Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Monday, 21 September 2015

Pengertian Retensio Plasenta Etiologi Diagnosis dan Penanganannya

Pengertian Retensio Plasenta adalah tertinggalnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah kelahiran bayi (Prawihardjo, 2008).

Definisi Retensio Plasenta adalah plasenta yang tidak dapat terpisah dan menimbulkan hemorrhage yang tidak tampak, dan juga didasari pada lamanya waktu yang berlalu antara kelahiran bayi dan keluarnya plasenta yang diharapkan (Varney, 2007).


Etiologi Retensio Plasenta

Secara fungsional dapat terjadi karena his kurang kuat (penyebab terpenting), dan Plasenta sukar terlepas karena tempatnya (insersi di sudut tuba), bentuknya (plasenta membranaseae, plasenta anularis) dan ukurannya (plasenta yang sangat kecil). Plasenta yang sukar terlepas karena implatasinya yang terlalu dalam seperti: plasenta adhesiva, plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta, plasenta inkarserata.

Diagnosis retensio plasenta

Plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan segera, kontraksi uterus baik. Gejala yang kadang-kadang timbul yaitu uterus berkontraksi baik tetapi tinggi fundus tidak berkurang.

Penatalaksanaan Retensio Plasenta

Sikap umum bidan: melakukan pengkajian data secara sebjektif dan objektif antara lain : keadaan umum penderita, apakah ibu anemis, bagaimana jumlah pendarahannya, keadaan fundus uteri, mengetahui keadaan plasenta, apakah plasenta inkarserata, melakukan tes plasenta dengan metode kustner, metode klein, metode starsman, memasang infus, memberikan cairan pengganti.

Sikap khusus bidan : pada kejadian retensio plasenta atau plasenta tidak keluar dalam waktu 30 menit bidan dapat melakukan tindakan manual plasenta yaitu tindakan untuk megeluarkan atau melepas plasenta secara manual (menggunakan tangan) dari tempat implantasinya dan kemudian melahirkannya keluar dari kavum uteri (JNPK, 2008).

Prosedur plasenta manual yaitu persiapan dengan melakukan pemasangan set dan cairan infus, menjelaskan kepada ibu prosedur dan tujuan tindakan, melakukan anastesi verbal dan anastesi rektal, menyiapkan dan menjalankan prosedur pencegahan infeksi.

Tindakan penetrasi ke dalam kavum uteri meliputi: memastikan kandung kemih dalam keadaan kosong, menjepit tali pusat dengan klem pada jarak 5-10 cm dari vulva, tegangkan dengan satu tangan sejajar lantai, secara obstetrik masukkan tangan lainnya (punggung tangan menghadap ke bawah) ke dalam vagina dengan menelusuri sisi bawah pusat, setelah mencapai bukaan serviks minta seorang asisten/penolong lain untuk memegangkan klem tali pusat kemudian pindahkan tangan luar untuk menahan fundus uteri, sambil menahan fundus uteri masukkan tangan dalam hingga ke kavum uteri sehingga mencapai tempat implantasi plasenta, dan bentangkan tangan obstetrik menjadi datar seperti memberi salam (ibu jari merapat ke jari telunjuk dan jari-jari saling merapat).

Sebelum melepaskan plasenta dari dinding uterus, tentukan implantasi plasenta paling bawah dan setelah ujung-ujung jari masuk diantara plasenta dan dinding uterus maka perluas pelepasan plasenta dengan jalan menggeser tangan kekanan dan ke kiri sambil digerakkan ke atas (cranial ibu) hingga semua perlekatan plasenta terlepas dari dinding uterus.

Cara mengeluarkan plasenta yaitu dengan satu tangan masih di dalam kavum uteri dan melakukan eksplorasi untuk menilai tidak ada plasenta yang tertinggal, pindahkan tangan luar dari fundus ke supra simfisis (tahan segmen bawah uterus) kemudian instruksikan asisten/penolong untuk menarik tali pusat sambil tangan dalam membawa plasenta kelua (hindari terjadinya percikan darah), melakukan penekanan (dengan tangan yang menahan suprasimfisis) uterus ke arah dorsokranial setelah plasenta dilahirkan dan tempatkan plsenta di wadah yang telah disediakan.

Pencegahan infeksi pasca tindakan yaitu: dekontaminasi sarung tangan (sebelum dilepaskan), dan peralatan lain yang digunakan, melepaskan dan merendam sarung tangan dan peralatan lainnya di dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit, mencuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir, mengeringkan tangan dengan handuk bersih dan kering.

Pemantauan pascatindakan yaitu: memeriksa kembali tanda vital ibu, mencatat kondisi ibu dan membuat laporan tindakan, menuliskan rencana pengobatan, tindakan yang masih diperlukan dan asuhan lanjutan, memberitahukan pada ibu dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai tetapi ibu masih memerlukan pemantauan dan asuhan lanjutan, melanjutkan pemantauan hingga 2 jam pasca tindakan sebelum dipindahkan ke ruang rawat gabung (JNPK, 2008).

Daftar Pustaka Makalah  Retensio Plasenta

JNPK-KR. (2008). Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal, edisi 5, Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Pengertian Retensio Plasenta Etiologi Diagnosis dan Penanganannya Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment