Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Pengertian Kebijaksanaan Definisi Model Kriteria Sifat dan Perkembangan

Definisi Kebijaksanaan - Paul Baltes mendefinisikan kebijaksanaan sebagai keahlian dalam mengatasi permasalahan mendasar yang berkaitan dengan perilaku dan makna hidup. Menurut Baltes, kebijaksanaan merupakan perpaduan dari intelek dan karakter. Penjelasan Baltes tentang intelek adalah pengetahuan tentang aspek kognitif, motivasi dan emosi dalam perilaku dan pemaknaan hidup (Sternberg & Jordan, 2005).

Robert Sternberg mendefinisikan kebijaksanaan sebagai keseimbangan antara pemahaman individu tentang dirinya sendiri (intrapribadi), orang lain (antarpribadi) dan berbagai aspek kehidupannya (ekstrapribadi) yang dinamakannya sebagai teori kebijaksanaan yang seimbang atau balance theory of wisdom (Sternberg & Jordan, 2005). Menurut Sternberg, elemen inti dari kebijaksanaan adalah kecerdasan praktis (tacit knowledge) yang berorientasi pada perilaku dan membantu individu mencapai tujuan pribadi. Kecerdasan praktis ini hanya dapat diperoleh melalui pengalaman nyata yang dialami langsung oleh individu, bukan berasal dari ilmu yang dibaca dari buku-buku atau pengalaman orang lain yang didengarnya (Sternberg & Jordan, 2005). 

Berdasarkan uraian di atas, definisi kebijaksanaan dapat disimpulkan sebagai keahlian dalam mengatasi permasalahan mendasar yang berkaitan dengan perilaku dan makna hidup serta keseimbangan antara pemahaman individu tentang dirinya sendiri (intrapribadi), orang lain (antarpribadi) dan berbagai aspek kehidupannya (ekstrapribadi). 

Model Kebijaksanaan 

Baltes, dkk. mengembangkan sebuah model untuk menjelaskan kebijaksanaan, yang dinamakan sebagai  Berlin Wisdom Model. Model ini menjelaskan faktor-faktor yang menjadi pemicu (antecedent), hubungan dan konsekuensi, proses, hasil dan berbagai kriteria dari variabel kebijaksanaan (Sternberg & Jordan, 2005). Baltes meninjau kebijaksanaan dari perspektif psikologi perkembangan. Berikut ini adalah model kebijaksanaan yang dikembangkan oleh Baltes, dkk., yaitu: 

Gambar 1.  Berlin Wisdom Model yang dikembangkan oleh Baltes dan rekannya (Sternberg & Jordan, 2005). 

Kriteria Kebijaksanaan 

Menurut Baltes dan Staudinger, ada beberapa kriteria dari kebijaksanaan. Kriteria tersebut dapat dibagi menjadi dua kriteria dasar dan tiga metakriteria (Snyder & Lopez, 2002). Dua kriteria dasar, yaitu kriteria yang wajib dimiliki individu untuk menjadi seorang ahli di bidang apapun, meliputi: 
  1. Memiliki banyak pengetahuan umum (rich factual knowledge), yang meliputi pengetahuan tentang sifat dasar manusia, perkembangan sepanjang kehidupan, hubungan antarpribadi, norma-norma yang berlaku di suatu tempat atau budaya, serta perbedaan individu dalam tahapan perkembangan. 
  2. Memiliki banyak pengetahuan praktis (rich procedural knowledge), yang meliputi kemampuan untuk menerapkan pengetahuan faktual ke dalam kehidupan sehari-hari untuk menyelesaikan berbagai permasalahan hidup, seperti cara menangani konflik kehidupan. 
    Tiga kriteria berikutnya disebut metakriteria karena merupakan kriteria khusus yang harus dimiliki untuk menjadi bijaksana. Adapun ketiga metakriteria tersebut adalah: 
  3. Memahami konteks rentang kehidupan manusia (lifespan contextualism), yang meliputi pengetahuan tentang tahapan perkembangan manusia dan berbagai tema-teman kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, kebudayaan, persahabatan, keluarga, dan sebagainya, serta kaitan antartema tersebut. Pemahaman tersebut juga menyadari banyaknya perubahan yang terjadi dalam diri individu mulai dari masa bayi sampai usia lanjut. 
  4. Relativisme atau toleransi nilai (value relativism/tolerance). Kebijaksanaan membuat manusia menyadari bahwa setiap orang atau budaya menganut nilai-nilai yang berbeda dari yang dianut dirinya dan mampu menghormati perbedaan tersebut. Namun, perlu diingat juga bahwa kebijaksanaan juga berusaha menyeimbangkan kepentingan diri sendiri dan orang lain sehingga tidak semua hal dapat ditoleransi. 
  5. Menyadari serta mampu mengelola ketidakpastian (awareness/management of uncertainty). Kebijaksanaan membuat manusia menyadari bahwa ada banyak keterbatasan dalam proses pencernaan informasi yang dimilikinya serta banyaknya ketidakpastian di dalam kehidupan ini. Kebijaksanaan juga meliputi cara untuk menghadapi ketidakpastian tersebut. 

Sifat Kebijaksanaan 

Berdasarkan hasil penelitiannya, Baltes menyatakan ada beberapa sifat kebijaksanaan (Sigelman & Rider, 2003), yaitu: 
  • Kebijaksanaan bersifat langka. Jumlah orang yang bijaksana dalam masyarakat sangatlah langka karena banyaknya kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang yang bijaksana. 
  • Keahlian di bidang tertentu terbukti lebih relevan dengan perkembangan kebijaksanaan dibandingkan faktor usia semata. 
  • Usia tidak memprediksi kebijaksanaan, namun pengetahuan dasar yang berkontribusi terhadap kebijaksanaan seperti berbagai  crystallized intelligence lainnya tergolong tinggi di usia lanjut. Individu akan lebih mampu menjadi bijaksana dengan memiliki pengalaman hidup mengasah wawasan (insight) tentang kondisi kehidupan manusia. 
  • Kebijaksanaan mencerminkan kombinasi dari kecerdasan, kepribadian, dan gaya kognitif. Individu yang sering membandingkan dan mengevaluasi permasalahan relevan dan yang mampu menerima ambiguitas akan lebih mampu menampilkan kebijaksanaan dibandingkan yang kurang.  
Pengertian Kebijaksanaan

Perkembangan Kebijaksanaan 

Dalam mencetuskan konsep teoritis tentang kebijaksanaan dan menghubungkannya dengan psikologi rentang kehidupan (lifespan psychology), Baltes mengajukan beberapa kondisi yang kondusif untuk mematangkan perkembangan kebijaksanaan (Sternberg & Jordan, 2005). Adapun beberapa kondisi yang diajukan Baltes, yaitu: 
  • Seperti layaknya perkembangan untuk berbagai keahlian lainnya, Baltes berasumsi bahwa kebijaksanaan diperoleh melalui proses pembelajaran dan pelatihan yang intensif dan meluas. Proses ini tentunya membutuhkan motivasi yang tinggi untuk mencapai keunggulan (excellence) dan lingkungan sekitar yang mendukung perkembangan kebijaksanaan.
  • Karena kebijaksanaan merupakan perpaduan antara intelek dan karakter yang membuatnya berbeda dengan berbagai karakteristik positif yang lebih terbatas, perkembangan dan pengasahan kebijaksanaan membutuhkan berbagai proses dan faktor.  Berbagai proses dan faktor yang dimaksud, meliputi: kemampuan intelektual tertentu, ketersediaannya seorang mentor yang mendampingi individu, penguasaan terhadap berbagai pengalaman hidup yang kritis, keterbukaan individu terhadap pengalaman baru, dan kepemilikan atas nilai-nilai yang mengarah kepada pengembangan diri, kebaikan dan toleransi.
  • Baltes menyatakan bahwa ada banyak jalan yang mengarahkan individu kepada kebijaksanaan. Tingkat kebijaksanaan yang sama dapat diperoleh dengan kombinasi proses dan faktor-faktor fasilitatif yang berbeda. Jika beberapa faktor fasilitatif tertentu tersedia dalam hidup individu, beberapa individu dapat melanjutkan perkembangan kebijaksanaannya sampai kepada tahap yang lebih tinggi. Beberapa faktor fasilitatif yang berpotensi mengembangkan kebijaksanaan adalah latara belakang keluarga tertentu, munculnya kejadian yang kritis dalam kehidupan dan individu mampu menguasainya, pelatihan profesional, perubahan dalam masyarakat, dan sebagainya. 


Faktor-faktor fasilitatif yang dimaksud adalah faktor kontekstual, faktor keahlian dan faktor personal (lihat gambar 1). Ketiga faktor tersebut dianggap berpengaruh terhadap perkembangan kebijaksanaan karena ketiga faktor tersebut menentukan cara individu mengalami dunia dan perencanaannya, mengatur dan memandang kehidupannya yang tercakup dalam konteks pengaturan perkembangan (lihat gambar 1). Faktor fasilitatif, konteks pengaturan perkembangan, dan kebijaksanaan berhubungan secara dua arah dan bersifat akumulatif sepanjang rentang kehidupan manusia (Sternberg & Jordan, 2005). 

Daftar Pustaka Makalah  Kebijaksanaan

Sternberg, R., & Jordan, J. (Eds.) (2005). A Handbook of Wisdom: Psychological Perspectives. New York: Cambridge University Press.  

Sigelman, C., & Rider, E. (2003).  Life-Span Human Development (4th ed.).  Belmont: Thomson-Wadsworth Learning.  

Snyder, C., & Lopez, S. (Eds.). (2002). Handbook of Positive Psychology. New York: Oxford University Press.  

Pengertian Kebijaksanaan Definisi Model Kriteria Sifat dan Perkembangan Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment