Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Friday, 18 September 2015

Pengertian Kecemburuan Definisi Jenis Tahap Penyebab Terjadi

Pengertian Kecemburuan adalah - Kata kecemburuan (jealousy) berasal dari bahasa Yunani yaitu zelos yang menunjukkan kepada suatu usaha untuk menyamai atau melebihi, menujukkan semangat serta intensitas dari perasaan (Pines, 1998). Knox (dalam Caroll, 2005) mendefinisikan kecemburuan (jealousy) sebagai suatu reaksi emosional terhadap suatu hubungan yang dirasakan terancam hilang. Salovey (1991) kemudian menambahkan bahwa kecemburuan merupakan suatu pengalaman emosi ketika seseorang merasa terancam hilangnya suatu hubungan yang penting atau bermakna dengan orang lain (pasangannya) terhadap ”rival” atau saingannya. 


Definisi Pengertian Kecemburuan 


Psikolog Gordon Clanton (dalam Buss, 2000) mendefinisikan kecemburuan sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan, yang mengekspresikan ketakutan akan kehilangan pasangan atau ketidaknyamanan atas suatu pengalaman nyata ataupun pengalaman imaginasi terhadap pasangannya yang membentuk hubungan dengan pihak atau orang ketiga. Martin Daly dan Margo Wilson (dalam Buss 2000) mendefinisikan kecemburuan sebagai suatu keadaan (state) yang terbangkitkan oleh suatu ancaman yang dirasakan terhadap suatu hubungan, yang kemudian memotivasi munculnya perilaku yang bertujuan untuk membalas kecemburuan tersebut

Pengertian kecemburuan dari Gordon Clanton di atas, memberikan dua inti dari kecemburuan yaitu ancaman dari hilangnya pasangan dan hadirnya pihak ketiga. Sedangkan pengertian kecemburuan yang dikemukakan oleh Martin Daily dan Margo Wilson, menambahkan ada tiga faset dari kecemburuan. Pertama, kecemburuan merupakan suatu keadaan, yang berarti bersifat sementara atau episodik, bukan merupakan suatu penderitaan yang permanen. Kedua, kecemburuan merupakan suatu respon terhadap suatu ancaman kepada hubungan yang berarti. Ketiga, kecemburuan memotivasi perilaku tertentu dalam mengahdapi ancaman, misalnya memberikan ancaman seksual atau ancaman finansial

Dari definisi diatas, kecemburuan bukanlah suatu konsep yang sederhana dan bukanlah suatu emosi tunggal, tetapi merupakan kombinasi dari emosi- emosi negatif (Bringle & Bunk 1985). Namun tiga hal yang paling tepat dalam mendefiniskan kecemburuan adalah hurt, anger, dan fear. Hurt terjadi karena adanya persepsi bahwa pasangan tidak menghargai komitmen yang telah disepakati bersama dalam menjalin hubungan, sedangkan fear dan anxiety dihasilkan dari kemungkinan yang mengerikan akan ditingalkan dan kehilangan pasangan. (Guerrero & Andersen, 1998 dalam Brehm, 2002)

Dari penjelasan mengenai kecemburuan tersebut dapat diambil sebuah kesimpulan mengenai pengertian kecemburuan yaitu merupakan suatu reaksi emosi negatif yang kompleks yang dirasakan oleh individu terhadap munculnya ancaman akan hilangnya suatu hubungan yang bermakna dengan pasangannya terhadap hadirnya pihak atau orang ketiga.

Penyebab Terjadinya Kecemburuan


Brehm (2002) menyatakan ada dua aspek yang dapat menyebabkan seseorang merasakan kecemburuan. Kedua aspek tersebut adalah :

a) Faktor Personal

Baik pria maupun wanita pada dasarnya tidak berbeda dalam kecenderungannya untuk merasakan kecemburuan, tetapi terdapat perbedaan-perbedaan individual yang dapat menyebabkan seseorang lebih mudah dan intens dalam merasakan kecemburuan, diantaranya sebagai berikut :

1) Dependence
Berscheid (dalam Brehm,1992) menyatakan bahwa individu yang sangat tergantung terhadap pasangannya - menyakini bahwa hanya pasangannya saja yang dapat membuat dirinya bahagia dan tidak ada orang lain yang dapat menggantikannya- maka akan semakin besar pula lah rasa kecemburuan yang dialami individu tersebut. Sikap dependence ini juga menjelaskan alasan mengapa beberapa orang tetap mempertahankan hubungan yang mereka jalin meskipun menyakitkan bagi mereka dikarenakan individu tersebut berfikir bahwa mereka tidak memiliki alternatif lain di luar hubungan yang mereka jalin (Choice & Lamke dalam Miller, 2002). Sikap dependence juga erat kaitannya dengan sikap posesif yang hadir, dimana seseorang yang bergantung dengan pacarnya akan berusaha sekuat mungkin untuk menjaga dan mengawasi setiap gerak-gerik dari pasangannya (Caroll, 2005 dan Pinto & Hollandsworth dalam Brehm, 1992 )

2) Mate Value
Seseorang yang menganggap pasangannya sebagai individu yang akan disukai banyak orang- misalnya penampilan fisik yang menarik, kaya, sejahtera ataupun berbakat- dibandingkan dirinya, seseorang tersebut akan lebih mudah merasakan kecemasan, andaikata ada orang lain yang lebih baik dari dirinya yang dapat mendampingi pacarnya tersebut. Mate value juga dapat berarti ketika seseorang menganggap bahwa dalam diri pasangannya terdapat kriteria-kriteria yang ia sukai dan sangat cocok dengan dirinya, maka hal ini dapat membuat individu tersebut semakin takut kehilangan pasangannya. Hal ini juga dapat menjadi suatu ancaman ketika individu menyadari bahwa pacarnya tersebut dapat melakukan atau mendapatkan orang lain yang lebih baik dari mereka.

3) Sexual Exclusivity
Individu yang menganut nilai sexual exclusivity, yang menginginkan dan mengharapkan pasangannya tetap setia hanya kepada dirinya saja, dan tidak memperbolehkan pasangannya untuk melakukan hubungan seksual dengan orang lain dan aktivitas intim lainnya, semakin besar kemungkinan dirinya untuk mengalami kecemburuan.

4) Past Experience
Pengalaman berpacaran seseorang dapat mempengaruhi munculnya kecemburuan pada hubungan yang akan dan sedang dijalin. Individu yang dulunya memiliki pasangan yang tidak setia dan mengalami kekecewaan pada hubungan sebelumnya, dapat menurunkan kepercayaan individu tersebut kepada pasangannya yang sekarang. Hal ini akan menyebabkan individu tersebut lebih mudah untuk merasa cemburu dan curiga, karena semakin rendah kepercayaan individu terhadap pasangannya,maka akan semakin mudah individu tersebut untuk merasakan kecemburuan. (Knox, 1984)

b) Berdasarkan Sifat Stimulus Terjadinya Kecemburuan
Buss (dalam Brehm 2002) menyatakan bahwa stimulus yang dapat menimbulkan kecemburuan, pada dasarnya diakibatkan oleh ketidaksetiaan (infidelity) yang dilakukan oleh pasangan. Buss membagi stimulus tersebut dalam dua bentuk, yaitu :

1) Kecemburuan Seksual
Kecemburuan seksual memaksudkan bahwa kecemburuan yang terjadi dikarenakan adanya ketidaksetiaan seksual yang dilakukan pasangan. Ketidaksetiaan seksual adalah ketidaksetiaan yang dilakukan pasangan bersama pihak ketiga yang di dalamnya melibatkan hubungan fisik, seperti pelukan, ciuman dan hubungan seksual

2) Kecemburuan Emosional
Kecemburuan emosional memaksudkan bahwa kecemburuan yang timbul dikarenakan adanya ketidaksetiaan emosional yang dilakukan pasangan. Ketidaksetiaan emosional adalah ketidaksetiaan yang dilakukan pasangan terhadap pihak ketiga tanpa melibatkan hubungan fisik, melainkan lebih menekankan kepada keakraban suatu hubungan, seperti rindu atau ingin selalu berbicara dengan pihak ketiga tersebut.

Tahap- Tahap Kecemburuan


Kecemburuan yang dialami oleh seseorang melalui suatu proses dengan melalui tahapan-tahapan. Menurut White (dalam Brehm, 1992) proses kecemburuan melewati lima tahap dibwah ini :

a. Tahap awal (primary appraisal) 
Saat seseorang merasakan adanya ancaman pada hubungan percintannya,  maka dimulailah tahap ini. Tahap ini pula lah yang menunjukkan ambang kecemburuan seseorang. Setiap orang memiliki ambang kecemburuan yang berbeda-beda. Ambang kecemburuan merupakan suatu titik ketika seseorang merasa cemburu. Satu ambang kecemburuan terdiri dari beberapa faktor yang mempengaruhinya yaitu kualitas dari hubungan itu sendiri (mis : apakah seseorang merasa insecure atau dependence di dalam hubungan yang ia jalin), jenis dari hubungan yang dijalin (kecemburuan akan lebih sering hadir di dalam hubungan pacaran daripada hubungan pertemanan) dan juga severity of threat (mis : karakteristik fisik yang disukai oleh pasangan terhadap pada diri rival). Dalam tahap awal ini, pandangan seseorang tentang hubungan percintaan dan ancaman yang ada saling mempengaruhi. Orang yang memandang hubungannya secure, membutuhkan ancaman yang sangat kuat untuk dapat membuatnya cemburu. Namun, bagi individu yang merasa insecure pada suatu hubungan, kecemburuan bisa saja muncul meskipun ancamannya sangat lemah.

b. Tahap kedua (secondary appraisal) 
Pada tahap kedua ini, individu berusaha untuk memahami situasi dengan lebih baik dan berpikir mengenai cara mengatasi rasa cemburunya. Namun, seringkali pada tahap ini melibatkan pula pikiran catatstrophic, yaitu pengambilan kesimpulan secara ekstrem dan berdasarkan kemungkinan yang terburuk. Contohnya adalah seseorang yang sedang cemburu karena pasangannya tidak membalas SMS, dalam tahap ini megambil kesimpulan bahwa pasangannya sedang bermesraan dengan orang lain, padahal pasangannya tersebut sedang ada kegiatan yang tidak dapat diganngu.

Brehm (1992) menyatakan bahwa dalam tahap pertama (primary appraisal) dan tahap kedua (secondary appraisal), melibatkan faktor kognitif ketika seseorang mengalami kecemburuan. White (dalam Brehm 1992 & Pines 1998) menambahkan bahwa faktor kognitif merupakan salah satu komponen yang membentuk kecemburuan. Komponen kognitif dalam kecemburuan meliputi pemikiran seperti self-blame / menyalahkan diri sendiri (mis: ”Bagaimana mungkin aku bisa sebuta ini, aku merasa aku begitu bodoh?”), membandingkan diri dengan saingan (mis: ”Saya merasa saya tidak menarik, sexy, intelek, dan sukses), berfokus kepada satu pandangan publik (mis: ” Setiap orang mengetahui dan tertawa kepadaku”), mengasihani diri sendiri/self-pity (mis : ”Aku merasa sendirian di dunia ini, tidak satupun yang mencintaiku”), rasa tidak percaya (mis :

”Bagaimana mungkin kamu membohongi aku seperti ini?”), posesif, pemikiran akan disingkirkan, pemikiran mengenai balas dendam, dan pemikiran untuk mengalah.

 c. Tahap ketiga (emotional reaction) 
Tahap ketiga ini melibatkan reaksi emosional. Seseorang yang sedang mengalami kecemburuan biasanya tidak menyadari bahwa yang mereka pikirkan adalah hal yang tidak rasional. Jenis-jenis emosi yang dirasakan saat seseorang sedang mengalami kecemburuan antara lain adalah marah terhadap paangan dan,atau orang ketiga, cemas akan kehilangan hubungan percintannya, depresi dan sedih akan kehilangan yang dialami.

Brehm (1992) menyatakan bahwa tahap ketiga (emotional reaction) sama halnya dengan komponen kecemburuan yang diungkapkan oleh White. Komponen emosi merupakan salah satu komponen yang membentuk kecemburuan seseorang (Whire, dalam Brehm 1992). White (dalam Pines 1998) kemudian menambahkan komponen emosi yang berhubungan dengan kecemburuan meliputi kesedihan, sakit hati, agresi, putus asa, marah-marah, takut, iri hati, dan peraasan terhina.

d. Tahap keempat (coping response) 
Menurut  Bryson  (dalam  Brehm,1992),  perilaku  coping  terhadap 

kecemburuan dapat dibagi ke dalam dua orientasi tujuan yaitu mempertahankan hubungan (relationship maintaining) dan mempertahankan self-esteem (self-esteem maintaining). Dari dua orientasi tujuan besar tersebut, terbagi lagi ke dalam empat kategori perilaku yang dapat diambil seorang individu untuk mengatasi kecemburuannya (Bryson dalam Salovey, 1991). Pertama, apabila seseorang memiliki keinginan untuk mempertahankan hubungannya dan juga mempertahankan self-esteem dirinya, maka perilaku yang mungkin terjadi adalah membicarakan masalah tersebut dan sama–sama mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Kedua, apabila seseorang memiliki keinginan untuk lebih mempertahankan self-esteem nya daripada mempertahankan hubungan yang ada, maka perilaku yang mungkin terjadi adalah mengancam untuk mengakhiri hubungan atau sama sekali memang mengakhiri hubungan yang telah dijalin, dan menyerang pasangan secara fisik atau verbal. Ketiga, apabila seseorang lebih memprioritaskan hubungan yang ada, namun bersedia untuk mengorbankan self-esteem nya, maka perilaku yang mungkin terjadi adalah memohon kepada pasangan untuk tetap bersama dirinya (hadirnya sikap dependence), menujukkan tingkah laku seolah-olah tidak ada masalah yang terjadi, serta membuat pasangannya berfikir bahwa ia tidak lagi perduli terhadap dirinya (impression management). Keempat, apabila seseorang tidak terdorong untuk mempertahankan hubungan yang ada dan juga tidak termotivasi untuk mempertahankan self-esteem nya, maka perilaku yang mungkin terjadi adalah menyalahkan diri sendiri, menyakiti diri sendiri dan hanya berharap semoga pasangnnya berhenti menyakiti dirinya.


Tabel 1. Perilaku Coping Terhadap Kecemburuan (Analisis dual-motivation oleh Bryson, 1977)



Model coping response yang dikemukakan oleh Bryson di atas, belum dapat melihat arah dari perilaku yang diambil, bersifat konstruktif atau destruktif. Maka, Rusbult (dalam Salovey, 1991) kemudian mengembangkan model coping response terhadap kecemburuan dari model Rusbult di atas dengan menyertakan dua dimensi yaitu constructive-destructive dan active-passive. Kedua dimensi ini digabungkan untuk menjelaskan empat kelas respon yang berbeda yaitu exit, voice, loyalty, dan neglect (EVLN). Dimensi constructive-destructive lebih menekankan kepada bagaimana hubungan itu dipertahankan atau dipelihara, apakan melalui cara yang constructive (membangun) atau destructive (merusak), sedangkan dimensi active-passive lebih merujuk kepada sifat respon yang dimunculkan.


Figure 1: Dimensi dan Respon Kecemburuan Pada Model EVLN Rusbult




Berikut adalah penjelasan dari keempat kelas respon :

  1. Voice (active/constructive) : mengekspresikan ketidakpuasan dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi (pada model Bryson, mempertahankan hubungan dan mempertahankan self-esteem)
  2. Exit (active/destructive) : mengakhiri atau mengancam akan mengakhiri hubungan (pada model Bryson, mempertahankan self-esteem namun tidak mempertahankan hubungan) 
  3. Loyalty (passive/constructive) : menunggu dan berharap bahwa kondisi akan kembali baik dengan sendirinya (pada model Bryson, lebih memprioritaskan mempertahankan hubungan daripada mempertahankan self-esteem) 
  4. Neglect  (passive/destructive)  :  mengabaikan  dan  tidak  akan berusaha untuk memperbaiki hubungan lagi (pada model Bryson, sama-sama tidak berorientasi untuk mepertahankan hubungan atau self-esteem)


Tahap keempat (the coping response) yang dikemukakan oleh Bryson dan Rusbult di atas merupakan perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang ketika mengalami kecemburuan. White (dalam Brehm,1992) menambahkan bahwa komponen perilaku juga merupakan salah satu komponen yang membentuk kecemburuan dalam diri seseorang. Komponen perilaku merupakan bagian dari komponen eksternal kecemburuan, yang lebih mudah untuk dilihat dan diekspresikan dalam beberapa bentuk perilaku. White ( dalam Priefer, 2007) menambahkan bahwa komponen ini mencakup dua bentuk perilaku yaitu detective dan protective. Tindakan detective mencakup bertanya, dan mencari tahu dengan siapa pasangannya lebih dekat. Sedangkan tindakan protective mencakup segala macam bentuk tindakan yang dilakukan untuk memastikan agar keintiman antara pasangan dan saingannya tidak terjadi. Adapun bentuk dari perilaku ini seperti menghina atau menjelek-jelekkan saingannya, atau ikut bergabung ketika pasangan dan saingannya terlibat dalam percakapan. Pines (1998) menambahkan tindakan-tindakan seperti : berbicara secara terbuka mengenai masalah yang dihadapi, berteriak, menangis, mengabaikan masalah, menggunakan candaan/humor, membalas dendam, meninggalkan pasangan atau menujukkan kekerasan juga merupakan bentuk dari komponen perilaku

e. Tahap kelima (the outcome) 

Tahap kelima adalah hasil dari perilaku coping. Perilaku coping yang konstruktif terhadap kecemburuan akan segera mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan oleh rasa cemburu dan berguna juga untuk efek jangka panjang seperti kesejahteraan orang-orang yang terlibat dan kualitas hubungan tersebut. Hasil dari perilaku coping yang ditunjukka individu dapat dilihat melalui tiga hal. Pertama, apa dampak dari coping yang dilakukan terhadap hal yang dianggap ancaman? Apakah individu tersebut mampu untuk mengurangi ancaman? Kedua, apa dampak coping yang dilakukan terhadap individu-individu yang terlibat dalam hubungan tersebut : diri nya sendiri, pasangan, dan individu lainya? Ketiga, bagaiman perilaku coping yang ditunjukkan berdampak terhadap hubungan yang dijalin. Apakah keadaan hubungan sama dengan sebelumnya, berubah atau berakhir?


Jenis – jenis kecemburuan

Berdasarkan  situasi  yang  memicu  munculnya  kecemburuan,  Salovey (1991) membagi kecemburuan dalam dua bentuk yaitu :

a. Suspicious Jealousy 
Suspicious  jealousy  memaksudkan  bahwa  kecemburuan  yang  timbul terjadi ketika individu melihat ancaman yang dapat merusak hubungan mereka, hanyalah didasari pada kecurigaan semata ataupun ketika ancaman tersebut tidak nyata hadir di hadapan mereka. Suspicious jealousy terjadi ketika seorang individu meyakini bahwa pasangannya mengalihkan perhatian yang seharusnya untuk dirinya kepada rival atau saingannya ataupun kepada pihak ketiga. Brinkle & Buunk (1991, dalam Brehm, 2002) menambahkan bahwa suspicious jealousy terjadi ketika salah satu orang dari pasangan tidak berbuat kesalahan dan salah seorang lainnya merasa curiga namun tidak memiliki bukti. Suspicious jealousy meliputi beberapa atribut berikut :

  1. Kecemasan, ketakutan, keraguan, kecurigaan dan pikiran-pikiran negatif yang berlebihan mengenai apa yang mungkin telah dilakukan pasangannya. 
  2. Ketidakpercayaan/kecurigaan yang terus menerus terhadap pasangan (obsesive mistrust of the partner), tidak mampu untuk berkonsentrasi kepada hal lainnya, merenung, dan berfantasi bahwa pasangan dan rivalnya menikmati suatu hubungan yang membahagiakan. 
  3. Perilaku-perilaku yang mencakup memata-matai pasangan, memeriksa petunjuk-petunjuk (clues) yang mungkin dapat membenarkan  kecurigaan  mereka  dan  berusaha  untuk  mengatur  tingkah  laku pasangan.


b. Fait Accompli/Reactive Jealousy 
Fait accompli/reactive jealousy terjadi ketika suatu ancaman terhadap hubungan itu benar-benar muncul dalam kehidupan nyata, jelas, tidak ambigu, dan sifatnya merusak. Ancaman yang hadir dalam jenis kecemburuan ini adalah ancaman yang memang bersifat fakta, sesuatu yang diketahui telah terjadi, bukan hanya sekedar imajinasi/khayalan. Karakteristik pengalaman dari fait accompli/reactive jealousy ini sangat bergantung kepada fokus daripada perhatian. Ketika fokus perhatian tertuju kepada hilangnya suatu hubungan, hal yang dirasakan adalah kesedihan (sadness); ketika fokus perhatian terletak pada pelanggaran komitmen atau pengkhiatan dari pasangan atau rivalnya, maka hal yang dialami adalah marah (anger); ketika fokus perhatian tertuju kepada kelemahan pribadi, maka hal yang dialmi adalah depresi dan cemas (depresion and anxiety); dan ketika fokus terletak pada superioritas yang dimiliki oleh rivalnya, maka hal yang dialami adalah perasaan iri (envy).

Salovey (1991) kemudian menambahkan bahwa dalam fait accompli/reactive jealousy ini, seseorang akan sering melihat hubungan baru yang dibentuk pasangannya dengan rivalnya sebagai sesuatu hubungan yang bahagia. Seseorang akan sering membandingkan kesepian yang dialaminya dengan kebahagiaan yang tampak pada mantan pasangannya; seseorang juga akan sering membandingkan ketergantungan dan kerinduan yang dialami kepada mantan pasangannya terhadap kurangnya kebutuhan akan dirinya oleh pasangannya.

Kedua jenis kecemburuan ini dapat berdiri sendiri dari stimulus yang menyertainya, namun kadangkala dapat terjadi tumpang tindih antara suspicious jealousy dan reactive jealousy pada saat reactive jealousy menghasilkan suspicious jealousy. Meskipun seorang individu telah secara jelas mengetahui dan mendapati peristiwa yang membuat ia cemburu hadirnya di depannya, namun terkadang hal tersebut masih meninggalkan banyak sekali pertanyaan dan ketidakjelasan. Pertanyaan seperti mengapa hal tersebut terjadi, apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana rival yang ia hadapi sebenarnya, apa yang telah mereka lakukan bersama dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang merupakan bagian dari suspicious jealousy. Hal yang mungkin terjadi juga adalah sebaliknya, dimana suspicious jealousy menghasilkan reactive jealousy. Perilaku-perilaku yang menunjukkan kecurigaan seperti mengawasi, memeriksa, berusaha mengatur perilaku pasangan akhirnya dapat menjadi reactive jealousy ketika individu tersebut berhasil membuktikkan kecurigaannya tersebut (Salovey, 1991).

Daftar Pustaka Makalah Kecemburuan

Buss, David M. (2000). The Dangerous Passion :Why Jealousy Is as Necessary as Love and Sex. New York : The Free Press

Miller, R.S., Perlman,D.,& Brehm,S.S. (2002). Intimate Relationship (3rd ed.) New Yorl: McGraw-Hill

Salovey, Peter. (1991) The Psychology of Jealousy and Envy. New York : Guilford Press

Knox, David (1984). Human Sexuality. The Search for Understanding. New York: West Publisher

Brehm, Sharon. S. (1992). Intimate Relationship (2nd ed.) New York : McGraw-Hill

Pines, Ayala Malakh. (1998) Romantic Jealousy. New York : Guilford Press 

Preifer,Susan.M,PaulT.P.Wong.Multidimensional Jealousy.http://spr.sagepub.com/cgi/reprint/6/2/181.pdf Tanggal Akses : 20 Agustus 2009 Waktu Akses : 14:05:35 WIB 

Pengertian Kecemburuan Definisi Jenis Tahap Penyebab Terjadi Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment