Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Tuesday, 27 September 2016

Pengertian Media Pembelajaran Definisi Kegunaan, Model Taksonomi dan Pedoman Umum Proses Penggunaannya

Pengertian Media Pembelajaran - Asosiasi Pendidikan Nasional di Amerika (National Education Association/NEA) mendefinisikan media dalam lingkup pendidikan sebagai segala benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan untuk kegiatan tersebut (dalam Miarso, 2004).


Sedangkan Shabri (2005) mengutarakan bahwa media merupakan alat yang digunakan sebagai perantara untuk menyampaikan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemajuan audiens (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar mengajar.

Definisi Media Pembelajaran

Commission on Instructional Technology (dalam Miarso, 2004) mendefinisikan media pembelajaran sebagai media yang lahir akibat adanya revolusi komunikasi yang dapat digunakan untuk tujuan pembelajaran di samping guru, buku teks, dan papan tulis. Sedangkan Gagne (dalam Miarso, 2004) menyatakan bahwa media pembelajaran adalah sarana untuk memberikan rangsangan bagi si pembelajar supaya terjadi proses belajar. Miarso (2004) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan si belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar yang disengaja, bertujuan dan terkendali.

Dari beberapa pengertian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa media pembelajaran merupakan segala benda yang menjadi sarana untuk menyampaikan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan perhatian sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar.

Kegunaan Media dalam Pembelajaran


Miarso (2004) menjabarkan kegunaan media dalam pembelajaran baik dari kajian teoritik maupun empirik sebagai berikut:

  1. Media mampu memberikan rangsangan yang bervariasi kepada otak kita, sehingga otak kita dapat erfungsi secara optimal. Penelitian yang dilakukan Sperry (dalam Miarso, 2004) menunjukkan bahwa belahan otak sebelah kiri merupakan tempat kedudukan pikiran yang bersifat verbal, rasional, analitikal, dan konseptual. Belahan ini mengontrol bicara. Belahan otak sebelah kanan merupakan tempat kedudukan pikiran visual, emosional, holistik, fisikal, spasial dan kreatif. Belahan ini mengontrol tindakan. Pada satu saat hanya satu salah satu belahan yang bersifat dominan; kedua belahan tidak dapat dominan secara serentak. Rangsangan pada salah satu belahan saja secara berkepanjangan akan menyebabkan ketegangan. Karena itu sebagai salah satu implikasi dalam pembelajaran adalah kedua belahan perlu dirangsang secara bergantian dengan rangsangan audio dan visual. 
  2. Media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para siswa. Kehidupan keluarga dan masyarakat sangat menentukan pengalaman macam apa yang dimiliki oleh siswa. Ketersediaan buku dan bacaan lain,  kesempatan bepergian, dan sebagainya adalah faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak-anak. Media dapat mengatasi perbedaan-perbedan ini. Jika siswa tidak mungkin dibawa ke objek yang dipelajari, maka objeknya lah yang dibawa ke siswa dengan menggunakan media.
  3. Media dapat melampaui batas ruang kelas. Banyak hal yang tak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para siswa karena: 
    • Objek terlalu besar, misalnya candi, stasiun, dan lain-lain; dengan media kita dapat menampilkannya ke hadapan siswa. 
    • Beberapa objek, makhluk hidup dan benda, yang terlalu kecil diamati oleh mata telanjang. Misalnya, bakteri, protozoa dan lain sebagainya. Kaca pembesar sebagai salah satu bentuk saran pembelajaran dapat memperbesar dan memperjelas objek-objek tadi. 
    • Gerakan-gerakan yang terlalu lambat untuk diamati, misalnya proses pemekaran bunga, dapat diikuti prosesnya dalam beberapa saat saja berkat media fotografi (timelapse photography). 
    • Gerakan-gerakan yang terlalu cepat pun sulit ditangkap mata biasa. Misalnya kepakan sayap burung, kumbang, dan lain-lain dapat diamati dengan media. 
    • Adakalanya objek yang akan dipelajari terlalu kompleks. Media dalam bentuk diagram atau model dapat digunakan untuk menyederhanakan objek yang bersangkutan agar lebih gampang dimengerti. 
    • Bunyi-bunyi yang amat halus ataupun suara dosen yang berceramah di hadapan ratusan siswa, yang tak mungkin ditangkap dengan jelas bisa menjadi didengar berkat media. 
    • Rintangan-rintangan untuk mempelajari musim, iklim, dan geografi secara umum dapat diatasi. 
  4. Media memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dan lingkungannya. 
  5. Media menghasilkan keseragaman pengamatan. Persepsi yang dimiliki si A berbeda dengan si B bila si A hanya pernah mendengar sedangkan si B pernah melihat sendiri bahkan pernah mmegang, meraba dan merasakannya. Media memberikan pengalaman dan persepsi yang sama. Pengamatan yang dilakukan oleh siswa bisa bersama-sama diarahkan kepada hal-hal penting yang dimaksudkan oleh guru. 
  6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru. Dengan menggunakan media pembelajaran, horizon pengalaman anak semakin luas, persepsi semakin tajam, konsep-konsep dengan sendirinya semakin lengkap. Akibatnya keinginan dan minat untuk belajar selalu muncul. 
  7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang untuk belajar. 
  8. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari sesuatu yang konkret maupun abstrak. 
  9. Media memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar mandiri, pada tempat dan waktu serta kecepatan yang ditentukan sendiri. 
  10. Media meningkatkan kemampuan keterbacaan baru (new literacy), yaitu kemampuan untuk membedakan dan menafsirkan objek, tindakan, dan lambang yang tampak, baik yang alami maupun buatan manusia, yang terdapat dalam lingkungan. 
  11. Media mampu meningkatkan efek sosialisasi, yaitu dengan meningkatnya kesadaran akan dunia sekitar. 
  12. Media dapat meningkatkan kemampuan ekspresi diri guru maupun siswa. 


Pedoman Umum Penggunaan Media dalam Proses Pembelajaran

Miarso (2004) mengutarakan bahwa dalam usaha menggunakan media dalam proses belajar-mengajar, perlu diberikan sejumlah pedoman umum sebagai berikut:
  1. Tidak ada suatu media yang terbaik untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Masing-masing media mempunyai kelebihan dan kekurangan. 
  2. Penggunaan media harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. 
  3. Penggunaan media harus mempertimbangkan kecocokan ciri media dengan karakteristik materi pelajaran yang disajikan. 
  4. Penggunaan media harus disesuaikan dengan bentuk kegiatan belajar-mengajar yang akan dilaksanakan seperti belajar secara klasikal, belajar dalam kelompok kecil, belajar secara individual atau belajar mandiri. 
  5. Penggunaan media harus disertai persiapan yang cukup seperti mem-preview media yang akan dipakai, mempersiapkan berbagai peralatan yang dibutuhkan di ruang kelas sebelum pelajar dimulai dan sebelum peserta masuk kelas. 
  6. Peserta didik perlu disiapkan sebelum media pembelajaran digunakan agar mereka dapat mengarahkan perhatian pada hal-hal penting selama penyajian dengan media berlangsung. 
  7. Penggunaan media harus diusahakan agar senantiasa melibatkan partisipasi aktif peserta. 

Taksonomi Media Pembelajaran


Haney dan Ullmer (dalam Miarso, 2004), mengemukakan bahwa terdapat tiga media pembelajaran, yaitu media penyaji, media objek dan media interaktif. Media objek merupakan benda tiga dimensi yang mengandung informasi, yang dapat diketahui melalui ciri fisiknya seperti ukuran, berat, bentuk, susunan, warna, fungsi, dan sebagainya. Media objek meliputi dua kelompok, yaitu objek yang sebenarnya dan objek pengganti. Media objek pengganti adalah benda-benda yang dibuat untuk mewakili atau menggantikan “benda-benda yang sebenarnya”. Objek pengganti banyak dikenal dengan nama replika, model, dan benda tiruan.

Sedangkan Heinich, Molenda, & Russel (dalam Furqon, 2007) mengemukakan klasifikasi media yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran yaitu 

(1) Media yang tidak diproyeksikan, 
(2) Media yang diproyeksikan (projected media), 
(3) Media audio, 
(4) Media video dan film, 
(5) Komputer, dan 
(6) Multimedia berbasis komputer. 

Media yang tidak diproyeksikan terdiri dari beberapa jenis yaitu benda nyata (realia), replika dan model, kit multimedia, simulator, bahan cetakan (printed materials), foto, gambar, chart, poster dan grafik. Berdasarkan bentuknya, jenis media ini dapat diklasifikasikan ke dalam media dua dimensi dan media tiga dimensi. Bahan cetakan seperti gambar, chart, poster, foto dan grafik tergolong sebagai media dua dimensi. Sedangkan realia, replika, model, dan simulator dapat digolongkan sebagai media tiga dimensi.

Media Pembelajaran Model

Haney dan Ullmer (dalam Miarso, 2004), mengemukakan bahwa model merupakan sebuah reproduksi yang kelihatannya sama tetapi biasanya diperkecil atau diperbesar dalam skala tertentu dan seringkali mempunyai bagian-bagian yang bergerak atau unsur-unsur yang bekerja menurut pola benda yang sesungguhnya.

Menurut Anderson (dalam Ikhsan, 2007), model adalah kelompok media objek tiga dimensi dan merupakan representasi dari benda sesungguhnya yang tidak diproyeksikan. Media tiga dimensi dapat berbentuk media murah dan sederhana sampai jenis media yang mahal dan canggih, memberi kemungkinan bagi siswa untuk memperoleh pengalaman belajar yang bersifat langsung dan berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan yang sedang dipelajari.

Sedangkan Wittich dan Schuller (1957) menyatakan bahwa model lebih dikenal sebagai objek tiga dimensi yang merupakan representasi objek yang sesungguhnya. Model ini mungkin lebih lengkap pada tiap detilnya atau bisa saja lebih sederhana dibandingkan dengan yang aslinya.

Daftar Pustaka Makalah Media Pembelajaran

Wittich & Schuller. (1957). Audio-visual materials. 2nd edition. New York: Harper & Brothers.

Ikhsan, M. (2007). Prinsip pengembangan media pembelajaran. [on-line]. http://muhamadikhsan.multiply.com/journal/item/25. Tanggal akses 7 Mei 2007.

Miarso, Y. (2004). Menyemai benih teknologi pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Furqan,M.(2007). Media pembelajaran.  [on-line]. http://www.waspada.co.id/serba_serbi/pendidikan/artikel.php?article_id=6 0902. Tanggal akses 7 Mei 2007.

Shabri, H. A. (2005). Strategi belajar mengajar micro teaching. Jakarta: Quantum Teaching.

Pengertian Media Pembelajaran Definisi Kegunaan, Model Taksonomi dan Pedoman Umum Proses Penggunaannya Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment