Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Pengertian Resiliensi Definisi Faktor yang Mempengaruhi dan Dimensi

Pengertian Resiliensi Adalah - Reivich. K dan Shatte. A (2002) dalam bukunya “the resiliency factor” menjelaskan bahwa arti resiliensi  itu adalah kemampuan untuk mengatasi dan beradaptasi bila terjadi sesuatu yang merugikan dalam hidupnya. Bertahan dalam keadaan tertekan sekali pun, atau bahkan berhadapan dengan kesengsaraan (adversity) maupun trauma yang dialami  sepanjang kehidupannya. Resiliensi bukanlahlah suatu  trait, akan tetapi bersifat kontinum, sehingga tiap individu dapat meningkatkan resiliensinya (Reivich & Shatte, 2002). Kemampuan seseorang untuk menyembuhkan diri, beradaptasi, atau bangkit kembali ke kondisi normal (resiliensi) bervariasi sepanjang hidup mereka (Norman, 2000). 


Definisi Resiliensi 

Resiliensi pada  individu didefinisikan oleh Grotberg (dalam Schoon, 2006) sebagai kapasitas manusia untuk menghadapi, mengatasi, dan bahkan berubah akibat pengalaman traumatik tersebut. Ketika orang yang resilien mendapatkan gangguan dalam kehidupan, mereka mengatasi perasaan mereka dengan cara yang sehat. Mereka membiarkan diri mereka untuk merasakan duka, marah, kehilangan, dan bingung ketika merasa tersakiti dan  distress, akan tetapi mereka tidak membiarkan hal tersebut menjadi perasaan yang permanen (Siebert, 2005). 

Resiliensi merupakan proses mengembangkan kapasitas untuk bertahan dalam menghadapi tantangan fisik, sosial, dan emosional (Glantz & Johnson, 1999). Beberapa dari individu yang resilien tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang. Mereka akan mengembangkan cara untuk mengubah keadaan yang penuh tekanan menjadi sebuah kesempatan untuk pengembangan diri pribadi. Sehingga, pada akhirnya mereka akan menjadi lebih baik dari yang sebelumnya (Maddi & Khoshaba, 2005). 

Dari berbagai pengertian resiliensi di atas dapat disimpulkan bahwa resiliensi adalah kemampuan untuk bertahan dan tidak berputus asa dari peristiwa  buruk atau musibah dan bisa mengambil hikmah dari apa yang terjadi untuk bisa bangkit kembali. 

Domain resiliensi 

Menurut Reivich dan Shatte (2002), terdapat tujuh domain yang membangun esiliensi, yaitu aspek regulasi emosi, impuls kontrol, optimisme, analisis kausal, empat i, self-efficacy, dan reaching out. 

a.  Emotion Regulation 
Regulasi emosi merupakan kemampuan untuk tetap tenang saat berada di bawah tekanan.  Individu yang resilien menggunakan sekumpulan keterampilan dengan baik yang dapat membantu mereka untuk mengontrol emosi, perhatian, dan perilaku mereka.  Self-regulated  merupakan hal yang penting dalam membentuk kedekatan, sukses di pekerjaan dan  membantu pemeliharaan kesehatan fisik seseorang.  

Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang kurang memiliki kemampuan untuk mengatur emosi mengalami kesulitan dalam membangun dan menjaga hubungan pertemanan. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai macam alasan di antaranya adalah tidak ada orang yang mau menghabiskan waktu bersama orang yang marah, merengut, cemas, khawatir serta gelisah setiap saat. Emosi yang dirasakan seseorang cenderung menular kepada orang lain. Semakin kita terasosiasi dengan kemarahan dan rasa cemas maka kita juga akan semakin menjadi seseorang yang pemarah dan mudah cemas. 

Tidak semua emosi yang dirasakan individu harus dikontrol. Tidak semua rasa marah, sedih, gelisah, dan rasa bersalah harus diminimalisir ataupun ditahan. Hal ini dikarenakan mengekpresikan emosi yang kita rasakan baik emosi positif maupun negatif merupakan hal yang konstruktif dan sehat, bahkan kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara tepat merupakan bagian dari resiliensi (Reivich & Shatte, 2002). 

Beberapa individu cenderung untuk lebih sering mengalami rasa gelisah, sedih, dan marah daripada orang yang lainnya. Ketika mereka kecewa, mereka kesulitan untuk mengembalikan emosi menjadi positif seperti semula. Mereka sering terpaku pada rasa marah, sedih, dan gelisahnya sehingga mereka menjadi kurang efektif dalam memecahkan dan mengatasi masalah yang muncul. Mereka pun biasanya merasa kesulitan mencari pertolongan orang lain dan mengutip pembelajaran dari suatu kejadian ketika mereka sedang dikuasai oleh emosi mereka tersebut (Reivich & Shatte, 2002). 

Reivich dan Shatte (2002) mengungkapkan dua buah keterampilan yang dapat memudahkan individu dalam meningkatkan regulasi emosi, yaitu  calming (tenang) dan  focusing  (fokus). Dua buah keterampilan ini akan membantu individu untuk mengontrol emosi yang tidak terkendali, memfokuskan pikiran individu ketika muncul banyaknya hal yang mengganggu, serta mengurangi stres yang dialami oleh individu 

  1. Calming (Tenang) 
    Individu dapat mengurangi stres yang mereka alami dengan merubah cara berpikir ketika berhadapan dengan  stressor. Meskipun begitu, seorang individu tidak akan mampu menghindar dari keseluruhan stres yang dialami, diperlukan cara untuk membuat diri mereka berada dalam kondisi tenang ketika stres menghadang. 

    Keterampilan ini adalah sebuah kemampuan untuk meningkatkan kontrol individu terhadap respon tubuh dan pikiran ketika berhadapan dengan stres dengan cara relaksasi. Dengan relaksasi individu dapat mengontrol jumlah stres yang dialami. Ada beberapa cara yang  dapat digunakan untuk relaksasi dan membuat diri kita berada dalam keadaan tenang, yaitu dengan mengontrol pernafasan, relaksasi otot serta dengan menggunakan teknik  positive imagery, yaitu membayangkan suatu tempat yang tenang dan menyenangkan.
  2. Focusing (Fokus) 
    Keterampilan untuk fokus pada permasalahan yang ada memudahkan individu untuk menemukan solusi dari permasalahan yang ada. Setiap permasalahan yang ada akan berdampak pada timbulnya permasalahan-permasalahan baru. Individu yang fokus mampu untuk menganalisa dan membedakan antara sumber permasalahan yang sebenarnya dengan masalah-masalah yang timbul sebagai akibat dari sumber permasalahan. Pada akhirnya individu juga dapat mencari solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan yang ada. Hal ini tentunya akan mengurangi stres yang dialami oleh individu (Reivich & Shatte, 2002). 


b.  Impulse Control 
Pengendalian impuls adalah kemampuan individu untuk mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri. Individu yang memiliki kemampuan pengendalian impuls yang rendah, cepat mengalami perubahan emosi yang pada akhirnya mengendalikan pikiran dan perilaku mereka. Mereka menampilkan perilaku mudah marah, kehilangan kesabaran, impulsif, dan berlaku agresif. Tentunya perilaku yang ditampakkan ini akan membuat orang di sekitarnya merasa kurang nyaman sehingga berakibat pada buruknya hubungan sosial individu dengan orang lain (Reivich & Shatte, 2002). 

Individu dengan pengendalian impuls yang rendah pada umumnya percaya pada pemikiran impulsifnya yang pertama mengenai situasi sebagai kenyataan dan bertindak sesuai dengan situasi tersebut. Sedangkan individu dengan pengendalian impuls yang tinggi dapat mengendalikan impulsivitas dengan mencegah terjadinya kesalahan pemikiran, sehingga dapat memberikan respon yang tepat pada permasalahan yang ada. Menurut Reivich dan Shatte (2002) pencegahan dapat dilakukan dengan menguji keyakinan individu dan mengevaluasi kebermanfaatan terhadap pemecahan masalah. Individu dapat melakukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat rasional yang ditujukan kepada dirinya sendiri, seperti ’apakah penyimpulan terhadap masalah yang saya hadapi berdasarkan fakta atau hanya menebak?’, ’apakah saya sudah melihat permasalahan secara keseluruhan?’,’apakah manfaat dari semua ini?’, dll. 

Kemampuan individu untuk mengendalikan impuls sangat terkait dengan kemampuan regulasi Resilience Quotient emosi yang ia miliki. Seorang individu yang memiliki skor yang tinggi pada faktor regulasi emosi cenderung memiliki skor Resilience Quotient pada faktor pengendalian impuls (Reivich & Shatte). 

c.  Optimism 
Individu yang resilien biasanya memiliki sifat optimis. Mereka percaya bahwa segala sesuatu dapat berubah menjadi lebih baik. Optimisme  adalah ketika kita melihat bahwa masa depan kita cemerlang. Individu yang optimis memiliki harapan terhadap masa depan mereka dan mereka percaya bahwa mereka lah pemegang kendali atas arah hidup mereka. Individu yang optimis memiliki kesehatan yang lebih baik, jarang mengalami depresi, serta memiliki produktivitas yang tinggi, apabila dibandingkan dengan individu yang cenderung pesimis. 

Siebert (2005) mengungkapkan bahwa terdapat hubungan antara tindakan dan ekspektasi kita dengan kondisi kehidupan yang dialami individu. Peterson dan Chang (dalam Siebert, 2005) mengungkapkan bahwa optimisme sangat terkait dengan karakteristik yang diinginkan oleh individu, kebahagiaan, ketekunan, prestasi, dan kesehatan. Individu yang optimis percaya bahwa situasi yang sulit suatu saat akan berubah menjadi situasi yang lebih  baik. Sebagian individu memiliki kecenderungan untuk optimis dalam memandang hidup ini secara umum, sementara sebagian invidu yang lain optimis hanya pada beberapa situasi tertentu (Siebert, 2005). Optimisme bukanlah sebuah sifat yang terberi melainkan dapat dibentuk dan ditumbuhkan dalam diri individu (Siebert, 2005). 

Optimisme  menandakan bahwa adanya keyakinan bahwa kita mempunyai kemampuan untuk mengatasi kemalangan atau ketidakberuntungan yang mungkin terjadi di masa depan tersebut.  Hal ini juga merefleksikan  Self Efficacy  yang dimiliki oleh seseorang, yaitu kepercayaan individu bahwa ia mampu menyelesaikan permasahan yang ada dan mengendalikan hidupnya.  Reivich & Shatte(2002) mengemukakan individu yang optimis mampu memprediksi masa depan dengan akurat pada masalah potensial yang akan muncul dan membangun strategi untuk mencegah dan mengatasi masalah yang terjadi.  

Optimisme akan menjadi hal yang sangat bermanfaat untuk individu bila diiringi dengan  Self-Efficacy, hal ini dikarenakan dengan optimisme yang ada pada seseorang akan mendorong individu untuk mampu menemukan solusi permasalahan dan terus bekerja keras demi kondisi yang lebih baik (Reivich & Shatte, 2002). Tentunya optimisme yang dimaksud adalah optimisme yang realistis (realistic optimism), yaitu sebuah kepercayaan akan terwujudnya masa depan yang lebih baik dengan diiringi segala usaha untuk mewujudkan hal tersebut. Berbeda dengan unrealistis optimism dimana kepercayaan akan masa depan yang cerah tidak dibarengi dengan usaha yang significan untuk mewujudkannya. Pada kenyataannya unrealistic optimism akan membuat individu mengabaikan ancaman yang sebenarnya yang perlu mereka antisipasi.  Perpaduan antara optimisme yang realistis dan  self-efficacy  adalah kunci resiliensi dan kesuksesan. 

d.  Causal Analysis 
Causal analysis merupakan istilah yang digunakan untuk mengartikan sebuah kemampuan untuk mengidentifikasi penyebab masalah secara akurat. Analisis kausal digunakan individu untuk mencari penjelasan dari suatu kejadian. Jika kita tidak mampu memperkirakan penyebab masalah dengan akurat, maka kita akan membuat kesalahan yang sama secara terus-menerus.  

Seligman (dalam Reivich & Shatte, 2002) mengidentifikasikan gaya berpikir explanatory yang merupakan  kebiasaan  cara seseorang  untuk menjelaskan hal baik dan buruk yang terjadi pada diri dan kehidupan mereka. Gaya berpikir ini erat kaitannya dengan kemampuan causal analysis yang dimiliki individu. Gaya berpikir explanatory dapat dibagi dalam tiga dimensi: personal (saya-bukan saya), permanen (selalu-tidak selalu), dan pervasive (semua-tidak semua). 

Individu dengan gaya berpikir ”saya-selalu-semua” merefleksikan keyakinan bahwa penyebab permasalahan berasal dari dirinya sendiri (saya), hal ini selalu terjadi dan permasalahan yang ada tidak dapat diubah (selalu), serta permasalahan yang ada tidak dapat diubah (semua). Sementara individu yang memiliki gaya berpikir ”bukan saya-tidak selalu-tidak semua” meyakini bahwa permasalahan yang terjadi disebabkan oleh orang lain (bukan saya), dimana kondisi tersebut masih memungkinkan untuk diubah (tidak selalu) dan permasalahan yang ada tidak akan mempengaruhi sebagian besar hidupnya (tidak semua). 

Gaya berpikir explanatory memegang peranan penting dalam konsep resiliensi (Reivich & Shatte, 2002). Individu yang terfokus  pada ”selalu-semua” tidak mampu melihat jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi dan mengubah situasi. Mereka akan menyerah dan putus asa. Sebaliknya individu yang cenderung menggunakan gaya berpikir ”tidak selalu-tidak semua” dapat merumuskan solusi dan tindakan yang akan mereka lakukan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. 

Individu yang resilien mempunyai fleksibilitas kognitif dan dapat mengidentifikasi seluruh penyebab signifikan dari kemalangan yang menimpa mereka, tanpa terjebak pada salah satu gaya berpikir explanatory. Mereka tidak mengabaikan faktor permanen maupun pervasif. Individu yang resilien tidak akan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang mereka perbuat demi menjaga  self-esteem mereka atau membebaskan mereka dari rasa bersalah. Mereka tidak terlalu terfokus pada faktor-faktor yang berada di luar kendali mereka, sebaliknya mereka memfokuskan dan memegang kendali penuh pada pemecahan masalah, perlahan mereka mulai mengatasi permasalahan yang ada, mengarahkan hidup mereka, bangkit dan meraih kesuksesan (Reivich & Shatte, 2002). 

e.  Empathy 
Menurut Reivich & Shatte (2002) dikatakan bahwa empati mencerminkan kemampuan individu membaca tanda dari kondisi emosional dan psikologis orang lain. Beberapa individu memiliki kemampuan yang cukup mahir dalam menginterpretasikan bahasa-bahasa nonverbal yang ditunjukkan oleh orang lain seperti ekspresi wajah, intonasi suara, bahasa tubuh dan mampu menangkap apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain.  Individu-individu yang tidak membangun kemampuan untuk peka terhadap tanda-tanda noverbal tersebut tidak mampu untuk menempatkan dirinya pada posisi orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain dan memperkirakan maksud dari orang lain. Individu dengan empati yang renadah cenderung mengulang  pola yang dilakukan oleh individu yang tidak resilien, yaitu menyamaratakan semua keinginan dan emosi orang lain (Reivich & Shatte, 2002) 


Pengertian Resiliensi
Dengan kemampuan individu dapat memahami bagaimana menghadapi orang lain sehingga mampu untuk mengatasi permasalahan  yang dihadapinya. Seseorang yang memiliki kemampuan berempati cenderung memiliki hubungan sosial yang baik (Reivich & Shatte, 2002). Sedangkan ketidakmampuan berempati berpotensi menimbulkan kesulitan dalam hubungan sosial (Reivich & Shatte, 2002). Ket idakmampuan individu untuk membaca tanda-tanda nonverbal orang lain dapat sangat merugikan, baik dalam konteks hubungan kerja maupun hubungan personal, hal ini dikarenakan kebutuhan dasar manusia untuk dipahami dan dihargai.  

f.  Self-efficacy 
Efikasi diri merepresentasikan keyakinan seseorang bahwa ia dapat memecahkan masalah yang dialami dengan efektif dan keyakinan akan kemampuan untuk sukses. Dalam keseharian, individu yang memiliki keyakinan pada kemampuan  mereka untuk memecahkan masalah akan tampil sebagai pemimpin, sebaliknya individu yang tidak memiliki keyakinan terhadap  self-efficacy  mereka akan selalu tertinggal dari yang lain dan terlihat ragu-ragu. Efikasi diri merupakan hal yang sangat penting sebagai untuk mencapai resiliensi. 

g.  Reaching out 
Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa resiliensi lebih dari sekedar bagaimana seorang individu memiliki kemampuan untuk mengatasi kemalangan dan bangkit dari kemalangan yang menimpa dirinya.  Resiliensi membantu untuk meningkatkan aspek positif dalam kehidupan kita. Resiliensi merupakan sumber dari kemampuan untuk menggapai sesuatu yang lebih (reaching out) dimana orang lain cenderung tidak dapat melakukannya. 

Banyak individu yang tidak mampu melakukan  reaching out, hal ini dikarenakan mereka telah diajarkan sejak kecil untuk sedapat mungkin menghindari kegagalan dan situasi yang memalukan. Mereka adalah individu-individu yang lebih memilih memiliki kehidupan standar dibandingkan harus meraih kesuksesan namun harus berhadapan dengan resiko kegagalan hidup dan hinaan masyarakat. Mereka menganggap gagal ketika melakukan sesuatu lebih buruk daripada gagal sebelum mencoba. Hal ini menunjukkan kecenderungan individu untuk berlebihan-lebihan (overestimate) dalam memandang kemungkinan hal-hal buruk yang dapat terjadi di masa mendatang. Individu-individu ini memiliki rasa ketakutan untuk mengoptimalkan kemampuan mereka hingga batas akhir. Gaya berpikir ini dikenal dengan istilah self-handicapping, dan secara tidak sadar membatasi diri mereka sendiri. Individu seperti  ini cenderung berlebihan (overestimate) dalam melihat kemungkinan kegagalan yang akan mendatangkan bencana besar.  

Reaching Out adalah kemampuan seseorang untuk menemukan dan membentuk suatu hubungan dengan orang lain, untuk meminta bantuan, berbagi cerita dan perasaan, untuk saling membantu dalam menyelesaikan masalah baik personal maupun interpersonal atau membicarakan konflik dalam keluarga (Reivich & Shatte, 2002). Menurut Reivich & Shatte (2002), resiliensi merupakan kemampuan yang meliputi peningkatan aspek positif dalam hidup. Individu yang meningkatkan aspek positif dalam hidup mampu melakukan dua aspek ini dengan baik, yaitu: (1) mampu membedakan risiko yang realistis dan tidak realistis, (2) memiliki makna dan tujuan hidup serta mampu melihat gambaran besar dari kehidupan. Individu yang selalu meningkatkan aspek positifnya akan lebih mudah dalam mengatasi permasalahan hidup, serta berperan dalam meningkatkan kemampuan interpersonal dan pengendalian emosi. 

Faktor yang Mempengaruhi Resiliensi  

Perkembangan resiliensi pada manusia merupakan suatu proses perkembangan manusia yang sehat  – suatu proses dinamis dimana terdapat pengaruh dari interaksi antara kepribadian seorang individu dengan lingkungannya dalam hubungan yang timbal balik. Hasilnya ditentukan berdasarkan keseimbangan antara faktor resiko, kejadian dalam hidup yang menekan, dan faktor protektif (Warner & Smith, 1982 dalam Bernard, 1991). Selanjutnya, keseimbangan ini tidak hanya ditentukan oleh jumlah dari faktor resiko dan faktor protektif yang hadir dalam kehidupan seorang individu tetapi juga dari frekuensi, durasi, derajat keburukannya, sejalan dengan kemunculannya.  

a.  Faktor Risiko 
Faktor risiko dapat berasal dari kondisi budaya, ekonomi, atau medis yang menempatkan individu dalam risiko kegagalan  ketika  menghadapi situasi yang sulit. Faktor risiko menggambarkan beberapa pengaruh yang dapat meningkatkan kemungkinan munculnya suatu penyimpangan hingga keadaan yang lebih serius lagi. Trait risiko merupakan predisposisi individu yang meningkatkan kelemahan individu pada hasil negatif. Efek lingkungan, dimana lingkungan atau keadaan dapat berhubungan atau mendatangkan risiko. Hubungan antar beberapa variabel resiko yang berbeda akan membentuk suatu rantai risiko (Smokowski, 1998). 

b. Faktor Protektif 
Faktor protektif adalah karakteristik pada individu atau kondisi dari keluarga, sekolah, ataupun komunitas yang meningkatkan kemampuan individu dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan dengan baik (dalam Alaska Division of Behavioral Health, 2008). Rutter (dalam Davis, 1999) menyatakan interaksi antara proses sosial dan intrapsikis dapat memungkinkan seseorang untuk dapat menghadapi kesulitan dan segala kumpulan tantangan kehidupan secara positif. Dyer dan McGuinness (dalam Davis, 1999) menjelaskan resiliensi sebagai proses dinamik yang sangat dipengaruhi oleh faktor protektif, dimana seseorang dapat bangkit kembali dari kesulitan dan menjalani kehidupannya. 

Ditambahkan juga bahwa faktor protektif merupakan setiap  traits, kondisi situasi yang muncul untuk membalikkan kemungkinan dari masalah yang diprediksi akan muncul pada individu yang mengalami masalah (Segal 1968, Garmezy, 1991; Isacsoon, 2002). Rutter (dalam Davis, 1999) menyatakan faktor protektif merupakan prediktor terkuat dalam mencapai resiliensi dan hal yang memainkan peran kunci dalam proses yang melibatkan seseorang untuk berespon dalam situasi sulit. 

Daftar Pustaka Makalah Resiliensi

Maddi, S. & Khoshaba, D. (2005). Resilience at work: How to succed no matter what life throws at you. USA: American Management Association. 

Schoon, I. (2006). Risk & resilience: Adaptations in changing times. Cambridge University Press. 

Glantz, M. & Johnson, J. (2002).  Resilience and development positive life adaptation. USA: Kluwer Academic Publisher 

Siebert, A. (2005).  The resilience advantage: Master change, thrive under pressure, and bounce back from setbacks.  California: Berrett-Koehler Publishers, Inc.  

Reivich, K & Shatte, A. (2002).  The resilience factor: 7 skills for overcoming life’s inevitable obstacles. New York : Random House, Inc. 

Norman, E. (2000). Resiliency enhancement: Putting the strength perspective into social work practice. New York: Columbia University Press. 

Pengertian Resiliensi Definisi Faktor yang Mempengaruhi dan Dimensi Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment