Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Pengertian Self-Efficacy Guru Definisi Sumber Proses Faktor yang memengaruhi

Pengertian Self-Efficacy Adalah - penilaian terhadap diri sendiri mengenai kemampuan, efisiensi, dan kompetensi dalam menghadapi kehidupan. Bandura menjelaskan self-efficacy sebagai persepsi terhadap kemampuan untuk menghasilkan dan mengatur kejadian dalam hidup. Dengan membahas dan memelihara penampilan standar akan mempertinggi self-efficacy, dan sebaliknya kegagalan dalam hal tersebut akan mengurang self-efficacy (Schultz, 1994).

Definisi Self-Efficacy

Bandura (dalam Schultz & Schultz, 1994) mengemukakan bahwa self-efficacy merupakan perasaan seseorang terhadap kecukupan, efisiensi, dan kompetensinya dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Dengan menemukan dan mempertahankan standar performansi, maka seseorang dapat meningkatkan self-efficacy yang dimilikinya, dan kegagalan untuk menemukan dan mempertahankan performasi tersebut akan mengurangi self-efficacy yang dimilikinya itu.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa self-efficacy adalah kepercayaan individu atas kemampuannya dalam menghadapi dan mengatur kehidupannya yang berkaitan dengan penilaian individu atas kecukupan, efisiensi, kompetensinya dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.

Struktur self-efficacy

Self-efficacy bervariasi pada beberapa dimensi yang mempunyai implikasi penampilan yang penting (Bandura, 1997), perbedaan itu diantaranya adalah : 

a. Tingkatan (Level)
Adanya perbedaan self-efficacy yang dihayati oleh masing-masing individu mungkin dikarenakan perbedaan tuntutan yang dihadapi. Tuntutan tugas merepresentasikan bermacam-macam tingkat kesulitan atau kesukaran untuk mencapai performansi optimal. Jika halangan untuk mencapai tuntutan itu sedikit, maka aktivitas lebih mudah untuk dilakukan, sehingga kemudian individu akan memiliki self-efficacy yang tinggi.

b.               Keadaan Umum (Generality)
Individu mungkin akan menilai diri mereka merasa yakin melalui bermacam-macam aktivitas atau hanya dalam daerah fungsi tertentu. Keadaan umum bervariasi dalam jumlah dari dimensi yang berbeda-beda, diantaranya tingkat kesamaan aktivitas, perasaan dimana kemampuan ditunjukkan (tingkah laku, kognitif, afektif), ciri kualitatif dari situasi, dan karakteristik individu menuju kepada siapa perilaku itu ditujukan.

Pengukuran berhubungan dengan daerah aktivitas dan konteks situasi yang menampakkan pola dan tingkat generality dari kepercayaan terhadap self-efficacy mereka. Keyakinan diri yang paling mendasar berkisar tentang apa yang individu susun pada kehidupan mereka.

c.  Kekuatan (Strength)
Pengalaman memiliki pengaruh terhadap self-efficacy yang diyakini seseorang. Pengalaman yang lemah akan melemahkan keyakinannya pula. Individu yang memiliki keyakinan kuat terhadap kemampuan mereka akan teguh dalam usaha untuk mengenyampingkan kesulitan yang dihadapi.

Berdasarkan uraian di atas maka self-efficacy pada setiap individu berbeda dalam beberapa dimensi, yaitu tingkat kesulitan tugas, keadaan umum suatu tugas, dan kekuatan dari keyakinan seseorang untuk menyelesaikan suatu tugas.

Sumber-sumber self-efficacy

Menurut Bandura (dalam Schultz & Schultz, 1994) penilaian seseorang mengenai tingkatan self-efficacy yang diyakininya berdasarkan empat sumber informasi, yaitu :

a.       Pencapaian prestasi (Performance attainment)
Pencapaian  prestasi  merupakan  bagian  yang  paling  berpengaruh  dalam penentuan self-efficacy. Pengalaman sukses sebelumnya memberikan indikasi langsung dari tingkatan kompetensi individu. Tingkah laku atau hasil sebelumnya menunjukkan kemampuan individu dan menguatkan penilaiannya atas self-efficacy. Khususnya apabila kegagalan sebelumnya diulangi dengan kegagalan lagi, maka hal ini akan menurunkan self-efficacy.

Individu dengan self-efficacy yang tinggi percaya bahwa mereka bisa berdamai secara efektif dengan kejadian yang mereka hadapi dalam kehidupannya. Mereka mengharapkan kesuksesan dalam rintangan yang akan dihadapi, oleh karena itu mereka gigih dalam tugas dan sering melakukan performansi yang baik. Mereka memiliki kepercayaan diri yang baik dalam kemampuan mereka dibandingkan individu dengan self-efficacy yang rendah, dan mereka hanya sedikit memperlihatkan keragu-raguan. Individu dengan self-efficacy yang tinggi melihat hal sulit sebagai tantangan dan aktif mencari situasi yang baru.

b.  Pengalaman orang lain (Vicarious experiences)
Melihat kesuksesan orang lain akan menguatkan perasaan akan self-efficacy, khususnya jika seseorang yang menjadi objek observasi memiliki kemampuan yang sama dengan individu yang melakukan observasi. Sebaliknya jika individu melihat orang lain yang dianggap memiliki kesamaan tersebut mengalami kegagalan, maka hal ini akan menurunkan self-efficacy.

Individu yang memiliki standar penampilan tinggi yang mengambil standar tersebut dari hasil mengobservasi model yang sukses akan memiliki harapan yang tinggi, namun jika kemudian gagal, maka individu tersebut akan menghukum dirinya sendiri dengan perasaan tidak berharga dan depresi.

Jadi, hal yang terpenting adalah menentukan orang yang tepat kemampuan dan kompetensinya untuk dijadikan model. Model yang dipilih juga akan menunjukkan strategi dan teknik yang mungkin dilakukan pada situasi yang sulit.

c.       Persuasi lisan (Verbal persuasion)
 Mengatakan kemampuan yang dimiliki dan prestasi apa yang ingin dicapai dapat meningkatkan self-efficacy seseorang. Hal ini mungkin yang paling umum dari keempat sumber penilaian self-efficacy lainnya. Persuasi lisan ini sering dilakukan oleh orang tua, guru, suami/istri, teman, dan terapis. Agar efektif, persuasi haruslah realistik.

d.      Keterbangkitan psikologis (Psychological arousal)
Keterbangkitan psikologis ini meliputi perasaan tenang atau ketakutan pada situasi yang membuat stres. Keterbangkitan psikologis ini biasa digunakan untuk melihat kemampuan individu dalam mengatasi masalah.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat empat sumber informasi mengenai tingkatan self-efficacy, yaitu pencapaian prestasi, pengalaman orang lain, persuasi lisan, dan keterbangkitan psikologis.

Perkembangan self-efficacy

Bandura (1997) menyatakan bahwa self-efficacy berkembang sejak bayi. Bayi mulai mengembangkan self-efficacy sebagai usaha untuk melatih pengaruh lingkungan fisik dan sosial. Bayi cenderung mempelajari penyebab tindakan melalui pengamatan yang berulang dari suatu kesatuan peristiwa dimana tindakan orang lain membuat itu terjadi. Mereka mulai belajar mengenai kemampuan dirinya, kecakapan fisik, kemampuan sosial, dan kecakapan berbahasa yang hampir secara konstan digunakan dan ditujukan pada lingkungan. Perubahan sebagai perluasan pengalaman dunia anak dipengaruhi oleh saudara kandung, teman sebaya, dan individu dewasa lainnya.

Pengalaman transisi remaja meliputi tuntutan untuk mengatasi tuntutan dan tekanan baru, dari kesadaran seks sampai memilih bidang pelajaran dan karir. Dalam hal ini remaja harus menetapkan kemampuan baru, yaitu penilaian baru terhadap diri mereka. Self-efficacy pada individu dewasa meliputi penyesuaian pada masalah perkawinan dan peningkatan karir. Sedangkan self-efficacy pada individu yang sudah lanjut usia sangat sulit terbentuk sebab pada tahapan perkembangan ini terjadi penurunan mental dan fisik, pensiun kerja, dan penarikan diri dari lingkungan sosial

Berdasarkan penjelasan di atas terlihat bahwa self-efficacy mengalami perkembangan terus-menerus dari bayi hingga dewasa. Self-efficacy berubah seiring dengan perubahan yang dialami oleh individu. Perubahan tersebut meliputi perubahan fisik, lingkungan sosial, kecakapan dan tuntutan tugas yang dihadapi.

Proses yang memengaruhi self-efficacy

Bandura (1997) mengemukakan bahwa terdapat empat proses psikologis dalam self-efficacy yang turut berperan dalam diri manusia, yaitu :

a.       Proses kognitif
Proses  kognitif  merupakan  proses  berfikir,  termasuk  didalamnya  adalah pemerolehan, pengorganisasian, penggunaan informasi. Dampak dari self-efficacy pada proses kognitif sangat bervariasi. Seseorang akan membentuk suatu tujuan tertentu sebelum ia melakukan pendekatan untuk mencapai tujuan tersebut.

Bentuk tujuan personal juga dipengaruhi oleh penilaian akan kemampuan diri. Semakin seseorang mempersepsikan dirinya mampu, maka individu akan semakin membentuk usaha-usaha dalam mencapai tujuannya dan semakin kuat komitmen individu terhadap tujuannya (Bandura, 1997). Kebanyakan tindakan manusia bermula dari sesuatu yang dipikirkan terlebih dahulu. Individu yang memiliki self-efficacy yang tinggi lebih senang membayangkan tentang kesuksesan. Sebaliknya individu dengan self-efficacy yang rendah lebih banyak membayangkan kegagalan dan hal-hal yang dapat menghambat tercapainya kesuksesan (Bandura, 1997).

Fungsi utama pikiran adalah memungkinkan individu untuk memprediksi suatu kejadian dan mengembangkan cara untuk mengontrol hal-hal yang dapat memengaruhi kehidupan mereka. Untuk dapat memprediksi dan mengembangkan cara tersebut diperlukan pemrosesan informasi melalui kognitif.

Proses kognitif ini juga dipengaruhi oleh bagaimana kepribadian yang dimiliki oleh seseorang. Bagaimana cara pandangnya, baik itu terhadap dirinya maupun orang lain dan kejadian disekitarnya berhubungan dengan self-efficacy seseorang dalam suatu aktivitas tertentu melalui mekanisme self regulatory (Bandura, 1997).

b.      Proses motivasi
Kebanyakan motivasi manusia dibangkitkan melalui kognitif atau pikiran.

Individu memberi motivasi atau dorongan bagi diri mereka sendiri dan mengarahkan tindakan melalui tahap-tahap pemikiran sebelumnya. Mereka membentuk suatu keyakinan tentang apa yang dapat mereka lakukan, mengantisipasi hasil dari suatu tindakan, membentuk tujuan bagi diri mereka sendiri dan merencanakan tindakan-tindakan yang diperlukan dalam mencapai tujuan (Bandura, 1997).

Pengertian Self-Efficacy Adalah

c.       Proses afeksi
Proses  afektif  merupakan  proses  pengaturan  kondisi  emosi  dan  reaksi emosional. Menurut Bandura (1997), keyakinan individu akan kemampuan coping mereka turut mempengaruhi tingkatan stres dan depresi seseorang saat mereka menghadapi situasi yang sulit.


Individu dengan self-efficacy yang rendah merasa tidak berdaya, tidak bisa memberikan pengaruh dalam kehidupannya. Mereka percaya bahwa usaha mereka sia-sia, mereka seperti akan mengalami peningkatan kesedihan, apatis, dan kecemasan. Mereka cepat menyerah dalam menghadapi masalah dalam hidupnya dan merasa usahanya tidak efektif. Individu dengan self-efficacy yang sangat rendah tidak akan mencoba untuk mengatasi masalahnya, karena mereka percaya apa yang mereka lakukan tidak akan membawa perbedaan (Schultz, 1994).

d.  Proses seleksi
Manusia merupakan bagian dari lingkungan tempat dimana mereka berada. Kemampuan individu untuk memilih aktivitas dan situasi tertentu, turut mempengaruhi dampak dari suatu kejadian. Individu cenderung menghindari aktivitas dan situasi yang di luar batas kemampuan mereka. Bila individu merasa yakin bahwa mereka mampu menangani suatu situasi, maka mereka cenderung tidak menghindari situasi tersebut. Dengan adanya pilihan yang dibuat, individu kemudian meningkatkan kemampuan, minat dan hubungan sosial mereka yang lainnya (Bandura, 1997).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat empat proses psikologis yang mempengaruhi self-efficacy seseorang, yaitu proses kognitif yang menggunakan pikiran, proses motivasi yang dapat menguatkan keyakinan individu, proses afeksi yang memengaruhi tingkat stres dari suatu tugas dan proses seleksi yang mempengaruhi pemilihan individu terhadap situasi dan perilaku tertentu.

Faktor-faktor yang memengaruhi self-efficacy

Menurut Bandura (1997), ada beberapa faktor yang mempengaruhi self-efficacy, yaitu : a. Jenis kelamin

Pada beberapa bidang pekerjaan tertentu pria memiliki self-efficacy yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita, bagitu juga sebaliknya self-efficacy wanita unggul dalam beberapa pekerjaan dibandingkan dengan pria. Pria biasanya memiliki self-efficacy yang tinggi dengan pekerjaan yang menuntut keterampilan teknis matematis.

b.      Usia
Self-efficacy terbentuk melalui proses belajar sosial yang dapat berlangsung selama kehidupan. Individu yang lebih tua memiliki rentang waktu dan pengalaman yang lebih banyak dalam mengatasi suatu hal jika dibandingkan dengan individu yang lebih muda.

c.       Tingkat pendidikan
Self-efficacy terbentuk melalui proses belajar sosial yang dapat terjadi pada institusi pendidikan formal. Individu yang memiliki jenjang pendidikan tinggi biasanya memiliki self-efficacy yang lebih tinggi. Karena pada dasarnya mereka lebih banyak menerima pendidikan formal dan lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mengatasi suatu persoalan.

d.  Pengalaman kerja
Self-efficacy terbentuk melalui proses belajar sosial yang dapat terjadi pada suatu organisasi maupun perusahaan. Self-efficacy terbentuk sebagai proses adaptasi dan pembelajaran yang ada dalam perusahaan tersebut. Semakin lama seseorang bekerja maka semakin tinggi self-efficacy yang dimilikinya dalam bidang pekerjaan tertentu. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan self-efficacy orang tersebut justru cenderung tetap atau menurun. Hal ini tergantung bagaimana keberhasilan dan kegagalan mempengaruhinya.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka diketahui bahwa terdapat empat faktor yang memengaruhi self-efficacy seseorang, yaitu jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan pengalaman kerja.

Pengertian Self-Efficacy Guru

Bandura (1977, 1986, 1997, dalam Pintrinch, 2002) menyatakan bahwa self- efficacy guru merupakan kepercayaan guru akan kemampuannya dalam memutuskan cara terbaik yang diperlukan agar bisa memengaruhi siswanya secara positif dalam penampilan belajar siswanya tersebut. Self-efficacy guru atau juga sering disebut sebagai instructional self-efficacy merupakan kepercayaan seorang guru tentang kemampuannya untuk membantu siswanya dalam belajar (Pintrinch, 2002).

Hoy dan Woolfolk (1990, dalam Pintrinch 2002) menyatakan bahwa self-efficacy guru merupakan kepercayaan guru bahwa ia mampu menghadapi siswa yang mengalami kesulitan belajar untuk bisa belajar, hal ini merupakan salah satu karakteristik personal dari guru yang berhubungan dengan prestasi siswa.

Hackett (dalam Schultz, 1994) menyatakan bahwa self-efficacy memengaruhi banyaknya waktu yang seseorang habiskan untuk mencari pekerjaan, untuk mencapai kesuksesan kerja. Pekerja dengan self-efficacy yang tinggi melaporkan bahwa mereka memiliki tujuan kerja yang lebih tinggi dan memiliki komitmen kerja yang lebih baik dibandingkan dengan pekerja dengan self-efficacy yang rendah (Locke, dalam Schultz, 1994). Self-efficacy yang tinggi fokus pada analisis dan pemecahan masalah, dimana self-efficacy yang rendah fokus pada kekurangan orang lain dan takut gagal, yang dapat merusak produktivitas mereka dan kegunaan penuh kemampuan kognitif mereka dalam pekerjaan (Lazarus & Folkman, dalam Schultz, 1994).

Ashton dan Webb (dalam Pintrinch, 2002) mengungkapkan bahwa guru dengan self-efficacy yang rendah mungkin menghindari untuk merencanakan aktivitas yang mereka yakini melampaui kemampuan mereka, tidak bertahan dengan siswa yang mengalami kesulitan, menghabiskan usaha yang sedikit untuk menemukan materi-materi pengajaran, dan tidak mengulang pelajaran dengan cara yang bisa membuat siswa lebih mengerti.

Sedangkan guru dengan self-efficacy tinggi akan lebih tepat untuk mengembangkan aktivitas yang menantang, membantu siswa untuk sukses, dan bertahan dengan siswa yang mengalami masalah dalam belajar. Guru dengan self-efficacy yang tinggi menyukai lingkungan kelas yang positif, mendukung ide-ide siswa, dan menanyakan hal-hal yang dibutuhkan oleh siswa (Ashton & Webb, dalam Pintrich, 2002). Teori self-efficacy memprediksikan bahwa guru dengan self-efficacy tinggi bekerja lebih keras dan bertahan lebih lama ketika menghadapi siswa yang mengalami kesulitan belajar. Hal ini karena guru percaya pada dirinya dan siswa-siswanya.

Self-efficacy guru akan meningkat ketika siswanya menunjukkan peningkatan dalam pelajaran. Tetapi ketika sebagian kecil dari siswanya tidak menunjukkan peningkatan dalam belajar, guru tersebut tidak perlu berkecil hati jika ia percaya bahwa strategi pengajaran yang berbeda akan menghasilkan hasil yang lebih baik (Tschannen-Moran, Woolfolk Hoy, & Hoy, dalam Pintrich, 2002).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa self-efficacy guru adalah kepercayaan seorang guru akan kemampuannya untuk membantu siswanya dalam belajar, termasuk juga membantu siswanya yang mengalami kesulitan belajar.

Daftar Pustaka Makalah Self-Efficacy Guru

Bandura, A. (1997). Self Efficacy : The Exercise of Control. New York : W.H. Freeman and Company.

Pintrich, Paul R. (2002). Motivation in Education Theory, Research, and Application 2nd Edition. New Jersey : Merill Prentice Hall.

Schultz, Duane. P., Schultz, Sydney Ellen. (1990). Psychology And Industry Today (An Introduction To Industrial And Organizational Psychology 5th Edition). New York : Macmillan Publishing Company

Woolfolk Hoy, A. (2004). Educational Psychology 9th Edition. USA : Pearson.

Pengertian Self-Efficacy Guru Definisi Sumber Proses Faktor yang memengaruhi Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment