Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Sunday, 29 May 2016

Pengertian Persistensi Definisi, Komponen Faktor Yang Mempengaruhi

Pengertian Persistensi adalah salah satu kekuatan karakter yang dikemukakan oleh Seligman & Peterson (2004). Seligman & Peterson (2004) mendefinisikan persistensi sebagai kelanjutan dari tindakan sukarela yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan meskipun ada hambatan, kesulitan atau keputusasaan. Hill (2000) mengemukakan bahwa persistensi merupakan faktor penting dalam mewujudkan keinginan (desire) menjadi suatu kenyataan. Dasar dari persistensi adalah kekuatan kehendak (the power of will). Hal yang menjadi penghalang bagi individu bukanlah ketakutan melainkan kebosanan, frustasi, kesulitan dan godaan untuk melakukan sesuatu yang lebih mudah dan menyenangkan (Seligman & Peterson, 2004).


Definisi Persistensi 

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas maka dapat disimpulkan bahwa persistensi adalah tindakan yang dilakukan secara sukarela dalam mencapai sesuatu yang diinginkan meskipun dilanda oleh berbagai hambatan, kesulitan atau keputusasaan.

Komponen Persistensi 

Menurut Hill (2000) terdapat beberapa komponen dalam persistensi antara  lain :

a. Kejelasan tujuan/Definiteness of purpose 
Mengetahui tujuan dan apa yang diinginkan secara pasti merupakan langkah pertama dan terpenting dalam mengembangkan persistensi. Tujuan yang jelas merupakan motif yang kuat untuk mendorong seseorang mengatasi berbagai kesulitan.

b. Keinginan/Desire 
Desire atau keinginan diperlukan untuk mempertahankan persistensi dalam  memperoleh sesuatu yang diinginkan.

c. Self-reliance 
Keyakinan   diri   akan   kemampuan   melakukan   sesuatu   yang   sudah  direncanakan, mendorong dirinya untuk persistensi dalam menjalankan rencana yang sudah direncanakan tersebut.

d. Kejelasan rencana/Definiteness of plans 
Rencana yang terorganisir dapat meningkatkan persistensi seseorang. 

e. Pemahaman akurat/Accurate knowledge 
Pengetahuan   akurat   akan   suatu   rencana   yang   telah   disusun   dapat  meningkatkan persistensi.

f. Co-operation 
Rasa simpati, pengertian dan kerjasama yang harmonis dengan orang lain  cenderung untuk meningkatkan persistensi.

g. Kekuatan kehendak/Will-power 
Kebiasaan untuk berkonsentrasi pada suatu rencana yang sudah direncanakan  untuk mencapai suatu tujuan dapat mengarah pada persistensi.

h. Kebiasaan/Habit 
Persistensi  merupakan  hasil  dari  suatu  kebiasaan.  Pikiran  menyerap  pola  perilaku dari kebiasaan dan menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari.

Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Persistensi 

Seligman & Peterson (2004) mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor  yang dapat mempengaruhi persistensi yaitu effortful behavior, dukungan sosial dan feedback.

a. Effortful behavior 
Menurut  teori  learned  industriousness,  individu  yang  memiliki  riwayat  mendapatkan reward atas perilaku tinggi untuk berusaha cenderung lebih mengerahkan usaha/upaya yang lebih besar di masa mendatang dibandingkan dengan individu yang memiliki riwayat mendapatkan reward atas perilaku rendah untuk berusaha (Eisenberger dalam Seligman & Peterson, 2004).

Pengertian Persistensi

Pelatihan usaha/upaya di laboratorium menunjukkan bahwa kegigihan perilaku dalam berusaha dapat ditingkatkan dengan memberi reward atas usaha/upaya (effort) yang telah dilakukan. Eisenberger dan kolega telah melakukan banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pelatihan usaha/upaya dapat meningkatkan persistensi (contohnya, Eisenberger & Adornetto, 1986; Eisenberger & Leonard, 1980; Eisenberger, Mitchell, & Masterson, 1985; Eisenberger, Park, & Frank, 1976; Eisenberger & Selbst, 1994).
 b. Dukungan sosial 
Dukungan  sosial  merupakan  salah  satu  hal  yang  dapat  meningkatkan  persistensi. Zaleski (dalam Seligman & Peterson, 2004) menemukan bahwa individu yang memiliki hubungan yang dekat dan suportif lebih dapat bertahan (persist) dan mengerahkan upaya dibandingkan individu yang tidak memiliki hubungan dekat dan suportif. Vallerand, Fortier dan Guay (dalam Seligman & Peterson, 2004) menjelaskan bahwa self-determination merupakan tautan yang menghubungkan dukungan sosial dengan persistensi. Dalam penelitiannya dengan anak sekolah, dukungan sosial menimbulkan self-determination yang akhirnya menimbulkan persistensi yang lebih baik di bidang akademik (diukur dari kecenderungan siswa menyelesaikan sekolah atau putus sekolah) sedangkan penurunan dukungan sosial mengarah pada penurunan self-determination dan menimbulkan peningkatan kecenderungan siswa putus sekolah.

c. Feedback 
Menerima  feedback  positif  berkontribusi  dalam  meningkatkan  persistensi. 

Dalam penelitian Kelley, Brownell, dan Campbell (dalam Seligman & Peterson, 2004) menunjukkan bahwa ketika ibu memberi feedback yang bersifat positif dan korektif kepada anaknya yang berusia 2 tahun, anak tersebut bertahan (persist) lebih lama baik dalam tugas yang mudah ataupun tugas susah.
Keuntungan dari feedback positif tidak sepenuhnya ditemukan seragam. Paulus dan Konicki (dalam Seligman & Peterson, 2004) menemukan bahwa evaluasi negatif dari orang lain mengarahkan individu untuk lebih persistensi dalam tugasnya dibandingkan dengan evaluasi positif atau tanpa evaluasi. Mueller dan Dweck (dalam Seligman & Peterson, 2004) menemukan bahwa anak-anak yang dipuji kemampuan intelektualnya setelah kegagalan pertama kurang persistent dan kurang menikmati tugas yang diberikan kepadanya dibandingkan anak yang dipuji usahanya.

Eisenberger (dalam Seligman & Peterson, 2004) menyatakan bahwa antara feedback dan persistensi memiliki hubungan liniar dimana penguatan dapat meningkatkan persistensi, tetapi Drucker et al.(dalam Seligman & Peterson, 2004) menemukan hubungan kurvalinear dimana penguatan pada tingkat menengah dapat meningkatkan persistensi dan penguatan pada tingkat tinggi dan rendah mengurangi persistensi.

Daftar Pustaka Makalah

Hill, Napoleon. (2000) : Think and Grow.  

Peterson, C., Seligman, M. E. P.  (2004).  Character Strengths and Virtues: A Handbook and Classification. New York: Oxford University Press. 

Eisenberger, R. (1992). Learned industriousness. Psychological Review, 99, 248– 267. 

Pengertian Persistensi Definisi, Komponen Faktor Yang Mempengaruhi Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment