Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Wednesday, 30 September 2015

Pengertian Waralaba Franchise Definisi Menurut Para Ahli dan Contohnya

Pengertian Waralaba - Pengertian  Franchise  berasal  dari  bahasa Perancis  affranchir  yang berarti  to free yang  artinya membebaskan.  Dengan  istilah  franchise  di dalamnya terkandung makna, bahwa seseorang memberikan kebebasan dari ikatan yang menghalangi kepada orang untuk menggunakan atau membuat atau  menjual  sesuatu.(Ridwan Khairandy, op. cit, hlm. 133)  Dalam bidang  bisnis franchise berarti kebebasan yang diperoleh seorang wirausaha untuk menjalankan sendiri suatu usaha tertentu di wilayah tertentu. (Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum Dalam Bisnis, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2003, hlm. 56 )


Definisi Franchise

Franchise  ini  merupakan  suatu  metode  untuk  melakukan  bisnis, yaitu suatu metode untuk memasarkan produk atau jasa ke masyarakat. Selanjutnya disebutkan pula bahwa franchise dapat didefinisikan sebagai suatu sistem pemasaran atau distribusi barang dan jasa, di  mana  sebuah perusahaan induk (franchisor) memberikan kepada individu atau perusahaan lain yang berskala kecil dan menengah (franchisee), hak-hak istimewa untuk melaksanakan suatu sistem usaha tertentu dengan cara yang sudah ditentukan, selama waktu tertentu, di suatu tempat tertentu. (Ibid, hlm. 57)
Dari segi  bisnis dewasa ini, istilah  franchise dipahami sebagai suatu  bentuk kegiatan pemasaran dan distribusi. Di dalamnya sebuah perusahaan besar memberikan hak atau privelege untuk menjalankan bisnis secara tertentu dalam waktu dan tempat tertentu kepada   individu atau perusahaan yang relatif lebih  kecil.  Franchise merupakan salah satu bentuk metode produksi dan distribusi barang atau jasa kepada konsumen dengan suatu standard dan sistem eksploitasi tertentu. Pengertian standar dan eksploitasi tersebut meliputi kesamaan dan penggunaan nama perusahaan, merek, serta sistem produksi, tata cara pengemasan, penyajian dan pengedarannya. (Ridwan Khairandy, op. cit. hlm. 134 )

Sementara itu Munir Fuady menyatakan bahwa Franchise atau sering disebut juga dengan istilah waralaba adalah suatu cara melakukan kerjasama di bidang bisnis antara 2 (dua) atau lebih perusahaan, di mana 1 (satu) pihak akan bertindak sebagai franchisor dan pihak yang lain sebagai franchisee, di mana di dalamnya diatur bahwa pihak-pihak franchisor sebagai pemilik suatu merek dari know-how terkenal, memberikan hak kepada franchisee untuk melakukan kegiatan bisnis dari/atas suatu  produk barang atau jasa, berdasar dan sesuai rencana komersil yang telah dipersiapkan, diuji keberhasilannya dan diperbaharui dari waktu ke waktu, baik atas dasar hubungan yang eksklusif ataupun noneksklusif, dan sebaliknya suatu imbalan tertentu akan dibayarkan kepada franchisor sehubungan dengan hal tersebut. (Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hlm.339)

Selanjutnya Munir Fuady mengatakan lagi bahwa Franchisee adalah suatu lisensi kontraktual diberikan oleh franchisor kepada franchisee yang : (Ibid, hal.340)
  1. Mengizinkan atau mengharuskan franchisee selama jangka waktu franchise, untuk melaksanakan bisnis tertentu dengan menggunakan nama khusus yang dimiliki atau berhubungan dengan pihak franchisor.
  2. Memberikan hak kepada franchisor untuk melaksanakan pengawasan berlanjut selama jangka waktu franchise terhadap aktivitas bisnis franchise oleh franchisee. 
  3. Mewajibkan pihak franchisor untuk menyediakan bantuan kepada franchisee dalam hal melaksanakan bisnis franchise tersebut semisal memberikan bantuan pendidikan, perdagangan, manajemen, dan lain-lain. 
  4. Mewajibkan  pihak  franchisee  untuk  membayar  secara  berkala  kepada franchisor sejumlah uang sebagai imbalan penyediaan barang dan jasa oleh pihak franchisor.


Adapun  definisi  franchise  menurut  Asosiasi  Franchise  International adalah “suatu hubungan berdasarkan kontrak antara franchisor dengan franchisee. Pihak franchisor menawarkan dan berkewajiban memelihara kepentingan terus-menerus pada usaha franchise dalam aspe-aspek pengetahuan dan pelatihan. Sebaliknya franchisee memiliki hak untuk beroperasi di bawah merek atau nama dagang yang sama, menurut format dan prosedur yang ditetapkan oleh franchisor dengan modal dan sumber daya franchisee sendiri” (Deden Setiawan, op. cit. hlm. 2 )

Menurut Munir Fuady, bahwa franchise mempunyai karakteristik yuridis /dasar sebagai berikut : (Munir Fuady, op. cit. hlm. 341 - 345 )

  1. Unsur Dasar 
    Ada 3 (tiga) unsur dasar yang harus selalu dipunyai, yaitu : 
    • pihak yang mempunyai bisnis franchise disebut sebagai franchisor. 
    • pihak yang mejalankan bisnis franchise yang disebut sebagai franchisee. 
    • adanya bisnis franchise itu sendiri 
  2. Produk Bisnisnya Unik 
  3. Konsep Bisnis Total 
    Penekanan pada bidang pemasaran dengan konsep P4 yakni Product, Price,  Place serta Promotion 
  4. Franchise Memakai / Menjual Produk 
  5. Franchisor Menerima Fee dan Royalty 
  6. Adanya pelatihan manajemen dan skill khusus 
  7. Pendaftaran Merek Dagang, Paten atau Hak Cipta 
  8. Bantuan Pendanaan dari Pihak Franchisor 
  9. Pembelian Produk Langsung dari Franchisor 
  10. Bantuan Promosi dan Periklanan dari Franchisor 
  11. Pelayanan pemilihan Lokasi oleh Franchisor 
  12. Daerah Pemasaran yang Ekslusif 
  13. Pengendalian / Penyeragaman Mutu 
  14. Mengandung Unsur Merek dan Sistem Bisnis 


Sejalan dengan hal ini, franchise atau waralaba dalam Black’s Law Dictionary diartikan sebagai :

“ A special privilege granted or sold, such as to use a name or to products or service. In its simple terms, a franchise is a license from owner of trademark or trade name permitting another to sell a product or service under that name or mark more broadly stated, a franchise has evolved into an  elaborate  agreement  under  which  the  franchisee undertakes to conduct a business or sell a product or  service in accordance with methods and procedures prescribed by the Franchisor, and the  Franchisor  under  takes  to  assist  the  franchisee  through advertising, promotion and other advisory services”.

(Rumusan  tersebut  di  atas,  bahwa  waralaba  ternyata  tidak  juga mengandung unsur-unsur sebagaimana  yang  diberikan  pada lisensi, hanya saja  dalam  pengertian waralaba tersebut dalam Blacks’Law Dictionary, waralaba menekankan pada pemberian hak untuk menjual produk berupa barang atau jasa dengan memanfaatkan merek dagang franchisor (pemberi waralaba) dimana pihak franchise (penerima waralaba) berkewajiban untuk mengikuti metode  dan tatacara  atau  prosedur yang telah ditetapkan oleh pemberi waralaba. Dalam kaitannya dengan pemberian izin dan kewajiban pemenuhan standar   dari   pemberi waralaba, artinya akan   memberikan bantuan pemasaran, promosi maupun bantuan teknis lainnya agar penerima waralaba dapat menjalankan usahanya dengan baik. (Black, Henry Campbell, Black’s Law Dictionary 6 th ed, St Paul MN : West publishing, Co, 1990, lihat Gunawan Widjaja, hlm. 8)

Black’s Law Dictionary, menyatakan bahwa pengertian eksklusivitas memberikan pengertian sama dengan franchise dealer, yakni menunjukkan bahwa eksklusivitas yang diberikan oleh penerima waralaba ternyata (adakalanya) diimbangi oleh pemberian eksklusivitas oleh pemberi waralaba kepada penerima waralaba atas suatu wilayah kegiatan tertentu. Sedangkan makna eksklusivitas dalam Black’s Law Dictionary memberikan arti bagi franchise (hak kelola), sebagai suatu hak khusus yang diberikan kepada franchise dealer oleh suatu usaha manufaktur atau organisasi jasa waralaba, untuk menjual produk atau jasa pemilik waralaba di suatu wilayah tertentu, dengan atau tanpa eksklusivitas (Tengku Keizerina Devi Azwar, op. cit. hlm. 8)

British Franchise Association (BFA) mendefinisikan franchise sebagai berikut : Franchisor adalah contractual license yang diberikan oleh suatu pihak (franchisor) kepada pihak lain (franchisee) yang :

Mengizinkan franchisee untuk menjalankan usaha selama periode franchise berlangsung, suatu usaha tertentu yang menjadi milik franchisor
  1. Franchisor berhak untuk menjalankan control yang berlanjut selama periode franchise. 
  2. Mengharuskan franchisor untuk memberikan bantuan pada franchisee dalam melaksanakan usahanya sesuai dengan subjek franchiseenya (berhubungan dengan pemberian pelatihan, merchandising, atau lainnya). 
  3. Mewajibkan franchisee untuk secara periodik selama periodik franchise berlangsung, membayar sejumlah uang sebagai pembayaran atas franchise atau produk atau jasa yang diberikan oleh franchisor kepada franchisee. 
  4. Bukan merupakan transaksi antara perusahaan induk (holding company) dengan cabangnya atau antara cabang dari perusahaan induk yang sama, atau antara individu dengan perusahaan yang dikontrolnya. Richard Burton Simatupang, op. cit. hlm 57 – 58 

Sehingga  jelas  bahwa  waralaba  melibatkan  suatu  kewajiban  untuk menggunakan suatu  sistem dan metode yang ditetapkan oleh pemberi waralaba termasuk di   dalamnya   hak   untuk   mempergunakan merek dagang. Dengan membeli sistem yang teruji dan  merek dagang yang terkenal, siapapun yang memenuhi kualifikasi berdasarkan ketentuan pemilik bisnis waralaba, pasti bisa memiliki bisnis sesuai dengan kategori produk yang disenangi atau kategori trend bisnis yang akan datang. (Arifa’i, op. cit, hlm. 57-58 )

Seperti yang telah dijelaskan di muka bahwa ada beberapa cara yang dapat ditempuh dalam mengembangkan usaha secara internasional, yaitu: (Cunawan, Widjaja, Lisensi atau Waralaba, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,2002), Halaman.1)
  1. Melalui perdagangan internasional dengan cara ekspor-impor 
  2. Dengan pemberian lisensi 
  3. Melakukan franchising (pemberian waralaba) 
  4. Membentuk perusahaan patungan (joint venture); 
  5. Nelakukan penanaman modal langsung (foreign direct investment) dengan kepemilikan yang menyeluruh atau melalui merger, konolidasi maupun akuisisi. 


Diatas disebutkan bahwa frenchise merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh oleh pengusaha untuk mengembangkan usahanya secara internasional.

Frenchise dapat digunakan sebagai cara untuk mengembangkan usaha secara internasional, karena dalam frenchise terjadi kerjasama antara beberapa pihak dan dapat dilakukan secara internasional.

Henry Campbell Dalam bukunya Black Law’s Dictionary, Franchise atau waralaba diartikan sebagai:

” A special privilege granted or sold such as to use or name or to sell products or services. Ini its simple terns a frenchise is a license from owner of a trademark or trade name permiting another to sell a produst or service under that name or mark. More broadly stated, a frenchise has envolved into an elaborate agreement under whish the franchise undertakes to condust a business or sell a product or services in accordance with methods and procedures prescribed by franchisor undertakes to assist the frenchises through advertising, promotion and other acvisory services” (Ibid, halaman 7)

Dalam pengertian di atas, lebih ditekankan pada pemberian hak untuk menjual produk berupa barang atau jasa dengan memanfaatkan merek dagang franchisor (pemberi waralaba), dengan kewajiban pada pihak franchisee (penerima waralaba) untuk mengikuti metode dan tatacara atau prosedur yang telah ditetapkan oleh franchisor, franchisor akan memberikan bantuan pemasaran, promosi, maupun bantuan teknis lainnya agar frenchisee dapat menjalankan menjalankan usahanya dengan baik. (Ibid, halaman 15)

Kata frenchise berasal dari bahasa Perancis yang berarti bebas dari belenggu (free from servitude). Menurut Prof.Dr.Winardi, SE, frenchise berarti hak istimewa dari pemerintah untuk sebuah badan usaha:
  1. Hak yang diberikan oleh pemerintah kepada suatu badan usaha atau seorang individu untuk menjalankan usaha tertentu, 
  2. Tertentu (perusahaan-perusahaan kereta api swasta di luar negeri bekrja dengan dasar frenchise tersebut 
  3. Secara analog hal tersebut berarti pula hak yang serupa yang diberikan seorang prosedur kepada seorang penyalur mengenai hasil produksi. (Winardi, Kamus Ekenomi; Inggris-Indonesia, (Bandung; Mandar Maju, 1992), halaman 216)


Sedangkan menurut Martin Mendelson, franchise format bisnis adalah pemberian sebuah lisensi oleh seorang (frenchisor) kepada pihak lain (Frenchisee), dan lisensi tersebut member hak kepada frenchisee untuk berusaha dengan menggunakan merek dagangn atau nama dagang franchisor, serta untuk menggunakan keseluruhan paket, yang terdiri dari selluruh elemen yang diperlukan untuk membuat seseorang yang sebenarnya belum terlatih dalam bisnis dan untuk menjalankan bisnis tersebut dengan bantuan yang terus menerus atas dasar ditentukan sebelumnya. (Martin, Mendelson, franchising: Petunjuk Praktis Bagi Franchisor dan Franchisee,  (cetakan Pertama), (Jakarta: IPPM, 1993 ) halaman 4)


IIPM  (Institut  Pendidikan  dan  Pengembangan  Manajemen)  menyebut

Frenchise dengan istilah waralaba. Adapun kata waralaba berasal dari wara yang berarti lebih istimewa dan laba berarti untung. Jadi kata waralaba berarti berarti usahayang memberikan keuntungan lebih atau istimewa (Amir, Karamoy, Sukses Usaha Lewat Waralaba (cetakan pertama), (Jakarta: Jurnalindo Aksara Grafika, 1996), halaman 3)  lebih lanjut IIPM mendefinisikan pewaralaba adalah suatu teknik atau metode pemasaran untuk mendistribusikan barang dan jasa, dimana perwaralaba memberikan atau menjual pada terwaralaba hak untuk menggunakan nama dagang, citra, dan system milik pewaralaba dengan imbalan yang berupa uang pangkal (Initial Frenchise fee) dan royalty dari terwaralaba. (Darmawan, Budi, Suseno, Waralaba: Bisinis Resiko Maksim di Laba (Cetakan Pertama) (Jogjakarta: Pilar Humania, 2005), halaman 44)

Dalam Peraturan Pemerintah RI No.42 2007 tentang Waralaba, didefinisikan waralaba sebagai:

Pasal 1 Ayat (1)
“Waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan/aatau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba”

Dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 12/M-DAG?PER/3/2006 Tentang ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Izin Usaha Waralaba dijelaskan pengertian waralaba, yaitu:

“Waralaba (frenchise) adalah perikatan antara Pemberi Waralaba dengan Penerima Waralaba dimana Penerima Waralaba diberikan hak untuk menjalankan usaha memanfaatkan dan/atau menggunakan hak kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pemberi waralaba dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh Pemberi Waralaba dengan sejumlah kewajiban menyediakan dukungan konsultasi operasional yang berkesinambungan oleh Pemberi Waralaba kepada penerima Waralaba”

Jika dilihat dari sejarahnya, frenchise dari awal berkembangnya mengalami banyak perkembangan dan perubahan. Pada awal berkembangnya IfrenchiseI hanya  merupakan  suatu  cara  yang  digunakan  seorangn  pengusaha  untuk melakukan distribusi hingga berkembang sampai pada frenchise sebagai format bisnis.

Secara spesifik ada dua bentuk frenchise atau waralaba yang berkembang di Indonesia: (Douglas, J Queen, Pedoman Membeli dan Menjalankan Frenchise, (Cetakan Pertama), Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 1993), halaman 6 )

a. Frenchise Format Bisnis 
Seorang pemegangn waralaba memperoleh hak utnuk memasarkan dan mejual produk atau pelayanan dalam suatu wilayah atau lokasi spesifik, dengan menggunakan standart operasional dan pemasaran. 

Dalam bentuk ini terdapat tiga jenis format bisnis frenchise, yaitu: (Juajir, Sumardi, Aspek-aspek Hukum Frenchise dan Perusahaan Transnasional, (Bandung: PT.Citra Aditya Bakti, 1995),Halaman 23 )
  1. Frenchise Pekerjaan 
    Dalam bentuk ini frenchise (pemegang frenchise) yang menjalankan usaha frenchise pekerjaan sebenarnya membeli dukungan untuk usahanya sendiri. Misalnya, ia mungkin menjual jasa penyetelan mesin mobil sengan merek frenchise tertentu. Bentuk frenchise ini cenderung paling murah, umumnya membutuhkan modal yang kecil karena tidak menggunakan tempat dan perlengkapan yang berlebihan.
  2. Frenchise Usaha 
    Pada saat ini frenchise usaha adalah bidang frenchise yang berkembang pesat. Bentuknya mungkin berupa took eceran yang menyediakan barang atau jasa, atua restoran fast food. Biaya yang dibutuhkan tempat usaha dan peralatan khusus. 
  3. Frenchise Investasi 
    Ciri utama yang membedakan jenis frenchise ini dari frenchise pekerjaan dan frenchise usaha adalah besarnya usaha, khususnya besarnya investasi yang dibutuhkan. Frenchise investasi adalah perusahaan yang sudah mapan, dan investasi awal yang dibutuhkan mungkin mencapai milyaran. Perusahaan yang mengambil frenchise investasi biasanya ingin melakukan diversifikasi, tetapi karena manajemennya tidak berpengalaman dalam pengelolaan usaha baru sehingga mengambil system frenchise jenis ini, misalnya suatu hotel, maka dipilih cara franchising yang memungkinkan mereka memperoleh bimbingan dan dukungan. 


Seorang pemegang waralaba memperoleh lisensi aksekutif untuk memasarkan produk dari suatu perusahan tunggal dalam sebuah lokasi spesifik. 

Contoh: keagenan sepatu, pompa bensin, dealer sepeda motor 

Daftar Pustaka Makalah Waralaba Franchise

Pengertian Waralaba Franchise Definisi Menurut Para Ahli dan Contohnya Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment