Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Sunday, 29 May 2016

Persistensi Pada Pasangan Infertil Suku Batak Toba Dalam Memperoleh Keturunan

Persistensi Pada Pasangan Infertil Suku Batak Toba Dalam Memperoleh Keturunan 

Kelahiran seorang anak (keturunan) menjadi salah satu bagian yang terpenting dalam siklus kehidupan. Ini adalah bagian dari tujuan hidup masyarakat Batak Toba yang ideal yakni banyak anak (hagabeon), kaya materi/harta (hamoraon) dan dihormati/dihargai (hasangapon) (Harahap & Siahaan, 1987).


Hagabeon, hamoraon dan hasangapon adalah sesuatu yang sangat didambakan dalam kehidupan masyarakat Batak Toba (Harahap & Siahaan, 1987). Adapun ungkapan yang sangat terkenal dalam budaya masyarakat Batak Toba adalah “Anakhonhi do hamoraon diahu (anak adalah harta yang paling berharga dalam diri saya) (Harahap & Siahaan, 1987). Oleh karena itu, meskipun dalam sebuah keluarga Batak Toba sudah memiliki harta/materi yang berkecukupan (hamoraon) dan terhormat/dihargai (hasangapon) akan tetapi belum memiliki banyak keturunan baik itu laki-laki dan perempuan dalam budaya Batak Toba dianggap belum lengkap (gabe) (Harahap & Siahaan, 1987).

Dalam Harahap & Siahaan (1987), Lumban tobing berpendapat bahwa masalah anak bagi masyarakat Batak Toba sangatlah penting. Hal ini disebabkan karena keturunan dipandang sebagai pemberi harapan hidup karena keturunan itu adalah kebahagiaan yang tidak ternilai bagi orang tua, keluarga dan kerabat (Lubis, 1997). Dalam budaya Batak Toba jumlah anak dianggap sangat memperngaruhi sahala (wibawa) orang tua (Harahap & Siahaan, 1987).

Tidak hanya itu, dengan adanya anak juga dapat melengkapi adat Dalihan Na Tolu. Dimana Dalihan Na Tolu merupakan suatu ungkapan yang menyatakan kesatuan hubungan kekeluargaan pada suku Batak Toba. Ketiga hubungan kekeluargaan itu adalah hula-hula (pihak pemberi istri), dongan sabutuha (kawan semarga) dan boru (pihak penerima istri) (Harahap & Siahaan, 1987).

Dengan adanya anak juga, maka harta warisan yang dimiliki oleh orang tua ada yang mewarisi. Dimana dalam budaya Batak Toba pewaris harta sepenuhnya adalah laki-laki, akan tetapi wanita tetap bisa mewarisi sebagian dari harta warisan apabila saudaranya laki-laki tersebut mau berbagi dengan saudaranya perempuan (Vergouwen, 1986).

Dan yang tidak kalah penting adalah bahwa dengan adanya anak dalam sebuah keluarga dapat meneruskan garis keturunan dalam keluarga. Dimana budaya Batak Toba mengandung sistem patrilineal, dimana anak laki laki yang meneruskan garis keturunan. Untuk itu jika orang Batak Toba tidak memiliki keturunan laki-laki maka garis keturunan/marga tadi akan punah. Adapun posisi perempuan dalam budaya Batak Toba adalah sebagai pencipta hubungan besankarena perempuan harus menikah dengan laki-laki dari kelompok patrilineal yang lain (Vergouwen, 1986).
Dengan demikian ketidakmampuan istri untuk menghasilkan keturunan dipandang sebagai sesuatu yang sangat merendahkan martabat suami dan bila diantara anak-anak yang dilahirkannya tidak ada laki-laki, hal tersebut juga dipandang sebagai suatu penghinaan yang menodai martabat pihak suami dan keluarganya (Vergouwen, 1986). Yang mana sekarang ini banyak sekali dijumpai pasangan Batak Toba yang sulit untuk memiliki keturunan meskipun telah menikah sekian tahun lamanya dan tidak menggunakan alat kontrasepsi, keadaan inilah yang disebut dengan infertilitas. Keadaan dimana pasangan yang meskipun sudah menikah dalam kurun waktu relatif lama/lebih dari 12 bulan lamanya tanpa menggunakan alat kontrasepsi akan tetapi belum juga memiliki keturunan (Papalia & Olds, 1998).

Baca: Pengertian Pasangan Infertil

Maka tidak heran jika seorang suami yang tidak memiliki keturunan baik itu laki-laki maupun perempuan dari seorang istri meminta untuk berpisah (bercerai) dan kemudian itu menikah lagi dengan wanita lain untuk mendapatkan keturunan baik itu laki-laki dan perempuan (Vergouwen, 1986). Dan tidak heran juga jika pasangan yang sulit untuk memiliki keturunan tersebut mendapat ejekan dari lingkungan-lingkungan sekitar dan mengalami perasaan-perasaan negatif akibat dari keadaannya tersebut (DeGenova, 2005).

Tentunya hal ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan yang mengalami keadaan tersebut. Untuk itu bila dalam sebuah keluarga terdapat pasangan yang belum memiliki keturunan maka pasangan tersebut akan berupaya semaksimal mungkin agar bisa memiliki keturunan. Pasangan akan melakukan apapun demi mendapatkan keturunan agar memiliki generasi penerus, ahli waris harta kekayaan, pencapai tujuan hidup yang ideal, pelengkap adat dalihan na tolu serta menambah sahala orang tua. Pasangan akan melakukan segala usaha baik secara medis, alternatif hingga kepada usaha tradisional dengan segigih mungkin untuk bisa segera memiliki keturunan. Dimana kegigihan didefenisikan oleh

Persistensi Pada Pasangan Infertil

Seligman & Peterson (2004) sebagai kelanjutan dari tindakan sukarela yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan meskipun ada hambatan, kesulitan ataupun keputusasaan. Hill (2000) juga mengatakan bahwa kegigihan (persistensi) merupakan faktor penting dalam merubah keinginan (desire) menjadi wujud nyata. Hill (2000) juga menyatakan bahwa terdapat beberapa komponen dalam kegigihan (persistensi), yaitu memiliki tujuan yang jelas, keinginan untuk mencapai tujuan tersebut, memiliki self-reliance, memiliki rencana yang terorganisir dan masuk akal, mampu bekerjasama dengan orang lain serta memiliki pemikiran yang terfokus untuk mencapai tujuan. Semua komponen ini harus dapat diubah menjadi kebiasaan sehingga kegigihan (persistensi) dapat tercapai.

Daftar Pustaka Makalah Persistensi Pada Pasangan Infertil Suku Batak Toba

Harahap, Basyral H., & Siahaan, Hotman M. (1987). Orientasi Nilai-nilai Budaya  Batak Toba: Suatu Pendekatan Terhadap Perilaku Batak Toba dan  Angkola-Mandailing. Jakarta: Sanggar Willem Iskandar. 

Hill, Napoleon. (2000) : Think and Grow.  

Peterson, C., Seligman, M. E. P.  (2004).  Character Strengths and Virtues: A Handbook and Classification. New York: Oxford University Press. 

Vergouwen, J.C. (1986).  Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Jakarta: Pustaka Azet. 

Degenova, M. K,  (2005).Intimate Relationships, Marriages & Families.Seventh   Edition. Boston: McGraw-Hill. 

Papalia, D., & Olds, S. (1998). Human Development. (7th ed). New York: Mc.  Graw Hill. 

Persistensi Pada Pasangan Infertil Suku Batak Toba Dalam Memperoleh Keturunan Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment