Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Pengertian Transeksual Definisi Penerimaan Diri Pada Male to Female

Pengertian Transeksual adalah individu dengan gangguan identitas gender yang umumnya dimulai sejak kecil dimana ia merasa dan meyakini bahwa dirinya adalah jenis kelamin yang berkebalikan dengan keadaannya yang sebenarnya. Kebanyakan dari transesksual mencoba untuk melakukan perubahan dalam dirinya melalui berbagai macam usaha, mulai dari terapi hormon (hormon therapy), operasi wajah (facial operation), hingga operasi pergantian kelamin (sex reassignment surgery) (Koeswinarno, 2004. Carroll, 2005. Sajatovic & Loue, 2008. Reid, 2009)


Definisi Transeksual

Dalam Diagnotic and Statistic Manual of Mental Disorder IV-TR (2000) yang digunakan dalam menegakkan diagnosa berbagai gangguan mental, disebutkan ciri utama individu yang mengalami gangguan identitas gender (GIG) adalah mengalami identifikasi cross-gender yang kuat dan menetap, dan merasa bahwa peran gendernya tidak sesuai dengan jenis kelaminnya. Transeksual ini sendiri dibagi menjadi dua, yaitu male-to-female transsexual (laki-laki yang meyakini bahwa dirinya sesungguhnya adalah seorang perempuan) dan female-to-male transsexual (perempuan yang meyakini bahwa dirinya sesungguhnya adalah seorang laki-laki).

Ditambahkan lagi oleh Carroll (2005) bahwa transeksual merupakan bagian dari kelompok transgender. Dimana kedua istilah itu tidak bisa disamakan. Transgender merujuk kepada orang-orang yang menjalani kehidupannya (sepenuhnya maupun separuh waktu) dalam peran gender yang berlawanan dengan apa yang dimilikinya dan mendapatkan kenyamanan psikososial dengan melakukan hal tersebut. Yang termasuk ke dalam kelompok transgender antara lain :
  1. Transeksual : individu yang merasa terperangkap dalam tubuh yang salah. 
  2. Transvestite : individu yang melakukan cross-dressing saat melakukan hubungan seksual dengan tujuan mendapatkan kenyamanan psikologis dengan melakukan hal tersebut. 
  3. Drag-queens : aktor profesional yang menggunakan pakaian wanita yang gemerlap untuk alasan tertentu. (biasanya mereka merupakan pria gay) 
  4. Female impersonators : aktor profesional yang berpakaian seperti wanita untuk alasan hiburan. 


Berdasarkan definisi mengenai transeksual diatas, peneliti menyimpulkan bahwa transeksual merupakan individu yang meyakini bahwa dirinya memiliki jenis kelamin yang berkebalikan dengan keadaannya yang sebenarnya dan melakukan usaha-usaha tertentu untuk berubah kepada jenis kelamin yang diinginkannya.

Penerimaan Diri Pada Male to Female Transeksual

Pada hakikatnya, manusia yang terlahir ke dunia ini hanya diciptakan untuk terbagi ke dalam dua jenis kelamin yang berbeda, yaitu pria dan wanita. Namun ternyata dalam perjalanan hidupnya, sebagian kecil manusia tidak termasuk ke dalam dua kategori tersebut. Mereka disebut sebagai orang-orang jenis ketiga, yaitu orang-orang yaitu jenis kelaminnya tidak teridentifikasi sebagai wanita maupun pria. Menurut Walen dan Roth (dalam Carroll, 2005), organ seksual terpenting berada diantara kedua telinga, yaitu otak. Jadi menurut mereka, jenis kelamin seseorang itu bergantung pada apa yang mereka persepsikan secara pribadi. Jadi bersyukurlah kita jika otak kita mengatakan kita adalah perempuan dan jenis kelamin biologis yang diberikan Tuhan sejalan dengan apa yang kita pikirkan. Namun hal tersebut tidaklah terjadi pada orang-orang jenis ketiga tadi. Mereka merasa terperangkap dalam tubuh yang salah.

Orang-orang jenis ketiga itu dalam konteks psikologis termasuk dalam transeksualisme. Transeksual menurut Carroll (2005) merupakan individu dengan gangguan identitas gender yang umumnya dimulai sejak kecil dimana ia merasa dan meyakini bahwa dirinya adalah jenis kelamin yang berkebalikan dengan keadaannya yang sebenarnya, dimana mereka mulai menelusuri mengenai identitas diri mereka sendiri dan perasaan ini terus berlanjut hingga masa dewasa. Transeksual itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu male-to-female transsexual dan female-to-male transsexual. Fokus penelitian ini merujuk pada male-to-female transeksual.

Bukanlah perkara yang mudah bagi individu untuk memutuskan hidup menjadi seorang transeksual dimana hal itu memerlukan banyak pertimbangan, baik dari dalam diri sendiri maupun pertimbangan dari orang-orang disekelilingnya. Hal ini dikarenakan merubah sesuatu menjadi hal yang baru bukanlah permasalahan yang mudah, terlebih lagi jika perubahan itu merujuk kepada identitas gender yang sifatnya adalah kodrat yang telah diberikan oleh Tuhan. Hal tersebut akan memicu munculnya respon dari lingkungan sekitar, ada yang pro dan ada pula yang kontra. Kedua respon tersebut akan menyebabkan distress dan penurunan dalam fungsi sosial dan pekerjaan pada seorang transeksual yang akan berujung kepada penghayatan akan penerimaan diri atas identitas baru yang dimilikinya. Apakah ia dapat menerima atau tidak menerima dirinya dengan seutuhnya.

Penerimaan diri (self-acceptance) sangatlah penting dimiliki oleh setiap individu dalam menjalani kehidupannya. Hal ini merujuk kepada sejauh mana seorang individu memiliki pandangan positif yang mengenai siapa dirinya yang sebenar-benarnya, dan hal ini tidak dapat muncul dengan sendirinya, melainkan harus dikembangkan oleh individu (Germer, 2009).

Penerimaan diri pada male to female transeksual adalah sikap seorang individu yang merupakan seorang transeksual yang berganti kelamin dari seorang pria menjadi seorang wanita, dimana ia menunjukkan perasaan mampu menerima dan bahagia atas segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya serta mampu dan bersedia untuk hidup dengan segala karakteristik yang ada dalam dirinya, tanpa merasakan ketidaknyaman terhadap dirinya sendiri.

Jika dikaitkan dengan kehidupan transeksual, pada fase dimana mereka dapat menerima dirinya dengan apa adanya, hal tersebut diharapkan dapat memberikan outcome yang baik bagi kehidupan mereka. Mereka pasti dapat berfungsi dengan baik dan memiliki kesehatan mental yang baik pula. Namun jika mereka tidak dapat menerima dirinya yang telah “terlanjur” beralih ke identitas baru tersebut, maka ia akan mulai mempertanyakan kembali keputusannya untuk merubah jenis kelaminnya itu. Hal itu akan menghasilkan banyak dampak yang tidak baik bagi kesehatan mental individu itu sendiri.

Menurut Germer (2009) seseorang akan melakukan serangkaian tahapan sebagai usaha penerimaan diri melalui 5 tahapan, antara lain : dimulai dari tahap penghindaran (aversion), kemudian tahap keingintahuan (curiousity), masuk ke tahap toleransi (tolerance), selanjutnya tahap membiarkan begitu saja (allowing), dan berakhir saat individu mampu mencapai masa dimana ia dapat bersahabat dengan situasi yang dihadapinya, yang disebut dengan tahapan persahabatan (friendship).

Pengertian Transeksual

Ditambahkan lagi oleh Hurlock (1974) bahwa cara bagaimana seseorang akan menerima maupun menolak dirinya dipengaruhi oleh lingkungan. Hal itu akan terbentuk jika didukung oleh kondisi-kondisi berikut : pemahaman diri yang baik, adanya harapan yang realtistis, tidak adanya hambatan lingkungan, sikap sosial yang menyenangkan, tidak adanya stress emosional, jumlah keberhasilan yang diraihnya, mampu mengidentifikasikan dirinya dengan well-adjusted people, perspektif diri yang baik, pola asuh masa kecil yang baik, dan konsep diri yang stabil. Hurlock (1974) menegaskan kembali bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki self-acceptance yang konsisten, dimana hal ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan sikap orang-orang disekelilingnya.

Penerimaan diri sangatlah penting untuk dimiliki dan dikembangkan oleh seorang transeksual mengingat, transeksualisme sendiri sudah merupakan suatu permasalahan psikologis, dikhawatirkan saat seorang transeksual tidak bisa menerima dirinya akan merujuk kepada gangguan psikologis lain yang dapat mempersulit jalan kehidupannya.

Efek penerimaan diri pada seorang transeksual akan membawa pemahaman bahwa ia merasa terpuaskan dengan segala karakteristik yang ada pada dirinya tanpa keinginan untuk menjadi orang lain. Penghayatan penerimaan diri juga akan menuntun kepada kejujuran (honesty), kebenaran (truth), dan kesatuan dalam diri (unity within yourself) sehingga mereka tidak perlu merasa khawatir saat ingin mengaktualisasikan dirinya ke hadapan masyarakat (Ellen, 2010). Dalam penyesuaian sosial pun, saat seorang transeksual telah mampu menerima dirinya, maka ia akan memiliki kemampuan untuk berfungsi secara sosial dengan lebih baik.

Daftar Pustaka Makalah Transeksual 

Ellen D.B. Rigglea, Sharon Scales Rostoskyb, LaWanda E.McCantsb & David Pascale-Hagueb. 2010. Jurnal : The Positive Aspects Of A Transgender Self-Identification. Tanggal Akses : 2 Oktober 2012

Hurlock, E. B. 1974. Personality Development. New Delhi: Mc Graw-Hill.

Germer, Cristopher. K. 2009. The Mindful Path To Self-Compassion. United State of America: The Guilford Press. 

Carroll, J. L. 2005. Sexuality Now: Embracing Diversity. Belmont, CA: Wadsworth.

Koeswinarno. 2004. Hidup sebagai Waria. Yogyakarta: Lkis Pelangi Aksara

Pengertian Transeksual Definisi Penerimaan Diri Pada Male to Female Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment