Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Tuesday, 27 September 2016

Pengertian Pendidikan Bilingual Tujuan Model dan Hubungan Antara Self-Efficcy Dengan Komitmen Guru Sekolah Bilingual

Pengertian sekolah bilingual - Pendidikan bilingual melibatkan pengajaran pada semua subjek dalam dua bahasa yang berbeda (Wikipedia, 2005). Pendidikan bilingual adalah sebuah penambahan program bilingual dan bicultural dalam waktu lama secara konsisten, menggunakan dua bahasa dalam instruksi, belajar, dan komunikasi, dengan jumlah siswa yang seimbang dari kelompok kedua bahasa tersebut, yang diintegrasikan pada seluruh atau setidaknya setengah dari hari sekolah tersebut untuk memenuhi kompetensi bilingual, bilateral, akademik, dan lintas budaya (Soltero, 2004).


Tujuan pendidikan bilingual

Pendidikan bilingual memiliki tiga dimensi, yaitu bahasa, akademik, dan sosial budaya (Christian & Lindholm, dalam Soltero, 2002). Kemudian sesuai dengan dimensi tersebut, disusun empat tujuan dari pendidikan bilingual, yaitu perkembangan bahasa pokok (first language), perkembangan bahasa tambahan (second language), hasil akademik, dan kompetensi multikutural.

Penggunaan dua bahasa harus meliputi empat bagian dalam bahasa, yaitu mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Hal ini karena program bilingual yang efektif juga bertujuan untuk meningkatkan patokan belajar bagi siswa. Semua siswa memiliki harapan untuk memiliki prestasi akademik pada atau di atas patokan di kedua bagian bahasa tersebut.

Pada akhirnya pendidikan bilingual bertujuan untuk mengembangkan perspektif positif siswa terhadap lintas budaya, bakat intersosial, dan self-concept yang sehat (Cazahon, dalam Soltero, 2000).

Model pendidikan bilingual

 Adapun model-model umum dari sekolah bilingual (Wikipedia, 2005) adalah sebagai berikut :

a.       Pendidikan bilingual peralihan (Transitional bilingual education)
Pada model pendidikan ini siswa dibantu untuk melakukan transisi dari bahasa asli ke bahasa asing (Inggris). Tujuan dari pendidikan ini adalah membantu siswa agar tidak mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran yang disampaikan dalam bahasa Inggris.

b.      Pendidikan bilingual dua bahasa (Two-way or dual language bilingual education)
Pendidikan ini disusun untuk membantu anak yang bahasa ibunya bukan Inggris dan anak yang bahasa ibunya Inggris untuk menjadi bilingual dan biliterate. Idealnya dalam satu kelas model pendidikan ini terdiri dari masing-masing setengah dari kedua bahasa tersebut. Model ini merupakan model pendidikan bilingual yang paling berhasil karena guru tetap mengerti ketika siswanya berbicara dalam bahasa asli mereka dan kemudian guru bisa membalasnya dengan bahasa Inggris.

c.  Pendidikan bilingual late-exit (Developmental bilingual education)
Pada model ini pendidikan bahasa asing hanya menjadi tambahan. Tujuan pendidikan ini adalah untuk mengembangkan bilingual dan biliterate dalam dua bahasa. Program pendidikan ini tersedia untuk siswa yang bahasa ibunya bukan Inggris dan juga untuk program transisi.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga model pendidikan bilingual, yaitu pendidikan bilingual peralihan, pendidikan bilingual dua bahasa, dan pendidikan bilingual late-exit.


Hubungan Antara Self-Efficcy Dengan Komitmen Guru Sekolah Bilingual

Louis (1998, dalam Joffres & Haughey, 2001) dan Coladarci (1992, dalam effros & Haughey, 2001) menyatakan bahwa self-efficacy guru secara langsung mempengaruhi komitmen guru. Bandura (1997, dalam Joffres & Haughey,2001) menyatakan bahwa self-efficacy guru menunjukkan kepercayaan guru akan kemampuan personalnya untuk mempengaruhi cara belajar siswa. Kemudian Ebmeier dan Nicklaus (dalam Teacher Commitment and Engagemant, 2007) bahwa komitmen guru merupakan bagian dari afeksi atau reaksi emosi seorang guru kepada pengalaman mereka di dalam lingkungan sekolah.

Self-efficacy guru merupakan pendorong bagi siswa yang akan terlihat dari prestasi yang diterima siswa dan juga akan memengaruhi motivasi siswa dalam belajar (Pajares, dalam Pintrich, 2002). Self-efficacy guru merupakan prediktor yang signifikan bagi prestasi siswa. Self-efficacy guru akan meningkat ketika siswanya menunjukkan peningkatan dalam pelajaran. (Tschannen-Moran, Woolfolk Hoy, & Hoy, dalam Pintrich, 2002).

Rotter, dkk (1966, dalam Joffres & Haughey, 2001) menyimpulkan bahwa self-efficacy guru tumbuh dalam dua bentuk kepercayaan, yaitu kepercayaan mengenai kemampuan personal dalam mempengaruhi proses belajar siswa dan kepercayaan mengenai kemampuan guru (sebagai kelompok) untuk mempengaruhi cara belajar siswa secara keseluruhan. Self-efficacy guru akan menambah keefektifan guru dalam mengajar (Tschannen-Moran, Woolfolk Hoy, & Hoy, 1998, dalam Knobloch & Whittington, 2003), prestasi siswa (Armor, dkk, 1976, dalam Knobloch & Whittington, 2003), komitmen profesional (Coladarci, 1992, dalam Knobloch & Whittington, 2003), dan usia karir (Burley et al., 1991, dalam Knobloch & Whittington, 2003).

Self-efficacy guru yang rendah merupakan hal yang menentukan dalam penurunan komitmen guru (Joffres & Haughey, 2001). Reyes dan Coladarci (1992, dalam Joffres & Haughey, 2001) menemukan bahwa self-efficacy berhubungan dengan komitmen guru di sekolah, baik itu komitmen guru terhadap organisasi, maupun komitmen guru dengan profesinya. Hal ini bergantung pada pengertian guru tentang situasinya, dimana dirinya dipengaruhi oleh sejarah kerjanya dan kehadiran teman atau rekan sejawat dalam pekerjaannya.


Komitmen guru dalam mengajar memegang peranan penting dalam menentukan seberapa lama guru bisa bertahan pada profesinya (Chapman, 1982; Chapman & Lowther, 1983; McCracken & Etuk, 1986, dalam Knobloch & Whittington, 2003). Seorang guru yang memilih karir mereka berdasarkan motivasi intrinsik untuk melayani orang lain atau tujuan karir jangka panjang biasanya menunjukkan self-efficacy yang lebih tinggi dalam kegiatan mengajar mereka (Knobloch & Whittington, 2003).

Komitmen guru mengalami berubahan dan pengurangan ketika guru merasa tidak sukses, dimana ketika mereka merasa self-efficacy yang dimilikinya rendah. Perasaan tersebut mendukung berkembangnya ketidakmampuan guru untuk memengaruhi proses belajar siswa, untuk menghidupkan perasaan mereka akan misi dan standar internal profesional, untuk melanjutkan belajar dan tumbuh, dan untuk berprestasi mencapai tujuan (Joffres & Haughey, 2001).

Pergerakan naik dan turunnya komitmen guru terlihat dari pengertian guru akan pengalaman negatif mereka. Komitmen menurun dalam fungsi atribusi kausal guru dari penerimaan akan kegagalan ketika guru mengatribusikan ketidakmampuan mereka untuk memengaruhi proses belajar siswa (Joffres & Haughey, 2001). Joffres & Haughey (2001) menemukan bahwa kesesuaian, dukungan, dan kerja sama cenderung akan memudahkan timbulnya komitmen.

Menurut Tschannen-Moran, Woolfolk Hoy, dan Hoy (dalam Pintrinch, 2002) self-efficacy guru akan meningkat ketika siswanya menunjukkan peningkatan dalam pelajaran. Kemudian hasil yang dicapai siswa di sekolah dipengaruhi juga oleh komitmen guru di sekolah tersebut. Hal ini sesuai dengan dengan pendapat Firestone, dkk (dalam Teacher Commitment and Engagemant, 2007) yang menyatakan bahwa komitmen seorang guru berdampak pada penampilan kerjanya, jumlah kehadiran, burnout dan turnover, yang juga berpengaruh terhadap prestasi siswa, serta perilaku siswa di sekolah. Huberman dan Nias (dalam Teacher Commitment and Engagemant, 2007) berpendapat bahwa komitmen guru merupakan salah satu faktor penting yang menentukan dalam kesuksesan dan kelangsungan pendidikan di masa depan.

Knobloch dan Whittington (2003) dalam penelitiannya menemukan bahwa komitmen seorang guru merupakan sumber dari self-efficacy dirinya dalam mengajar, dimana hal ini berhubungan dengan harapan dari efikasinya akan keberhasilannya dalam mengajar. Pajares (dalam Henson, 2001) menyatakan bahwa self-efficacy mempengaruhi pilihan, usaha, dan ketahanan individu ketika berhadapan dengan masalah, serta mempengaruhi emosi individu juga.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti berasumsi bahwa self-efficacy guru dan komitmen guru memiliki hubungan yang positif. Artinya semakin tinggi self-efficacy yang dimiliki seorang guru ketika mengajar, maka semakin tinggi komitmen guru tersebut.

Daftar Pustaka Makalah Pendidikan Bilingual 

Knobloch, Neil A., & Whittington, M.S. (2003). Differences in Teacher Efficacy Related to Career Commitment of Novice Agriculture Teachers. Journal of Career and Technical Education Vol.20. No.1.

Henson, Robin K. (2001). Teacher Self-Efficacy : Substantive Implications and Measurement Dilemmas. Diambil dari http://72.14.235.104/search?q=cache:sHRGT71BGuYJ:www.des.emory.ed u/mfp/EREkeynote.PDF+louis,+1998,+coladarci,+1992&hl=id&ct=clnk&c d=6&gl=id pada tanggal 26 September 2007, pukul 21:04 WIB.

Pintrich, Paul R. (2002). Motivation in Education Theory, Research, and Application 2nd Edition. New Jersey : Merill Prentice Hall.

Wikipedia. 2005. Bilingual Education. Diambil dari http://en.wikipedia .org/wiki/Bilingual_education pada tanggal 19 Oktober 2007, pukul 22:07 WIB.

Teacher Commitment and Engagement the Dimensions of Ideology and Practice Associated with Teacher Commitment and Engagement within an Australian. (2007). Diambil dari http://www.aare.edu.au/02pap/cro02522.htm pada tanggal 1 Desember 2007, pukul 23:20 WIB.

Joffres, Christine & Haughey, Margaret. (2001). Elementary Teachers’ Commitment Declines : Antecedents, Processes, and Outcomes. Diambil dari http://72.14.235.104/search?q=cache:Kj6sLHWgFawJ:www.nova.edu/ssss /QR/QR6-1/joffres.html+&hl=id&ct=clnk&cd=12&gl=id pada tanggal 5 Desember 2007, pukul 16:57 WIB.

Soltero, Sonia W. (2004). Dual Language Teaching and Learning in Two Languages. USA : Pearson.

Pengertian Pendidikan Bilingual Tujuan Model dan Hubungan Antara Self-Efficcy Dengan Komitmen Guru Sekolah Bilingual Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment