Landasan Teori Hukum, Manajemen Keuangan, Kesehatan, Internasional, Ekonomi

Tuesday, 22 September 2015

Suku Batak Toba dan Kebudayaannya Dampak Infertilitas Upaya Tradisional Untuk Pasangan

Suku Batak Toba Adalah - Orang Batak adalah salah satu suku dari Bangsa Indonesia yang tinggal di  Sumatera Utara. Sumatera adalah pulau terbesar kedua sesudah kalimantan dan terletak diujung barat Indonesia. Orang Batak mendiami dataran tinggi Bukit Barisan sekitar Danau Toba (Nainggolan, 2012).


Suku Batak merupakan etnis keenam terbesar di Indonesia sesudah Jawa, Sunda, Tionghoa-Indonesia, Melayu dan Madura. Pada waktu itu penduduk Indonesia sudah ada sebanyak 237.641.326 jiwa. Suku Batak terdiri atas enam sub-suku yaitu Angkola dan Mandailing di sebelah selatan, Toba di pusat, Dairi/Pakpak di sebelah Barat-laut, Karo di sebelah Utara, dan Simalungun di sebelah Timur-laut (Nainggolan, 2012).

Orang Batak Toba terutama hidup dari pertanian. Berabad-abad lamanya mereka mengusahakan pertanian sawah dengan pengairan terpadu maka tidak heran kalau orang Batak Toba berdiam di lembah-lembah dan sekitar Danau Toba sebab disana ada cukup air untuk persawahan. Kondisi geografis lembah membuat mereka hidup dalam ruang yang terbatas dan terisolasi. Komunitas-komunitas ini hidup dalam ikatan keluarga yang kuat (Nainggolan, 2012).

Nilai Anak Dalam Budaya Batak Toba 

Harahap  &  Siahaan  (1987)  mengemukakan  lima  nilai  peran  anak  dalam  budaya Batak Toba yaitu :

a. Pencapai tujuan hidup yang ideal 
Harahap  &  Siahaan  (1987)  menyatakan  bahwa  tujuan  hidup  yang  ideal  tercakup dalam nilai 3H yakni hamoraon, hagabeon dan hasangapon. Lubis (1997) menjelaskan bahwa hagabeon sama artinya dengan bahagia dan sejahtera. Kebahagiaan yang dimaksudkan disini adalah kebahagiaan dalam keturunan. Keturunan dipandang sebagai pemberi harapan hidup karena keturunan itu adalah suatu kebahagiaan yang tidak ternilai bagi orang tua, keluarga dan kerabat

Hamoraon (kekayaan) adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh seseorang, dimana kekayaan ini diidentikkan dengan harta kekayaan dan anak. Tanpa anak individu tidak akan merasa kaya meskipun banyak harta seperti yang diungkapkan dalam ungkapan; “Anakkonhi do hamoraon diahu” (anakku adalah harta yang paling berharga bagi saya).

Hasangapon (kemuliaan & kehormatan) merupakan kedudukan seseorang dalam lingkungan masyarakat. Untuk mencapai hasangapon seseorang harus terlebih dahulu berketurunan (gabe) dan memiliki kekayaan (mora). Diantara nilai hamoraon, hagabeondan hasangapon, nilai hagabeon merupakan nilai yang paling penting dimana nilai hagabeon mengungkap makna bahwa orang Batak Toba sangat mendambakan kehadiran anak dalam keluarga


b. Pelengkap Dalihan Na Tolu 
Anak juga dapat berperan sebagai pelengkap adat Dalihan Na Tolu. Dalihan Na Tolu merupakan suatu ungkapan yang menyatakan kesatuan hubungan kekeluargaan pada suku Batak Toba. Ketiga hubungan kekeluargaan itu adalah ;

  1. Hula-hula (keluarga dari pihak pemberi istri/wanita) 
  2. Dongan sabutuha (kawan semarga) 
  3. Boru (keluarga dari pihak penerima istri/wanita) 

Anak laki-laki nantinya akan beristri dan keluarga pihak pemberi istri akan disebut dengan hula hula sedangkan anak perempuan akan bersuami dan keluarga pihak penerima istri akan disebut boru. Dengan demikian lengkaplah unsur

Dalihan Na Tolu yaitu dongan sabutuha,   hula   hula   dan   boru (Harahap & Siahaan, 1987).


c. Penambah ”sahala” orang tua 
Anak  juga  dipandang  dapat  menambah  sahala  (wibawa)  orang  tua. 

Ph.L.Tobing menyatakan sahala sebagai salah satu aspek dari tondi (roh). Seorang yang memiliki kewibawaan kekayaan dan keturunan adalah orang yang memiliki sahala. Sahala seseorang bertambah bila hal-hal tersebut bertambah (Harahap & Siahaan, 1987).

d. Pewaris harta kekayaan 
Dalam budaya Batak Toba, yang menjadi pewaris seutuhnya adalah anak  laki-laki, sementara anak perempuan bisa memiliki sebagian harta warisan apabila saudaranya laki-laki tersebut mau berbagi sebagian dari harta yang dia warisi (Vergouwen, 1986).

e. Penerus garis keturunan (marga) 
Anak  juga  dipandang  dapat  meneruskan  marga  dari  ayahnya.  Marga  merupakan asal-mula nenek moyang yang terus dipakai di belakang nama (Gultom, 1992). Masyarakat umum Batak mengartikan marga sebagai kelompok suku dan suku induk, yang berasal dari rahim yang sama (Vergouwen, 1986). Keyakinan ini disebabkan oleh penetapan struktur garis keturunan mereka yang menganut garis keturunan laki-laki (patrilineal) yang berarti bahwa garis marga orang Batak Toba diteruskan oleh anak laki-laki. Jika orang Batak Toba tidak memiliki anak laki-laki maka marga tadi akan punah. Adapun posisi perempuan Batak Toba adalah sebagai pencipta hubungan besan karena perempuan harus menikah dengan laki-laki dari kelompok patrilineal yang lain.

Dampak Infertilitas Dalam Budaya Batak Toba 

Vergouwen (1986) menyatakan ada beberapa dampak yang ditimbulkan apabila dalam sebuah keluarga tidak memiliki keturunan yaitu :

a. Garis keturunan punah 
Sistem kekerabatan orang Batak adalah patrilineal. Garis keturunan laki-laki  diteruskan oleh anak laki-laki dan menjadi punah kalau tidak memiliki anak laki-laki. Laki-laki itulah yang membentuk kelompok kekerabatan; perempuan menciptakan hubungan besan karena ia harus menikah dengan laki-laki dari kelompok patrilineal lainnya.

b. Mengangkat anak (adopsi) 
Di masyarakat Batak, jarang sekali pasangan yang mandul mau mengangkat  anak. Menurut alam pikiran orang yang belum memeluk agama, tidak mempunyai keturunan laki-laki berarti hidup sengsara di alam baka. Bahkan orang Kristen masih berpikir bahwa tidak ada hal yang lebih buruk selain keadaan yang demikian. Untuk menghindari keadaan seperti itu, biasanya akan mengangkat anak. Mengangkat anak baru bisa mempunyai makna jika ada kemungkinan mendapatkan anak angkat laki-laki yang dapat melanjutkan galur bapak angkat.

c. Beristri dua (bigami) 
Salah satu alasan mengapa orang mengambil istri kedua ialah karena ia tidak memiliki keturunan, terutama kegagalan mendapatkan anak laki-laki. Mengambil istri kedua karena tidak mendapat anak tidak berarti karena ada persoalan antara suami-istri. Dalam kenyataannya justru istri sendirilah yang sering mendesak suami agar mengambil istri muda dengan harapan akan mendapatkan anak laki-laki, walaupun istri pertama itu mungkin sudah melahirkan tetapi perempuan.

d. Bercerai 
Penyebab   utama   berakhirnya   suatu   perkawinan   tampaknya   adalah  ketidakmampuan seksual/cacat lain yang tak memungkinkan persenggamaan yang lazim. Kemandulan juga menjadi penyebab perceraian. Hal ini biasanya diperkirakan sebagai akibat dari tidak adanya keselarasan antara tondi pasangan sehingga dapat menghalangi lahirnya keturunan.

e. Tidak ada pewaris harta kekayaan 
Harta  peninggalan  orang  tua  sepenuhnya  diwarisi  oleh  anak  laki-laki. 

Pewarisan menurut    garis    laki-laki    disebut    dengan    mangihut-ihuton (menggantikan, melanjutkan) lelaki harus mewarisi apa yang ditinggalkan bapaknya. Anak perempuan tidak mempunyai hak tertentu dalam warisan orang tuanya. Anak perempuan dalam hal ini bisa memiliki sebagian dari warisan yang ditinggalkan apabila ia dengan baik-baik meminta kepada saudaranya laki-laki untuk memberikan sebagian dari harta yang diwarisinya. Disaat masih hidup seseorang dapat juga menyisihkan sebagian hak miliknya untuk anak perempuan, selain harta bawaan yang sudah diterimanya. Pemberian bisa diterima pada waktu itu atau dikemudian hari sewaktu anak perempuan itu kawin yakni sebagai pauseang. Jatah yang diberikan kepada anak perempuan setelah bapaknya meninggal juga disebut dengan parmanomanoan (yang diterima dari yang meninggal sebagai kenang-kenangan).

Upaya Tradisional Untuk Pasangan Infertil 

Vergouwen (1986) menyatakan ada beberapa cara yang sering dilakukan oleh  masyarakat  Batak  Toba  dalam  memperoleh  keturunan.  Berikut  adalah  upaya tersebut :

  1. Suami dan kerabat laki-lakinya akan mendatangi ayah dari pihak istri dan melalui upacara khusus memohon restu kiranya mertuanya sudi memanjatkan doa supaya putri dan menantunya diberi karunia 
  2. Sombaon 
    Upacara ini berupa upacara penghormatan kepada leluhur besar yang tertinggi dalam dunia roh yang mendekati kedudukan dewata, dia menjadi sombaon.

    Sombaon ini tinggal di tempat suci, di puncak gunung, di hutan belantara atau di sebuah sungai besar. Sombaon selalu dimohonkan dalam semua upacara religius. Upacara ini disertai dengan pemberian persembahan berupa hewan-hewan kurban yang dipersembahkan kepada leluhur tersebut yang dipimpin oleh datu dan diikuti dengan tarian-tarian persembahan. Tujuan khusus dari pesta seperti ini ialah karena banyaknya dari keturunannya yang tidak mempunyai anak; mereka ingin memohon kepada leluhur agar melimpahkan “tabung penyimpanan anak panah yang penuh dengan anak-anak”.
  3. Mangupa tondi
    Kegiatan mangupa ini bertujuan untuk menguatkan tondi (roh), meningkatkan daya yang bersemayam di dalam dirinya dan untuk memperkuat ikatan antara dia dengan tempat tinggalnya. Jika kegiatan mangupa ini dilakukan kepada wanita yang belum memiliki keturunan maka tujuannnya adalah untuk meningkatkan daya tangkal tondinya (rohnya) terhadap kekuatan animis dan jahat yang sudah mengintipnya dan segera memiliki anak.
  4. Manulangi
    Kegiatan manulangi ini berupa kegiatan menyuapi yang mana biasanya kegiatan ini ditujukan kepada mereka yang memang pantas mendapatkan persembahan makanan. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh anak kepada orang tuanya atau mertuanya dengan tujuan mendapatkan berkat dari orang tuanya atau mertuanya sehingga putrinya tersebut atau menantunya tersebut cepat mendapatkan keturunan.
  5. Pemberian dondon tua.
    Dondon tua ini diartikan sebagai dibebani nasib baik. Istilah ini diterapkan kepada benda yang diberikan kepada seseorang. Melalui benda ini diharapkan ada keberuntungan yang berpindah kepada orang yang menerimanya. Kegiatan ini bisa dilakukan kepada wanita yang sudah lama tidak memiliki anak dengan tujuan segera memiliki keturunan.


Daftar Pustaka Makalah Suku Batak Toba dan Kebudayaannya

Gultom, R.D.J. (1992). Dalihan Na Tolu, Nilai Budaya Suku Batak Toba dan  Etnik Cina. Medan: CV Armanda. 

Vergouwen, J.C. (1986).  Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Jakarta: Pustaka Azet. 

Harahap, Basyral H., & Siahaan, Hotman M. (1987). Orientasi Nilai-nilai Budaya  Batak Toba: Suatu Pendekatan Terhadap Perilaku Batak Toba dan  Angkola-Mandailing. Jakarta: Sanggar Willem Iskandar. 

Nainggolan, Togar. (2012). Batak Toba : Sejarah dan Transformasi Religi : Medan: Bina Media Perintis. 

Suku Batak Toba dan Kebudayaannya Dampak Infertilitas Upaya Tradisional Untuk Pasangan Rating: 4.5 Posted By: Rarang Tengah

0 comments:

Post a Comment