Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Friday, 27 May 2016

Pengertian Penyesuaian Diri Aspek bentuk Ciri serta Kriteria Penilaian Lanjut Usia

Pengertian Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah  adjustment  atau personal adjustment. Menurut Calhoun dan Acocella (1990), penyesuaian dapat didefinisikan sebagai interaksi individu yang kontinu dengan diri individu sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia individu. Ketiga faktor tersebut secara konstan mempengaruhi individu dan hubungan tersebut bersifat timbal balik mengingat individu secara konstan juga mempengaruhi kedua faktor yang lain.

Tiga faktor yang disebut di atas adalah (Calhoun & Acocella, 1990):   
  • Diri individu sendiri, yaitu jumlah keseluruhan dari apa yang telah ada pada individu, perilaku individu, dan pemikiran serta perasaan individu yang individu hadapi setiap detik.
  • Orang lain, yaitu orang lain berpengaruh besar pada individu, sebagaimana individu juga berpengaruh besar terhadap orang lain. 
  • Dunia individu, yaitu penglihatan dan penciuman serta suara yang mengelilingi individu saat individu menyelesaikan urusan  individu dapat mempengaruhi individu dan mempengaruhi orang lain. 

Menurut Schneider (dalam Astuti, 2000), penyesuaian diri dapat diartikan sebagai suatu proses yang mencakup suatu respon-respon mental dan perilaku yang diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustrasi, konflik, serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dari dunia luar atau lingkungan tempat individu berada. 

Menurut Semiun (2006), penyesuaian diri merupakan suatu istilah yang sangat sulit didefinisikan karena penyesuaian diri mengandung banyak arti. Kriteria untuk menilai penyesuaian diri tidak dapat dirumuskan secara jelas dan karena penyesuaian diri dan lawannya ketidakmampuan menyesuaikan diri (maladjustment)  memiliki batas yang sama sehingga akan mengaburkan perbedaan di antara keduanya.  

Semiun (2006) juga mengatakan bahwa penyesuaian diri tidak bisa dikatakan baik atau buruk, sehingga Semiun mendefinisikan penyesuaian diri dengan sangat sederhana, yaitu suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan tingkah laku yang menyebabkan individu berusaha menanggulangi kebutuhan-kebutuhan, tegangan-tegangan, frustrasi-frustrasi, dan konflik-konflik batin serta menyelaraskan tuntutan-tuntutan batin dengan tuntutan-tuntutan yang dikenakan kepada individu oleh dunia dimana individu hidup.  

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah suatu proses dalam interaksi individu yang kontinu dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan yang melibatkan respon-respon mental dan tingkah laku untuk menghadapi kebutuhan-kebutuhan, ketegangan, frustrasi, dan konflik batin serta mencapai keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dari luar diri individu.  

Aspek-aspek Penyesuaian Diri 

Pada dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek (Mu’tadin, 2002), yaitu: 
a.  Penyesuaian Pribadi 
Penyesuaian pribadi merupakan kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antar dirinya dengan lingkungannya. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya, serta mampu bertindak objektif sesuai kondisi yang dialaminya. 

Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai  dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan dan tanggung jawab, dongkol, kecewa, atau tidak percaya pada kondisi-kondisi yang dialaminya. Sebaliknya, kegagalan dalam penyesuaian pribadi ditandai dengan guncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan  keluhan terhadap nasib, yang disebabkan adanya kesenjangan antara individu dengan tuntutan lingkungan. Hal ini menjadi sumber konflik yang terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk meredakannya, individu perlu melakukan penyesuaian diri. 

b.  Penyesuaian Sosial 
Setiap individu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat terjadi proses saling mempengaruhi. Proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi demi mencapai penyelesaian bagi persoalan hidup sehari-hari. Dalam bidang ilmu Psikologi Sosial, proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya sama-sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara komunitas diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh individu sendiri. 

Apa yang diserap atau dipelajari individu dalam proses interaksi dengan masyarakat belum cukup untuk menyempurnakan penyesuaian sosial yang memungkinkan individu untuk mencapai penyesuaian pribadi dan sosial dengan cukup baik. Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan.  

Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun dengan sejumlah ketentuan dan norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan individu dengan kelompok. Dalam proses penyesuaian sosial, individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok.  

Hal ini merupakan proses pertumbuhan kemampuan individu dalam rangka penyesuaian sosial untuk bertahan dan mengendalikan diri. Berkembangnya kemampuan sosial ini berfungsi sebagai pengawas yang mengatur kehidupan sosial. Mungkin inilah yang oleh Freud disebut  super ego, yang berfungsi mengendalikan kehidupan individu dari sisi penerimaan terhadap pola perilaku yang diterima dan disukai masyarakat, serta menolak hal-hal yang tidak diterima oleh masyarakat. 

Berdasarkan penjelasan di atas, maka aspek penyesuaian diri ada dua, yaitu penyesuaian pribadi, yaitu kemampuan untuk menerima diri sendiri sehingga tercapai hubungan harmonis antar dirinya dan lingkungan; dan penyesuaian sosial, yaitu hubungan sosial tempat individu berinteraksi dengan orang lain. 

Bentuk-bentuk Penyesuaian Diri 

Gunarsa (1989) mengemukakan beberapa bentuk-bentuk penyesuaian diri yang dapat dilakukan oleh seseorang, yaitu: 

a.  Perilaku Kompensatoris 
Istilah perilaku kompensatoris diartikan sebagai suatu konsep penyesuaian terhadap kegagalan seperti halnya rasionalisasi, kritik, sublimasi dan bentuk-bentuk perilaku pengganti (subtitute) yang lainnya. Perilaku kompensatoris juga diartikan sebagai usaha khusus untuk mengurangi ketegangan-ketegangan atau kekurangan-kekurangan karena adanya kerusakan, yang dipakai untuk mengalihkan perhatian orang lain dari kerusakannya. Perilaku pengganti atau kompensatoris ini mungkin dapat diterima mungkin juga ditolak. 

b.  Perilaku Menarik Perhatian Orang (Attention-Seeking Behavior) 
Keinginan untuk memperoleh perhatian merupakan sifat yang normal. Seseorang dengan penyesuaian yang adekuat akan memperoleh perhatian. Apabila tingkah laku biasa dapat tidak dapat menimbulkan perhatian yang diinginkan, maka seseorang akan melakukan tindakan-tindakan yang menghebohkan untuk menarik  perhatian orang terhadap dirinya. Keinginan ini biasa terlihat pada anak-anak tetapi juga merupakan ciri pada masa remaja maupun dewasa. Sering pula seseorang berusaha memakai bentuk penyesuaian ini dengan tujuan mengalihkan perhatian dari satu faktor dan memusatkan, mengarahkan perhatiannya pada faktor lain. 

c.  Memperkuat Diri Melalui Krit ik 
Apabila seseorang menyadari akan kurangnya kemampuan dirinya dalam mengatasi tuntutan sosial akan membentuk sikap kritis terhadap orang lain, khususnya apabila orang lain memperlihatkan keberhasilannya dalam penyesuaian terhadap situasi-situasi sedangkan dirinya sendiri mengalami kegagalan. Kritik yang baik yang diberikan kepada seseorang dapat dikatakan merupakan suatu tanda bersahabat dan perhatiannya terhadap orang tersebut bila ada kesalahan yang terlihat. Kritik terhadapseseorang yang dikemukakan kepada orang-orang lain bisa disebabkan perasaan dirinya kurang terhadap yang dikritik. Kritik diri sendiri bila berdasarkan keinginan untuk  memperbaiki tingkah laku sendiri merupakan hal yang umum, karena merupakan suatu bentuk tingkah laku penyesuaian. 

d.  Identifikasi 
Pembentukan pola-pola identifikasi merupakan bentuk penyesuaian yang tidak merugikan. Pada umumnya manusia merupakan bagian dari suatu kelompok. Sudah selayaknya jika kita mengidentifikasi diri dengan mereka yang berhasil dalam keberhasilan anggota kelompok yang menonjol tersebut. Makin bertambahnya usia dan kedewasaan, tokoh/identifikasi berubah misalnya terhadap kelompok-kelompok sosial, organisasi, atau seseorang yang memang patut ditiru, yang memiliki cita-cita yang mulia dan menimbulkan keinginan untuk menjadi seperti tokoh-tokoh tersebut. 

e.  Sikap Proyeksi 
Pada umumnya seseorang tidak senang mengakui kesalahan maupun ketidakmampuannya dalam penilaian orang lain. Lebih mudah dan menyenangkan apabila kegagalan ataupun sebab dari kegagalannya sendiri diproyeksikan pada orang lain atau objek lain di lingkungan dekatnya. Alasan yang diproyeksikan mungkin saja benar akan tetapi pada umumnya merupakan suatu dalih (excuse). Sikap proyeksi dapat juga dipakai sebagai pembenaran suatu kesalahan. Hal ini digunakan untuk melindungi seseorang terhadap perasaan sia-sia, sebagai akibat pengaruh kesalahan-kesalahannya

f.  Rasionalisasi 
Rasionalisasi merupakan usaha untuk memaafkan tingkah laku yang oleh si pelakunya diketahui atau dianggap sebagai tidak diinginkan, aneh akan tetapi menimbulkan suatu kepuasan emosi tertentu. Penggunaan rasionalisasi secara terus menerus akan sampai pada pembentukan penilaian palsu terhadap pribadinya sendiri. Apabila rasionalisasi disertai proyeksi akan terlihat keadaan seseorang di mana alasan kegagalan-kegagalannya sama sekali dilepaskan dari ketidakmampuannya, selalu menyalahkan orang lain, dan keadaan di luar dirinya sebagai sumber kegagalannya.     

g.  Sublimasi 
Dengan sublimasi seseorang menyalurkan aktivitasnya dengan aktivitas pengganti (substitute) yang dapat diterima umum, untuk menghindari stres emosi. Sublimasi mempunyai arti sosial. Nilai sosial ini terletak pada keinginan-keinginan diri  sendiri dan dorongan dasar yang menguntungkan bagi orang lain atau anggota kelompok lainnya. Sublimasi dipakai sebagai cara penyesuaian apabila secara sementara atau menetap, suatu dorongan yang kuat tidak dapat disalurkan ke dalam suatu aktivitas yang memuaskan dorongan. Tanpa disadari suatu perubahan bertahap terjadi dari pemuasan diri sendiri ke kesejahteraan orang lain. 

h.  Melamun dan Mengkhayal 
Apabila penyesuaian pemuasan diri tidak mungkin, maka dipakai penyesuaian melalui khayalan. Melamun merupakan kecenderungan yang membolehkan khayalan bermain dengan ide-ide yang merupakan perwujudan yang memuaskan tujuan yang dikehendakinya. Apabila khayalan/lamunan ini sama sekali dilepaskan dari realitas, maka pemakaian cara pemuasan diri akan menuju ke penyesuaian yang tidak wajar. Seorang dewasa dengan penyesuaian diri yang baik akan mengubah impiannya ke dalam aktivitas yang produktif. Orang lanjut usia yang pengalaman lalunya cukup memuaskan akan mengenang kembali, mengenang keberhasilan yang telah diperolehnya dengan memasuki alam khayalan itu. Lamunan dan fantasi dapat juga merupakan sesuatu yang tidak baik, di mana lamunan tersebut sudah merupakan suatu bentuk penyesuaian yang tidak pantas lagi bahkan dapat menjadi gejala dari penyesuaian yang tidak adekuat atau suatu penyakit mental. 

i.  Represi (Concious Forgetting) 
Pada umumnya seseorang akan menghindari tempat/orang/hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman yang tidak menyenangkan. Dimana seseorang menghindari suatu hal yang berkaitan dengan pengalaman tidak enak disebut represi. Pada represi seseorang hendak melupakan, walaupun tidak menyadari keinginan untuk lupa. 

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk penyesuaian diri adalah perilaku kompensatoris, perilaku menarik perhatian orang, memperkuat diri melalui kritik, identifikasi, sikap proyeksi, rasionalisasi, sublimasi, melamun dan mengkhayal, dan represi. 

Pengertian Penyesuaian Diri

Kriteria Penilaian Penyesuaian Diri Lanjut Usia 

Terdapat beberapa kriteria yang dapat dipakai untuk menilai jenis penyesuaian diri yang dilakukan individu lanjut usia, apakah baik atau tidak, yaitu (Hurlock, 1999): 

a.  Kualitas pola perilaku 
Ada dua teori yang berbeda dan bertolak belakang mengenai keberhasilan individu lanjut usia. Menurut teori aktivitas (activity theory), pria maupun wanita seharusnya tetap merawat berbagai sikap dan kegiatan semasa usia madya selama mungkin dan kemudian mencari kegiatan pengganti untuk berbagai kegiatan yang harus ditinggalkan sebagai pengganti pekerjaan apabila pensiun, pengganti organisasi perkumpulan yang harus ditinggalkan karena alasan keuangan atau hal-hal lain, pengganti teman atau kerabat keluarga yang telah meninggal atau pindah ke lingkungan lain. 

Menurut teori pelepasan diri (disengagement theory), pria maupun wanita, secara sukarela dilakukan atau tidak, membatasi keterlibatan individu dalam berbagai kegiatan individu berusia madya. Lanjut usia menghentikan hubungan langsung dengan orang lain, misalnya bebas berbuat sesuka hati apabila menyenanginya, melakukan hal-hal penting menurut individu tanpa mempedulikan perasaan-perasaan orang lain tentang individu tersebut. 

Penelitian mengenai penyesuaian diri yang baik dan yang buruk yang dilakukan pada individu-individu lanjut usia menunjukkan bahwa individu yang melakukan penyesuaian diri yang baik, mempunyai sifat-sifat yang diharapkan ada pada individu yang mengikuti teori aktivitas, sedangkan individu yang kelihatannya menunjukkan penyesuaian yang buruk, memiliki karakteristik yang berhubungan dengan teori pelepasan diri. 

Terdapat bukti  yang secara umum mengatakan bahwa individu yang melakukan penyesuaian yang baik ketika masih muda, akan melakukan penyesuaian yang baik pula di masa lanjut usia. Individu yang memiliki keinginan sederhana dan watak yang baik, menjadikan masa lanjut usianya mudah dijalani. 

b.  Perubahan dalam perilaku emosional 
Kriteria selanjutnya yang dapat dipergunakan untuk menilai jenis penyesuaian lanjut usia adalah berbagai perubahan yang berkaitan dengan perilaku emosional. Berbagai penelitian tentang individu lanjut usia menunjukkan bahwa lanjut usia cenderung menjadi apatis dalam kehidupan, kurang responsif dibanding ketika masih muda, respon-respon emosional lebih spesifik, kurang bervariasi, dan kurang mengena pada suatu peristiwa. 

c.  Perubahan kepribadian 
Kriteria berikutnya adalah derajat dan besar perubahan kepribadian. Sudah diketahui bahwa individu lanjut usia, tanpa menghiraukan pola-pola kepribadian di masa mudanya, berkembang menjadi individu yang menjengkelkan dengan sifat-sifat mudah marah, pelit, suka bertengkar, banyak menuntut, egois. 

Sifat-sifat lanjut usia, yang lebih kaku dalam memandang segala sesuatu, lebih konservatif dalam bertindak, lebih berprasangka buruk dalam bersikap terhadap orang lain dan lebih terpusat pada diri sendiri, merupakan sifat-sifat  lama yang menjadi berlebih-lebihan dan semakin tampak karena adanya tekanan-tekanan yang terjadi pada masa lanjut usia. 

Status minoritas yang dimiliki lanjut usia menyebabkan sifat-sifat kepribadian lanjut usia menjadi terbentuk seperti sifat-sifat kepribadian yang sejenis dengan kelompok minoritas, seperti hipersensitivitas, membenci diri sendiri, perasan tidak aman dan tidak pasti, bertengkar, apatis, kemunduran, tertutup, cemas, terlalu tergantung dan bersikap menolak. 

d.  Kebahagiaan 
Kriteria selanjutnya adalah derajat kepuasan diri atau kebahagiaan lanjut usia yang dialami. Kebahagiaan lanjut usia dapat ditunjang oleh beberapa kondisi, seperti: memiliki kenangan yang menggembirakan, bebas untuk mencapai gaya hidup yang diinginkan, sikap yang realistis terhadap kenyataan, menerima kenyataan, terus berpartisipasi dengan kegiatan yang berarti dan menarik, diterima oleh dan memperoleh respek dari kelompok sosial, merasa puas dengan status sekarang dan prestasi masa lalu, puas dengan status perkawinan dan kehidupan seksual, menikmati kegiatan rekreasional yang direncanakan, melakukan kegiatan produktif, dan lain-lain. 

Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk dapat menilai jenis penyesuaian diri yang dilakukan lanjut usia diperlukan beberapa kriteria yaitu, kualitas pola perilaku, perubahan dalam perilaku emosional, perubahan kepribadian, dan kebahagiaan. 

Menurut Siswanto (2007), individu yang mampu menyesuaikan diri dengan baik, umumnya memiliki ciri-ciri yaitu: 

a.  Memiliki Persepsi yang Akurat Terhadap Realita 
Pemahaman atau persepsi orang terhadap realita berbeda-beda, meskipun realita yang dihadapi adalah sama. Perbedaan persepsi tersebut dipengaruhi oleh pengalaman masing-masing orang yang berbeda satu sama lain. Meskipun persepsi masing-masing individu berbeda dalam menghadapi realita, tetapi orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik memiliki persepsi yang relatif objekt if dalam memahami realita. Persepsi yang objektif ini adalah bagaimana orang mengenali konsekuensi- konsekuensi  dari tingkah lakunya dan mampu bertindak sesuai dengan konsekuensi tersebut. 

b.  Kemampuan untuk Beradaptasi dengan Tekanan atau Stres dan Kecemasan 
Setiap orang pada dasarnya tidak senang bila mengalami tekanan dan kecemasan. Umumnya mereka menghindari hal-hal yang menimbulkan tekanan dan kecemasan dan menyenangi pemenuhan kepuasan yang dilakukan dengan segera. Orang yang mampu menyesuaikan diri, tidak selalu menghindari munculnya tekanan dan kecemasan. Kadang mereka justru belajar untuk mentoleransi tekanan dan kecemasan yang dialami dan mau menunda pemenuhan kepuasan selama itu diperlukan demi mencapai tujuan tertentu yang lebih penting sifatnya. 

c.  Mempunyai Gambaran Diri yang Positif tentang Dirinya 
Pandangan individu terhadap dirinya dapat menjadi indikator dari kualitas penyesuaian diri yang dimiliki. Pandangan tersebut mengarah pada apakah individu tersebut dapat melihat dirinya secara harmonis atau sebaliknya individu melihat adanya konflik yang berkaitan dengan dirinya. Individu yang banyak melihat pertentangan-pertentangan dalam dirinya, dapat menjadi indikasi adanya kekurangmampuan dalam penyesuaian diri. 

Gambaran diri yang positif juga mencakup apakah individu yang bersangkutan dapat melihat dirinya secara realistik, yaitu secara seimbang tahu kelebihan dan kekurangan diri sendiri dan mampu menerimanya sehingga memungkinkan individu yang bersangkutan untuk dapat merealisasikan potensi yang dimiliki secara penuh. 

d.  Kemampuan untuk Mengekspresikan Perasaannya 
Individu yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dicirikan memiliki kehidupan emosi yang sehat. Individu tersebut mampu menyadari dan merasakan emosi atau perasaan yang saat itu dialami serta mampu untuk mengekspresikan perasaan dan emosi tersebut. Individu yang memiliki kehidupan emosi yang sehat mampu memberikan reaksi-reaksi emosi yang realistis dan tetap di bawah kontrol sesuai dengan situasi yang dihadapi.  

e.  Relasi Interpersonal Baik 
Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik mampu mencapai tingkat keintiman yang tepat dalam suatu hubungan sosial. Individu tersebut mampu bertingkah laku secara berbeda terhadap orang yang berbeda karena kedekatan relasi interpersonal antar mereka yang berbeda pula. Individu mampu menikmati disukai dan direspek oleh orang lain, tetapi juga mampu memberikan respek dan menyukai orang lain. 

Menurut Hurlock (1999), ada empat kondisi yang menentukan berhasilnya orang lanjut usia dalam menyesuaikan diri terhadap kehidupan di panti wredha yaitu: 

  1. Apabila para lanjut usia yang masuk ke suatu lembaga secara sukarela, artinya tidak dipaksa oleh kondisi lingkungan mereka, maka mereka akan merasa bahagia dan mempunyai motivasi yang kuat untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan yang mendadak yang diakibatkan oleh lembaga itu sendiri. 
  2. Semakin terbiasa para lanjut usia hidup bersama dengan orang lain dan mengambil bagian dalam kegiatan bersama, maka mereka akan semakin dapat menikmati kontak sosial dan berbagai kesempatan berekreasi yang diselenggarakan oleh lembaga. 
  3. Para lanjut usia akan menyesuaikan diri dengan cara yang lebih baik dalam kehidupan di lembaga, jika jarak lembaganya dengan tempat tinggal mereka dulu cukup dekat, sehingga mereka dapat tetap berhubungan dengan anggota keluarga dan kerabat. 
  4. Perasaan masih menjadi bagian dari keluarga dan tidak terputus kontak dengan anak-anak dan kerabat. 

Jadi penyesuaian diri yang efekt if tercermin dalam tingkah laku sebagai berikut : memiliki persepsi yang akurat terhadap realita, kemampuan untuk berdaptasi dengan tekanan atau stres dan kecemasan, mempunyai gambaran diri yang positif tentang dirinya, kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya, dan relasi interpersonal yang baik. 

Siswanto (2007), mengemukakan beberapa gejala yang dapat diamati pada individu yang mengalami kesulitan dan gagal melakukan penyesuaian diri yang efektif, yaitu: 


  • Tingkah laku yang aneh karena menyimpang dari norma atau standar sosial yang berlaku di lingkungan masyarakat. Biasanya individu yang bersangkutan menampakkan tindakan-tindakan yang tidak umum, aneh, bahkan orang-orang di sekelilingnya mengalami ketakutan dan tidak percaya pada individu yang bersangkutan. 
  • Individu yang bersangkutan tampak mengalami kesulitan, gangguan, atau ketidakmampuan dalam melakukan penyesuaian diri secara efektif dalam kehidupan sehari-hari. Individu yang bersangkutan tidak dapat menjalankan peran dan status yang dimilikinya dalam masyarakat. 
  • Individu yang bersangkutan mengalami distres subjektif yang sering atau kronis. Masalah-masalah yang umum bagi kebanyakan orang dan mudah diselesaikan menjadi masalah yang luar biasa bagi individu tersebut.  Distres subjektif tersebut pada akhirnya mengakibatkan munculnya gejala-  gejala lanjutan seperti kecemasan, panik, depresi, rasa bersalah, rasa malu, dan marah tanpa sebab.   

Jadi, jika individu tidak berhasil melakukan penyesuaian diri yang efektif, maka ia akan mengalami penyesuaian diri yang tidak efektif. Individu tersebut akan menunjukkan perilaku yang aneh, kesulitan melakukan penyesuaian diri secara efektif dalam kehidupan sehari-hari dan mengalami distres subjektif yang sering atau kronis. 


Daftar Pustaka Makalah Penyesuaian Diri 

Calhoun, J.F. & O.R. Acocella. (1990). Psikologi tentang Penyesuaian Diri dan Hubungan Kemanusiaan. Edisi ketiga. Semarang: IKIP Semarang Press.

Astuti, A.B. (2000). Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Penyesuaian Diri Perempuan Pada Kehamilan Pertama. Jurnal Psikologi 2000 No. 2. Halaman 84-95.

Semium, Y. (2006).  Kesehatan Mental 1: Pandangan Umum Mengenai Penyesuaian Diri dan Kesehatan Mental serta Teori-teori Terkait. Yogyakarta: Kanisius.

Mu’tadin, Z., S.Psi, M.si. (2002). Penyesuaian Diri Remaja. Diakses tanggal 3 Maret 2009 dari http://www.e-psikologi.com/remaja.htm.

Hurlock, E.B. (1999).  Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi kelima. Jakarta: Erlangga.

Gunarsa, Singgih. (1989). Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Siswanto. (2007). Kesehatan Mental: Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: C. V. Andi Offset. 

Pengertian Penyesuaian Diri Aspek bentuk Ciri serta Kriteria Penilaian Lanjut Usia Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment