Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Monday, 21 September 2015

Pengertian Pembelajaran Kooperatif Definisi, Tujuan dan Prinsip

Pengertian Pembelajaran Kooperatif adalah sebuah alternatif dari sesuatu yang dipercaya sebagai penekanan berlebihan terhadap kompetisi yang lazim dipraktikkan dalam pendidikan pada umumnya. Pengajar memiliki peran ganda yaitu sebagai ahli dari subjek yang diajarkan dan pemegang otoritas di dalam kelas. Menurut Scott B Watson dari School of Education, Faculty Publications and Presentation Library


University dalam makalahnya yang berjudul The Essential of Cooperative Learning menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah lingkungan belajar kelas yang memungkinkan mahasiswa bekerja sama dalam suatu kelompok kecil yang heterogen dan mengerjakan tugas-tugas akademiknya (Warsono dan Haryanto, 2013).

Spencer Kegen merumuskan pembelajaran kooperatif terdiri dari teknik-teknik pembelajaran yang memerlukan saling ketergatungan positif antara pebelajar agar pembelajaran berlangsung baik. Wolkfolk (2001) mendefenisikan pembelajaran kooperatif adalah suatu pengaturan yang memungkinkan para mahasiswa bekerja sama dan belajar bersama dan saling membantu secara interaktif utuk mencapai tujuan pembelajaran (Warsono dan Hariyanto, 2013).

Sistem pengaturan yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama mahasiswa dalam tugas yang terstruktur disebut sebagai sistem “pembelajaran gotong royong” atau cooperative learning (Lie, 2010).

Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Tujuan belajar kooperatif yaitu menekankan pada tujuan kesuksesan pada kelompok, yang dapat dicapai jika semua anggota kelompok mencapai tujuan dan penguasaaan materi (Slavin, 2010).

Manfaat penerapan belajar kooperatif adalah mengurangi kekurangan dalam pembelajaran secara individual, mengembangkan solidaritas di kalangan mahasiswa. Diharapkan dengan pembelajaran kooperatif dapat memuculkan seorang mahasiswa yang memiliki prestasi akademik yag cemerlang serta memiliki solidaritas yang tinggi (Huda, 2011).

Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan kepada setiap mahasiswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja secara bersama-sama dalam suatu kelompok (Lie, 2010).

Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kooperatif

Ada delapan prinsip yang harus diterapkan dalam pembelajaran cooperative learning :

Pembentukan kelompok bersifat heterogen, maksudnya adalah pembentukan kelompok para mahasiswa harus terdiri dari berbagai variabel seperti jenis kelamin, etnis, kelas sosial, agama, kepribadian, kecakapan bahasa, kerajinan dan lain-lain.

Perlu keterampilan kolaboratif, misalnya kemampuan para mahasiswa dalam berkomunikasi, memberikan alasan, beragumentasi, menjaga perasaan mahasiwa lain, dan saling bertoleransi.

Otonomi Kelompok. Mahasiswa ditutut untuk mampu mencari setiap pembelajaran dengan sendirinya tapa bergantung kepada dosen. Peranan dosen tidak bertindak lagi sebagai orang bijak di atas panggung (sage on the stage), tetapi memandu mahasiswa dari samping (guide on the side).

Interaksi stimultan. Masing-masing individu berinteraksi menuju tujuan. bersama. Partisipasi yang adil dan setara di dalam kelompok, tidak boleh hanya ada satu atau dua orang mahasiswa saja yang mendominasi.

Tangggung jawab individu. Setiap mahasiswa harus mencoba untuk belajar dan kemudian saling berbagi pengetahuannya. Ketergantungan positif, setiap mahasiswa harus berpedoman “satu untuk semua” dan “semua untuk satu” dalam mencapai pengembang potensi akademis.

Kerja sama sebagai nilai karakter. Kerja sama tidak hanya sebagai cara untuk belajar, namun kerjasama juga menjadi bagian dari isi pembelajaran dan saling memilki ketergantungan positif (Warsono dan Hariyanto, 2013).

Pada metode pembelajaran kooperatif learning berkembang sejumlah riset tentang sejumlah lamanya ingatan mahasiswa terhadap materi pembelajaran terkait dengan metode pembelajaran yang dipergunakan. Hasil riset dari National Training Laboratories di Bethel, Maine (1954), Amerika Serikat menunjukkan bahawa kelompok bahwa kelompok pembelajaran berbasir guru (teacher centered learning) seperti ceramah, tugas membaca, presentasi dosen dengan audiovisual, dan demonstrasi oleh dosen mahasiswa hanya dapat mengingat materi pembelajaran maksimal sebesar 30%. Dengan metode diskusi yang tidak didominisasi oleh dosen, mahasiswa dapat mengingat 50%. Jika mahasiswa diberi kesempatan melakukan sesuatu (learning by doing), mahasiswa dapat mengingat 75%. Praktik pembelajaran dengan cara mengajar mampu mengingat sebanyak 90%, yang dapat dilihat melalui tabel 1 dan tabel 2 berikut ini.

Tabel 1. Ingatan Pembelajaran Dihubungkan Dengan Jenis Presentasi

Pembelajaran Kooperatif
Sumber : Dale, 1969 (Warsono dan Hariyanto, 2013)



Tabel 2 Transfer Pembelajaran dari Instruktur Kepada Mahasiswa
Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Sumber : Joyce dan Showers, 1981 (Warsono dan Hariyanto, 2013)


Daftar Pustaka Makalah Pembelajaran Kooperatif 

Huda, M. (2011).Cooperative Learning, edisi 1, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lie, A. (2010). Cooperative Learning. edisi ketujuh, Jakarta: Gramedia.

Warsono, Hariyanto. (2013). Pembelajaran Aktif Teori dan Assement, edisi 2, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Slavin, R. E. (2010). Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik, Bandung: Nusa Media.

Pengertian Pembelajaran Kooperatif Definisi, Tujuan dan Prinsip Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment