Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Wednesday, 30 September 2015

Pengertian Letter Of Credit Jenis Pihak Transaksi Tahapan Penerbitan Dasar Pengaturan dalam Perbankan

Pengertian Letter of' Credit adalah - secara umum merupakan suatu pernyataan dari issuing  bank  atas permintaan  importir  yang  merupakan  nasabah  dari  bank tersebut, untuk menyediakan dana dan membayar sejumlah uang tertentu untuk kepentingan pihak ketiga (eksportir). Pembukaan L/C oleh importir dilakukan melalui bank yang disebut opening bank atau Issuing Bank.


Pada umumnya L/C digunakan untuk membiayai kembali kontrak penjualan barang jarak jauh antara pembeli dan penjual yang belum saling mengenal dengan baik. (Henry D. Gabriel, Standby Letter of Credit Does the Risk Out Weigh the Benefits? Columbia Business Law Review, vol 1988 Num3, hal. 139 - 153)

L/C  digunakan  untuk  membiayai  transaksi  perdagangan  internasional.
Tetapi, L/C bukan merupakan garansi (guarantee) atau surat berharga yang dapat dipindahtangankan (negotiable instrument). (David D. Command, “The Uniform Commercial Code Law Journal. Vol.17 Num 1, Summer 1984, hal. 44.)

Definisi Letter Of Credit

C.F.G. Sunaryati Hartono, mengatakan:
“Secara harfiah L/C dapat diterjemakan sebagai Surat Utang atau Surat Piutang atau Surat Tagihan, tetapi sebenarnya L/C lebih merupakan suatu janji akan dilakukannya pembayaran, apabila dan setelah terpenuhi syarat- syarat tertentu.”

Sementara  UCP  600  mengatakan  bahwa  L/C  adalah  janji  dari  bank penerbit  untuk  melakukan pembayaran atau  memberi kuasa kepada  bank  lain untuk melakukan pembayaran kepada penerima atas penyerahan dokumen- dokumen (misalnya konosemen,  faktur, sertfikat  asuransi)  yang sesuai dengan persyaratan L/C.

Inti dari pengertian L/C menurut UCP ialah bahwa L/C merupakan “Janji pembayaran”. Bank penerbit melakukan pembayaran kepada penerima baik langsung ataupun melalui bank lain adalah atas instruksi pemohon yang berjanji membayar   kembali   kepada   bank   penerbit.   Dalam   transaksi   L/C   terdapat hubungan-hubungan hukum yang utama sebagai berikut:
  • Hubungan  hukum  antara  pembeli  (pemohon)  dan  penjual  (penerima) berdasarkan kontrak penjualan
  • Hubungan   hukum   antara   pemohon   dan   bank   penerbit   berdasarkan permintaan penerbitan L/C sebagai kontrak.
  • Hubungan  hukum antara bank  penerbit  dan penerima  berdasarkan L/C sebagai kontrak.
  • Hubungan  hukum  antara  bank  penerbit  dan  bank  penerus  berdasarkan kontrak keagenan. 
  • Hubungan hukum antara bank penerus dan penerima berdasarkan kontrak pembayaran L/C.


Agoes   Moeljono   melihat   hakikat   L/C   sebagai   suatu   “perikatan.” Berikutnya lagi, Amir M.S., penulis dan pelaku dagang, mengatakan: Amir M.S, Seluk-beluk dan Tehnik Perdagangan Luar Negeri; Suatu Penuntun IMPOR & EKSPOR, (Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo, 1993), hal. 37

“Letter of Credit atau biasa disingkat L/C adalah suatu Bank atas permintaan importir langganan Bank tersebut yang ditujukan kepada eksportir di luar negeri yang menjadi relasi importir itu, yang memberi HAK kepada eksportir itu untuk menarik wesel-wesel atas importer bersangkutan untuk sejumlah uang yang disebutkan dalam surat itu.”

Inti  dari  definisi   Amir   M.S.   yaitu   bahwa   L/C   merupakan   “Surat pembayaran.”

Dasar Pengaturan Letter Of Credit

Uniform  Customs and  Practice for Documentary Credit  (UCP)  adalah pedoman yang menjadi peraturan internasional dalam jual beli antar negara, mengenai cara pembayaran yang  harus dilakukan oleh pernbeli melalui Bank. Peraturan UCP ini telah diterima oleh banyak negara dan telah digunakan secara internasional. Demikian juga dengan Indonesia yang menggunakan UCP ini sebagai pedoman pembayaran perdagangan luar negeri. Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1982 merupakan dasar hukum L/C di Indonesia. Ketentuan pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. I Tahun 1982 yang secara rinci mengatur L/C belum ada. Sesuai dengan kenyataan bahwa dalam praktek perbankan Indonesia telah digunakan UCP sebagai ketentuan L/C sejak tahun 1970-an. Ramlan Ginting, Letter of Credit: Tinjauan Aspek Hukum dan Bisnis, (Jakarta: Salemba empat, 2000), hal. 18 

Bank Indonesia dalam Surat Edaran No. 26/34/ULN tanggal 17 Desember 1993 mengatur L/C yang diterbitkan bank devisa (bank umum) boleh tunduk atau tidak pada UCP. Bank Indonesia secara yuridis formal memberikan kebebasan kepada bank devisa di Indonesia untuk menentukan sikap. Dalam hal L/C tunduk pada UCP, maka agar UCP mempunyai kekuatan hukum mengikat atas L/C bank penerbit  harus  melakukan  suatu  tindakan  yaitu  mencantumkan  suatu  klausul dalam  L/C yang  menyatakan  bahwa  L/C  tunduk  pada  UCP  sesuai  dengan ketentuan dalam Artikel 1 UCP No. 600 tahun 2007 yang mengatakan:

Uniform  Customs and  Practice for Documentary Credit  (UCP)  Revisi 2007 No. 600, akan berlaku untuk semua "documentary credit" (termasuk standby letter of credit sejauh mana UCP ini dapat diberlakukan) bilamana di dalam teks kredit tersebut menyebutkan secara tegas bahwa kredit tersebut tunduk kepada Uniform Customs and Practice for Documentary Credit, 2007 Revision, ICC Publication No. 600. (UCP) mengikat semua pihak  yang  bersangkutan,  kecuali  dengan  tegas  ditentukan  lain  dalam kredit tersebut.

Pihak-Pihak Dalam Transaksi Letter Of Credit

Dalam pelaksanaan pembukaan Letter of Credit, dalam bentuknya yang paling sederhana, ada beberapa pihak yang berkepentingan, yaitu:

a.   Importir/Pembeli
Merupakan pihak yang melaksanakan transaksi jual beli dengan penjual/eksportir. Pihak Importir mengajukan permintaan pembukaan L/C kepada bank pembuka atas nama eksportir, setelah memenuhi syarat-syarat yang berlaku untuk melakukan transaksi ekspor impor. Kewajiban-kewajiban importir, antara lain:
  1. Mengirim surat kepada eksportir di luar negeri.
  2. Menerima surat balasan dari eksportir berikut brosur. 
  3. Menyiapkan permintaan pembukaan L/C.
  4. Menyiapkan uang pembayaran tunai kepada bank pembuka L/C. 

b.   Bank Pembuka L/C atau Opening Bank atau Issuing Bank

Tugas dari bank pembuka adalah melayani importir yang mengajukan permintaan pembukaan L/C. sedangkan tugas-tugas yang lain adalah:
  1. Menerima, mencatat, dan meneliti pembukaan L/C.
  2. Menyediakan devisa yang diperlukan oleh importir.
  3. Melaksanakan permintaan perubahan L/C.
  4. Menerima setoran uang tunai dari importir sebagai pelunasan harga barang sesuai nilai L/C.


c.   Bank Penerus L/C atau Advising Bank
Merupakan bank yang meneruskan L/C kepada eksportir. Apabila bank ini dikuasakan untuk membeli wesel-wesel yang ditarik oleh eksportir atas L/C tersebut, maka disebut dengan Negotiating Bank. Jika bank ini diminta untuk ikut menjamin pembayaran, maka disebut dengan Confirming Bank.

Tugas-tugas dari bank penerus L/C antara lain:
  1. Meneruskan L/C kepada eksportir
  2. Menerima dokumen yang disyaratkan dalam L/C dari eksportir.
  3. Membayar harga barang kepada eksportir sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan di dalam L/C. 


d.   Eksportir/Penjual
Merupakan pihak yang mengadakan transakasi jual beli dengan importir atau pembeli. Kewajiban-kewajiban eksportir, antara lain:
  1. Menerima surat dari importir.
  2. Membalas surat tersebut berikut brosur.
  3. Menerima L/C dari bank penerus L/C.
  4. Menyiapkan barang yang akan dikirimkan.
  5. Menyerahkan dokumen-dokumen yang disyaratkan di dalam L/C.
  6. Menerima uang pembayaran dari pembeli melalui bank penerus L/C. Suatu perjanjian, agar dapat  terwujud,  lazimnya ada suatu kesepakatan tentang harga dan barang antara pembeli dan penjual. Demikian juga di dalam pembukaan suatu L/C, pihak eksportir dan importir sebelumnya sudah harus mencapai kesepakatan yang dituangkan dalam suatu perjanjian yang disebut dengan perjanjian jual-beli atau kontrak jual-beli.


e.   Pihak-pihak yang lain
Selain pihak-pihak yang telah dikemukakan, masih ada beberapa pihak yang secara tidak langsung terkait dalam transaksi ekspor impor, dimana pihak- pihak ini merupakan badan usaha yang bergerak dibidang jasa tertentu, antara lain:
1)  Maskapai Asuransi, tugasnya antara lain:
  • Membuat cover note
  • Membuat polis asuransi
  • Menagih pembayaran premi asuransi 
  • Menyelesaikan klaim apabila terjadi suatu kerugian


2)  Ekspedisi Muatan Kapal Laut, tugasnya antara lain:
  • Menyiapkan angkutan untuk pengiriman barang
  • Membantu importir mengeluarkan barang dari pelabuhan c)  Membayar bea masuk


3)  Superintending Company
Untuk memastikan atas kebenaran barang yang diimpor, maka importir dapat  meminta  jasa  dari superintending  company  untuk  meneliti barang   yang   akan   diimpor.   Objek   penelitian   didasarkan   atas permintaan pemberi amanat, dapat berupa penelitian atas keaslian barang, kelengkapan barang, dan lain sebagainya.

Tahapan Penerbitan Letter Of Credit

Pada   dasarnya   tahapan   penerbitan   L/C   luar   negeri   sama   dengan mekanisme penerbitan Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) sebagaimana telah dijelaskan diatas, hanya ada keterlibatan bank asing, tahapan- tahapannya adalah sebagai berikut:
  1. Pembeli dan penjual mengadakan kontrak jual beli. Dalam jual beli itu ditetapkan bahwa pembeli diwajibkan membuka kredit berdokumen atau L/ C kepada penjual.
  2. Pembeli lalu mengajukan kredit berdokumen kepada bank devisa langganannya. Kalau bank devisa tersebut setuju kredit berdokumen diterbitkan bagi kepentingan penjual. Dalam hubungan ini pembeli disebut pembuka dan penjual sebagai penerima (beneficiary) 
  3. Bank penerbit kredit (issuing bank) mengirim surat kredit berdokumen itu kepada beneficiary dengan melalui bank korespondennya dinegara beneficiary. Bank koresponden tersebut disebut advising bank atau confirming bank
  4. Advising  bank  memberitahu  beneficiary  bahwa  baginya  telah  dikirim kredit berdokumen dari issuing bank atas permohonan pembeli. Sebagai advising bank tidak ada kewajiban, sedangkan sebagai confirming bank berkewajiban berkewajiban menjamin terlaksananya kredit tersebut
  5. Setelah   beneficiary   menerima   surat   kredit,   dia   lalu   mengirimkan barangnya kepada pembuka kredit (pembeli). Untuk perbuatan ini beneficiary menerima dokumen pengangkutan dan dokumen-dokumen pembantu dari instansi-instansi yang berwenang
  6. Dokumen   induk   (pengangkutan)   dan   dokumen   pembantu   asli   lalu diserahkan kepada advising bank, duplikatnya dikirim langsung kepada pembeli
  7. Setelah  advising  bank  meneliti  dokumen-dokumen  tersebut  dan berkesimpulan bahwa dokumen-dokumen tersebut telah memenuhi syarat- syarat sebagaimana mestinya, maka dokumen-dokumen tersebut diterima dan dibayar.
  8. Dokumen yang sudah diterima, oleh advising bank lalu dikirim kepada issuing bank\
  9. Issuing bank yang sudah menerima dokumen-dokumen, lalu membayar kepada advising bank 
  10. Issuing bank memberitahu pembuka kredit bahwa dokumen telah datang, dan pembuka kredit lalu membayar semua kewajibannya kepada issuing bank
  11. Issuing bank setelah mendapatkan pembayaran akan mengirim dokumen asli kepada pembuka kredit (pembeli) berdasar dokumen-dokumen mana barang-barang dapat diminta dari pengangkut


Macam Macam Jenis Letter Of Credit

Mengenai jenis-jenis letter of credit, terdapat beberapa jenis L/C jika ditinjau dari beberapa sudut pandang berbeda. Untuk itu penulis akan mengemukakan beberapa jenis L/C berdasarkan beberapa sudut pandang  yang berbeda. Munir Fuady, Op. cit, hal. 95 

a.   Dari segi kekuatan berlaku
  1. Revocable L/C
    Yaitu suatu L/C yang dapat ditarik atau dirubah atau dibatalkan kembali setiap waktu oleh pihak-pihak yang bersangkutan sepanjang belum terjadi pelaksanaan pembayaran. Dengan kata lain Revocable L/C merupakan L/C yang dapat  dibatalkan  setiap  saat  tanpa  memerlukan persetujuan  pihak  lainnya. Mestinya Revocable L/C dapat dibatalkan kapan saja tanpa perlu pemberithuan terlebih dahulu kepada pihak penjual. Namun demikian, di dalam praktek pembatalan  hanya  boleh dilakukan  apabila Revocable L/C  belum dinegosiasi. Apabila pembatalan terjadi setelah L/C dinegosiasi, maka L/C tersebut akan dibayar oleh Bank Pembuka. Namun Revocable L/C ini dalam praktek jarang sekali dipergunakan,  karena sifatnya yang  dapat  dicabut  sewaktu-waktu tanpa persetujuan dapat menimbulkan kerugian bagi pihak penjual.

  2. IrRevocable L/C
    Yaitu suatu L/C yang merupakan kebalikan dari Revocable L/C, dimana kredit hanya dapat ditarik atau dirubah atau dibatalkan di dalam masa berlakunya, dengan persetujuan pihak pembeli, bank pembuka, bank penerus, dan penjual.

    IrRevocable L/C ini banyak dipergunakan dalam praktek karena sifatnya yang tidak dapat dicabut tanpa persetujuan para pihak tersebut tidak akan menimbulkan kekhawatiran bahwa L/C tersebut akan ditarik atau diubah atau dibatalkan.

  3. IrRevocable and Confirmed L/C
    Yaitu suatu L/C yang tidak dapat dibatalkan atau diubah kecuali ada persetujuan dari para pihak. Dalam L/C jenis ini yang bertanggungjawab adalah bank pembuka selama jangka waktu berlakunya L/C, dan bank kedua juga bertanggung jawab atas pembayaran tersebut. Untuk setiap pembukaan L/C, harus disebutkan secara tegas dan jelas apakah L/C tersebut Revocable L/C atau IrRevocable L/C. menurut ketentuan Pasal 6 c UCP 500 1993, bahwa jika tidak terdapat petunjuk demikian, maka kredit tersebut akan dianggap sebagai IrRevocable L/C.


b.   Dari segi pihak yang mengeluarkan L/C
  1. Banker’s L/C
    Yaitu suatu L/C yang pembukaannya dilakukan oleh suatu bank atas permintaan  dari  pembeli dan  bertanggung  jawab  atas  pembayarannya  apabila syarat yang ditentuka telah dipenuhi. L/C jenis ini paling banyak dijumpai dalam praktek, karena memberi jaminan akan dilaksanakannya suatu pembayaran.

  2. Merchant’s L/C
    Yaitu suatu L/C yang dikeluarkan oleh seorang pedagang atau suatu perusahaan, sedangkan bank hanya meneruskan pemberitahuan kepada penjual bahwa telah dibuka suatu kredit pada bank tersebut, dan akan dibayar apabila penjual menerbitkan sepucuk wesel atas pembeli dengan menyerahkan beberapa dokumen. L/C jenis ini jarang dipergunakan karena pihak bank tidak bertanggung jawab, dan tidak menjamin akan adanya pelaksanaan pembayaran.


c.   Dari segi persyaratan L/C
  1. Documentary L/C
    Yaitu suatu L/C yang syarat pembayarannya di dalam penarikan wesel harus dilengkapi dengan dokumen-dokumen yang disebutkan di dalam L/C tersebut. Dokumen-dokumen tersebut antara lain:
    • Bill of Lading / Konosemen
    • Commercial Invoice / Faktur Perdagangan
    • Insurance Certificate / Serifikat Asuransi
    • Packing List / Daftar Pembungkus
    • Brochure / Brosur 
  2. Open atau Clean L/C
    Yaitu suatu L/C yang syarat pembayarannya di dalam penarikan wesel tidak memerlukan adanya dokumen-dokumen. Bahwa untuk pengambilan kredit hanya dengan menyerahkan kuitansi atau rekening saja.


d.   Dari segi cara pembayaran
  1. Sight L/C
    Yaitu  suatu  L/C  yang  cara  pembayarannya  dilakukan  oleh  negotiating bank pada saat wesel ditunjukkan oleh eksportir, dilengkapi dengan dokumen- dokumen yang sesuai dengan kondisi dan syarat yang disebutkan di dalam L/C

  2. Usance L/C
    Yaitu suatu L/C yang cara pembayarannya dilaksanakan pada saat jatuh tempo wesel berjagka. Hal ini dilakukan apabila penjual dan pembeli sudah merupakan langganan dan saling percaya. Usance L/C harus memenuhi syarat- syarat antara lain:
  • Wesel berjangka ditarik dan diaksep oleh bank pembuka
  • Tanggal  pembayaran  wesel  berjangka  tersebut  selambat-lambatnya dilakukan 180 hari setelah tanggal pengapalan

e.   Dari segi sifat
  1. Transferable L/C
    Yaitu suatu L/C yang memberikan hak kepada penjual untuk memberikan memberikan instruksi kepada bank yang diamanatkan untuk melakukan pembayaran atau akseptasi kepada setiap bank yang berhak melakukan negosiasi untuk menyerahkan hak atas kredit itu seluruhnya atau sebagian kepada pihak ketiga (penjual kedua). Transferable L/C tidak dapat dipindah-tangankan lebih dari satu kali. Hal ini ditentukan dalam artikel 48 d UCP 600 2007, yang menyatakan “kredit dapat ditransfer lebih dari satu second beneficiary sepanjang penarikan-penarikan atau pengiriman-pengiriman sebagian diperbolehkan. Transfered  credit  tidak  dapat  ditransfer  atas permohonan  beneficiary  kepada setiap beneficiary berikutnya. First beneficiary tidak dianggap sebagai beneficiary berikutnya.”

    Menurut Hartono Hadisoeprapto, alasan ketentuan L/C transferable L/C dapat dipindah-tangankan untuk sekali adalah: Hartono Hadisoeprapto, Op, cit., hal. 44 
    • Faktor politik 
    • Faktor harga
    • Faktor kerugian
    • Faktor barang dan kualitas rendah
  2. Non Transferable L/C
    Yaitu suatu L/C yang merupakan kebalikan dari transferable L/C, yang mana tidak dapat dipindahtangankan, sehingga yang berhak hanya penjual yang namanya tercantum pada L/C tersebut.


f.   Jenis-jenis L/C khusus
Selain jenis-jenis L/C yang telah dikemukakan, masih ada beberapa jenis L/C lain yang merupakan jenis dari L/C khusus. Ada beberapa jenis L/C khusus, yaitu:
  1. Revolving L/C
    Yaitu suatu L/C yang dibuka untuk beberapa transaksi sehingga dapat dibayar  beberapa  kali. Dengan demikian  pembayaran  kredit  itu  bersambung hingga mencapai jumlah maksimum yang diperjanjikan. Revolving L/C terbagi atas:
    • Revolving L/C yang kumulatif
      Pada L/C jenis ini, penjual diperbolehkan untuk menambah kekurangan pengiriman barang dari periode yang lalu untuk dihimpun di dalam pengiriman berikutnya.
    • Revolving L/C yang non kumulatif
      Pada L/C jenis ini, penjual tidak diperbolehkan untuk menambah kekurangan pengiriman barang periode yang lalu untuk dihimpun di dalam pengiriman berikutnya.
  2. Back to Back L/C
    Yaitu suatu L/C yang pembukaannya terpisah tetapi masih didasarkan atas data-data kredit yang semula. L/C yang telah dibuka sebelumnya menjadi dasar bagi dibukanya back to back L/C. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa kedua L/C tersebut memiliki persyaratan yang sama, baik dalam jumlah dan jenis barang maupun jenis dokumen yang diperlukan, tetapi terdapat perbedaan harga dalam faktur dan wesel dari L/C semula dengan yang baru.
  3. Red Clause L/C
    Yaitu suatu L/C yang dapat dibayar oleh bank terlebih dahulu sebelum dokumen-dokumen yang disyaratkan diserahkan. L/C ini mengandung syarat bahwa   atas   beban  dan  tanggungan  pembuka   L/C,   bank   pembayar   dapat  membayarkan uang muka sebagian maupun seluruh jumlah L/C walaupun eksportir  belum  melaksanakan pengiriman  barang.  Red  clause  L/C dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
    • Secured atau Covered Red Clause L/C
      Yaitu suatu L/C yang mengandung syarat bahwa bank pembayar dapat membayar uang muka kepada eksportir, walaupun eksportir belum melaksanakan pengiriman barang. Pembayaran hanya dapat dilakukan apabila eksportir menyerahkan wesel atau kuitansi disertai surat jaminan serta surat-surat lainnya sesuai dengan persyaratan L/C, seperti surat gudang, polis asuransi, dan lain-lain.
    • Clean atau Unsecured Red Clause L/C
      Yaitu suatu L/C yang mengandung persyaratan bahwa pembayaran dapat dilakukan oleh bank kepada eksportir, walaupun eksportir belum mengirimkan barang, yang pembayarannya dapat dilakukan berdasarkan kuitansi tanpa disertai jaminan.
  4. Green Clause L/C
    Yaitu suatu L/C yang mirip dengan Red Clause L/C, hanya saja dalam red clause L/C pembayaran uang mukanya merupakan perintah dari pihak pembeli, sedangkan dalam green clause L/C pembayaran uang mukanya dilakukan oleh bank atas kepercayaannya terhadap pedagang perantara.
  5. Negocierings L/C 
    Yaitu suatu L/C yang mengharuskan penjual menerbitkan wesel kepada pembeli, yang akan dinegosiasi oleh bank pembuka. Bentuk L/C seperti ini membebankan tanggung jawab kepada bank pembuka, sedangkan bank penerus tidak bertanggung jawab sedikitpun.
  6. Standby L/C
    Yaitu  suatu  L/C  yang  dipergunakan  sebagai alat  pembayaran  terhadap pembelian barang-barang dalam perdagangan dengan mengkaitkannya dengan dokumen-dokumen perkapalan. Standby L/C ini seperti Clean L/C, karena untuk terlaksananya pembayaran tidak memerlukan penyerahan dokumen-dokumen, hanya saja digunakan untuk masalah-masalah garansi.

Daftar Pustaka Makalah Letter Of Credit 

Pengertian Letter Of Credit Jenis Pihak Transaksi Tahapan Penerbitan Dasar Pengaturan dalam Perbankan Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment