Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Friday, 18 September 2015

Pengertian Kesepian Definisi Tipe, Penyebab, Karakteristik, Dampak, dan Perasaan

Pengertian Kesepian adalah -  dapat terjadi pada siapa saja, baik anak-anak, remaja, dewasa dini, dewasa madya, maupun pada orang yang sudah lanjut usia (Weiten & Lloyd, 2006). Kesepian merupakan pengalaman subjektif dan tergantung pada setiap interpretasi individu terhadap suatu  kejadian (Perlman & Peplau dalam Dane, Deaux, & Wrightsman, 1993).  


Definisi Kesepian

Baron & Byrne (2000) mendefinisikan kesepian sebagai suatu reaksi emosional dan kognitif karena memiliki hubungan sosial yang lebih sedikit dan kurang memuaskan dibandingkan yang diinginkannya. 

Menurut Bruno (dalam Dayakisni, 2003), kesepian dapat berarti suatu keadaan mental dan emosional yang terutama dicirikan oleh adanya perasaan-perasaan terasing dan kurangnya hubungan yang bermakna dengan orang lain. 

Definisi yang hampir sama juga diberikan oleh Peplau & Perlman (dalam Brehm, 2002) yang mengatakan bahwa kesepian  itu merupakan perasaan kekurangan dan ketidakpuasan karena adanya kesenjangan antara hubungan sosial yang kita inginkan dengan hubungan sosial yang kita miliki. Menurut Taylor, Peplau & Sears (2000) kekurangan ini dapat bersifat kuantitatif, misalnya seseorang tidak memiliki seorang temanpun ataupun sedikit teman  dibandingkan yang diinginkannya. Atau kekurangan tersebut dapat bersifat kualitatif misalnya seseorang yang merasa bahwa hubungan sosial yang dibinanya hanya bersifat seadanya saja (superficial) atau dirasakan kurang memuaskan dibandingkan yang diinginkannya. 

Jadi dapat disimpulkan bahwa kesepian adalah keadaan mental dan emosional yang terutama dicirikan dengan adanya perasaan kekurangan dan ketidakpuasan karena tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan seseorang dan terjadi kesenjangan antara hubungan sosial yang diinginkan dengan hubungan sosial yang dimiliki individu. 

Tipe-tipe Kesepian 

Menurut Weiss (dalam Weiten & Llyod, 2006) ada dua tipe kesepian, yaitu: 
a.  Kesepian sosial 
Dalam kesepian sosial, seseorang merasa tidak puas dan kesepian karena mereka tidak memiliki hubungan pertemanan ataupun kenalan. 

b.  Kesepian emosional 
Dalam kesepian emosional, seseorang merasa tidak puas dan kesepian karena mereka tidak memiliki suatu hubungan yang mendalam dengan orang lain, atau karena tidak adanya partner intim. 

Berdasarkan sifat kemenetapannya, Shaver dkk. (dalam Deaux, Dane, Wrightsman, 1993) membedakan 2 tipe kesepian, yaitu: 
  1. Trait loneliness, yaitu kesepian yang cenderung menetap (stable pattern), sedikit berubah, dan biasanya dialami oleh orang-orang yang memiliki self-esteem yang rendah dan memiliki sedikit interaksi sosial yang berarti. 
  2. State loneliness, yaitu kesepian yang bersifat temporer (sementara), biasanya disebabkan oleh pengalaman-pengalaman dramatis dalam kehidupan seseorang. 


Berdasarkan durasinya, Young (dalam Weiten & Llyod, 2006) membedakan kesepian menjadi 3, yaitu: 
  1. Transient loneliness (kesepian sementara), meliputi kesepian yang singkat dan jarang terjadi, yang dapat dirasakan oleh banyak orang ketika kehidupan  sosial mereka tidak memiliki alas an yang adekuat. 
  2. Transitional loneliness (kesepian transisi), terjadi  ketika seseorang yang telah puas pada hubungan sosialnya yang sebelumnya menjadi kesepian setelah mengalami kerusakan dalam jaringan sosialnya (karena kematian orang yang dicintai, perceraian, atau pindah ke daerah yang baru). 
  3. Chronic loneliness (kesepian menahun), merupakan suatu kondisi yang menyerang orang-orang yang tidak bisa puas terhadap jaringan interpersonalnya selama bertahun-tahun. 


Pada seorang janda yang ditinggal mati pasangannya, yang terjadi adalah kesepian emosional karena suami yang menjadi partner intimnya tidak ada lagi, dimana kesepian tersebut bersifat temporer dan berdasarkan durasinya maka kesepian yang dialaminya adalah kesepian transisi. Sears  et al. (1999) mengatakan bahwa kesepian akibat berpisah dengan orang yang kita cintai dapat membangun suatu reaksi emosional seperti kesedihan, kekecewaan, bahkan rasa geram yang membuat seseorang marah pada lingkungan dan juga pada dirinya sendiri. 
  

Penyebab Kesepian 

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang merasakan kesepian, yaitu (Brehm, 2002): 

a.  Ketidakadekuatan dalam hubungan yang dimiliki 

Ada beberapa alasan mengapa kita merasa tidak puas atas hubungan yang kita miliki. Rubenstein dan Shaver (dalam Brehm, 2002) menyimpulkan beberapa alasan yang banyak dikemukakan oleh  orang-orang yang merasakan kesepian, yaitu: 
  1. Tidak terikat: tidak memiliki pasangan (suami atau istri); tidak memiliki partner seksual; berpisah dengan pasangan (suami atau istri) atau kekasih. 
  2. Terasing: merasa berbeda; tidak dimengerti; tidak dibutuhkan; tidak memiliki teman dekat. 
  3. Sendirian: pulang ke rumah tanpa ada orang di rumah; selalu sendirian 
  4. Isolasi yang dipaksakan: dikurung di rumah; dirawat inap di rumah sakit; tidak adanya transportasi. 
  5. Dislocation: jauh dari rumah; memulai pekerjaan atau sekolah baru; terlalu sering pindah; sering bepergian. 


Pada janda, kesepian yang dialaminya  lebih disebabkan karena kehilangan pasangannya (suaminya).  

b.  Terjadi perubahan dalam apa yang diinginkan seseorang dari suatu hubungan 
Brehm (2002) menyimpulkan berdasarkan model Perlman dan Peplau tentang kesepian, kesepian dapat muncul karena perubahan dalam pemikiran kita tentang apa yang kita inginkan dari  suatu hubungan. Pada suatu waktu dalam kehidupan kita, hubungan sosial kita mungkin sangat memuaskan sehingga kita tidak merasakan kesepian. Hubungan ini mungkin terus bertahan tetapi terjadi perubahan kepuasan karena apa yang kita inginkan juga mengalami perubahan. 

Menurut Peplau dkk. (dalam Brehm, 2002) perubahan itu dapat muncul dari beberapa sumber yang berbeda, yaitu: 
  1. Perubahan suasana hati 
    Jenis hubungan yang diinginkan seseorang ketika dia senang akan berbeda dengan jenis hubungan yang diinginkannya ketika dia sedih. 
  2. Usia 
    Seiring dengan bertambahnya usia, perkembangan seseorang membawa perubahan yang akan mempengaruhi harapan atau keinginannya terhadap suatu hubungan. Jenis persahabatan yang sangat memuaskan ketika seseorang berusia 15 tahun dapat menjadi tidak memuaskan ketika dia berusia 25 tahun.  
  3. Perubahan situasi 
    Banyak orang yang tidak menginginkan suatu hubungan emosional yang dekat ketika sedang mempersiapkan  karirnya. Namun,  ketika dia telah merasa puas terhadap karirnya, mereka akan merasakan kebutuhan yang besar akan suatu hubungan yang memiliki komitmen secara emosional.  


Jadi, apapun alasannya, kita akan merubah pemikiran kita tentang apa yang kita inginkan dari suatu hubungan, dan jika hubungan itu tidak turut berubah, maka kita akan mengalami kesepian. 

c.  Self-esteem 
McWhirter, Rubenstein dan Shaver (dalam Brehm, 2002) mengatakan bahwa kesepian berhubungan dengan  self-esteem yang rendah. Orang yang mengatakan bahwa dia kesepian juga sering menganggap dirinya memalukan dan tidak pantas dicintai. Kemungkinan karena dia memiliki  self-esteem yang rendah, orang yang merasa kesepian cenderung merasa tidak nyaman dalam situasi sosial yang beresiko. Untuk mengantisipasi ketidaknyamanan ini mendorong orang yang kesepian untuk mengurangi kontak sosialnya yang akan menyebabkannya kesulitan dalam membangun hubungan sosial untuk mengurangi kesepian yang dialaminya. 

d.  Perilaku interpersonal 
Berbeda dengan orang yang tidak kesepian, orang yang kesepian menilai orang lain secara negatif (Jones dkk. dalam  Brehm, 2002). Mereka sangat tidak menyukai orang lain (Rubenstein & Shaver dalam Brehm, 2002); tidak percaya pada orang lain (Vaux dalam Brehm,  2002); menginterpretasikan tindakan dan perhatian orang lain secara negatif  (Hanley-Dunn dkk. dalam Brehm, 2002); dan memiliki sikap bermusuhan (Check dkk. dalam Brehm, 2002). 

Orang yang kesepian juga tidak memiliki kemampuan sosial yang baik dengan orang lain (Solano & Koester dalam Brehm, 2002). Dalam interaksi sosial, orang yang kesepian lebih pasif dibanding yang tidak kesepian, ragu-ragu untuk mengekspresikan opininya di depan publik (Hansson & Jones dalam Brehm, 2002), secara sosial mereka tidak responsif dan tidak sensitif (Brehm, 2002). Dari hasi penelitian Jones, Hobbs, & Hackenbury dalam Brehm, 2002) dapat dilihat orang yang kesepian itu mempunyai percakapan yang sedikit dengan orang lain, sedikit bertanya, lambat dalam merespon percakapan orang lain, kurang tertarik untuk melanjutkan topik diskusi. Orang yang kesepian juga kelihatan ragu untuk mengembangkan hubungan intimnya dengan orang lain, dan  memiliki  self-disclosure yang rendah (Davis dalam Brehm, 2002). Selain itu, Check dkk. (dalam 

Brehm, 2002) menambahkan bahwa laki-laki yang kesepian lebih agresif secara fisik dibandingkan yang tidak kesepian. 

Berdasarkan perilaku yang negatif dan  janggal secara sosial atau perilaku yang tidak diinginkan, orang-orang yang kesepian akan mendatangkan reaksi yang negatif dari orang lain (Brehm, 2002). Teman berbicara orang yang kesepian merasa bahwa dia tidak mengenal orang itu dengan baik (Solano dkk. dalam Brehm, 2002) dan menganggap orang yang kesepian itu tidak mampu bersosialisasi (Spitzberg & Canery dalam Brehm, 2002). Selain itu, orang yang kesepian terlihat terperangkap dalam tingkat sosial  yang menurun terus. Mereka menolak orang lain, tidak memiliki kemampuan sosial dalan berperilaku dengan orang lain, dan ditolak orang lain. 

e.  Atribusi Kausal 
Menurut pandangan ini, kesepian akan terjadi lebih sering dan lebih lama ketika seseorang yakin bahwa karakteristik yang mereka miliki menyebabkan kesepian yang mereka rasakan (Michela dalam Brehm, 2002). Dari tabel di bawah akan tampak perbedaan locus of causality terhadap kesepian. 

Tabel 1 Penjelasan Tentang Kesepian 


Sumber: diadaptasi dari  Intimate Relationship (hal. 413) oleh Sharon S. Brehm, New York:McGraw-Hill,Inc. 

Jenis atribusi internal yang stabil menggambarkan orang-orang yang depresi- dialah penyebab kesengsaraan yang dirasakannya dan hal tersebut tidak dapat diubah. Atribusi ini menghalangi seseorang untuk bertemu dengan orang lain dan menjalin pertemanan. Dalam atribusi eksternal yang tidak stabil menunjukkan adanya harapan bahwa keadaannya akan berubah menjadi lebih baik.  

Dinamika Perasaan Orang yang Kesepian 

Beck & Young, 1978; Davis & Fanzoi, 1986 (dalam Myers, 1996) mengatakan merasakan kesepian berarti merasa ditiadakan dari kelompok, tidak dicintai oleh orang-orang yang ada disekitarnya, tidak dapat  berbagi tentang masalah-masalah pribadi, ataupun berbeda serta terasing dari orang-orang di sekelilingnya. Selain itu, orang yang kesepian sering merasa dirinya tertekan,  gelisah, tegang, dan bosan (Saks & Krupat, 1998). 

Rubenstein & Shaver (dalam Brehm, 2002) menyatakan bahwa ada 4 bentuk perasaan yang dialami oleh individu yang kesepian, yaitu: 
a.  Putus asa 
Putus asa merupakan suatu keadaan dimana seseorang merasakan kepanikan dan ketidakberdayaan dalam dirinya sehingga dapat menimbulkan keinginan untuk melakukan tindakan yang nekat. Adapun putus asa ini ditandai dengan perasaan putus asa, tidak berdaya, takut, tidak adanya harapan, merasa dibuang, dan merasa dikecam. 

b.  Depresi 
Depresi adalah suatu keadaan dimana  individu merasakan kesedihan yang mendalam ataupun sedang dalam keadaan tertekan. Perasaan depresi yang terus menerus dirasakan individu dapat juga menimbulkan keinginan untuk mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri (Phares, 1992). Depresi ini ditandai dengan sedih, tertekan, merasa hampa, terisolasi, menyesali diri, melankolik, terasing, ingin bersama orang yang spesial. 

c.  Impatient boredom 
Merupakan suatu keadaan dimana individu merasakan kebosanan pada dirinya sendiri sebagai akibat dari ketidaksabarannya ataupun kejenuhan terhadap dirinya sendiri.  Impatient boredom   ini ditandai dengan perasaan tidak sabar,  bosan, ingin berada di tempat lain, gelisah, marah, sulit berkonsentrasi.  

d.  Menyalahkan diri 
Merupakan suatu keadaan dimana individu menyalahkan dirinya sendiri, mengutuk dan mencela dirinya sendiri atas peristiwa atau kejadian yang dialami karena dia tidak mampu menyelesaikannya). Menyalahkan diri ini ditandai dengan merasa tidak menarik, benci pada dirinya, merasa bodoh, malu, tidak aman. 

Dari tabel di bawah ini akan terlihat perasaan-perasaan yang spesifik yang dirasakan ketika seseorang kesepian. 

Tabel 2 Perasaan Ketika Kesepian 

Sumber: diadaptasi dari  Intimate Relationship (hal. 399) oleh Sharon S. Brehm, New York:McGraw-Hill,Inc. 

Karakteristik Orang yang Kesepian 

Myers (1999) menyatakan orang yang mengalami kesepian secara kronis akan kelihatan mengalami kegagalan diri dalam kognisi sosial dan perilaku sosial. Selain itu, individu yang mengalami kesepian memiliki pandangan negatif terhadap depresi yang mereka rasakan, menyalahkan diri sendiri atas hubungan sosial yang buruk, dan berbagai hal yang berada di luar kendali (Anderson & Snoggrass, dalam Myers, 1999). 

Orang yang merasa kesepian selalu  kesulitan dalam memperkenalkan diri, membuat panggilan telepon, dan berpartisipasi dalam kelompok (Rock, Spitzberg, & Hurt dalam Myers, 1999). Orang yang kesepian cenderung menjadi self-conscious dan memiliki self-esteem yang rendah (Cheek, Melcior, & Vaux dalam Myers, 1999). Ketika berbicara dengan orang asing, orang yang kesepian lebih banyak membicarakan dirinya sendiri dan menaruh sedikit ketertarikan terhadap lawan bicaranya (Jones dalam Myers, 1999). Orang yang kesepian cenderung pemalu,  self-conscious, introvert, tidak asertif, dan memiliki self-esteem yang rendah (Jones dalam Saks & Krupart, 1998).  

Dari beberapa pendapat tokoh tentang  karakteristik orang kesepian, Brehm (2002) menyimpulkan ada empat karakteristik orang-orang kesepian, yaitu: 
  1. Merasa tidak nyaman dalam situasi-situasi sosial 
    Orang yang kesepian merasa tidak nyaman dalam situasi-situasi sosial (Vaux dalam Brehm, 2002), kesulitan dalam menikmati suatu pesta, sulit bergabung dengan kelompok (Horowitz & French  dalam Saks & Krupat, 1998). Taylor, Peplau, dan Sears (2000) mengatakan bahwa kesepian dapat berkisar dari perasaan ketidaknyamanan yang ringan sampai yang berat. 
  2. Membuat atribusi internal yang stabil terhadap kejadian dan perasaan yang tidak menyenangkan 
    Jenis atribusi internal  yang stabil menggambarkan bahwa orang-orang yang depresi menganggap dialah penyebab kesengsaraan yang dirasakannya dan hal tersebut tidak dapat diubah. Atribusi  ini menghalangi seseorang untuk bertemu dengan orang lain dan menjalin pertemanan. Orang yang kesepian cenderung menganggap dirinya tidak layak dan tidak pantas untuk dicintai (Brehm, 2002).Individu yang mengalami kesepian memiliki pandangan negatif terhadap depresi yang mereka rasakan, menyalahkan diri sendiri atas hubungan sosial yang buruk, dan berbagai hal yang berada di luar kendali (Anderson & Snoggrass, dalam Myers, 1999).  
  3. Memiliki sikap negatif terhadap orang lain 
    Orang yang kesepian menilai orang lain secara negatif (Jones dkk. dalam  Brehm, 2002). Mereka sangat tidak menyukai orang lain (Rubenstein & Shaver dalam Brehm, 2002); tidak percaya pada orang lain (Vaux dalam Brehm, 2002); menginterpretasikan tindakan dan perhatian orang lain secara negatif (Hanley-Dunn dkk. dalam Brehm, 2002); dan memiliki sikap bermusuhan (Check dkk. dalam Brehm, 2002). 
  4. Pasif dan tidak responsif ketika bersama orang lain 
    Ketika berbicara dengan orang asing,  orang yang kesepian lebih banyak membicarakan dirinya sendiri dan menaruh sedikit ketertarikan terhadap lawan bicaranya (Jones dalam Myers, 1999). 


Dampak Kesepian 

Kesepian yang dialami oleh seseorang akan menyebabkan orang yang kesepian ini akan menerima orang lain dalam cara yang negatif (Jones, Wittenberg, & Reis, dalam Myers, 1999). Pandangan negatif ini nantinya akan mempengaruhi keyakinan individu yang mengalami kesepian tersebut dan menyebabkan hilangnya kepercayaan sosial serta menjadi pesimis terhadap orang lain yang mana hal itu justru akan menghambat individu itu dalam mengurangi kesepian mereka (Myers, 1999). 

Rock, Spitzberg, & Hurt ( dalam Myers, 1999) menyatakan individu yang mengalami kesepian selalu merasa kesulitan dalam memperkenalkan diri, membuat panggilan telepon, dan berpartisipasi dalam kelompok.  Individu yang mengalami kesepian juga cenderung menjadi  self-concious dan memiliki self-esteem yang rendah (Cheek, Melcior, & Vaux dalam Myers, 1999). Saat  mereka berbicara dengan orang lain, individu yang kesepian cenderung lebih banyak membicarakan diri mereka sendiri dan menaruh sedikit ketertarikan terhadap lawan bicaranya. Setelah pembicaraan selesai kenalan baru tersebut akan memberikan  kesan yang negatif terhadap individu yang mengalami kesepian ini (Jones dalam Myers, 1999). 

Daftar Pustaka Makalah Kesepian 

Myers, D. (1996). Social Psychology 5th Ed. USA: Mc. Graw-Hill Companies 

Brehm, S. (2002). Intimate Relationship. New York: Mc. Graw Hill. 

Saks, M.  & Krupat, E. (1998). Social Psychology and Its Application. New York: Harper & Row Publisher 

Barrow, G. (1996).  Aging, the individual and Society 6th Ed. USA: West Publishing Company 

Craig, G. (1996). Human Development. USA: Prentice-Hall 

Dayakisni, H. (2003). Psikologi Sosial. Malang: UMM Press 

Taylor, Peplau & Sears, (2000). Social Psychology 10th  Ed. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. 

Weiten, W. & Llyod, M. (2006). Psychology to Modern Life, Adjustment in The 21st Century 8th Ed. Canada: Thomson Learning, Inc    

Deaux, Dare, F. & Wrightsman. (1993)  Social Psychology in the 90’s 6th Ed. USA: Brooks/ Cole Publishing Company 

Pengertian Kesepian Definisi Tipe, Penyebab, Karakteristik, Dampak, dan Perasaan Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment