Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Pengertian Perilaku Konsumtif Definisi Tipe, Indikator, Faktor Gambaran Terhadap Pria Metroseksual

Pengertian Perilaku Konsumtif adalah - Kata “konsumtif” sering diartikan sama dengan “konsumerisme”. Padahal kata yang terakhir ini mengacu pada  segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Sedangkan konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal (Tambunan, 2003). 


Perilaku konsumtif juga dapat didefinisikan sebagai perilaku membeli barang atau jasa yang berlebihan, walaupun tidak dibutuhkan (Moningka, 2006). Dahulu orang berbelanja karena ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Saat ini orang berbelanja karena berbagai macam sebab, untuk memanjakan diri sendiri, menyenangkan orang lain, membeli sesuatu dengan alasan hari raya, atau karena potongan harga. Bahkan, hanya sekedar gengsi, memperlihatkan dengan status sosial tertentu dapat berbelanja di tempat “X” dan mampu membeli barang dengan merek ternama. Tanpa disadari, alasan-alasan tersebut membuat seseorang hidup dalam gaya hidup konsumtif. 

Mowen dan Minor (2002) mengatakan bahwa perilaku konsumtif adalah suatu perilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan membeli produk atau jasa tertentu untuk memperoleh kesenangan atau hanya perasaan emosi. Pengertian perilaku konsumtif tersebut sejalan dengan pendapat Dahlan yakni suatu perilaku  yang ditandai oleh adanya kehidupan mewah yang berlebihan, penggunaan segala hal yang dianggap paling mahal memberikan kepuasan dan kenyamanan fisik sebesar-besarnya serta adanya pola hidup manusia yang dikendalikan oleh suatu keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan semata (dalam Sumartono, 2002). 

Tipe-Tipe Perilaku Konsumtif 

Menurut Moningka (2006) ada 3 tipe perilaku konsumtif, yaitu:  
  1. konsumsi adiktif (addictive consumption), yaitu mengkonsumsi barang atau jasa kerena ketagihan. 
  2. konsumsi kompulsif (compulsive consumption), yaitu berbelanja secara terus menerus tanpa memperhatikan apa yang sebenarnya ingin dibeli. 
  3. pembelian impulsif (impulse buying atau impulsive buying). Pada impulse buying, produk dan jasa memiliki daya guna bagi individu. Pembelian produk atau jasa tersebut biasanya dilakukan tanpa perencanaan. 

Indikator Perilaku Konsumtif 

Sumartono (1998) menyatakan bahwa konsep perilaku konsumtif amatlah variatif, tetapi pengertian perilaku konsumtif adalah membeli barang atau jasa tanpa pertimbangan rasional atau bukan atas dasar kebutuhan. Secara operasional indikator perilaku konsumtif adalah : 
  1. Membeli produk karena hadiahnya. 
    Individu membeli suatu barang karena adanya hadiah yang ditawarkan jika membeli barang tersebut. 
  2. Membeli produk karena kemasannya menarik. 
    Konsumen pria metroseksual mudah terbujuk untuk membeli produk yang dibungkus dengan rapi dan dihias dengan warna-warna yang menarik. 
  3. Membeli produk demi menjaga penampilan diri dan gengsi. 
    Kosumen pria metroseksual mempunyai keinginan yang  tinggi, karena pada umumnya mereka mempunyai ciri khas dalam berpakaian, berdandan, gaya rambut, dan sebagainya bertujuan agar pria metroseksual selalu berpenampilan menarik. Mereka membelanjakan uangnya lebih banyak untuk menunjang penampilan diri. 
  4. Membeli produk atas pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat dan kegunaannya). 
    Konsumen pria metroseksual cenderung berperilaku yang ditandai oleh adanya kehidupan mewah sehingga  cenderung menggunakan segala hal yang dianggap paling mahal. 
  5. Membeli produk hanya sekedar menjaga simbol status. 
    Pria metroseksual mempunyai kemampuan membeli yang tinggi dalam berpakaian, berdandan, gaya potong  rambut, dan sebagainya sehingga dapat menunjukkan sifat ekslusif dengan citra yang mahal dan memberi kesan berasal dari  kelas sosial yang lebih tinggi. Dengan membeli suatu produk dapat memberikan simbol status agar kelihatan menarik dimata orang lain. 
  6. Memakai sebuah produk karena unsur  konformitas terhadap model yang mengiklankan produk. 
    Pria metrseksual cenderung meniru tokoh yang diidolakan dalam bentuk menggunakan segala sesuatu yang dipakai tokoh yang diidolakannya. Pria metroseksual cenderung dan mencoba produk yang ditawarkan bila ia mengidolakan public figure produk tersebut. 
  7. Munculnya penilaian bahwa membeli produk dengan harga mahal akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi. 
    Pria metroseksual sering terdorong untuk mencoba suatu produk karena mereka percaya yang dikatakan oleh iklan yaitu dapat menumbuhkan rasa percaya diri. Cross dan Cross (dalam Hurlock, 1997) juga menambahkan bahwa dengan membeli produk yang mereka anggap dapat mempercantik penampilan fisik, mereka akan menjadi lebih percaya diri. 
  8. Mencoba lebih dari 2 produk sejenis (merek berbeda). 
    Pria metroseksual cenderung menggunakan produk jenis sama dengan merek yang lain dari yang sebelumnya ia gunakan meskipun produk tersebut belum habis dipakainya. 

Faktor-Faktor Perilaku Konsumtif 

Menurut Kottler dan Amstrong (1997) ada beberapaa faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam proses perilaku pembelian. Berdasarkan konteks pria metroseksual maka faktor-faktor yang mempengaruhi adalah : 
  1. Pekerjaan  
    Pria metroseksual kebanyakan adalah eksekutif muda. Masalah penampilan jelas terlihat dari pakaian dengan segala atributnya seperti dasi, sepatu sampai parfum dan sebagainya. Faktor yang relevan dengan sisi penampilan juga ditambah dengan perawtan tubuh mulai dari salon, spa dan klub  fitnes. 
  2. Situasi ekonomi 
    Kartajaya,dkk (2004) mengatakan bahwa pria metroseksual biasanya berasal dari kalangan dengan penghasilan ekonomi yang besar. Besarnya materi yang dikeluarkan untuk  menunjang perilaku konsumtif yang mereka lakukan bukan menjadi masalah. 
Pengertian Perilaku Konsumtif Pria Metroseksual

Gambaran Perilaku Konsumtif  Pria Metroseksual 

Umumnya pria metroseksual merupakan pria hobi belanja di mal atau butik, melakukan perawatan diri ke  salon, membentuk badan di pusat kebugaran dan suka berkumpul di kafe. Mereka betah berjam-jam jalan-jalan di mal, dan itu dilakukan bukan untuk  tujuan berbelanja,  tapi lebih pada kesenangam berbelanja (Skripsiadi & Aning, 2005). 

Melalui riset yang dilakukan oleh MarkPlus&Co, fenomena diatas terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya dan Medan. Para pria metroseksual adalah pria-pria kelas atas (para pengusaha) yang telah mapan dalam karir dan finansial. Mereka menghabiskan waktu dan biaya untuk melakukan perawatan diri dan membeli model baju terbaru saat ini. Di dalam bersosialisasi, pria metroseksual tidak kalah dengan wanita. Para pria metroseksual memiliki komunitas sendiri  yang terdiri dari pria metroseksual dan wanita pekerja yang mempunyai  ciri yang sama dengan para pria metroseksual (Kartajaya, 2004). 

Pria metroseksual sering menggunakan majalah mode sebagai referensi dalam berbelanja, khususnya berbelanja kebutuhan mereka sehari-hari seperti,shampo, obat menghilangkan bau pada tubuh, minyak wangi, busa penghilang bulu-bulu di wajah, minyak rambut,  pelembab muka dan pakaian. Mereka juga sangat suka mencoba produk-produk baru yang dikeluarkan oleh merek yang biasa mereka gunakan.  Para pria metroseksual tidak mengeluarkan biaya yang sedikit untuk memenuhi kebutuhan mereka tersebut. 

Hal-hal diatas dilakukan oleh pria  metroseksual karena pria-pria ini umumnya tinggal di kota-kota besar,  punya uang banyak, gaya hidup royal  yang umumnya sangat brand minded. Kehadiran wanita karier di tempat kerja yang sebelumnya lebih banyak didominasi kaum pria tentu menuntut rekan prianya untuk juga menjaga penampilan, misalnya dengan berbusana rapi, bertubuh bugar, dan berbau harum. Proporsi pekerja kantor yang terus bertambah sehingga membuat pria dituntut tampil menarik. Peranan wanita sebagai pasangan pria metroseksual. Kehadiran majalah-majalah pria seperti FHM, Maxim, GQ, Esquire  serta Popular dan Male Emporium di Indonesia, yang terus menambah jumlah halaman mode mereka.  

Dan hasil yang diperoleh berdasarkan Indonesian Metrosexual Behavioral Survey yang dilakukan MarkPlus&Co, para pria metroseksual memang sangat gemar dalam hal berbelanja (Yuswohady, 2006)  

Daftar Pustaka Makalah Perilaku Konsumtif 

Kartajaya, Hermawan., Yuswohady, Madyani, Dewi., Christynar, Mathilda., Indrio, Bembi Dwi (2004) Metrosexual in Venus; Pahami Perilakunya, Bidik Hatinya, Menangkan Pasarnya. Jakarta. Penerbit MarkPlus&Co.  

Skripsiadi, Erwin J., Aning, Floriberta (2005) Penuntun Komunikasi dan Tingkah Laku Manusia Modern; Mengenal  Budaya dan Tradisi yang Berbeda. Yogyakarta. Enigma Publishing. 

Sumartono. (2002). Terperangkap dalam Iklan : Meneropong Imbas Pesan Iklan Televisi. Bandung. Penerbit Alfabeta. 

Tambunan, R. (2001).  Remaja dan Perilaku Konsumtif  . [online] (http://www.duniaesai.com/psikologi/psi3.htm) 

Moningka, C. (2006). Konsumtif : antara Gengsi dan Kebutuhan. [online]  (http://www.suarapembaruan.com/News/2006/12/13/urban/urb02.htm) 

Mowen, J.C., Minor, M. (2002). Perilaku Konsumen. Jakarta. Penerbit Erlangga. 

Kotler, P. Armstrong, G. (1997). Dasar-Dasar Pemasaran Jilid 1. Alih Bahasa: Alexander Sidoro. Jakarta. Prenhallindo.  

Yuswohady.(2006).PasarMetroseksual.[online](http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=159528&kat_id=105&kat_id1=149&kat_id2=259). 


Pengertian Perilaku Konsumtif Definisi Tipe, Indikator, Faktor Gambaran Terhadap Pria Metroseksual Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment