Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Pengertian Perilaku Delinkuensi Definisi Tipe Bentuk

Pengertian  Perilaku Delinkuensi adalah - Delinkuensi (delinquency) berasal dari bahasa Latin “delinquere”, yang diartikan terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas menjadi jahat, anti sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau, penteror dan tidak dapat diatur. Kartono (1998), dalam mengartikan delinkuensi lebih mengacu pada suatu bentuk perilaku menyimpang, yang merupakan hasil dari pergolakan mental serta emosi yang sangat labil dan defektif.  


Definisi Perilaku Delinkuensi 

Bynum dan Thompson (1996), mengartikan perilaku delinkuensi dalam tiga kategori, yaitu  the legal definition, the role definition,  dan  the societal response definition. Ketiga kategori tersebut memiliki pengertian masing-masing, yaitu : 

1.  The Legal Definition 
Secara legal perilaku delinkuensi diartikan sebagai segala perilaku yang dapat menjadi kejahatan jika dilakukan oleh orang dewasa atau perilaku yang oleh pengadilan anak dianggap tidak sesuai  dengan usianya, sehingga anak tersebut dipertimbangkan melakukan perilaku delinkuensi berdasarkan larangan yang diberlakukan dalam undang-undang status  perilaku kriminal dari pemerintah pusat, negara dan pemerintah daerah. Namun, tidak semua perilaku pelanggaran dapat dikategorikan sebagai kriminal. Perilaku delinkuensi merupakan perilaku yang dilakukan remaja, yaitu meliputi  pelanggaran peraturan yang diberlakukan bagi anak seusianya, seperti membolos sekolah, atau mengkonsumsi alkohol dimana perilaku tersebut ilegal.  

2. The Role Definition 
Segi peran memfokuskan arti perilaku delinkuensi pada pelaku antisosial daripada perilaku antisosial, pengertian ini mengungkap, ”Siapakah yang melakukan perilaku delinkuensi?”. Pengertian mengacu pada individu yang mempertahankan bentuk perilaku delinkuensi dalam periode waktu yang cukup lama, sehingga kehidupan serta identitas  kepribadiannya terbentuk dari perilaku menyimpang (deviant). Konsep sosiologis yang berhubungan dengan pengertian peran dalam mendeskripsikan perilaku delinkuensi, yaitu status sosial dan peran sosial. Status sosial merupakan pengaruh posisi seseorang dalam hubungannnya dengan orang lain dalam kelompok sosial atau masyarakat. Peran sosial diartikan sebagai perilaku yang diharapkan untuk ditunjukkan dari seseorang yang memiliki status dalam suatu kelompok sosial atau masyarakat. 

3.  The Societal Response Definition 
Pengertian dari segi  societal response,  menekankan pada konsekuensi sebagai akibat dari suatu tindakan dan/atau seorang pelaku yang dianggap melakukan suatu perilaku menyimpang atau delinkuensi, dimana  audience yang mengamati dan memberi penilaian  terhadap perilaku tersebut.  Audience  adalah kelompok sosial atau masyarakat dimana pelaku menjadi anggotanya.                              

Berdasarkan ketiga kategori pengertian di atas, Bynum dan Thompson (1996), mengartikan perilaku delinkuensi dengan mengkombinasikan ketiga kategori tersebut : 
“Delinquency reffering to illegal conduct by a juvenile that reflects a persistent delinquent role and results in society regarding the offender as seriously deviant. Deviant is conduct that is perceived by others as violating institutionalized expectations that are widely shared and recognized as legitimate within the society.” (Bynum & Thompson, 1996) 

Perilaku delinkuensi merupakan suatu bentuk perilaku ilegal yang mencerminkan peran kenakalan yang terus-menerus, dimana perilaku tersebut oleh masyarakat dianggap sebagai penyimpangan yang sangat serius. Perilaku menyimpang tersebut diartikan oleh orang lain sebagai ancaman terhadap norma legitimasi masyarakat.  

Walgito (dalam Sudarsono, 1997) merumuskan bahwa istilah delinkuensi lebih ditekankan pada perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh anak dan remaja, jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan. Fuad Hasan (dalam Hadisuprapto, 1997), merumuskan perilaku delinkuensi sebagai perbuatan anti sosial yang dilakukan oleh anak dan remaja yang bila dilakukan orang dewasa dikualifikasikan sebagai tindak kejahatan. 

Suatu perilaku dianggap ilegal hanya  karena status usia si pelaku yang masih muda (bukan usia dewasa), atau yang sering disebut  status offenses. Perilaku antisosial dapat berupa menggertak, agresi fisik dan perilaku kejam terhadap teman sebaya, sikap bermusuhan,  lancang, negativistik terhadap orang dewasa, menipu terus-menerus, sering membolos dan merusak (Kaplan, Sadock & Grebb, 1997).  

Simanjuntak (dalam Sudarsono, 1997), memberi tinjauan bahwa suatu perbuatan disebut delinkuensi apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat di mana seseorang tinggal atau suatu perbuatan anti sosial di mana di dalamnya terkandung unsur-unsur anti normatif. Suatu perbuatan dikatakan sebagai delinkuensi atau tidak, ditinjau dari dua faktor, yaitu hukum pidana serta norma-norma dalam masyarakat. Sudarsono (1997), merumuskan bahwa perilaku delinkuensi memiliki arti yang luas, yaitu perbuatan yang menimbulkan keresahan masyarakat, sekolah maupun keluarga, akan tetapi tidak tergolong pidana umum maupun khusus. Antara lain, perbuatan yang bersifat anti susila, yaitu durhaka kepada orang tua, membantah, melawan, tidak patuh, tidak sopan, berbohong, memusuhi orang tua, saudara-saudaranya, masyarakat dan lain-lain. Serta dikatakan delinkuensi, jika perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma agama yang dianut.  

Farrington (dalam Quay, 1987), mengartikan delinkuensi sebagai perilaku yang meliputi pencurian, perampokan, sifat suka merusak (vandalism), kekerasan terhadap orang lain, dan penggunaan obat, pengkategorian delinkuensi juga meliputi perilaku  status offenses  (status bersalah) seperti minum-minuman beralkohol dan pelanggaran jam malam yang dilakukan oleh remaja. Seperti yang dikemukakan Lewis (dalam Short, 1987), perilaku delinkuensi merupakan perilaku ilegal yang dilakukan oleh remaja meliputi, membolos, diasosiasikan dengan remaja yang suka melanggar peraturan, dan melanggar jam malam. Sedangkan Sunarwiyati (dalam Masngudin, 2004), merumuskan perilaku delinkuensi meliputi, kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit, kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan, seperti mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang miliki orang tua/orang lain tanpa izin, serta kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan, penganiayaan, penyiksaan, pembunuhan dan lain-lain 

Seiring perkembangannya Papalia  (2003), mengartikan perilaku delinkuensi mengacu pada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti bertindak berlebihan di sekolah, yakni melanggar tata tertib, berkelahi), pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah) hingga tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri), yang dilakukan oleh anak dan remaja. Perilaku delinkuensi merupakan suatu bentuk pelanggaran, kesalahan, serangan atau  kejahatan yang relatif minor melawan undang-undang legal atau tidak terlalu berat dalam  pelanggaran terhadap undang-undang, yang khususnya dilakukan oleh anak-anak muda yang belum dewasa (Chaplin, 2004).  

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku delinkuensi merupakan suatu bentuk perbuatan anti sosial, melawan hukum negara, norma-norma masyarakat dan norma-norma agama serta perbuatan yang tergolong anti sosial yang menimbulkan keresahan masyarakat, sekolah maupun keluarga, akan tetapi tidak tergolong pidana umum maupun khusus, yang dilakukan oleh orang yang belum dewasa (anak dan remaja).

Tipe-tipe Perilaku Delinkuensi  

Masyarakat memandang beberapa perilaku sebagai negatif, misalnya perilaku tersebut ilegal karena status usia si pelaku yang masih muda, inilah yang disebut  status offenses,  meliputi bolos sekolah, penyalahgunaan obat-obatan, minuman keras, ketidakpatuhan dengan aturan orang tua, berteman dengan orang-orang yang suka melanggar peraturan, lari dari rumah dan melanggar jam malam. Sedangkan  index offenses,  digunakan dalam pengkategorian perilaku yang lebih serius, meliputi pembunuhan, pemerkosaan, perampokkan dan penyerangan yang masuk dalam ”violent crimes”, yang merupakan suatu tindakan atau perilaku yang ditujukan langsung pada orang lain,  sedangkan maling, pencuri kendaraan bermotor dan pembakaran, dimasukkan dalam ”property crimes”, yaitu kejahatan yang tanpa kekerasan tetapi berhubungan langsung dengan properti (Bynum & Thompson, 1996). 

Department of Justice in the National Crime (dalam Kelley, Loeber, Keenan, & DeLamatre, 1997), membagi perilaku delinkuensi dalam dua kategori. Pertama, ”index offenses” perilaku delinkuensi sebagai perilaku yang melibatkan tindakan pengrusakan dan pencurian barang-barang milik orang lain, kekerasan terhadap orang lain, mengkonsumsi dan memperjualbelikan alkohol dan obat-obatan, dan kepemilikan senjata api. Kedua, ”status offenses”, dimana tidak merupakan suatu pelanggaran bila dilakukan oleh orang dewasa, antara lain membolos, lari dari rumah, memiliki atau mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan, pelanggaran jam malam. 

Papalia (2003) membedakan perilaku delinkuensi dalam dua kategori yaitu index offenses dan status offenses.  Index offenses, merupakan tindakan kriminal, baik yang dilakukan remaja maupun orang dewasa. Tindakan-tindakan itu meliputi perampokan, penyerangan dengan kekerasan, pemerkosaan, dan pembunuhan.  Status offenses,  merupakan tindakan-tindakan yang tidak terlalu serius seperti lari dari rumah, bolos dari sekolah, mengkonsumsi minuman keras yang melanggar ketentuan usia, pelacuran, dan ketidakmampuan mengendalikan diri sehingga menimbulkan perkelahian.  Tindakan-tindakan itu dilakukan oleh anak-anak muda di bawah usia tertentu, sehingga pelanggaran-pelanggaran itu disebut pelanggaran-pelanggaran remaja. 

Berdasarkan uraian diatas, dapat kita lihat bahwa perilaku delinkuensi mencakup dua kategori yaitu pertama, ”index offenses” sebagai perilaku kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain dan kenakalan yang menimbulkan korban materi  atau properti. Kedua, ”status offenses”, sebagai perilaku kenakalan yang tidak terlalu serius, yang merupakan pelanggaran-pelanggaran remaja seperti membolos, lari dari rumah, perkelahian, dan pelanggaran-pelanggaran lain melanggar status usia remaja. 

Bentuk-bentuk Perilaku Delinkuensi 

Bynum dan Thompson (1996), mengkategorikan bentuk-bentuk perilaku delinkuensi yang termasuk dalam status offenses meliputi running away, truancy, ungovernable behaviour  dan liquor law violations, sedangkan yang termasuk dalam kategori index offenses, pembunuhan, pemerkosaan, perampokkan, penyerangan, mencuri, pencuri kendaraan bermotor, merampok dan pembakaran. Steinhart (1996),  seorang pengacara ahli dalam  sistem peradilan anak, menyatakan bahwa status offenses merupakan perilaku yang tidak legal bagi anak-anak, tetapi itu merupakan perilaku yang legal bagi orang dewasa. Bentuk-bentuk status offenses  yang umum yaitu, membolos (truancy),  lari dari rumah (running away from home),  menentang perintah dan aturan orang tua  (incorrigibility: disobeying parents),  melanggar jam malam bagi anak dan remaja (curfew violations),  dan mengkonsumsi alkohol (alcohol possession by minors). Sementara itu,  index offenses  meliputi bentuk pelanggaran lebih serius, yang terdiri dari dua kategori yaitu pelanggaran kekerasan terhadap orang dan pelanggaran kekerasan terhadap barang/properti. Antara lain pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, penyerangan,  perampokan, pencurian kendaraan bermotor, dan pembakaran. 

United Stated Department of Justice’s Office of Juvenile Justice and Delinquency Prevention  (OJJDP) mengindentifikasi  index offenses dalam empat kategori utama (dalam Hund, 1998), yaitu : 
  1. Pelanggaran kekerasan (violent offenses), yaitu perbuatan-perbuatan yang menimbulkan korban fisik,  meliputi kekerasan fisik baik menyebabkan kematian ataupun tidak, pemerkosaan, menyerang, dan merampok dengan senjata. 
  2. Pelanggaran properti (property offenses), yaitu perbuatan-perbuatan yang menimbulkan kerusakan property milik orang lain, meliputi pengrusakan, pencurian, pembakaran.  
  3. Pelanggaran hukum negara (public offenses), yaitu segala perbuatan yang melanggar undang-undang Negara selain dari violent offenses dan property offenses. 
  4. Penyalahgunaan obat-obatan dan minuman keras (drug and liquor offenses), yaitu perbuatan yang  melibatkan obat-obatan dan minuman keras, meliputi mengkonsumsi dan memperjualbelikan obat-obatan serta minuman keras.  
Pengertian Perilaku Delinkuensi

United Stated Department of Justice’s Office of Juvenile Justice and Delinquency Prevention (OJJDP) mengindentifikasi  status offenses dalam empat kategori utama (dalam Hund, 1998), yaitu : 
  1. Lari dari rumah (runaway), termasuk pergi keluar rumah tanpa pamit. 
  2. Membolos (truancy) dari sekolah tanpa alasan  jelas, dan berkeliaran di tempat-tempat umum atau tempat bermain.  
  3. Melanggar aturan atau tata tertib sekolah dan aturan orang tua (ungovernability). 
  4. Mengkonsumsi alkohol (underage liquor violations) 
  5. Pelanggaran lainnya (miscellaneous category), meliputi pelanggaran jam malam, merokok, berkelahi dan lain-lain.  


Sementara itu peneliti di Indonesia, Sunarwiyati (dalam Masngudin, 2004), merumuskan bentuk-bentuk perilaku delinkuensi dalam tiga kategori. Pertama, kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit. Kedua, kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan, seperti mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang miliki orang lain tanpa izin. Ketiga, kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan, penganiayaan, penyiksaan, pembunuhan dan  lain-lain. Berdasarkan penelitiannya berjudul ”Pengukuran Sikap Masyarakat  terhadap Kenakalan Remaja di DKI Jakarta”, bentuk-bentuk perilaku kenakalan yang lazim terjadi pada remaja antara lain : berbohong, pergi keluar rumah tanpa pamit, keluyuran, begadang di luar rumah hingga larut malam, membolos  sekolah, buang sampah sembarangan, membaca buku porno, melihat gambar porno, menonton film porno, mengendarai kendaraan tanpa SIM, kebut-kebutan,  minum-minuman keras, penyalahgunaan obat, berkelahi, hubungan seks diluar nikah, mencuri,  mengompas, mengancam/menganiaya, berjudi/taruhan, sedangkan membunuh dan memperkosa termasuk dalam jumlah yang sangat sedikit  pada remaja.  

Jensen (dalam Sarwono, 2006), meengkategorikan bentuk-bentuk perilaku delikuensi menjadi  empat kategori.  Pertama, kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, antara lain perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan lain-lain. Kedua, kenakalan yang menimbulkan korban materi, antara lain perusakan, pencurian, pecopetan, pemerasan, dan  lain-lain. Ketiga, kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang  lain, antara lain pelacuran, penyalahgunaan obat, merokok dan minuman keras. Keempat, kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status  sebagai pelajar, dengan cara membolos dan melanggar peraturan sekolah, mengingkari status orang tua, dengan cara minggat dari rumah, melawan orang tua, memusuhi keluarga, dan sebagainya. Bagi remaja,  perilaku-perilaku tersebut merupakan suatu pelanggaran, memang belum melanggar hukum dalam arti sesungguhnya, karena merupakan pelanggaran dalam lingkungan keluarga dan sekolah.  

United Nations Children's Fund, sebuah lembaga internasional di bawah naungan PBB bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surakarta melakukan penelitian mengenai perilaku menyimpang  pada remaja di Kota Surakarta. 

Perilaku kenakalan remaja yang umum dilakukan antara lain, mulai dari bolos sekolah, keluyuran di tempat wisata, halte, terlibat tawuran, mabuk, pelanggaran lalu lintas, melakukan tindakan pemerasan, hamil di luar nikah, menjadi pekerja seks komersial hingga melakukan tindakan kriminal. Data remaja yang terlibat kenakalan dalam satu tahun mencapai angka 6.664 orang dengan presentase terbesar bolos sekolah/keluyuran di tempat wisata, bioskop, halte dan sebagainya sejumlah 3.485 orang (Syamsiah dan Wiyono, 2001). 

Berdasarkan uraian di atas, dapat  disimpulkan bahwa dimensi-dimensi perilaku delinkuensi sebagai berikut : Pertama, index offenses meliputi kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain (violent offenses), antara lain perkelahian, penganiayaan, pengancaman dan  perampokan; kenakalan yang menimbulkan korban materi  (property crimes), antara lain perusakan, pencurian, dan pemerasan; kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain (drug/ liquor and public), antara lain pelacuran, penyalahgunaan  dan memperjualbelikan obat/minuman keras dan berjudi/taruhan. Kedua,   status offenses yaitu kenakalan yang melawan status, antara lain mengingkari status sebagai pelajar dan mengingkari status  orang tua, meliputi lari dari rumah (runaway), termasuk pergi keluar rumah tanpa pamit; membolos sekolah (truancy) dan  keluyuran; melanggar aturan atau tata tertib sekolah dan aturan orang tua (ungovernability), seperti melawan orang tua, berbohong, pakaian seragam tidak lengkap, dan lain-lain; mengkonsumsi alkohol (underage liquor violations); dan pelanggaran lainnya (miscellaneous category), meliputi pelanggaran jam malam, merokok, obat-obatan dan lain-lain.  

Daftar Pustaka Makalah

Syamsiyah, Sri LS., & Wiyono, S. (2001, November). Lebih dari 6.000 Remaja Terlibat Kenakalan.  [On-line]. FTP: http://www.suaramerdeka.com/harian/0111 /26/slo8.htm  (3 September 2006) 

Masngudin. (2004). Kenakalan Remaja Sebagai Perilaku Menyimpang Hubungannya dengan Keberfungsian Sosial Keluarga: Kasus di Pondok Pinang Pinggiran Kota  Metropolitan Jakarta.  Badan Latbang Sosial Departemen Sosial RI [On-line]. FTP: http://www.depsos.go.id/Balatbang/Puslitbang%20UKS/2004/Masngudin.htm (8 April 2007) 


Sarwono, Sarlito Wirawan. (2000).  Psikologi Remaja.  Cetakan kelima. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada 

______________. (2006).  Psikologi Remaja. (Ed. Revisi). Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada 

Hund, Catherine A.Y. (1998).  The Reduction of Status Offenses : Through Increased Attachment Design  [On-line]. FTP: http://www.siue.edu/~jfarley/hund495.htm (20 Maret 2007) 

___________________. (1999).  Perkembangan Anak: Edisi Keenam. Jakarta: Penerbit Erlangga 

Kartono, Kartini. (1998).  Patologi Sosial 2: Kenakalan Remaja.  Jakarta: Raja Grafindo Persada 

Steinhart, David J. (1996). Status Offenses. The Future of Children : The Juvenile Court,Vol. 6, No. 3 – Winter [On-line]. FTP : http://www.futureofchildren.org/usr_doc/vol6no3ART7.pdf (18 Maret 2007) 

Kelley, Barbara T., Loeber Rolf, Keenan Kate, & DeLamatre Mary. (1997). Developmental Pathways in Boys’ Disruptive and Delinquent Behavior. Office of Juvenile Justice and Delinquency Prevention Bulletin [On-line]. (p. 3). FTP: http://www.ncjrs.gov/pdffiles/165692.pdf (8 Juli 2007) 

Quay, Herbert C. (1987).  Hanbook of Juvenile Delinquency: Wiley Series on Personality Process. New York: John Wiley & Sons Inc 

Short, Rick, J. (1987). Children and Delinquency. Dalam Thomas, A., & Grimes, J. (Ed.), Children’s Needs: Psychological Perspective  (pp. 146 -151). National Association of School Psychologist 

Hadisuprapto, Paulus S.H. (1997).  Juvenile Delinquency: Pemahaman dan Penanggulangannya. Bandung: Citra Aditya Bakti 

Papalia, D. E., Olds, S. W., Feldman R. D. (2003). Human Development (9th ed.). New York: McGraw Hill Inc 

Bynum, J. E., & Thompson, W. E. (1996). Juvenile Delinquency: A Sociological Approach (3rd ed.). Boston: Allyn & Bacon 

Chaplin, J. P. (2004). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada 

Sudarsono. (1997). Kenakalan Remaja: Prevensi, Rehabilitasi dan Resosialisasi. Jakarta: PT Rineka Cipta 

Pengertian Perilaku Delinkuensi Definisi Tipe Bentuk Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment