Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Sunday, 20 September 2015

Pengertian Perawat Definisi Peran Fungsi, Spritualitas, pada Perawat Rumah Sakit

Pengertian Perawat adalah - Perawat berasal dari kata Latin nutrix yang artinya merawat atau memelihara. Kata ini pertama kali digunakan oleh Ellis & Hartley (dalam Gaffar, 1999). Seorang perawat adalah seseorang yang berperan dalam merawat dan memelihara, membantu dan melindungi seseorang karena sakit atau cedera dan proses penuaan (Taylor, dkk dalam Gaffar, 1999).


Definisi Keperawatan

Hasil Lokakarya Keperawatan Nasional tahun 1983 (dalam Praptianingsih, 2006) mengartikan keperawatan sebagai suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik yang sakit maupun sehat yang mencakup seluruh siklus hidup manusia.

Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 memuat bahwa perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan.

Perawat pada penelitian ini adalah orang yang merawat, memelihara, membantu dan melindungi seseorang karena sakit atau cedera dan proses penuaan (Taylor dalam Gaffar, 1999). Perawat memiliki fungsi dalam melaksanakan praktek keperawatannya.

Fungsi Perawat

Fungsi perawat dalam praktek ada tiga (Hikey dalam Praptianingsih 2006), yaitu:
1) Fungsi independen
Tindakan perawat tidak memerlukan perintah dokter, tindakan perawat bersifat mandiri, berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan. Oleh karena itu, perawat bertanggung jawab terhadap akibat yang timbul terhadap tindakan yang diambil.

2) Fungsi interdependen
Tindakan perawat berdasar pada kerja sama dengan tim perawatan atau tim kesehatan. Fungsi ini tampak ketika perawat bersama tenaga kesehatan lain berkolaborasi mengupayakan kesembuhan pasien.

3) Fungsi dependen
Perawat bertindak membantu dokter dalam memberikan pelayanan medik. Perawat membantu dokter memberikan pelayanan pengobatan dan tindakan khusus yang menjadi wewenang dokter dan seharusnya dilakukan dokter, seperti pemasangan infus, pemberian obat, melakukan suntikan. Oleh karena itu, setiap kegagalan tindakan medis menjadi tanggung jawab dokter karena setiap tindakan perawat berdasarkan perintah dokter.

Perawat di rumah sakit dan dunia kesehatan memiliki beberapa peran yang akan diuraikan selanjutnya.

Peran perawat

Gaffar (1999) memaparkan beberapa peran perawat. Berikut ini merupakan uraian peranan dari perawat:

  1. Nursing is caring, perawat berperan dalam pemberian asuhan keperawatan. Perawat harus memperlihatkan bahwa dalam pemberian asuhan keperawatan tidak dikenal pasien atau kasus pribadi. Semua pasien diperlakukan sama.
  2. Nursing is sharing, dalam pemberian asuhan keperawatan perawat selalu melakukan sharing (berbagi) atau diskusi antara sesama perawat, kepada anggota tim kesehatan lain dan kepada klien.
  3. Nursing is laughing, perawat meyakini bahwa senyum merupakan suatu kiat dalam asuhan keperawatan untuk meningkatkan rasa nyaman klien.
  4. Nursing is crying, perawat menerima respon emosional dari perawat atau orang lain sebagai sesuatu hal yang biasa pada situasi senang duka.
  5. Nursing is touching, perawat dapat menggunakan sentuhan untuk meningkatkan rasa nyaman pada saat melakukan massage (pijat).
  6. Nursing is helping, asuhan keperawatan dilakukan untuk menolong klien dengan sepenuhnya memahami kondisinya.
  7. Nursing is believing in others, perawat meyakini orang lain memiliki hasrat dan kemampuan untuk meningkatkan status kesehatannya.
  8. Nursing is trusting, perawat harus menjaga kepercayaan orang lain (klien) yaitu dengan menjaga mutu asuhan keperawatan.
  9. Nursing is learning, perawat harus selalu belajar atau mengembangkan pengetahuan dan keterampilan keperawatan profesional melalui auhan keperawatan yang dilakukan.
  10. Nursing is respecting, perawat memperlihatkan rasa hormat dan penghargaan kepada orang lain (klien dan keluarganya) dengan menjaga kepercayaan dan rahasia klien.
  11. Nursing is listening, perawat harus menjadi pendengar yang baik ketika klien berbicara atau mengeluh.
  12. Nursing is doing, perawat melakukan pengkajian dan intervensi keperawatan berdasarkan pengetahuan untuk memberikan rasa aman dan nyaman serta asuhan keperawatan secara komprehensif.
  13. Nursing is feeling, perawat dapat menerima, merasakan dan memahami perasaan duka, senang, frustrasi dan rasa puas klien.



Menurut Gaffar dalam Praptianingsih (2006) selain tiga belas peran di atas, dalam melaksanakan profesinya, perawat juga memiliki empat peran lain, yaitu:

  1. Peran sebagai pelaksana
    Perawat bertindak sebagai comforter (mengupayakan kenyamanan dan rasa aman  pada  pasien), protector  dan   advocat,  (melindungi  pasien  dan mengupayakan terlaksananya hak dan kewajiban pasien dalam pelayanan kesehatan), commmunicator (tampak ketika perawat bertindak sebagai penghubung antara pasien dengan anggota tim kesehatan) serta rehabilitator (perawat membantu pasien untuk beradaptasi dengan perubahan tubuhnya).
  2. Peran sebagai pendidik
    Perawat melakukan penyuluhan kepada klien (pasien) yang berada di bawah tanggung jawabnya.
  3. Peran sebagai pengelola
    Peran ini berkaitan dengan jabatan struktural di rumah sakit. Perawat harus memantau dan menjamin kualitas asuhan keperawatan serta mengorganisasi dan mengendalikan sistem pelayanan keperawatan.
  4. Peran sebagai peneliti
    Perawat harus memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian di bidangnya.


Spritualitas pada Perawat Rumah Sakit

Ashmos (2000) mengatakan bahwa banyak orang di tempat kerja merasa butuh menemukan kembali apa yang mereka rawat dalam hidup ini dan mencoba menemukan pekerjaan yang disukainya. Orang-orang berusaha menemukan makna pekerjaan dengan mencari suatu cara untuk lebih menjadi diri sendiri dalam melakukan sesuatu. Menemukan makna pekerjaan merupakan fokus dari spiritualitas.

Gerakan spiritualitas di tempat kerja mulai tampak di beberapa negara seperti di Amerika Serikat. Hal ini dapat dilihat dari merebaknya publikasi tertulis (jurnal cetak maupun on line, buku) dan konferensi-konferensi dengan tema spiritualitas di tempat kerja (Widyarini, 2008).

Ashmos (2000) menjelaskan beberapa alasan mengapa perusahaan di Amerika mulai mengembangkan minat dalam spiritualitas di tempat kerja. Alasan tersebut antara lain, pertama banyaknya orang yang percaya bahwa downsizing, reengineering, dan pemberhentian karyawan telah mengubah tempat kerja orang Amerika menjadi lingkungan yang para pekerjanya kehilangan semangat, dan mengakibatkan pertumbuhan tingkat gaji menjadi tidak seimbang. Kedua, tekanan kompetisi global membuat pemimpin perusahaan berpikir bahwa kreativitas karyawan dibutuhkan untuk mengekspresikan diri secara penuh dalam bekerja dan hal ini hanya akan terjadi jika pekerjaan tersebut dirasa bermakna bagi karyawan. Ketiga, bagi orang-orang Amerika, tempat kerja menyediakan satu-satunya jaringan komunikasi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan manusia akan hubungan dan kontribusi. Keempat, rasa penasaran akan budaya dan filosofi timur, seperti filosofi budha yang menganjurkan meditasi dan menekankan nilai-nilai seperti loyalitas terhadap kelompok dan menemukan pusat spiritual seseorang dalam tiap kegiatan, mulai diterima oleh orang-orang Amerika. Kelima, bertambahnya kekhawatiran orang terhadap ketidakpastian dalam hidup – kematian – menyebabkan peningkatan minat dalam mempertimbangkan makna hidup.

Spiritualitas di tempat kerja adalah tentang pekerjaan yang lebih bermakna, tentang hubungan antara jiwa dan pekerjaan (Ashmos, 2000).

Beberapa ahli telah memberikan definisi spiritualitas, diantaranya Wigglesworth yang mengatakan bahwa spiritualitas adalah kebutuhan bawaan manusia untuk berhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri manusia itu. Istilah ”sesuatu yang lebih besar dari manusia”adalah sesuatu yang diluar diri manusia dan menarik perasaan akan diri orang tersebut. Pengertian spiritualitas oleh Wigglesworth ini memiliki dua komponen, yaitu vertikal dan horizontal:
  • Komponen vertikal, yaitu sesuatu yang suci, tidak berbatas tempat dan waktu, sebuah kekuatan yang tinggi, sumber, kesadaran yang luar biasa. Keinginan untuk berhubungan dengan dan diberi petunjuk oleh sumber ini.
  • Komponen horizontal, yaitu melayani teman-teman manusia dan planet secara keseluruhan.


Komponen horizontal dari Wigglesworth sejalan dengan pengertian spiritualitas dari Tischler (2002) yang mengatakan bahwa spiritualitas mirip atau dengan suatu cara, berhubungan dengan emosi atau perilaku dan sikap tertentu dari seorang individu. Menjadi seorang yang spiritual berarti menjadi seorang yang terbuka, memberi, dan penuh kasih. Ia juga mengemukakan empat kompetensi yang didapat dari spiritualitas yang berkembang yaitu personal awareness, personal skills, social awareness dan social skills.

Howard (2002) mengemukakan bahwa terdapat empat hal yang berhubungan dengan spiritualitas yaitu diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan kekuatan yang melebihi manusia. Hal ini ditambahkan oleh Young (2007) yang menjelaskan bahwa proses penuaan adalah suatu langkah yang penting dalam perjalanan spiritual dan pertumbuhan spiritual seseorang. Orang-orang yang memiliki spiritualitas berjuang mentransendensikan beberapa perubahan dan berusaha mencapai pemahaman yang lebih tinggi tentang hidup mereka dan maknanya.

Globalisasi mengakibatkan perdagangan bebas tidak bisa terbendung lagi sehingga menimbulkan tingkat kompetisi yang semakin tinggi di semua sektor, termasuk sektor kesehatan. Perkembangan sektor kesehatan yang sangat dinamis menuntut kelenturan serta penyesuaian secara terus menerus dan menyeluruh dari para pihak yang terlibat didalamnya (Loetfia, 2000).

Rumah sakit sebagai salah satu lembaga penyedia jasa pelayanan kesehatan memiliki peranan yang sangat besar. Kebutuhan masyarakat yang meningkat menyebabkan banyak rumah sakit swasta berlomba–lomba menyediakan mutu pelayanan dan peralatan medis yang prima. Rumah sakit milik pemerintah pun tidak mau kalah. Pihak pemerintah membuat program pembangunan kesehatan yang bertujuan agar terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu dan setara, akan tetapi tujuan ini masih belum berjalan secara optimal karena masih banyak pelayanan rumah sakit di Indonesia yang belum mencapai mutu yang optimal (Utama, 2003).

Kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit sangat ditentukan oleh tersedianya sumber daya yang berkualitas termasuk tenaga perawat (Megawati, 2005). Keperawatan merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan dan merupakan salah satu faktor yang menentukan tercapainya pembangunan nasional karena keperawatan mempunyai andil yang cukup besar dalam menentukan mutu pelayanan kesehatan. Hal ini disebabkan jumlah tenaga keperawatan mendominasi tenaga kesehatan secara keseluruhan dan mempunyai kontak yang paling lama dengan pasien (Loetfia, 2000).

Widjaja (1994) mengemukakan bahwa perawat dalam menjalankan tugasnya juga banyak terkait dengan mengawasi teknologi yang kompleks, memberi informasi dan pendidikan kesehatan serta berusaha untuk memahami kebutuhan klien sebagai manusia yang utuh termasuk empati.

Berdasarkan kompetensi yang didapat dari spiritualitas yang berkembang yang dikemukakan oleh Tischler (2002), pada sisi kesadaran sosial (social awareness), orang-orang yang spiritualnya berkembang memperlihatkan sikap sosial yang lebih positif, lebih empati, dan menunjukkan altruisme yang besar. Sikap yang ditunjukkan ini sesuai dengan peran perawat yaitu nursing is helping, nursing is listening, nursing is feeling (Gaffar, 1999). Hal ini juga senada dengan peran yang dikemukakan Gaffar (dalam Praptianingsih, 2006) yaitu peran perawat sebagai pelaksana, dalam hal ini sebagai comforter.

Pada sisi keterampilan sosial (social skill), orang-orang dengan spiritualitas yang berkembang menunjukkan keterbukaan sosial yang lebih besar, mudah beradaptasi dengan perubahan, memiliki hubungan yang baik dengan rekan kerja dan atasan, dan baik dalam menanggapi kritikan. Keterampilan ini dibutuhkan perawat untuk menjalani peran-perannya dengan baik. Peran-peran yang membutuhkan keterampilan ini antara lain, peran perawat sebagai pelaksana dalam hal ini sebagai communicator, peran sebagai pengelola (Gaffar dalam Praptianingsih, 2006), dan nursing is sharing (Gaffar, 1999).

Daftar Pustaka Makalah Perawat 

Megawati. (2005). Analisis Pengaruh Karakteristik Individu Terhadap Kinerja Perawat di Rumah Sakit Dr. Pirngadi Medan Tahun 2004 [On-line]. Abstrak dari: e-USU Repository.

Utama, Surya. (2003). Memahami Fenomena Kepuasan Pasien Rumah Sakit. Fakultas Kesehatan Masyarakat: Universitas Sumatera Utara
Gaffar, L. O. J. (1999). Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC

Praptianingsih, S. (2006). Kedudukan Hukum Perawat dalam Upaya Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

Loetfia, D. (2000). Analisis Konsep Diri dan Perilaku Profesional Tenaga Keperawatan. [On-line] www.damandiri.or.id tanggal akses 16 April 2008

Tischler, L. (2002). Linking Emotional Intelligence, Spirituality and Workplace Performance: Definitions, Models and Ideas for Research. Journal of Managerial Psychology. 17 (3): 203

Widjaja, M, I. (1994). Mutu Dan Biaya Perawatan. Cermin Dunia Kedokteran, Edisi khusus No. 9. [on line] www.portalkalbe.com tanggal akses 16 April 2008

Young, C., Koopsen, C. (2007). Spiritualitas, Kesehatan, dan Penyembuhan. Medan: Bina Media Perintis 

Howard, S. (2002). A spiritual perspective on learning in the workplace. Journal of Managerial Psychology. 17 (3): 230

Ashmos, D, P. (2000). Spirituality at Work: A conceptualization and measure. Journal of Management Inquiry. 9 (2): 134

Widyarini, N, MM. (2008). Spiritualitas Masuk Dunia Kerja. [On-line] www.kompas.com tanggal akses 14 April 2008

Pengertian Perawat Definisi Peran Fungsi, Spritualitas, pada Perawat Rumah Sakit Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment