Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Friday, 27 May 2016

Pengertian Konflik Definisi Pendekatan Resolusi Dalam Perkawinan

Pengertian Konflik secara etimologis berasal dari bahasa latincon yang berarti bersama dan fligere yang berarti benturan atau tabrakan. Konflik dalam kehidupan sosial berarti benturan kepentingan, keinginan dan pendapat yang melibatkan dua pihak atau lebih. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial atau dua orang atau lebih, atau kelompok dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya (DeVito, 2004) 


Menurut Willmot & Hocker (2001), Definisi konflik adalah suatu ekspresi pertentangan dari sekurang-kurangnya dua orang yang saling bergantung yang tujuannya saling bertentangan, memliki sedikitnya sumber penghasilan, dan campur tangan dari pihak lain dalam mencapai tujuan mereka. 

Koentjaraningrat (1981) mengatakan bahwa konflik merupakan suatu proses atau keadaan dimana dua pihak atau lebih berusaha untuk saling menggagalkan tujuan masing-masing karena adanya perbedaan pendapat, nilai-nilai ataupun tuntunan dari  masing-masing pihak. 

Berdasarkan beberapa definisi diatas,dapat diambil kesimpulan bahwa konflik adalah suatu ekspresi pertentangan antar dua belah pihak yang saling bergantung yang memiliki tujuan berbeda dan berusaha untuk menggagalkan tujuan dari masing-masing pihak. 

Konflik dalam hubungan perkawinan merupakan hal yang wajar dan tidak dapt dihindari. Menurut Donohue & Kolt (1992), konflik dalam perkawinan adalah situsi dimana pasangan yang saling bergantung mengekpresikan perbedaan dintara mereka dalam upaya mencapai kebutuhan kebutuhan dan minat masing-masing. Jika masing-masing individu dalam pasangan merasa ada yang menghalangi keinginan satu sama lain dalam mencapai suatu tujuan maka hal ini cenderung menimbulkan suatu konflik. Selain itu, konflik juga dapat terjadi dikarenakan adanya penyesuaian kecocokan dan keintiman pada pasangan. 

Duval dan Miller (1985) mengatakan masa awal pernikahan merupakan masa paling berat ketika pasangan yang baru menikah harus menghadapi berbagai proses pernyesuaian diri terhadap perbedaan-perbedaan yang ada. Proses ini pasti melibatkan konflik didalamnya dan melauli proses ini pasangan dapat mempelajari cara resolusi konflik yang efektif, yang dapat bermanfaat bagi mereka yang menjalani kehidupan perkawinan di masa yang akan datang. 

Resolusi Konflik 

Konflik yang tidak diselesaikan atau tidak dapat diselesaikan akan berdampak negatif untuk masing-masing individu dalam pasangan. Dampak yang dapat ditimbulkan oleh konflik dapat dirasakan langsung oleh orang yang mengalami konflik. Untuk itu diperlukan adanya penanganan atau resolusi konflik. 

Hendricks (1992) menyatakan bahwa  resolusi konflik  adalah strategi yang dapat digunakan untuk mengatasi konflik.  Menurut Mindes (2006) resolusi konflik merupakan kemampuan untuk menyelesaikan perbedaan dengan yang lainnya dan merupakan aspek penting dalam pembangunuan sosial dan moral yang memerlukan keterampilan dan penilaian untuk bernegoisasi, kompromi serta mengembangkan rasa keadilan. 

Pendekatan Resolusi Konflik 

Dalam resolusi konflik ada dua pendekatan, yaitu: 
a.  Pendekatan Konstruktif 
Pada pendekatan ini, fokus pada yang terjadi saat ini dibandingkan masalah yang lalu, membagi perasaan negatif dan positif, mengungkapkan informasi dengan terbuka, menerima kesalahan bersama dan mencari persamaan-persamaan. Konflik konstruktif cenderung untuk kooperatif, prososial, dan menjaga hubungan secara alami (Olson & DeFrain, 2006) 

b.  Pendekatan Destruktif 
Pada pendekatan ini, pasangan mengungkit masalah-masalah yang lalu, hanya mengekpresikan perasaan-perasaan negatif, fokus pada orang bukan pada masalanya, mengungkapkan selektif informasi dan menekankan pada perbedaan tujuan untuk perubahan yang minim. Konflik destruktif mengarah pada kompetitif, antisosial, dan merusk hubungan. Perilaku destruktif memperlihatkan perilaku negatif, ketidaksetujuan dan kadang kekerasan. 

Dalam kedua pendekatan tersebut ada beberapa gaya dalam menyelesaikan konflik atau resolusi konflik. 

Menurut Dwijanti (2000) gaya resolusi konflik adalah cara atau pendekatan atau metode yang digunakan seseorang untuk mengatasi atau menghadapi suatu konflik tertentu. Meskipun sebagian besar individu memiliki kemampuan untuk memberikan respon terhadap konflik yang bervariasi tergantung pada situasinya, namun setiap individu mempunyai preferensi tertentu yang menjadi dasar bagi tindakannya ketika menghadapi konflik(Robbins & Couller, 1996). Hal ini serupa dengan yang dinyataakan Thomas (1983) bahwa setiap orang memiliki gaya penyelesaianyang berbeda ketika menghadapi konflik. Dalam pandangan tersebut setiap orang memiliki satu macam gaya yang lebih dominan, namu bukan berarti hanya gaya tersebut yang dimiliki. 

Pengertian Konflik

Gaya resolusi konflik dibentuk oleh respon atau kumpulan perilaku yang digunakan individu-individu dalam konflik (Willmot & Hocker, 1995). Rubin, Pruitt, dan Kim (1994) mengusulkan konflik yang didasarkan pada tingkat kepedulian terhadap tujuan pribadi dan tujuan pasangan.  Pengkategorian gaya resolusi konflik semakin berkembang di sepanjang sejarahnya, mulai dari yang mengkategorikan hanya dua gaya resolusi konflik sampai mengkategorikan lima gaya resolusi konflik. 

Ada beberapa model resolusi konflik (Killman dan Thomas dalam Olson & DeFrain, 2006), model ini dikembangkan dengan pemikiran bahwa terdapat aspek yang menjadi fokus perhatian saat individu mengusahakan tujuannya, yaitu: perhatian pada diri sendiri dan orang lain. Perhatian pada diri sendiri diukur dengan sejauh mana tingkat asertivitas atau agresivitas seseorang. Perhatian terhadap orang lain ditekankan kepada tingginya kerjasama. 

Model resolusi konflik ini mengidentifikasi 5 gaya resolusi konflik, yaitu: 
1.  Competitive Style 
Competitive style merupakan cara menyelesaikan konflik tanpa memikirkan pasangannya. Menurut Thomas (1975) cara ini disebut juga gaya resolusi konflik dominasi. Individu yang menggunakan gaya ini menampilkan perilaku seperti agresi, koersi, manipulasi, intimidasi, dan senang berdebat. Aspek lain dalam gaya ini adalah tidak mempedulikan kebutuhan dari pasangan. Orang-orang yang menggunakan gaya ini cenderung agresif dan tidak kooperatif, dan mengikuti apa yang diinginkan dengan mengorbankan orang lain. Mereka mendapatkan kekuatan dengan mengkonfrontasi dan berusaha menang tanpa menyesuaikan tujuan dan hasratnya dengan tujuan dan hasrat orang lain 

2.  Collaboration Style 
Collaborative style menggambarkan pendekatan resolusi konflik dimana masing-masing pasangan saling memperhatikan kebutuhan atau kepentingan pasangannya. Gaya ini menekankan pada kepentingan hubungan pernikahan. Gaya ini juga biasa disebut gaya integrasi. Kesadaran terhadap kebutuhan diri sendiri dan pasangan serta kesediaan untuk berusaha berdamai merupakan kesempatan yang paling baik dalam resolusi konflik. Indivdiu yang menggunakan gaya ini memiliki asertif yang tinggi dalam mencapai tujuannya tapi memiliki perhatian terhadap tujuan orang lain. 

Orang dengan collaborative style bersedia menghabiskan waktu banyak untuk menyelesaikan konflik dengan tuntas. Ia mampu memperhatikan orang lain sekaligus diri sendiri. Ia akan mengungkapkan apa yang ada dipikirannya dan bersedia mendengarkan pikiran orang lain. Wajar saja jika gaya ini menghabiskan energi yang sangat besar. Biasanya gaya ini sangat diperlukan untuk menyelesaikan konflik yang sangat sulit dan kompleks. 

3.  Compromise Style 
Compromise style lebih terbuka dibandingkan dengan  avoidance, tetapi masalah yang terungkap tidak sebanyak gaya  collaborative. Yang membedakan antara  compromise style dengan  collaborative style adalah waktu. Waktu yang dibutuhkan  compromise style untuk menyelesaikan konflik lebih sedikit, namun solusi yang dihasilkan bisa jadi bukan solusi yang terbaik untuk semua pihak Pada gaya ini kedua individu dalam pasangan membuat kesepakatan yang mengarah pada persetujuan. Pasangan memberikan beberapa tujuan penting untuk mendapatkan kesepakatan. Gaya ini merupakan jalan tengah yang dihasilkan dari kombinasi tingginya perhatian terhadap tujuan individu dan tujuan pasangannya 

4.  Accommodating Style 
Ditandai dengan perilaku non asertif namun kooperatif. Individu cenderung mengesampingkan keinginan pribadi dan berusaha untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan orang lain. Pasangan yang secara konsisten menggunakan gaya ini seringkali menghindari konflik. Hal ini dikarenakan untuk menghindari kemarahan pasangan dan untuk menjaga keharmonisan hubungan. Orang dengan gaya  accommodating style  biasanya akan berbicara seperti ini “ya sudah terserah kamu, aku ikut aja”. 

5.  Avoidance Style 
Ciri utama gaya ini adalah perilaku yang tidak asertif dan pasif. Biasanya mereka mengalihkan perhatian dari konflik atau justru menghindari konflik. Kelebihan dari gaya ini adalah memberikan waktu untuk berfikir pada masing-masing pihak, apakah ada kemauan dari diri atau pihak lain untuk menangani situasi dengan cara yang lebih baik. Kelemahan dari gaya ini adalah individu menjadi tidak peduli dengan permasalahan dan cederung untuk melihat konflik sebagai sesuatu yang buruk dan harus dihindari  dengan cara apa pun. Gaya ini biasanya justru mengarahkan pada konflik yang lebih parah. Pasangan dengan gaya  avoidance style biasanya akan mengalihkan pembicaraan ketika mulai membahas konflik yang dihadapi. Apa pun caranya dia akan berusaha untuk terus menghindar. Dia tidak peduli dengan orang lain namun juga tidak mau mengungkapkan keinginannya (nahan uneg-uneg di hati), intinya ia mencoba menghindari konflik dan menganggap konflik itu tidak ada. 

Berdasarkan uraian diatas terlihat bahwa setiap gaya resolusi konflik memiliki ciri khas masing-masing. Setiap gaya akan efektif jika digunakan pada situasi atau kondisi yang tepat. Penggunaan gaya resolusi konflik yang tidak tepat atau tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi maka tidak akan menghasilkan penyelesaian konflik yang diharapkan. Oleh karena itu penting bagi pasangan untuk memahami semua gaya resolusi konflik sehingga dapat memilih gaya yang tepat dan disesuaikan dengan konflik yang dihadapi 

Gaya resolusi konflik dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu kematangan pribadi, usia, jenis kelamin dan karakteristik pribadi. 
  • Kematangan pribadi meliputi pandangan hidup, sikap netral serta toleran terhadap perbedaan nilai, dan memiliki kesanggupan menyelesaikan masalah. Orang-orang yang matang pribadinya lebih mampu menyelesaikan konflik dengan baik. 
  • Usia mempengaruhi gaya penyelesaian konflik sesorang. Potensi konflik cenderung terjadi pada seseorang yang usianya lebih muda dan penyelesaiaan konfliknya sering kali menggunakan emosi. 
  • Jenis kelamin tentanng peran jenis kelamin menimbulkan asumsi bahwa terdapat perbedaan gaya resolusi konflik pada jenis kelamin yang berbeda. Penelitian Brovermann dkk, pada 599 pria dan 383 wanita menunjukkan hasil bahwa pria lebih menggunakan gaya aktif atau kompetitif sementara wanita lebih akomodatif. 
  • Karakteristik individu,  resolusi konflik seorang individu dapat diprediksi dari karakteristik intelektual dan kepribadiannya. Mereka menemukan bahwa subjek dengan skor intelektual yang rendah cenderung menggunakan aksi fisik dalam mengatasi konflik. Dari karakteristik kepribadian dapat diprediksi bahwa subjek dengan skor tinggi pada  need  for deference ( kebutuhan untuk mengikuti dan mendukung seseorang), need for abasement  (kebutuhan untuk menyerah atau tunduk) dan  need for order (kebutuhan  untuk membuat teratur) cenderung untuk memilih gaya-gaya resolusi konflik yang membuat konflik mereda. Sebaliknya subjek dengan skor tinggi pada need for autotomi (kebutuhan untuk bebas dan lepas dari tekanan )  dan need for change (kebutuhan untuk membuat perubahan) memiliki kecenderungan untuk memilih paling tidak satu gaya resolusi konflik yang membuat konflik semakin intensif 

Daftar Pustaka Makalah Konflik

Koentjaraningrat.  (1981). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. 

Donohue, W. A., and R. Kolt. 1992. Managing interpersonal conflict. Newbury Park, Calif: Sage Publications. 

Duvall, E.M.,& Miller, B.C. (1985).  Marriage and Family Development. 6th Edition. New York: Harper & Row Publishers.

Hendrick, S. S. and Hendrick, C. (1992) Liking, loving and relating (2nd edn.), Pacific Grove, CA: Brooks/Cole 

Mindes, Gayle. (2006). Teaching Young Children Social Studies. United States of America: Praeger Publishers. 

Olson, David H &  Defrain, John. (2006). Marriages and Families: Intimacy,. Diversity, and Strengthts. (Ed. ke-5). Boston: McGraw Hill 

Devito. Joseph. (1997). Komunikasi Antar manusia. Jakarta: Professional Book.  



Hocker, J.L., & Wilmot, W.W. (2001).  Interpersonal Conflict (6th Ed). New York: Mc Graw Hill Companies. 
Pruitt, Dean G., Rubin, Jeffrey Z. (2004).  Teori Konflik Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 

Dwijanti, J. E. (2000). Perbedaan penggunaan metode resolusi konflik pemutusan hubungan kerja (PHK) antara manajemen dan karyawan.  Anima: Indonesian Psychological Journal, Vol. 15 No. 2, 131-148. 

Pengertian Konflik Definisi Pendekatan Resolusi Dalam Perkawinan Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment