Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Monday, 28 September 2015

Perbedaan Bank Syariah Dengan Bank Konvensional

Perbedaan Bank Syariah Dengan Bank KonvensionalSebagaimana telah disinggung dalam bagian sebelumnya, bank syariah memiliki ciri khusus yang membedakannya dengan bank konvensional. Perbedaan tersebut dapat digolongkan kedalam beberapa segi sebagai berikut:


a. Akad dan aspek legalitas 
Dalam bank syariah, akad yang dilakukan memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi karena akad yang dilakukan berdasarka hukum Islam. Seringkali nasabah berani melanggar kesepakatan perjanjian yang telah dilakukan bila hukum itu hanya berdasarkan hukum positif belaka, tapi tidak demikian bila perjanjian tersebut memiliki pertanggungjawaban hingga yaumil qiyamah. Muhammad Syafi’i Antonio, op. cit., hal.29


Ketentuan rukun akad dari transaksi bank syariah berbeda dengan bank konvensional. Rukun akad dalam bank syariah adalah :
  1. Penjual 
  2. Pembeli 
  3. Barang 
  4. Harga 
  5. Akad/ ijab qabul 


Syarat dari pelaksanaan transaksi bank syariah juga berbeda dari bank konvensional. Syarat pelaksanaan transaksi dalam perbankan syariah yaitu:
  1. Barang dan jasa harus halal sehingga transaksi atas barang dan jasa yang haram menjadi batal demi hukum syariah. 
  2. Harga barang dan jasa harus jelas (telah ditetapkan) 
  3. Tempat penyerahan (delivery) harus jelas, karena berdampak pada biaya transportasi. 
  4. Barang  objek  transaksi  harus  sepenuhnya  berada  dalam  objek   kepemilikan. Tidak boleh menjual sesuatu yang belum dimiliki atau dikuasai seperti yang terjadi pada transaksi short sale yang terjadi dalam pasar modal. Ibid. 

b. Lembaga penyelesaian sengketa 
Berbeda dengan bank konvensional, dalam bank syariah jika timbul sengketa antara nasabah dengan bank maka kedua belah pihak tidak menyelesaikannya di peradilan negeri, tetapi menyelesaikannya sesuai dengan materi dan tata cara hukum syariah.*Ibid., hal.30  Peneyelesaian sengketa perbankan syariah sebagaimana diatur dalam Pasal 55 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2008 dilakukan di peradilan agama, dan dalam ketentuan Pasal 55 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2008 penyelesaian sengketa juga dapat dilakukan sesuai dengan isi akad, namun tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah. Yang dimaksud penyelesaian sengketa sesuai dengan isi akad adalah penyelesaian sengketa dengan melalui upaya musyawarah, mediasi perbankan, Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) atau lembaga arbitrase lainnya. Abdul Ghofur Anshori, loc. cit., hal. 110 


c.  Struktur Organisasi
Bank syariah dapat memiliki struktur organisasi yang sama dengan bank konvensional, misalnya dalam hal komisaris dan direksi, tetapi unsur yang membedakan antara bank syariah dengan bank konvensional adalah keharusan adanya Dewan Pengawas Syariah yang bertugas mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan garis-garis syariah. Hal ini sesuai dengan Pasal 109 Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Pasal 32 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah. Dewan Pengawas Syariah diangkat dalam Rapat Umum Pemegang Saham, atas rekomendasi MUI. Abdul Ghofur Anshori, Ibid. hal. 72 

d. Bisnis dan usaha yang dibiayai 
Dalam bank syariah bisnis yang dibiayai tidak boleh bertentangan dengan prisnsip syariah.. Bank syariah tidak mungkin membiayai usaha yang terkandung didalamnya hah-hal yang diharamkan. Hal-hal pokok yang harus dipastikan agar suatu permintaan pembiayaan dapat disetujui yaitu : Muhammad Syafi’i Antonio, op. cit., hal 33 
  1. Apakah objek yang dibiayai halal atau haram? 
  2. Apakah proyek menimbulkan kemudharatan untuk masyarakat? 
  3. Apakah proyek berkaitan dengan perbuatan mesum/ asusila? 
  4. Apakah proyek berkaitan dengan perjudian? 
  5. Apakah usaha itu berkaitan dengan industry senjata yang illegal atau berorientasi pada pengembangan senjata pembunuh massal? 
  6. Apakah proyek dapat merugikan syiar Islam, baik secara langsung maupun tidak langsung? 


e.  Lingkungan dan budaya kerja
Sebuah bank syariah harus memiliki lingkungan kerja yang sejalan dengan syariah. Hal ini menyangkut etika kerja dan usaha yang merupakan cerminan dari sunnah Rasulullah SAW berkaitan dengan ketauladanannya dalam perilaku kehidupan sebagai aplikasi dari nilai-nilai syariah.

Dalam hal etika, misalnya sifat amanah dan shiddiq harus melandasi perilaku setiap karyawan sehingga tercermin integritas eksekutif muslim yang baik. Disamping itu, karyawan bank harus memiliki skillful dan professional (fathanah), dan mampu melakukan team work dimana informasi merata diseluruh fungsional organisasi (tabligh). Demikian pula dalam hal punishment dan reward, diperlukan prinsip keadilan yang sesuai syariah. Etika juga harus dijaga dalam hal berpakaian (aurat yang tertutup) dan tingkah laku para karyawan serta perlakuan yang baik terhadap nasabah sehingga memberikan cerminan bahwa mereka bekerja dalam sebuah lembaga keuangan yang membawa nama besar Islam. Ibid., hal. 34

Daftar Pustaka Makalah Perbedaan Bank Syariah Dengan Bank Konvensional

Perbedaan Bank Syariah Dengan Bank Konvensional Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment