individu. Jennison (dalam Plotnik, 2005) mengatakan bahwa kehadiran keluarga dan teman dapat meningkatkan kepercayaan diri individu ketika menghadapi stres sehingga dia merasa mampu untuk mengatasi masalahnya. Orang-orang yang  kehilangan pasangannya berkemungkinan besar untuk melakukan perilaku tidak sehat  jika dia mendapatkan sedikit dukungan. Menurut DiMatteo (1991), janda yang mendapatkan banyak dukungan akan merasa bahwa dia memiliki banyak orang yang dapat dijadikannya teman untuk berbagi sedangkan janda yang mendapatkan sedikit dukungan sosial akan merasa tidak berdaya dalam mengatasi masalahnya dan merasa  tidak ada orang yang memperhatikannya sehingga dia akan merasa tidak puas atas hubungan yang dimilikinya. Baron & Byrne (2000) mengatakan ketika seseorang merasa kekurangan dan tidak puas atas hubungan yang dimilikinya, dia akan kesepian. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dykstra (1995) dapat dilihat bahwa dukungan sosial merupakan faktor penting yang menentukan kesepian yang dialami oleh seseorang yang hidup tanpa pasangan.  


Daftar Pustaka Makalah Janda Masalah yang Dihadapi Ditinggal Mati Pasangannya

Dykstra, Pearl A. (1995) Loneliness among the never and formerly married: The importance of supportive friendships and a desire for independence. The Journals of Gerontology 

Baron & Byrne. (2000).  Social Psychology 9th Ed.  Massachusetts: Pearson Education Company 

Belsky, K. (1990).  Psychology of Aging Theory, Research, and Intervention. California: Brooks/ Cole Publishing Company 

Matlin, M. (2004). The Psychology of Women 5th. Ed. Canada: Wadsworth 

Barrow, G. (1996).  Aging, the individual and Society 6th Ed. USA: West Publishing Company 

Nock, S. (1987). Sociology of The Family. New Jersey: Prentice-Hall, Inc 

Santrock, J. W. (1997) Live Span Development Sixth Edition. USA: Times Mirror Higher Education Group. 

Suardiman, S. (2001). Perempuan Kepala Rumah Tangga. Yogyakarta: Jendela 

Glasser, P. & Navarne, E. (1999). Structural Problem of the Single Parent Family. USA: Minesota Burgess Publishing Company 

Kephart & Jedlicka. (1991). The family, Society, and the Individual 7th Ed. USA: Harper & Row Publishing 

Belsky, J. (1997). The Adult Experience. USA: West Publishing Company 

Ollenburger, J. & Moore, H. (1996). Sosiologi Wanita. Jakarta: Rineka Cipta

Sarafino, E.P . (1994). Health Psychology: Biopsychosocial Interaction (4th  ed.). New York: John Wiley and Sons.

Pengertian Janda Masalah yang Dihadapi Ditinggal Mati Pasangannya Hubungan Dukungan Sosial dengan Kesepian Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment