Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Monday, 21 September 2015

Pengertian Perawatan Diri Pascasalin Jenis Cara Melakukan Perawatan Diri Post Partum

Pengertian Perawatan Diri - Merawat adalah suatu aktivitas atau kegiatan dengan ruang lingkup yang luas, yang dapat menyangkut diri kita sendiri, orang lain atau sesuatu yang lain dapat juga menyangkut lingkungan kita. Jika kita merawat sesuatu, kita menginginkan agar hasil yang dicapai akan memuaskan, jadi kita akan selalu berusaha untuk mencapai suatu keseimbangan antara keinginan kita dan hasil yang akan diperoleh. Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial, dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Aziz, 2004).


Definisi Perawatan diri mempunyai arti yang lebih luas dari apa yang sering diartikan dengan cara merawat diri menurut AKS (aktivitas kehidupan sehari-hari). Dalam pengertian merawat diri individu, terdapat beberapa hal yang mendasar yaitu pertama menyangkut sejumlah nilai, norma dan pendapat sehubungan dengan perbuatan seseorang sesuai dengan tindakannya. Kedua menyangkut juga pengertian, pandangan pribadi, dan beberapa aspek tertentu. Seseorang menginginkan suatu perawatan tertentu berdasarkan pandangan-pandangan pribadinya. Jika seseorang tidak lagi berminat mengambil keputusan semacam ini, maka ia akan mengalami gangguan merawat diri. Jadi dapat dikatakan bahwa kegiatan perawatan diri merupakan sikap dan kegiatan yang dilakukan pada saat perawatan diri itu berlangsung (Stevens dkk, 2000).

Perawatan Pascasalin adalah 

perawatan terhadap wanita yang telah selesai bersalin sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, lamanya kira-kira 6-8 minggu. Akan tetapi seluruh alat genitalia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan (Hanafiah, 2004).

Jenis-jenis perawatan diri pascasalin

Setelah lahirnya plasenta, organ-organ reproduksi akan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Untuk membantu mempercepat proses pemulihan ibu harus melakukan perawatan diri pascasalin. Ada beberapa jenis perawatan diri yang dapat dilakukan oleh ibu pascasalin diantaranya: perawatan vulva dan perineum, perawatan uterus dan abdomen, perawatan payudara, perawatan kaki, perawatan hemoroid, dan perawatan kulit (Pritchard, dkk.1991).

Cara Melakukan Perawatan Diri Post Partum

a. Perawatan Vulva dan Perineum
Vulva adalah bentuk lonjong dibatasi oleh klitoris pada bagian depan, kanan kiri oleh labia minora, dibelakang oleh perineum, terdapat orificium eksternal (Mochtar,1991). Perawatan vulva dapat dimulai dengan menyiram genitalia eksterna dan anus dengan air yang bersih kemudian cuci dengan sabun sampai kotoran-kotoran yang keluar dari vagina bersih. Kemudian bilas dengan air bersih. Lakukan perawatan vulva ketika mandi dan setiap kali ibu merasa tidak nyaman (Pritchard,1991).

Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus. Yang perlu diperhatikan dalam perawatan perineum adalah bentuk luka perineum. Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam yaitu Ruptur dan Episiotomi (Danis, 2000 dalam Harnawatiaj, 2008).

Ruptur adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala dan bahu janin pada saat proses persalinan. Bentuk ruptur biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan penjahitan (Hamilton, 2002). Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara vagina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi. Episiotomi, suatu tindakan yang disengaja pada perineum dan vagina yang sedang dalam keadaan meregang. Tindakan ini dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum dengan anastesi local, kecuali bila pasien sudah diberi anastesi epidural (Derek, 2002 dalam Harnawatiaj, 2008).

Menurut Hamilton (1995) lingkup perawatan perineum adalah mencegah kontaminasi dari rektum, menangani dengan lembut pada jaringan yang terkena trauma. Bersihkan semua keluaran yang menjadi sumber bakteri dan bau. Prosedur yang diajurkan kepada ibu untuk melakukan perawatan perineum yaitu mencuci tangan, membuang pembalut yang penuh dengan gerakan kebawah mengarah ke rektum dan letakkan pembalut tersebut kedalam kantong plastik, berkemih dan BAB ke toilet, siramkan air ke seluruh perineum, keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang kemudian setelah semua selesai cuci kembali tangan (Hamilton, 1995).

Perawatan perineum juga bisa dilakukan dengan cara penghangatan kering. Penghangatan kering dari cahaya lampu kadang-kadang digunakan untuk meningkatkan penyembuhan perineal, caranya perineum dibersihkan terlebih dahulu untuk membuang sekresi. Ibu berbaring terlentang dengan lutut fleksi dan diregangkan, dan lampu diletakkan dengan jarak 20 inci dari perineum. Penghangatan dengan cahaya lampu biasanya dilakukan tiga kali sehari selama 20 menit (Hamilton, 1995).

b. Perawatan Uterus dan Abdomen
Uterus (rahim) adalah struktur otot yang cukup kuat, dibagian luar ditutupi peritoneum dan rongga dalam dilapisi oleh mukosa rahim. Dalam keadaan tidak hamil, rahim terletak dalam rongga panggul kecil antara kandung kemih dan dubur. Rahim bentuknya seperti bola lampu pijar atau buah pear dan berongga terdiri atas 3 bagian besar yaitu badan rahim berbentuk segitiga, leher rahim berbentuk silinder, dan rongga rahim (Mochtar, 1991).

Besarnya rahim berbeda-beda tergantung pada usia, pernah melahirkan anak atau belum, ukurannya kira-kira sebesar telur ayam kampung. Pada nulipara ukurannya 5,5-8 cm x 3,5-4 cm x 2-2,5 cm sedangkan pada multipara 9-9,5 cm x 5,5-6 cm x 3-3,5 cm. Beratnya 40-50gr pada nulipara dan 60-70gr pada multipara. (Mochtar, 1991). Segera setelah melahirkan ukuran dan konsistensi uterus kira-kira seperti buah melon kecil dan fundusnya terletak tepat dibawah umbilicus. Setelah itu tinggi fundus berkurang 1-2 cm setiap hari sampai akhir minggu pertama, saat tinggi fundus sejajar dengan dengan tulang pubis (Hamilton, 1995).

Dengan kontraksi yang baik, uterus bisa diharapkan kembali mengkerut ke ukuran normal tanpa bantuan obat-obatan. Karena kontraksi pada dasarnya tidak hanya dibutuhkan untuk mengeluarkan janin saat persalinan. Tapi juga mengembalikan rahim ke bentuk dan ukuran semula, baik pada persalinan normal maupun persalinan dengan tindakan seperti vakum, forcep ataupun sesar (Pritchard,1991). Untuk memaksimalkan involusi uteri dan memulihkan tonus abdomen dapat dibantu dengan penggunaan korset dan melakukan senam nifas. Latihan ini dapat dilakukan dalam waktu 5-10 kali hitungan setiap harinya dan akan meningkat secara berlahan-lahan. Program senam nifas dimulai dari tahap yang paling sederhana hingga yang sulit. Adapun gerakan-gerakannya sebagai berikut:

Hari pertama, ambil nafas dalam-dalam, perut dikembungkan, kemudian napas dikeluarkan melalui mulut. Ini dilakukan dalam posisi tidur terlentang. Hari kedua, tidur terlentang, kaki lurus, tangan direntangkan kemudian ditepukkan ke muka badan dengan sikap tangan lurus, dan kembali ke samping. Hari ketiga, berbaring dengan posisi tangan di samping badan, angkat lutut dan pantat kemudian diturunkan kembali. Hari keempat, tidur terlentang, lutut ditekuk, kepala diangkat sambil mengangkat pantat. Hari kelima, tidur terlentang, kaki lurus, bersama-sama dengan mengangkat kepala, tangan kanan, menjangkau lutut kiri yang ditekuk, diulang sebaliknya. Hari keenam, tidur terlentang, kaki lurus, kemudian lutut ditekuk ke arah perut 90o secara bergantian antara kaki kiri dan kaki kanan. Hari ketujuh, tidur terlentang kaki lurus kemudian kaki dibuka sambil diputar ke arah luar secara bergantian. Hari 8, 9, 10, tidur terlentang kaki lurus, kedua telapak tangan diletakkan di tengkuk kemudian bangun untuk duduk (sit up) (Schemieg, 2009).

c. Perawatan Payudara
Perawatan payudara adalah melakukan perawatan payudara pada ibu pascasalin atau sesudah melahirkan untuk memperlancar proses laktasi. Perawatan dengan menggunakan baby oil dan massage di sekitar payudara selama hamil juga dapat membantu puting yang datar. Sebaiknya dilakukan sebalum atau sewaktu mandi.

Prosedur parawatan payudara pada Ibu yang menyusui ada lima langkah masing-masing dilakukan 25-30 kali yaitu; pertama, tempatkan kedua belah telapak tangan di tengah dada ibu kemudian lakukan gerakan memutar mengelilingi payudara kearah luar, saat tangan berada di bawah payudara, angkat atau sanggah payudara sebentar dan lepaskan secara perlahan kearah depan. Kedua, tangan kanan membentuk kepalan, tempatkan di pangkal payudara. Tangan kiri menyanggah payudara, dengan buku-buku jari lakukan pengurutan dari pangkal payudara ke ujung ke arah puting susu. Lakukan merata ke seluruh payudara. Ketiga, tangan kanan diletakkan di pangkal payudara, tangan kiri menyanggah payudara, lakukan pengurutan dari pangkal ke ujung ke arah putting susu. Keempat, tempatkan masing-masing ibu jari di atas payudara dan jari-jari lain menopang atau menyanggah payudara, tekan jari-jari ke ujung payudara atau ke arah puting susu. Kelima, lakukan gerakan memelintir puting susu sampai puting susu elastis dan kenyal. Kompres payudara menggunakan handuk yang telah dibasahi dengan air hangat selama 5 menit, ulangi pengompresan menggunakan handuk yang dibasahi dengan air dingin lakukan bergantian dan akhiri pengompresan menggunakan handuk yang dibasahi dengan air dingin. Lakukan 3 kali pada setiap payudara, keluarkan ASI kemudian keringkan (Kompos, 2008).

Selain itu parawatan payudara juga dilakukan pada Ibu yang tidak menyusui, misalnya pada ibu yang bayinya meninggal setelah dilahirkan. Pada Ibu yang tidak menyusui, pemberian obat-obat penghambat laktasi untuk mengurangi pembengkakan payudara yang terjadi dalam derajat tertentu. Penggunaan kutang yang dapat menyanggah payudara dengan baik sangat dianjurkan. Dapat juga dilakukan kompres es tetapi secara periodik harus dihentikan untuk memungkinkan terjadinya disfungsi refleks saraf dan aliran darah di antara kulit. Obat-obatan analgetik dapat digunakan untuk mengurangi rasa tidak nyaman (Hamilton, 1995).

d. Perawatan Kaki
Beratnya bobot tubuh yang bertumpu pada kaki selama kehamilan dapat menyababkan terjadinya tromboflebitis. Tromboflebitis merupakan peradangan dinding vena dan biasanya disertai pembentukan bekuan darah. Ketika pertama kali terjadi bekuan pada vena akibat statis atau hyperkoagulabilitas, tanpa disertai peradangan, maka proses ini awal dari tromboflebitis (Smeltzet, 2003).

Perawatan tromboflebitis dapat dilakukan dengan tirah baring 5-7 hari setelah terjadinya trombosis vena dalam waktu ini kurang lebih sama dengan waktu yang diperlukan trombus melekat pada dinding vena, sehingga menghindari terjadinya emboli. Ketika mulai berjalan harus menggunakan stoking elastis. Berjalan-jalan akan lebih baik dari pada berdiri atau duduk lama-lama. Latihan di tempat tidur seperti dorsofleksi kaki melawan papan kaki juga dianjurkan. Kompres hangat dan lembab pada ekstrimitas yang terkena dapat mengurangi ketidak nyamanan sehubungan dengan trombisis vena dalam (Smeltzet, 2003).

e. Perawatan Hemoroid
Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi pada bagian kanal anal. Hemoroid sangat umum terjadi pada usia 50 tahunan, 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid berdasarkan luasnya vena yang terkena. Kehamilan dapat mengawali atau memperberat hemoroid (Smeltzet, 2003).

Beberapa Ibu mengalami nyeri hemoroid setelah melahirkan. Tindakan yang dapat membantu menurunkan nyeri tersebut termasuk mandi berendam. Salep analgetik, supositoria rektal, dan pembalut hazel. Hemoroid dapat dimasukkan ke dalam rektum dengan menggunakan jari tangan yang bersarung. Mempertahankan posisi berbaring miring atau terlentang dan menghindari duduk lama juga sangat membantu. Hemoroid biasanya akan menghilang dalam beberapa minggu bila Ibu tidak mengalaminya sebelum kehamilan (Hamilton, 2003).

f. Perawatan Kulit
Naik turunnya kadar hormon estrogen dan progesteron saat hamil dan sesudah bersalin sangat mempengaruhi kulit. Beberapa kulit bereaksi dengan berjarawat dan ada juga yang lebih mulus dari biasanya. Jika anda berjarawat, sebisanya tidak menggunakan obat karena unsur kimianya bisa membahayakan si kecil yang masih menyusu. Lakukan saja perawatan kulit wajah rutin, seperti membersihkan, menyegarkan, dan melembabkan kulit (Danuatmaja, 2003).

Jika ketika hamil mengalami topeng kehamilan (cloasma gravidarum), atau perubahan kulit yang menjadi lebih gelap di sekitar mata, tulang hidung, dahi, dan bibir atas. Setelah melahirkan perubahan ini akan memudar dalam enam bulan. Beberapa obat-obatan memang dapat mempercepat, tetapi lupakan pemakaiannya jika sedang menyusui si kecil. Sambil menunggu kulit mulus kembali hindari paparan sinar matahari secara langsung karena akan memperparah melasma. Jika ingin keluar rumah gunakan krim tabir surya. Coba periksa leher, ketiak, dan bagian bawah payudara, apakah mengalami kulit tags atau serpihan daging tumbuh, jika ya tidak perlu khawatir karena ini bukan masalah medis yang perlu dikhawatirkan (Danuatmaja, 2003).

Daftar Pustaka Makalah Perawatan Diri Pascasalin 

Danuatmaja, B. (2004). Persalinan Normal Tanpa Rasa Sakit. Jakarta : Puspa Swara

Hamilton, P. M. (1995). Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC

Pritchard, Jack A, dkk. (1991). Obstetri Williams. Ed. 17. Surabaya : Airlangga

Mochtar, R. (1991). Sinopsis Obstetri, Obstetri Fisiologi-Obstetri Patologi 1. Ed 2. Jakarta : EGC

Harnawatiaj. (2008) . Masa Nifas.  http://harnawatiaj.wordpress.com. Tanggal 16 April 2008

Hanafiah, T. M. (2004). Perawatan Masa Nifas. http://library.usu.ac.id/download/fk/obstetri-tmhanafiah.pdf. Tanggal 10 Mei 2008

Stevens, P. J. M. (2000). Ilmu Keperawatan Jilid 1. Ed.2. Jakarta : EGC

Pengertian Perawatan Diri Pascasalin Jenis Cara Melakukan Perawatan Diri Post Partum Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment