Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Saturday, 28 May 2016

Praktik Pengasuhan Orang tua Tionghoa dan Non-Tionghoa serta Prestasi Akademik ditinjau dari Pola Asuh dan Etnis

Praktik Pengasuhan Orang tua Tionghoa 

Orang tua Tionghoa  memberikan beberapa tanggung jawab terhadap anaknya. Di  mana dalam hal ini orang tua meminta anak untuk terus mengembangkan diri dan introspektif diri. Untuk mencapai karakter yang terintegrasi moral, seseorang harus bersikap sederhana. Untuk mengetahui tujuan, maka seseorang terus mencari pengetahuan, dengan cara memupuk rasa keuletan untuk mencapai tujuan yang dilaksanakan. Anak dari keluarga Tionghoa dituntut untuk memiliki harapan atau cita-cita yang tinggi ( Xu Xin, 2010).


Orang tua Tionghoa mengajarkan cara agar anak disiplin, moral, serta kebajikan. Orang tua merasa bahwa tanpa ada disiplin yang ketat dan standar moral, seorang anak tidak akan menjadi apa-apa. Tanpa mengetahui apa artinya menghormati kepada kedua orang tua, seorang anak akan tumbuh menjadi seseorang yang tidak menghormati siapapun. Seperti seorang anak yang tumbuh dalam kebajikan ( Xu Xin, 2010 ).  

Pendidikan dinilai penting pada keluarga Tionghoa sehingga anak Tionghoa dituntut untuk memahami potensi yang ia miliki. Orang tua membiasakan anak untuk menjadi pribadi yang cerdas, ulet dan mendukung serta mengarahkan anak dalam pendidikannya. Ditambah lagi dengan orang tua yang mendidik anaknya untuk bekerja keras dalam pendidikan, dengan hal ini anak mampu untuk mengembangkan diri dan memperoleh prestasi akademik yang baik di sekolah (Maloedyn, 2010).  

Praktik Pengasuhan Orang tua Non-Tionghoa  

Orang tua Non-Tionghoa cenderung mempercayakan pengasuhan anak kepada orang lain dan orang tua tidak terlibat sepenuhnya dalam mengasuh anak oleh sebab itu anak akan lebih dekat dengan pengasuhnya dibandingkan dengan orang tuanya. Selain itu juga orang tua juga mengajarkan hal-hal yang tidak rasional atau masuk akal yang mendorong anak untuk memunculkan sikap egosentris, misalnya ketika anak terjatuh dilantai orang tua mengatakan kepada anak bahwa lantainya yang salah dan orang tua memukul lantai (Anita, 2008).  

Orang tua Non-Tionghoa juga cenderung untuk memasukkan anak dalam les atau bimbingan yang dapat mendukung prestasi akademik anak di sekolah. Akan tetapi orang tua  Non-Tionghoa cenderung mempercayakan kemajuan atau kelemahan anak dalam belajar kepada guru yang bersangkutan tanpa terlibat dalam aktifitas belajar anak dan kurangnya disiplin terhadap waktu. Rata-rata anak Non-Tionghoa menghabiskan waktu luangnya untuk membaca dan bermain komputer. Ditambah lagi dengan beberapa sikap orang tua Non-Tionghoa yang cenderung kurang dalam memberikan dorongan kepada anak sehingga anak kurang tertarik untuk melakukan aktifitas belajar (Sugito, 2007).  

Prestasi Akademik ditinjau dari Pola Asuh dan Etnis 

Keluarga merupakan sumber pendidikan yang utama karena melalui keluarga anak memperoleh pengetahuan dan kecerdasan intelektual (Gunarsa, 2003). Setiap keluarga menerapkan caranya tersendiri dalam mendidik, mengasuh dan membimbing anak yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar anak di sekolah yang dapat mendukung prestasi akademik yang baik (Syah, 1999). Cara mengasuh dan mendidik ini dipengaruhi oleh latar belakang budaya, budaya yang berbeda akan menggunakan cara mendidik dan mengasuh yang berbeda yang akan menghasilkan prestasi akademik yang berbeda, yaitu pada Tionghoa dan Non-Tionghoa (Chao dalam Darling & Stenberg, 1993).  

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Shek & Chan (dalam Huang & Larry, 2004) menyatakan bahwa ada beberapa atribut yang penting  oleh orang tua Tionghoa terhadap anak yaitu hubungan dengan keluarga, prestasi akademik, perilaku yang baik dan memiliki hubungan yang baik dengan orang lain. Prestasi akademik merupakan hal yang penting pada orang tua Tionghoa sehingga anak dituntut bekarja keras agar memperoleh hasil yang maksimal. Hal ini didukung oleh hasil  Guan Report  (Xie  dalam Huang & Larry, 2004) yang menyatakan bahwa 70% orang tua Tionghoa lebih fokus terhadap prestasi akademik anak. Selaras dengan penelitian selanjutnya yang menyatakan bahwa untuk meningkatkan prestasi akademik 83% orang tua Tionghoa menyediakan cara yang berbeda dalam mendidik anak yaitu dengan menyewa tutor atau mengawasi anak ketika sedang belajar.  

Sebaliknya pada Non-Tionghoa, beberapa orang tua Non-Tionghoa berpikir bahwa anak memulai belajar ketika anak memasuki sekolah oleh sebab itu orang tua menyerahkan pendidikan  seutuhnya kepada para pendidik sekolah. Hal ini menyebabkan orang tua kurang memahami  perkembangan anak (Derry, 2008). Ditambah lagi dengan rata-rata orang tua  Non-Tionghoa yang jarang terlibat dalam aktifitas belajar anak dan mengawasi anak ketika sedang belajar sehingga orang tua kurang memahami kelebihan dan kelemahan anak dalam belajar (Chairinniza, 2007). Orang tua juga banyak memberikan les atau bimbingan kepada anaknya, banyaknya les dan bimbingan yang diberikan oleh orang tua dapat menurunkan keberhasilan anak di sekolah (Anita, 2008). 

Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi akademik adalah pola asuh orang tua. Pola asuh atau cara mendidik anak dapat mempengaruhi pencapaian prestasi akademik yang baik di sekolah (Sobur, 2003). Orang tua yang terlibat secara aktif dalam proses belajar dapat mendukung prestasi akademik anak di sekolah. Peran orang tua yang aktif   ini dapat membuat anak memahami akan pentingnya arti belajar. Sebaliknya jika orang tua kurang terlibat dalam aktifitas belajar anak maka anak kurang mendapatkan prestasi akademik yang memuaskan di sekolah (Chairinniza, 2007). Hal ini didukung penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata yang melatarbelakangi anak berprestasi di sekolah adalah dukungan atau keterlibatan orang tua dalam aktifitas belajar anak (Marjohan  dalam Fitriyah,  2008). Selain itu, pola asuh yang diterapkan oleh orang tua juga mempengaruhi pola asuh. Orang tua yang menerapkan pola asuh authoritative,  authoritarian,  permissive  dan  uninvolved  akan memberikan dampak yang berbeda terhadap prestasi akademik (Papalia, 2008).  

Pada pola asuh authoritarian orang tua menuntut anak untuk menuruti aturan yang dibuat oleh orang tua dan orang tua menyediakan lingkungan dengan aturan-aturan yang jelas. Hasilnya anak memiliki prestasi akademik yang rendah. Pada pola asuh  authoritaritative  orang tua memonitor dan menerapkan standar perilaku yang jelas kepada anak, menggunakan disiplin sebagai bentuk dukungan kepada anak. Hasilnya anak memiliki prestasi akademik yang baik. Pola asuh permissive orang tua bersikap toleransi terhadap anak akan tetapi orang tua tidak memperhatikan anak sesuai dengan masa perkembangannya. Hasilnya anak memiliki prestasi akademik yang rendah. Pola asuh uninvolved merupakan tipe orang tua yang menolak dan mengabaikan anak. Hasilnya anak memiliki prestasi akademik yang rendah (Baumrind dalam Darling & Steinberg, 2003). 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Baumrind tahun 1991  (dalam Papalia, 2008) menunjukkan bahwa pola asuh authoritative  lebih efektif dalam menghasilkan prestasi akademik yang baik dibandingkan dengan pola asuh authoritarian  dan  Permissive.    Pola asuh  authoritarian dan Permissive cenderung menghasilkan performansi akademik yang rendah dan rendahnya kemampuan kognitif dan sosial.  Sebaliknya, para peneliti menemukan bahwa gaya pengasuhan    authoritarian  diasosiasikan dengan hasil yang lebih positif (Santrock, 2003).  

Praktik Pengasuhan Orang tua Tionghoa

Setiap orang tua memiliki gaya atau pola asuh tersendiri dalam melakukan tugasnya sebagai orang tua. Dalam hal ini adalah Tionghoa dan Non-Tionghoa. Pada Tionghoa, umumnya orang tua menggunakan pola asuh authoritarian dan sedikit menerapkan pola asuh  authoritative, dalam hal ini orang tua menggunakan nilai-nilai tradisional dalam mendidik anak dan menerapkan beberapa aturan atau kontrol kepada anak. Konsep pola asuh yang diterapkan oleh orang tua Tionghoa adalah pelatihan yaitu melatih anak untuk disiplin terhadap dirinya sendiri, bekerja keras dan menyediakan dorongan dan perhatian kepada anak untuk mendukung keberhasilan anak di sekolah (Chao dalam Huang & Larry, 2004).  

Sebaliknya pada Non-Tionghoa, umumnya orang tua menerapkan pola asuh permissive, dalam hal ini rata-rata orang tua Non-Tionghoa memasukkan anak ke dalam les atau bimbingan belajar guna meningkatkan prestasi akademik anak tetapi anak menghabiskan waktu yang banyak untuk mengikuti jadwal bimbingan dan les sehingga anak memiliki waktu yang kurang untuk bermain. Hal ini bisa menjadi beban anak sehingga dapat menurunkan prestasi akademiknya di sekolah akan tetapi orang tua menyerahkan sepenuhnya kemajuan dan kelemahan anak kepada guru privat atau guru sekolahnya.  Hal ini sejalan dengan pendapat Drost (dalam Anita, 2008) seorang pendidik dan pengamat pendidikan yang menyatakan bahwa orang tua Non-Tionghoa umumnya memaksakan anak untuk mengikuti les atau bimbingan diluar rumah untuk mendukung keberhasilan di sekolah dan anak dipaksa untuk memahami suatu pelajaran. Hal ini dapat merugikan diri anak sendiri.  Ditambah lagi dengan kurangnya sikap orang tua dalam memberikan dukungan, semangat dan menciptakan suasana belajar yang nyaman di rumah. 

Daftar Pustaka Makalah
Maloedyn, S. (2010).  Rahasia etnis Tionghoa mendidik anak. Jakarta : GorgaMedia 

Gunarsa, S.D. (2003). Psikologi untuk keluarga. Jakarta : Gunung Mulia  

Anita, L. (2008). Memudahkan anak belajar. Jakarta : Kompas 

Santrock, J. W.  (2007). Perkembangan anak. Jakarta : Erlangga  

Huang, J.,  & Larry, P.  (2004). Chinese  parenting  style and  children’s self regulated learning. Journal of research in childhood education, 18 (3), 227 

Darling, N., & Steinberg, L. (1993). Parenting style as context: An integrative  model. Psychological Bulletin, 113 (3), 487-496 

Papalia, D.  E., Wendkos, S.,  & Feldman, R. D. (2008).  Human development. Jakarta : Kencana  

Chairinniza,  G. (2007).  Keberhasilan anak ditangan orang tua. Jakarta: Elex Media Komputindo 

Fitriyah, I. (2008). Pola asuh orang tua terhadap anak berprestasi di sekolah (Studi kasus di SMP 
Negeri 1 Pandaan). (Skripsi). (Tidak Diterbitkan). Universitas Islam Negeri Malang  

Sobur, A.  (2003). Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia    

Derry, I. D. (2008). Bila anak usia dini bersekolah. Jakarta : Elex Media Komputindo 

Syah, M., (2010). Psikologi pendidikan. Yogyakarta : Pustaka Belajar   

Sugito, MA. (2007). Pendidikan anak dalam keluarga. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta  

Xu, X. (2010). Mencetak  anak jenius dan  cerdas pada Tionghoa. Yogyakarta  : Pustaka Solomon  

Praktik Pengasuhan Orang tua Tionghoa dan Non-Tionghoa serta Prestasi Akademik ditinjau dari Pola Asuh dan Etnis Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment