Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Pengertian Self-Regulated Learning Definisi Perkembangan Strategi Hubungan dengan Motivasi Belajar

Pengertian Self-Regulated Learning - Zimmerman (dalam Schunk & Zimmerman, 1998) mengatakan bahwa self-regulated learning dapat dikatakan berlangsung bila peserta didik secara sistematik mengarahkan perilaku dan kognisinya dengan cara memberi perhatian pada instruksi tugas tugas, melakukan proses dan mengintegrasikan pengetahuan, mengulang-ulang informasi untuk diingat serta mengembangkan dan memelihara keyakinan positif tentang kemampuan belajar (self-efficacy) dan mampu mengantisipasi hasil belajarnya.


Definisi Self-Regulated Learning 

Zimmerman (Woolfolk, 2004) mengatakan bahwa self-regulation merupakan sebuah proses dimana seseorang peserta didik mengaktifkan dan menopang kognisi, perilaku, dan perasaannya yang secara sistematis berorientasi pada pencapaian suatu tujuan. Ketika tujuan tersebut meliputi pengetahuan maka yang dibicarakan adalah self-regulated learning. Self-regulated learning dapat berlangsung apabila peserta didik secara sistematis mengarahkan perilakunya dan kognisinya dengan cara memberi perhatian pada instruksi-instruksi, tugas-tugas, melakukan proses dan menginterpretasikan pengetahuan, mengulang-ulang informasi untuk mengingatnya serta mengembangkan dan memelihara keyakinannya positif tentang kemampuan belajar dan mampu mengantisipasi hasil belajarnya (Zimmerman dalam Schunk & Zimmerman, 1989). Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa self-regulated learning adalah proses bagaimana seorang peserta didik mengatur pembelajarannya sendiri dengan mengaktifkan kognitif, afektif dan perilakunya sehingga tercapai tujuan belajar.

Perkembangan Self-Regulated Learning

Schunk dan Zimmerman (dalam Woolfolk, 2004) mengemukakan model perkembangan self-regulated learning. Berkembangnya kompetensi self-regulated learning dimulai dari beberapa faktor yaitu:
  1. Pengaruh sumber sosial: Berkaitan dengan informasi mengenai akademik yang di peroleh dari lingkungan teman sebaya. 
  2. Pengaruh lingkungan: Berkaitan dengan orang tua dan lingkungannya, sehingga peserta didik dapat menetapkan rencana dan tujuan akademiknya secara maksimal. 
  3. Pengaruh personal atau diri sendiri. Berkaitan dengan diri sendiri peserta didik yang memiliki andil untuk memunculkan dorongan bagi dirinya sendiri untuk mencapai tujuan belajarnya. 


Di dalam faktor-faktor ini terdapat beberapa level berkembangnya self regulated learning.
a.  Level pengamatan (observasional)
Peserta didik yang baru awalnya memperoleh hampir seluruh strategi-strategi belajar dari proses pengajaran, pengerjaan tugas, dan dorongan dari lingkungan sosial. Pada level pengamatan ini, sebagian peserta didik dapat menyerap ciri-ciri utama strategi belajar dengan mengamati model, walaupun hampir seluruh peserta didik membutuhkan latihan untuk menguasai kemampuan self-regulated learning.

b.  Level pesamaan (emultive)
 Pada level ini peserta didik menunjukkan performansi yang hampir sama dengan kondisi umum dari model. Peserta didik tidak secara langsung meniru model, namun mereka berusaha menyamai gaya atau pola-pola umum saja. Oleh karena itu, mereka mungkin menyamai tipe pertanyaan model tapi tidak meniru kata-kata yang digunakan oleh model.

c.  Level kontrol diri (self-controlled)
Peserta didik sudah menggunakan dengan sendiri strategi-strategi belajar ketika mengerjakan tugas. Strategi-strategi yang digunakan sudah terinternalisasi, namun masih dipengaruhi oleh gambaran standar performansi yang ditujukan oleh model dan sudah menggunakan proses self-reward.

d.  Level pengaturan diri
Level ini merupakan level terakhir dimana peserta didik mulai menggunakan strategi-strategi yang disesuaikan dengan situasi dan termotivasi oleh tujuan serta self-efficacy untuk berprestasi. Peserta didik memilih kapan menggunakan strategi-strategi khusus dan mengadaptasinya untuk kondisi yang berbeda, dengan sedikit petunjuk dari model atau tidak ada.

Strategi self-regulated learning 

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Zimmerman (dalam Schunk & Zimmerman, 1998) ditemukan empat belas strategi self-regulated learning sebagai berikut: 
  1. Evaluasi terhadap diri (self-evaluating)
    Merupakan inisiatif peserta didik dalam melakukan evaluasi terhadap kualitas dan kemajuan pekerjaannya. 
  2. Mengatur dan mengubah materi pelajaran (organizing and transforming)
    Peserta didik mengatur materi yang dipelajari dengan tujuan meningkatkan efektivitas proses belajar. Perilaku ini dapat bersifat covert dan overt.
  3. Membuat rencana dan tujuan belajar (goal setting & planning)
    Strategi ini merupakan pengaturan peserta didik terhadap tugas, waktu, dan menyelesaikan kegiatan yang berhubungan dengan tujuan tersebut. 
  4. Mencari informasi (seeking information)
    Peserta didik memiliki inisiatif untuk berusaha mencari informasi di luar sumber-sumber sosial ketika mengerjakan tugas. 
  5. Mencatat hal penting (keeping record & monitoring)
    Peserta didik   berusaha mencatat hal-hal penting yang berhubungan dengan topik yang dipelajari.
  6. Mengatur lingkungan belajar (environmental structuring)
    Peserta didik berusaha mengatur lingkungan belajar dengan cara tertentu sehingga membantu mereka untuk belajar dengan lebih baik. 
  7. Konsekuensi setelah mengerjakan tugas (self consequating
    Peserta didik mengatur atau membayangkan reward dan punisment bila sukses atau gagal dalam mengerjakan tugas atau ujian. 
  8. Mengulang dan mengingat (rehearsing & memorizing)
    Peserta didik berusaha mengingat bahan bacaan dengan perilaku overt dan covert. 
  9. Meminta bantuan teman sebaya (seek peer assistance)
    Bila menghadapi masalah yang berhubungan dengan tugas yang sedang dikerjakan, peserta didik meminta bantuan teman sebaya. 
  10. Meminta bantuan guru/pengajar (seek teacher assistance)
    Bertanya kepada guru di dalam atau pun di luar jam belajar dengan tujuan untuk dapat membantu menyelesaikan tugas dengan baik.
  11. Meminta bantuan orang dewasa (seek adult assistance)
    Meminta bantuan orang dewasa yang berada di dalam dan di luar lingkungan belajar bila ada yang tidak dimengerti yang berhubungan dengan pelajaran. 
  12. Mengulang tugas atau test sebelumnya (review test/work) Pertanyaan-pertanyaan ujian terdahulu mengenai topik tertentu dan tugas yang telah dikerjakan dijadikan sumber infoemasi untuk belajar. 
  13. Mengulang catatan (review notes)
    Sebelum mengikuti tujuan, peserta didik meninjau ulang catatan sehingga mengetahui topik apa saja yang akan di uji. 
  14. Mengulang buku pelajaran (review texts book)
    Membaca buku merupakan sumber informasi yang dijadikan pendukung catatan sebagai sarana belajar. Landasan teori dari self regulated learning yang akan digunakan menjadi alat ukur ialah keempat belas strategi self-regulated learning dari penjelasan di atas. 


Hubungan Antara  Motivasi Belajar Dengan Self Regulated  Learning

Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang memiliki motivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama. Di dalam motivasi belajar terdapat dua jenis yaitu: Motivasi Instrinsik yang melibatkan motivasi internal untuk melakukan sesuatu karena keinginan sendiri yang berdasarkan penentuan diri dan pilihan personal, dan motivasi ekstrinsik melakukan sesuatu untuk mendapatkan untuk mencapai tujuan yang dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman (Santrock, 2007).

Motivasi sangat mempengaruhi sukses atau tidaknya seseorang dalam melakukan sesuatu, serta berfungsi sebagai pendorong individu untuk memulai maupun meneruskan kegiatannya. Misalnya, ketika peserta didik menghadapi tugas-tugas kuliah, mahasiswa yang dihadapkan pada berbagai sumber belajar yang melimpah yang dengan kebutuhan dan tujuan mahasiswa bersangkutan. Pada kondisi demikian, mereka harus memiliki inisiatif sendiri dan motivasi , menganalisis kebutuhan, dan merumuskan tujuan, memilih dan menerapkan strategi pemecahan masalah, menseleksi sumber yang relevan, serta mengevaluasi diri. Motivasi belajar dapat dipandang sebagai suatu rantai reaksi yang dimulai dari adanya kebutuhan, kemudian timbulnya keinginan untuk mencapai tujuan (Pujadi, 2007). Untuk mencapai tujuan belajarnya kemampuan belajar mandiri menjadi lebih diperlukan oleh mahasiswa yang menghadapi tugas/kajian mandiri, tugas dalam bentuk proyek terbuka, penyusunan skripsi atau tugas akhir, dan sebagainya. Individu yang memiliki kemandirian belajar tinggi cenderung belajar lebih baik, mampu memantau, mengevaluasi, dan mengatur belajarnya secara efektif, menghemat waktu dalam menyelesaikan tugasnya, mengatur belajar dan waktu secara efisien (Hidayati, 2007). Istilah yang berkaitan dengan penjelasan di atas adalah self regulated learning.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa motivasi dapat dipandang sebagai pendorong dalam belajar dan belum sampai pada self regulatred learning, yang dimana self regulated learning merupakan sebuah energi membuat peserta didik berusaha secara persisten dengan menggunakan berbagai strategi belajar untuk meregulasi dirinya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Apabila seorang peserta didik mengaktifkan dan menopang kognisi, perilaku, dan perasaannya yang secara sistematis berorientasi pada pencapaian suatu tujuan dan ketika tujuan tersebut meliputi pengetahuan, maka peserta didik memiliki self-regulated learning (Zimmerman, dalam Woolfolk, 2004).

Pengertian Self-Regulated Learning

Faktor-faktor berkembangnya self-regulated learning adalah adanya pengaruh sumber yang berkaitan dengan kemampuan akademik, dipengaruhi oleh lingkungan da dipengaruhi oleh diri sendiri ( Zimmerman, dalam Woolfolk, 2004). Dari beberapa faktor dari self regulated learning terdapat beberapa level,yaitu:Level pengamatan (observasional), Level pesamaan (emultive), Level kontrol diri (self-controlled), Level pengaturan diri. Peserta didik memilih kapan menggunakan strategi-strategi khusus dan mengadaptasikannya.

Salah satu strategi khusus yang dilakukan para peserta didik ialah dengan menggunakan bantuan elektonika, seperti internet (Yulinawati, 2009). Proses pembelajaran ini disebut dengan e-learning. Menurut Munir (2008) e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan media atau jasa bantuan perangkat elektronika. Penggunaan e-learning dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar mahasiswa sehingga menumbuhkan semangat peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dan mampu mendorong peserta didik untuk mencapai hasil belajar yang lebih tinggi

(Hidayat, 2007). E-learning sebagai suatu aktivitas menuntut para pelajar untuk memiliki motivasi yang kuat apabila ingin sukses dalam proses pembelajaran yang diikutinya. Terlebih lagi sistem e-learning adalah sistem yang menuntut usaha dari individu, sehingga motivasi diri haruslah kuat dan datang dari individu tersebut (Albert & Mulyadi, 2009). Hal ini di dukung juga oleh hasil penelitian dari (Mustofa, 2008) yang menjelaskan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pengaplikasian e-Learning dengan motivasi belajar.

Selain motivasi belajar di dalam proses belajar dengan menggunakan internet, juga menuntut peserta didik memiliki pengaturan diri belajar yang lebih baik dalam penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan motivasi dalam menggunakan strategi belajar yang disebut dengan self regulated learning

(Wahyono, 2010). Peserta didik membutuhkan self regulated learning agar dapat menjalankan perannya dengan baik, terutama peran akademis. Peserta didik juga menerapkan strategi manajemen sumber daya seperti memilih atau mengatur aspek lingkungan fisik untuk mendukung belajar mereka dan untuk mengatur waktu mereka secara efektif (Corno & Mandinach, dalam Wahyono,2010). 


Daftar Pustaka Makalah Self-Regulated Learning

Santrock, J. W., (2009). Educational psychology. (2nd ed). New York: McGraw Hill Companies,Inc.

Albert D & Mulyadi M, (2007). E-learning dan Aspek-aspek Penting dalam Penerapannya . Studi pustaka. Diakses pada tanggal 30 januari 2012.

Mustofa, (2008). Hubungan pengaplikasian E-learning dengan motivasi belajar mahasiswa. Skripsi. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Tanggal akses 26 juli 2012.

Wahyono. (2008). Pengembangan model pembelajaran TIK untuk meningkatkan pengaruran diri dalam belajar siswa. Makalah seminar nasonal pndidikan. Fakulas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Tadulako. Di akses tanggal 25 januari 2012.

Hidayat, A. (2007). Pengaruh penggunaan e-learning terhadap motivasi dan efeltivitas pembelajaran fisika bagi siswa SMA (Studi kasus di SMA negeri 1Depok) .http://papers.gunadarma.ac.id/index.php/mmsi/article/view/1487  9. Tanggal akses 18 Mei 2012.

Munir. (2008). Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta.

Yulinawati, (2009). Self regulated learig pada mahasiswa fast track.skripsi.

Woolfolk, A. (2004). Educational Psychology. United States of America: Pearson Education, Inc.(2007).

Pujadi, A. (2007). Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Mahasiswa. Jurnal Bunda 
Mulia Volume 3 No.2, September 2007. Jakarta fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

Hidayati, K. ( 2007). Improving instrument of student self regulated learning. Skripsi. FMIPA UNY Mathematics Education Department. Tanggal Akses 27 juli 2012.

Pengertian Self-Regulated Learning Definisi Perkembangan Strategi Hubungan dengan Motivasi Belajar Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment